Share

6. Pagi yang Baru

Ibu melepas Mas Reihan sambil menangis.

"Bu haji, kayak Reihan mau pergi ke luar negeri saja!" goda Mas Reihan membuat ibu tersenyum simpul saat menghapus dua sudut matanya yang basah.

Melihatnya bersedih, aku merasa kasihan sama ibu. Ibu posesif begitu karena terlampau menyayangi anaknya. Apalagi bapak sudah meninggalkan ibu lebih dulu. Ibu pasti kesepian dan terlalu khawatir Mas Reihan akan pergi meninggalkannya karena sibuk dengan keluarga barunya.

Aku jadi tak tega meninggalkan ibu, tapi jika mengingat semua sikap ibu kepadaku, aku selalu ingin kabur dari rumah ibu.

"Ren, kalau nggak sibuk pulang, ya? Mas mau tinggal di rumah kontrakan mulai sekarang!" pinta Mas Reihan di telepon, membuyarkan lamunanku.

"Oh, bagus kalau gitu! Mas jadi nggak khawatir karena ibu nggak sendirian!"

"Gimana mas?" tanyaku penasaran setelah Mas Reihan menutup teleponnya.

"Semua urusan kampus Rena sudah beres! Tinggal nunggu wisuda katanya jadi hari ini dia pulang."

"Alhamdulillah, syukurlah kalau gitu mas, ibu nggak sendirian!"

Mas Reihan hanya mengangguk menanggapinya.

"Emh, mas, kalau boleh tahu ibu tadi pesan apa? Kok sampai bisik-bisik segala?" tanyaku penasaran.

"Oh, itu! Ibu minta aku jangan terlalu baik dan perhatian sama kamu nanti kamu ngelunjak katanya!" ucap Mas Reihan datar seolah tanpa beban.

"APA MAS?" seruku dengan dada memanas. "Kok bisa ibu berpesan begitu?" Jelas, aku merasa ibu tak adil padaku.

"Kan kamu kalau takut, nggak akan berani bantah dan manut-manut aja! Nah ibu minta aku didik kamu jadi istri penurut!" jelasnya datar.

Dadaku langsung bergemuruh. Tak habis pikir dengan ibu mertuaku yang sampai hati punya pikiran seperti itu? Ibu kan perempuan, tidakkah ibu bisa peka dan mampu meraba perasaan sesama perempuan?

"Ibu kok tega sih, mas, bilang begitu?" sesalku kecewa setengah mati. Padahal baru saja aku bersimpati padanya.

"Udah biarin aja! Nanti lagi kalau ibu minta apa-apa sama kamu, kamu nurut aja. Kamu harus belajar buat bisa ambil hati ibu, Lin!"

Aku cemberut mendengar Mas Reihan lebih membela ibu dibanding aku. Padahal jelas-jelas disini aku yang jadi korban! Tapi sudahlah, kadang Mas Reihan sama ibu sama saja. Berdebat dengan mereka yang ada membuatku terlihat semakin salah.

* * *

Pagi ini aku sengaja bangun lebih awal. Beres-beres rumah dengan semangat, masak dengan semangat, semuanya seperti aku melakukannya dengan senang hati. Tidak seperti saat di rumah ibu aku melakukannya karena ada rasa segan dan tak enak sama ibu.

"Ceria banget!" tanya Mas Reihan melihat wajahku sumringah seperti bunga yang baru mekar.

Aku hanya tersenyum lebar menjawabnya.

"Gitu dong, ceria! Aku jadi tambah semangat lihat kamu senyum!" ucap Mas Reihan jujur.

Mas Reihan tidak pernah menggombal. Apa yang diucapkannya selalu jujur menyampaikan isi hatinya. Bahkan Mas Reihan selalu jujur saat aku bertanya tentang apapun. Termasuk pertanyaan satu ini yang sering membuatku dongkol.

"Apa ibu tadi menjelekkan aku lagi, mas?"

"Iya, katanya kamu lelet dan agak telmi (telat mikir) kalau disuruh racik bumbu masak." ucapnya datar.

Aku cemberut dan dongkol.

"Ibu tadi ngomongin aku, mas?"

"Iya, katanya kamu lelet kalau beres-beres rumah dan masih kelihatan berantakan!" jawabnya jujur.

Aku cemberut lagi dan kesal.

"Ibu bilang apa, mas?"

"Jangan manjain kamu, nanti kamu manja dan ngelunjak! Sekarang aja ibu kasih tahu udah berani bantah!" jawab Mas Reihan apa adanya membuat dadaku kembang-kempis menahan emosi.

