Share

02. Hilang & Menemukan

Aku pernah mengharapkan kematian Kenedi karena pria itu telah melukai kami. Ia menyiksa ibu, belum lagi Kaneena kecil—jiwa murni—yang tak seharusnya berada di lingkaran kekerasan rumah tangga. Namun, sejauh apa pun harap insan, aku tak pernah berpikir bahwa ia akan mati secepat ini.

Kenedi ditemukan membusuk di bangunan dua lantai—tempat yang aku dan Willis kunjungi beberapa waktu lalu. Setelah diautopsi, pihak rumah sakit mengatakan bahwa pria itu keracunan sianida. Ia bunuh diri. Terkejut, pasti. Namun, aku berpikir realistis. Daripada Kenedi menumpuk dosa di dunia, lebih baik Tuhan segera mencabut nyawanya.

Telapak tangan bergetarku mengusap bahu Kian yang naik turun karena isak tangis. Aku tahu saat itu ia masih terlalu dini untuk memahami kekerasan yang Kenedi lakukan pada ibu. Mungkin hal tersebut yang menjadi alasan hingga Kian amat terpuruk karena kepergian.

"Maaf." Berulang kali Kian mengucapkan maaf pada Kenedi sebelum beranjak, memelukku erat.

Kusesap feromon Kian. Kuusap pula rambutnya sebelum mendaratkan kecupan pada dahi pria itu. Andai ia tahu bahwa Kenedi adalah manusia terkeparat di hidup kami, mungkin Kian sama sepertiku—tak bersimpati meskipun Kenedi telah mati.

"Ayah sudah tenang di sana." Aku berucap demikian agar Kian tenang. Tak ingin munafik—meskipun hidupku tidak termasuk ke jajaran orang-orang suci—tapi aku berani bertaruh bahwa Kenedi akan menerima siksaan yang setimpal.

Adikku melepas peluknya, kemudian menyorot netra ini dalam. Ia seolah menuntut penjelasan yang kusembunyikan. "Beritahu aku banyak hal yang menjadi rahasiamu."

Aku menggeleng, kemudian tersenyum lembut ke arahnya. Kuperhatikan rambut Kian yang beterbangan akibat angin. Dari garis wajah, ia tampan. Namun, mengapa aku sesak ketika menyadari bahwa ketampanan Kian berasal dari Kenedi—pria yang kusumpahi mati?

"Kaneena ...." Ia memanggilku lembut.

Aku masih bisu. Hanya sorot ini yang makin pekat. Kenedi adalah durjana. Ia seorang pendusta, pelaku kekerasan, pemain wanita, pemabuk, dan ... penghancur mental Kaneena. Satu hal yang amat kubenci dan hingga detik ini tak pernah termaafkan adalah, pria itu pernah berupaya menjualku layaknya pelacur. "Yang aku tahu, ia pemabuk." Ragaku berbalik, menggenggam pergelangan tangan Kian, berusaha menyembunyikan luka yang terpancar di wajah ini. Ia pernah memerkosaku, Ki, putri kandungnya.

***

"Yaps, bagus, Kaneen! Posemu sangat natural."

Siapa yang mengatakan aku baik-baik saja setelah Kenedi ditemukan tewas bunuh diri? Banyak sekali paradoks yang menghantui rasa ini, kemudian memecah buihnya menjadi percikan luka. Namun, insan lain belum tentu tahu.

"Sedikit mendongak, Sayang!" Fotografer yang berusaha mengambil rupaku amat lihai dengan kameranya.

Melirik sekilas dengan wajah mendongak, aku menemukan Willis yang menyilangkan lengan di dada.

Kaki jenjang ini bersilang ke sana kemari, menampilkan aura seksi yang demi Tuhan masih dapat dimaafkan daripada model-model majalah dewasa.

"Kibaskan rambut panjangmu, Kaneen!"

Perlahan, aku menyentuh tengkuk, kemudian menyibak surai penuh goda, membiarkan kilatan kamera menerpa kulit. Ini hidupku, mata pencaharianku, meskipun tak sepenuhnya memberi Kaneena kebahagiaan.

Willis berlari ke arahku dengan bathrobe putih di lengan ketika pemotretan telah usai. Benda itu ia sampirkan pada tubuh seksi ini—berbalut lingerie yang tak terlalu transparan—kemudian memberi satu cup Teh Thailand. "Kerja bagus, Kaneena." Pria itu bertepuk tangan di depan wajahku, mampu menghibur sebelum mendapat decakan lidah ini.

"Jika tidak bagus, bagaimana mungkin aku dapat menggajimu?" ucapku sebelum berlalu, meluruskan tubuh di kursi santai sembari mengalirkan cairan pelepas dahaga. Mengingat sesuatu, aku mengacungkan telapak tangan setelah meletakkan cup di meja.

Seolah paham, Willis memberiku kacamata hitam.

