Share

Separuh Uang Tabungan

Ratih menangis sambil memegangi bagian tubuhnya yang sakit akibat perlakuan orang tuanya. Belum lagi dia harus memberikan uang tabungan yang selama ini dimilikinya. Jika dia memberikan uang tersebut kepada ayahnya, bagaimana nanti dengan keperluan sekolah, padahal Ratih juga berniat untuk mengenyam pendidikan hingga ke bangku kuliah.

Dengan langkah tertatih dia masuk ke dalam kamar. Rasa lelah setelah berjualan sampai dirumah bukan sambutan hangat yang diterima olehnya, namun perlakuan kejam dari sang ayah yang harus dia rasakan.

Sambil merebahkan tubuhnya dikasur tipis, Ratih masih memikirkan bagaimana caranya dia tak menyerahkan semua uangnya pada sang ayah.

Brak! Brak! Brak!

“Buka pintunya!” Lagi-lagi Ratih dibuat senam jantung oleh teriakan Pak Basuki. Dengan perasaan was-was dia bangkit dari pembaringannya.

“Mana uang yang kamu punya?” sergah Pak Basuki begitu pintu kamar dibuka oleh Ratih.

Belum juga Ratih menjawab, Pak Basuki sudah menerobos masuk ke dalam kamar. Dibukanya lemari baju yang terdapat dipojok kamar, dia mengeluarkan semua isi yang ada didalamnya.

“Dimana Ratih?!” Pak Basuki menatap nyalang padanya setelah dia tak menemukan apa yang dia cari.

Ratih mendekati sang ayah meskipun dalam hatinya dia merasa takut.

“Ayah, uangnya Ratih tabung di sekolahan. Jika ayah mau menunggu, besok Ratih akan bicara pada wali kelas,” jelas Ratih dengan lembut.

“Awas jika kamu berbohong,” pungkas Pak Basuki lalu berlalu meninggalkan Ratih dengan perasaan kecewa.

Mungkin memang saat ini orang tuanya sedang membutuhkan uang itu, dan siapa tahu setelah Ratih turut membantu perekonomian sang ayah, dia bisa diakui oleh keluarganya, pikir Ratih.

Seburuk apapun Pak Basuki memperlakukan dirinya, dia tetap menganggap Pak Basuki adalah orang tuanya. Dia tidak ingin membalas perlakuan Pak Basuki dengan cara berbuat durhaka.

Setelah membereskan pakaian yang berserakan dilantai akibat dari ulah Pak Basuki, Ratih memilih untuk istirahat. Rasa nyeri ditubuhnya masih terasa, tak ada obat atau minyak urut untuk sekedar meredakan nyeri, namun Ratih sudah terbiasa dengan hal ini.

===

Tok Tok Tok

“Permisi Bu Nina,” sapa Ratih dengan menunduk hormat didepan ruang guru.

“Oh kamu Ratih, silahkan masuk,” jawab seorang guru yang merupakan wali kelas Ratih, Bu Nina. Ratih tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan Bu Nina.

“Ada apa Ratih?” tanya Bu Nina setelah sebelumnya mempersilahkan Ratih untuk duduk dikursi kosong yang ada dihadapannya.

“Begini Bu, Ratih ingin mengambil tabungan, apakah boleh?” tanya Ratih ragu.

“Tumben sekali, tahun lalu bahkan uang tabungan kamu juga tidak diambil. Kamu mau ada keperluan apa?” tanya Bu Nina terlihat heran namun tetap tersenyum menatap Ratih.

“Eeemmm itu Bu, Ayah membutuhkan uang itu,” ujar Ratih.

Sejenak Bu Nina diam sambil menatap gadis lugu namun pintar yang ada dihadapannya. Bu Nina tahu jika sebenarnya Ratih hidup dilingkungan yang tidak berpihak padanya, dan saat ini pasti Ratih mendapat tekanan dari ayahnya.

“Ibu tidak melarang kamu mengambil uang tabungan kamu Ratih, tapi saran dari Ibu, lebih baik kamu jangan mengambil semua uang tabungan untuk diberikan kepada orang tua kamu. Bukannya sebentar lagi kelulusan sekolah dan kamu ingin melanjutkan ke bangku kuliah?” Bu Nina mencoba memberi pengertian kepada Ratih.

Dia tak ingin murid berbakatnya ini harus kehilangan masa depan hanya karena dia mengabulkan keinginan sang ayah. Apalagi uang yang ditabungnya itu adalah hasil jerih payah Ratih sendiri.

Semua guru disekolah ini sangat mendukung kesuksesan Ratih. Dengan ketidak sempurnaan yang dimilikinya tidak melunturkan semangat belajar dan menuntut semua ilmu yang diberikan di sekolah. Dan itu sangat terbukti dari prestasi prestasi yang diraihnya.

“Tapi Ratih takut ayah marah Bu,” ucap Ratih dengan wajah tertunduk.

