Share

Terpaksa Menikah Denganmu
Terpaksa Menikah Denganmu
Author: Amung

Perempuan hanya perlu menikah

Di meja makan keluarga, suara sendok dan garpu bersautan. Sekarang waktunya makan malam dan semua anggota keluarga berkumpul. Keluarga kecil ini hanya berisi Ayah, Ibu, Nenek dan Kakak laki-lakinya. 

Juwita hanya menunduk dan terus makan dengan hening. Ia sadar bahwa ia hanya pelengkap di keluarga ini. Jadi ia tak bertingkah dan berkomentar banyak. 

Keluarga Juwita adalah keluarga patriarki. Dimana anggota keluarga laki-laki selalu menjadi orang yang paling dominan dan dihormati. Sedangkan perempuan di didik menjadi seseorang yang penurut dan tunduk pada perintah laki-laki. Jadi dapat kalian simpulkan seperti apa posisi Juwita di keluarga ini.

Saat semua makanan telah selesai dimakan. Para perempuan akan bangun dan membersihkan semua piring kotor yang ada. Juwita yang masih menunduk mencoba mengangkat wajahnya dan memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya.

"... Yah, bolehkah Juwi tidak menikah? Juwi telah diterima di universitas negeri dengan beasiswa penuh. Juwi yakin bisa sukses di masa depan dan meningkatkan keadaan ekonomi kita. Juwi... Belum siap untuk menikah."

Suaranya sangat lembut dan halus, setelah semua ucapan di bibirnya telah usai ia sampaikan. Ia menunduk kembali dan meremas tangannya dengan takut.

Wajah Ayahnya langsung mengeras. Matanya sedikit melotot, ditambah dengan kumis lebat membuat sosoknya terlihat lebih menyeramkan. Banyak dari teman sekolahnya enggan untuk belajar bersama di rumahnya karena takut pada Ayahnya yang terlihat galak.

"Menikah juga merupakan sebuah kesuksesan Juwi. Perempuan hanya harus menjadi baik dan patuh di rumah, tak perlu bekerja keras untuk menaikkan taraf ekonomi keluarga. Itu adalah tugasnya laki-laki. Calon suamimu dari kalangan orang kaya, tak ada ruginya untuk menikah. Mereka akan membayar dengan mahar yang sangat tinggi. Itu sudah cukup untuk membuat derajat keluarga kita naik ke derajat yang lebih tinggi. Berhentilah mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal, tidak baik perempuan mengatakan hal semacam itu."

Mendengar suara mutlak sang Ayah, hampir semua anggota keluarga terdiam dan tak ada yang membelanya. Nenek, ibu dan kakak laki-lakinya hanya diam dan melanjutkan kegiatan seperti biasanya. Saat ayah dan kakak laki-lakinya pergi dari ruangan itu, air mata Juwita jatuh dengan segera. Ia tak mampu membendung kesedihan atas semua yang ia alami.

Tak ada simpati di wajah neneknya, ia hanya berkomentar dengan sinis betapa egoisnya perempuan jaman sekarang. "Jaman nenek dulu, tidak ada perempuan yang seperti kamu. Memiliki ambisi besar untuk menjadi orang sukses. Apa itu sukses? Sukses itu hanya doktrin dari budaya barat agar kita menjadi perempuan pembangkang. Tugas perempuan itu di rumah, memasak dan melayani suami. Kamu harusnya banyak-banyak bersyukur karena di izinkan sekolah hingga SMA."

Mendengar komentar neneknya, Juwita sedikit tak terima. Ia telah bekerja keras selama SMA hingga mendapat rekomendasi untuk penerimaan beasiswa penuh. Apalagi itu datang dari sebuah universitas ternama. Sebagai langganan juara satu, guru-guru memujinya dan berharap ia dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hanya saja keluarga terlalu meremehkannya hanya karena ia terlahir sebagai seorang perempuan.

"Kenapa Juwi tidak boleh sekolah? Juwi jauh lebih pintar dari kakak. Juwi bisa lebih baik dari kak..."

Sebelum kata di bibirnya usai, suara tamparan keras terdengar. Itu berhasil membuat Juwita memiringkan wajahnya karena kesakitan dan kaget. Neneknya menampar wajahnya dengan sangat keras. Itu membuatnya tertegun dan pikirannya kosong untuk beberapa saat.