Aku bersandar santai di kursi, merasakan silau yang perlahan menusuk kulit.

Hidup ini melelahkan, tapi akan lebih melelahkan jika kau hanya duduk manis dan menerima penderitaan. Setidaknya, berusaha bangkit untuk meraih kesuksesan dan menghapus bayangan luka terkesan lebih masuk akal.

Dulu, ketika aku berusia empat belas tahun, Kenedi menjual Kaneena kecil ke pria hidung belang. Namun, Tuhan memberi jalan hingga gadis sepolos usianya dapat melarikan diri.

Dulu aku masih duduk di kelas empat Sekolah Dasar. Sepulangnya dari les tambahan, betapa terkejutnya jiwa murni ini ketika menemukan ibu dipukuli oleh Kenedi yang tak berperi. Setelahnya, ia membuat madu dengan seorang jalang di hadapan kami.

Kenedi merampas seluruh harta ibu, kemudian pergi begitu saja. Sekali kembali, ia nyaris menjual sang putri. Gagal, tapi keparat itu berhasil merenggut harga diriku. Kaneena yang masih dini meminta ibu menceraikannya hingga kami memisahkan diri. Tak ada saudara yang memayungi karena terkadang, keluarga tak lebih baik daripada orang asing. Lantas, apakah aku masih berdosa jika membenci Kenedi?!

"Kaneena!"

Aku tersentak sebelum mengedipkan mata berkali-kali. Ingat, Kaneena tak akan menangis di depan orang lain. Jika pun aku menangis, hal tersebut menandakan bahwa perih ini tak tertahankan lagi.

Penuh keterkejutan, aku menemukan Kian. "Kian, bukankah kau telah kembali ...." Ucapanku menggantung, menyelisik pria di sisi kirinya. Wajah itu amat familier, tapi di mana aku pernah bertemu dengannya? "Mengapa menemuiku di lokasi pemotretan? Tidak bisa nanti saja?"

Kian berdecak kesal. Ia membenahi bathrobe-ku yang sempat menampilkan vulgar.

"Aku sedang ada urusan di Jakarta. Ketika menelepon Willis, kebetulan lokasi ini dekat dengan kami." Kian tersenyum, beralih pada pria di sampingnya. "Pak, perkenalkan, ini Kaneena, kakak perempuan saya."

Aku berkedip bingung, kemudian mengacungkan telapak tangan ketika Kian menyenggol bahu ini. "Saya Kaneena. Kaneena Azzura, kakak dari Kian Azzura."

Pria itu berdehem sebelum membalas uluran tanganku. "Saya Dosen Pembimbing Akademik Kian."

Memutar memori lampau, aku mengangguk semringah. "Bapak yang merekomendasikan Kian untuk mengikuti beasiswa ke Amerika?!" Aku kembali menarik tangannya akibat refleks sebelum tersentak karena pria itu melepas cekalan ini kasar. "Ah, maaf, saya terlampau senang. Jadi—"

"Kian, saya masih memiliki urusan yang lebih penting dari ini. Sebaiknya, kita segera pergi dari sini." Pria itu berucap sangat ketus dengan wajah santai.

Mataku membola setelah mendengar untaian kalimat angkuhnya. Berbeda dengan Kian yang menggaruk tengkuk, aku memilih menyilangkan lengan di dada. Rasa kesal ini menggunung setelah menyadari bahwa ia adalah pria yang mengenakan kemeja merah hati, penggendong balita tiga tahunan di lorong rumah sakit.

Tanpa kata, Kian dan pria sialan itu meninggalkanku.

"Permisi!"

Sesuai harapku, mereka menoleh ke arahku.

"Pak Rayen—"

"Untuk usiamu, cukup panggil aku dengan sebutan, 'Baeck'." Ucapannya amat dingin, mampu membekukan seluruh sarafku hingga membentuk gumpalan gondok.

"Ah, ya, apa pun itu." Aku membalas dengan nada kesal. "Bukankah kau pria berkemeja merah hati yang kutemui di rumah sakit?" Stilettoku mendekatinya. Setelah beralih dari Kian yang menautkan alis bingung, Baeck masih tampak santai.

"Ah, benar." Ia manggut-manggut. "Bukankah kau artis papan atas tak tahu diri yang membiarkan kepopulerannya mengusik ketenteraman orang lain ketika di rumah sakit?" Pria itu berbalik setelah melempar sarkas, mendahului Kian yang melepas napas frustrasi.

Memperhatikan punggung Baeck, darahku naik hingga ubun-ubun. "Jika aku adalah artis tak tahu diri, kau adalah pria tak tahu terima kasih!"

Seolah tak mendengarku, pria itu melangkah makin jauh. Sungguh, aku tidak percaya bahwa dosen yang merekomendasikan Kian untuk mendapatkan beasiswa adalah Baeck. Aku pikir ia malaikat, tapi tak lebih baik dari setan.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status