Share

4

"May, bete banget gue" ucap Rere sambil mengeringkan rambutnya.

"Bete kenapa lu Re?" tanya Maya dengan suapan terakhir nasi goreng buatannya.

"Cowok gue udah gak perhatian lagi sama gue May. Kesel gue"

"Elonya gak usah manja"

"Ya gak lah! itu kan udah jadi kewajiban laki gue buat nurutin gue. Katanya dia cinta sama gue . Cih!"

"Emang laki lo babu lo? Asal lo tau ya, kalo elo juga beneran cinta sama dia, elo juga gak mungkin ngelakuin hal-hal konyol ke dia, yang mungkin laki lo rasa gak mampu"

Rere terdiam.

"Coba lo pikir. Harusnya elo itu gak usah macem-macem. Masih untung laki lo bertahan sama elo. Masih cinta, masih sayang sama elo. Seandainya cowok lo tau kelakuan elo dibelakang dia,.." Maya tersenyum miring. Membayangkan hal-hal yang terjadi jika kekasihnya Rere mengetahui siapa Rere sebenarnya.

"Elo juga jarang quality time kan sama dia?"

Rere masih terdiam.

"Mungkin itu juga yang bikin lo ngerasa laki lo udah gak perhatian lagi sama elo"

"Perbaiki diri elo, Re"

Rere memicingkan matanya menatap Maya.

"Munafik banget lo May. Sok nasehatin gue. Sama-sama bitch juga"

"Haha.. " Mereka tertawa bersama.

***

"Yang, simpen dulu hapenya. Masa tangan aku dianggurin" Rere merajuk manja.

Elang memasukkan ponselnya ke saku celananya.

Sekarang Elang dan Rere sedang berada di pusat perbelanjaan. Suasana yang tidak terlalu ramai, menjadikan mereka leluasa untuk berjalan tanpa harus berpegangan. Tanpa perlu khawatir akan tertabrak orang ataupun terpisah. Karena mereka datang diwaktu para manusia sedang semangat-semangatnya mencari kertas segi panjang bergambarkan Soekarno-Hatta.

Hari Rabu siang. Yap!

Elang menghabiskan waktunya dengan Rere di siang hari. Elang rela bolos sekolah karena Rere yang memintanya.

Elang jarang sekali menghabiskan waktunya dengan Rere. Apalagi di malam hari. Jadi, sekalinya Rere meminta, Elang tidak mungkin menolaknya.

"Yang, beli baju batik couple yuk!" ajak Rere semangat.

Kedua tangan Rere kini sudah memeluk lengan Elang. Rere yang tingginya tidak jauh dengan Elang, tidak perlu susah payah mendongakan kepalanya saat berbicara.

ga susah payah juga kalo ciuman, xixixi

"Yuk! " Elang tersenyum dan mengacak rambut Rere gemas.

Elang tidak paham bagaimana caranya menjadi lelaki romantis. Elang hanya tahu, cukup menuruti apa yang wanitanya minta. Selama uang masih ada. Itu bisa membuat wanitanya bahagia. Karena tidak jarang Elang mengeluarkan isi dompetnya untuk Rere.

"Iih, tangannya" Rere mengerucutkan bibirnya.

Elang hanya tertawa.

***

"Yang ini ya, yang" tawar Rere menunjukan sepasang baju kaos berwarna abu-abu.

"Gajadi batik?"

"Gak ah, kaos aja. Batiknya nanti aja kalo udah nikah punya anak dua" jawab Rere enteng tapi bersemu.

Elang tertawa renyah mendengar ucapan Rere.

"Kelamaan" ucap Elang sambil menarik pelan hidung Rere.

Mata mereka bertubrukan cukup lama.

Rerenya gue. Gue masih SMA, tapi gue gak pernah main-main kalo soal cinta. Gue gak bisa romantis tapi gue yakin gue bisa merjuangin elo nyampe masa termanis. Get married with you thats my wish.

Elang kemudian terkekeh. Menyadarkan Rere yang terus menatapnya tidak berkedip.

"Mana ATM?" Rere menadahkan tangan kanannya. Rere berusaha bersikap biasa saja, saat hatinya ingin berlari entah kemana.

Gue berharap gak berakhir dengan menyakiti elo

Elang membuka dompetnya.

Elang mengerutkan keningnya. Bolak-balik Elang mencari ATM di dompetnya.

Nihil.

"Gak ada Re"

"Loh kemana?"

"Gatau. Lupa" ucap Elang santai. Tidak ada rasa panik sedikit pun yang terpancar dari wajah Elang.

"Yah,. gajadi beli dong" ucap Rere sedih.

Rere meletakkan kembali dua kaos yang akan dibelinya tadi.

"Bentar.." Elang merogoh kunci mobil dari saku celananya.

Elang membuka gantungan seperti dompet berbentuk mini yang tergantung dikunci mobilnya.

"Nih,.." Elang menyerahkan tiga lembar uang seratus ribuan.

Mata Rere berbinar. Hatinya bersorak bahagia. Akhirnya, Rere kembali mengambil kaosnya dan menerima uang yang diberikan Elang.

Rere berjalan menuju kasir tanpa Elang.

"Kembaliannya buat aku ya?" teriak Rere dari kasir.

Elang tertawa dan menganggukan kepalanya. Untung pembeli di toko baju itu tidak begitu banyak.

Kasir yang menyaksikan mereka hanya tersenyum.

"Lucunya kakak beradik ini" batin si kasir.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status