“Tidak usah takut, nanti Ibu bantu kamu membuat buku tabungan yang palsu supaya ayahmu tidak tahu berapa jumlah tabungan yang kamu miliki sebenarnya. Bagaimana?” tawar Bu Nina pada Ratih.

Seketika wajah Ratih terlihat semringah. Benar apa kata Bu Nina, dia tak boleh mengambil semua uang tabungan, toh juga yang penting sang ayah tetap menerima uang darinya, apalagi hasil penjualan mulai hari ini pasti akan diminta olehnya.

"Terima kasih banyak ya Bu sudah membantu saya,” ucap Ratih dengan senyum mengembang.

Bu Nina mengangguk dan tersenyum. Uang tabungan Ratih akan diberikan setelah jam pelajaran sekolah usai, dan Bu Nina juga lebih dulu akan membuat laporan uang yang ditabung oleh Ratih dengan buku tabungan yang baru. Tentu saja nominalnya tidak sama dengan uang tabungan yang dimiliki Ratih saat ini.

Setelah menerima uang tabungan yang diberikan oleh Bu Nina, Ratih pun menuju ke tempat dia biasa mengambil kue yang akan dijual. Sebelumnya dia sudah mengganti seragam sekolahnya dengan baju dari rumah yang sudah disiapkan sebelumnya.

Namun ditengah perjalanan dia melihat seorang gadis kecil sedang menangis sambil memegang sebuah kertas. Ratih pun menghampiri bocah kecil itu.

“Halo adik, kamu kenapa menangis?” tanya Ratih dengan ramah padanya.

Bocah itu seketika mendongakkan wajahnya, diusapnya sisa air mata yang membasahi pipi gembulnya.

“Ini Kak, lukisan aku rusak. Huhuhu,” jawabnya sambil kembali terisak.

Ratih mengambil kertas yang ada ditangan mungil bocah itu. Ternyata itu sebuah lukisan bertemakan pemandangan alam. Namun sayangnya beberapa bagian lukisan tersebut catnya luntur, seperti terkena air.

“Kalau boleh Kakak tahu, ini tadi lukisan adik kenapa?”

“Tadi tak sengaja jatuh di genangan air itu Kak. Aku tadi mencoba berlari mengejar kucing yang hampir saja tertabrak oleh motor, eh malah lukisanku, huhuhu. Padahal tugas itu harus dikumpulkan sore ini Kak,” terang gadis itu dengan terbata bata.

Ratih tersenyum melihat kepolosan bocah cilik yang ada dihadapannya.

“Ya sudah, ayo biar Kakak bantu untuk melukis lagi, mau?” tawarku.

Seketika tangis yang keluar dari bibir mungil itu berhenti, tersirat kebahagian di kedua manik mata anak kecil itu.

“Beneran Kakak mau bantu aku?” tanyanya mencari kepastian pada Ratih.

Ratih mengangguk lalu tersenyum dan mengusap pucuk kepalanya, “ayo sekarang kita beli perlengkapannya dulu.”

Bocah itu pun tersenyum lebar, dengan penuh semangat dia dan Ratih pun mencari perlengkapan untuk melukis.

Meskipun baru pertama bertemu, keduanya terlihat akrab, nampak seperti kakak beradik. Nama gadis kecil itu adalah Renata.

Dia tak jijik melihat kondisi Ratih yang tidak sempurna, Renata gadis yang baik. Mereka berdua melukis ditaman tak jauh dari lokasi dimana mereka bertemu. Sesekali mereka tertawa bersama menceritakan kisah kisah lucu.

“Waaahhh, ternnyata Kakak jago melukis ya. Aku suka banget sama lukisan Kakak,” puji Renata begitu melihat hasil lukisan Ratih. Dia hanya tersenyum menanggapi celoteh Renata.

“Udah jadi nih. Kalau ada yang kurang kamu bisa tambahin sendiri ya,” tukas Ratih sambil menyerahkan lukisan tersebut pada Renata.

“Makasih ya Kak udah nolongin aku. Aku suka sama lukisan Kakak. Kalau tidak ada Kak Ratih, pasti aku tidak bisa mengumpulkan tugas dari Kak Rai tepat waktu,” ujar Renata sambil menerima hasil yang diberikan oleh Ratih.

Kedua bola mata Renata memperlihatkan ketakjuban melihat lukisan tersebut, sungguh berbeda jauh dengan miliknya tadi.

“Kak Ratih mending jadi guru lukis aja di sanggar milik Kak Rai, bagaimana?” ajak Renata dengan semangat.

“Guru lukis?” gumam Ratih mendengar tawaran dari gadis yang baru dikenalnya tersebut.

Pandangan Ratih menerawang jauh ke depan, jauh didalam lubuk Ratih sebenarnya dia ingin sekali menyalurkan bakat melukisnya. Namun apalah daya, waktunya sudah habis untuk belajar dan mencari biaya untuk pendidikan.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status