Neneknya langsung menatap sang Ibu yang juga sedang tertegun dengan mata melotot marah sambil menunjuk-nunjuk. "Inilah kenapa aku tak pernah setuju Jaka menikah dengan kamu. Kamu bukan hanya perempuan sia-sia yang hanya pandai bersolek, tapi juga tak becus mendidik anak. Inilah hasilnya, anak pembangkang dan merasa paling pintar. Tidak heran anak keturunannya seperti ini, ibunya saja tidak berguna!"

Saat ibunya dihina, rasa sakit di pipi Juwita langsung tidak terasa. Ia ingin bangkit dan mengalahkan sang nenek.  Namun sebelum ia berdiri, bahunya ditepuk pelan oleh sang Ibu. Saat Juwita menoleh, Ibunya menggeleng pelan seolah memberi isyarat untuk menghentikan jiwa pemberontaknya.

Ibu Juwita hanya tersenyum dan meminta maaf pada sang Nenek. Sikap neneknya pun acuh tak acuh, mungkin karena ia bosan dengan permintaan maaf Ibu Juwita.

Saat sang Nenek pergi dengan kemenangan, Ibu Juwita menunduk dan membelai pelan wajah anaknya yang mulai memerah akibat tamparan tadi. 

"Ada brownis kesukaanmu di kamar. Ibu membelinya di toko tadi sore. Jangan beritahu kakakmu, itu sengaja ibu beli khusus untuk mu," ucapnya sambil tersenyum.

Saat ibunya dihina sedemikian rupa, perasaan Juwita terasa sangat sakit. Tetapi lihatlah perempuan di depan Juwita ini, ia datang dan menghiburnya seolah-olah hinaan sebelumnya tak pernah ada. 

Juwita bangun dan memeluk ibunya dengan erat sambil menangis ringan. Tepukan pundak sang ibu pun menambah perasaan sedih di dalam hatinya. 

"Jangan menangis, calon suamimu tak sepenuhnya buruk. Walaupun dia sakit, ibu yakin dia akan sembuh. Lagipula keluarga calon suamimu juga sangat baik. Mereka pasti akan menjagamu di sana."

Juwita hanya mengangguk sebagai jawaban dan memeluk ibunya lebih erat. 

Saat semua kesedihan ia luapkan di depan sang ibu. Juwita masuk ke kamarnya. Kamar ini sangat sederhana, luas ruangannya terbilang sempit jika itu dibandingkan dengan ruangan kakak laki-lakinya. Semua bagian ruangan hampir semuanya berisi buku pelajaran. Tapi sekarang semuanya sia-sia, ia akan menikah dan harus mengubur cita-citanya itu sedini mungkin.

Juwita melihat kearah meja belajarnya, di sana terdapat brownis kesukaannya. Bukan hanya satu kotak, tapi tiga kotak. Itu membuat perasaan melankolis di hatinya kembali datang ke permukaan. Juwita mendekat dan membuka satu kotak dan mencicipinya dengan gigitan kecil.

Sangat manis dan lembut.

Juwita menghabiskan satu kotak brownis dengan rakus. Ia tak tau seperti apa rumah suaminya nanti, mungkin di masa depan ia tak dapat merasakan rasa brownis. Jadi ia ingin menjadi rakus dan menghabiskan semuanya. 

Jika ia ditakdirkan menjadi istri dari orang yang arogan seperti ayahnya, maka ia mungkin akan bernasib sama dengan sang ibu dan anaknya pun akan bernasib sama seperti dirinya. Juwita ingin melawan, ingin berontak tapi ia tak tau harus berbuat apa dan harus kemana. Ia takut akan mengambil keputusan yang salah.

Saat keputusasaan merajai hatinya, Juwita perlahan mulai pasrah dan menerima nasib. Ia mungkin memang ditakdirkan untuk bernasib sama seperti ibunya. Tapi anaknya mungkin bisa ia selamatkan. Di masa depan ia akan berusaha menyenangkan suaminya dan membujuk agar anaknya dapat lebih bebas untuk memilih pilihan hidupnya sendiri.

Ya, hanya itu yang bisa ia lakukan. Tapi setidaknya ia sudah berusaha merubah nasib anaknya di masa depan. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status