Mengingat kejujurannya yang terlalu apa adanya, aku jadi penasaran dan ingin bertanya lagi padanya, "Memang wajahku biasanya gimana, mas?"

"Cemberut, merajuk, atau nangis mulu. Pokoknya bikin aku kadang lihat kamu jadi badmood!"

"Yang benar, mas?" tanyaku merasa bodoh.

"Iya, aku lebih suka lihat wajah kamu yang ceria seperti sekarang!" ucapnya datar, tak ada maksud memuji, tapi sukses bikin hatiku melayang.

"Mas mau makan sekarang?"

"Boleh! Kamu masak apa?"

"Sop Iga!"

"Wah mantap, mau dong!"

"Raisa, sayang, ayo, makan sama-sama!"

"Oke, mama!" jawab Raisa yang tengah anteng mewarnai buku bergambarnya yang baru.

Aku pun menyendokkan nasi ke piring suamiku dan ke piringku. Aku selalu makan sepiring berdua dengan Raisa.

Aku tersenyum tanpa henti, hampir empat tahun aku menanti momen indah seperti saat ini. Bertiga di meja makan, suami dan anakku lahap menikmati masakanku dan berceloteh sambil tertawa riang. Oh, indahnya... mimpiku yang sederhana akhirnya terwujud saat ini dan aku sangat bahagia.

"Emh!" seru Mas Reihan dan juga Raisa hampir bersamaan.

"Kenapa mas?"

"Aneh!" serunya sambil tertawa.

"Asin banget!" ungkap Raisa.

Aku pun penasaran mencobanya. Perasaan tadi rasanya udah pas, cuma waktu aku tambahin merica, tak sengaja kebanyakan jadi terpaksa kutambahkan gula cukup banyak buat ngurangin rasa pedasnya. Eh, malah rasanya berubah manis. Terus kutambahkan garam dan bumbu kaldu agak banyak untuk mensiasatinya.

"Asin! Aneh!" seruku lagi dengan kening berkerut. Lidahku bahkan terasa masih kesat saking asinnya masakanku yang rasanya berubah nano-nano. Jauh dari rasa khas sop iga yang enak buatan ibu mertua.

"Maaf, mas!" kataku dengan rasa bersalah.

"Iya, nggak apa-apa! Makanya kamu harus mau belajar masak sama ibu!" sarannya membuatku cemberut. 'Bisa nggak sih mas, jangan bahas ibu dulu untuk saat ini?' kesalku dalam hati.

Tapi Mas Reihan membuatku terharu, ia tetap memakannya meskipun rasanya aneh dan keasinan. Raisa bahkan tidak mau memakannya lagi. Dia memintaku menggorengkan telor pecah (telor mata sapi setengah matang yang bisa ia pecahkan kuning telurnya)  untuk sarapannya.

Melihat ekspresi wajah Mas Reihan yang meringis menahan asin berkali-kali membuatku merasa bersalah.

"Udah mas, jangan dimakan lagi! Ini kan nggak enak!" ucapku merasa tak enak hati.

Mas Reihan hanya tersenyum, mencegah tanganku menarik piringnya hingga ia melahap habis semua nasi.

"Makasih ya, Lin! Besok-besok kurangin garamnya sama di-pas-in rasanya he... he... "

"Iya, mas! Nanti aku masak yang enak buat kamu. Aku kapok ngeracun kamu makanan 'aneh' lagi!" timpalku membuat Mas Reihan tertawa.

"Nanti kamu nggak usah masak, besok pagi aja! Buat makan malam aku bawain, ya?"

"Iya, mas! Makasih, ya!"

"Raisa, papa kerja dulu, ya!" pamitnya sambil melambaikan tangan pada Raisa.

"Hati-hati, mas!" pesanku sambil mengecup punggung tangannya dan melepas kepergiannya di pintu.

"Dadah, papa!" teriak Raisa sambil melambaikan tangannya.

Aku lantas menuntun Raisa ke ambang pintu, melambaikan tangan sekali lagi kepada Mas Reihan yang makin menjauh dari pekarangan rumah bersama roda besi yang ia kemudikan.

Desy Relistia

Hai Readers, jangan lupa vote dan kasih dukungan lewat komentar ya! Jejakmu di komentar sangat berarti sebagai penyemangat ribuan ide brilian di kepala author. Thank you, yaa ^;^

| Like

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status