Share

Bab 2 : Bukan Kucing Biasa?

''Theo, kalau kau pergi jangan lupa kunci rumahnya ya.'' ucap ibuku di depan pintu. Ia menggandeng adikku untuk pergi ke sekolah sebelum pergi ke kantor. Aku tersenyum, ''Iya bu, aku sudah bukan anak kecil lagi lho.''

''Tapi sampai kapanpun kau tetap anak ibu,'' Wanita paruh baya itu menghela napasnya. ''Baiklah kami pergi dulu, Tia bilang 'selamat tinggal' pada kakak.''

''Selamat tinggal kak!''

Senyumku belum luntur saat aku mengantar mereka sampai di depan pagar. Hari ini aku tidak ada kelas pagi, jadi aku bisa mengurus kucing yang aku bawa kemarin. Keadaanya sekarang sudah baik-baik saja, walau ia tak banyak bergerak.

''Setelah ini kita pergi ke dokter hewan ya.'' Aku mengelus kepala kucing itu lembut. Dari keadaannya yang sedari tadi diam tapi santai, mungkin saja keadaannya sudah baik-baik saja. Kucing ini tidak tampak seperti kucing liar, dia berbulu berwarna abu dan bermata hijau zamrud. Mungkin jenis russian blue?

''Tidak perlu membawaku ke dokter hewan, aku baik-baik saja.''

Aku mengerjapkan mataku lalu menengok ke arah jendela. Hanya ada tetanggaku yang sudah berumur senja sedang sibuk menyirami tanamannya, apa tadi dia yang bicara?

''Hei, lihat kemana kau? Lihat kemari.''

''Eh?'' Aku menundukkan kepalaku, kucing itu menatapku dengan intens. ''Tidak mungkin kucing ini yang bicara kan? Besok aku harus mempersiksakan telingaku ke dokter THT.''

''Pfft, kau suka bercanda ya nak. Memangnya aneh kalau kucing bisa bicara?'' Kucing itu menatapku dengan tatapan mengolok. Aku yang perlahan mulai menyadari sesuatu itu memundurkan tubuhku ke belakang dengan kasar, pantatku mendarat dengan keras ke lantai. ''AAAAAH!"

"Hei jangan teriak!''

'' ... Aku mulai gila ya?'' Mataku terbelalak lebar-lebar dan tangan kananku mencengkram kepalaku sendiri. Ini tidak mungkin, yang seperti ini hanya ada di novel atau karangan fiksi lainnya.

''Terima kasih sudah menolongku kemarin, manusia. Omong-omong, aku bukan kucing walau fisikku seperti ini, jadi berhenti memanggilku 'kucing itu' dan panggil aku 'Mammon'!'' Kucing itu bangkit dari tempat duduknya dan perlahan mendekatiku. Mammon? Rasanya nama itu tidak asing.

Tunggu ...

''MAMMON!? Mammon itu raja iblis simbol dosa keserakan, kan!?" ucapku sambil berteriak. Mendengarnya, Mammon menyeringai padaku. ''Ooh, sepertinya aku populer juga ya di kalangan manusia. Kau benar.''

Aku pernah mendengar nama Mammon dari game atau komik yang pernah kubaca di internet. Nama Mammon sendiri pernah disebutkan dalam kitab suci, tapi aku tidak menyangka mereka bisa mengubah wujud seperti ini, bukankah wujud iblis sangat menyeramkan?

''K-kalau kau iblis, kupersilahkan kau untuk keluar. Aku seorang penganut agama yang baik, aku tidak ada niatan menjadi pengikut iblis.'' Aku menatap Mammon dengan kekhawatiran yang terlukis pada wajahku. Apa yang sudah kulakukan, mengundang iblis ke kediamanku sendiri? Apa dia menginginkan jiwaku?

''Hei, aku tidak tahu hal aneh macam apa yang kau pikirkan, tapi apapun itu, tidak seperti yang kau pikirkan.'' Mammon memandangku dengan tatapan malasnya, ''Aku tidak ada niatan mengambil jiwamu atau membuat kontrak denganmu.''

''Kontrak? Maksudnya menjalin semacam hubungan denganmu, begitu?''

''Kurang lebih.''

Aku menghela napas, ''Baiklah. Kalau begitu aku merasa tenang. Kau boleh singgah sampai kau sembuh, tapi setelah itu kumohon pergi. Aku tidak mau terlibat apapun denganmu.'' Aku perlahan bangkit dan berjalan menuju kulkas, tenggorokanku terasa kering karena berteriak.

Aku hanya bisa berandai-andai, bukankah ia raja iblis? Kenapa dia ditemukan dengan keadaan mengenaskan kemarin? Seharusnya ia punya kekuatan besar, jadi ia pasti punya masalah besar dengan kelompok atau raja iblis lain. Apapun itu, aku tidak mau terlibat.

''Hei manusia, apa kau punya makanan untukku? Aku lapar.''

''Eeh, seorang raja iblis tidak bisa mendapatkan makanannya sendiri?''

''DIAM!''

.

Jarum jam menunjukkan jam setengah tiga sore, aku mengepak modul buku bisnisku dan bersiap pergi ke kampus. ''Baiklah, waktunya untuk mandi dan merias diri.'' Aku meninggalkan tasku yang sudah tertata rapi dan pergi ke kamar mandi. Selepas mandi, aku tidak melihat Mammon sama sekali. Apa dia sudah pergi?

Terserahlah, itu urusannya sendiri.

''Baiklah, waktunya berangkat!'' Aku perlahan menutup pintu dan menguncinya sesudah memastikan seluruh jendela tertutup rapat. Tidak lupa aku membawa modul milik Dominique.

Untuk pergi ke kampus, aku menaiki bus lalu berjalan sekitar 500 meter setelah turun dari halte bus. Dari kejauhan aku bisa melihat bangunan kampusku yang berdiri dengan megah. Universitas Lambroudge, universitas ini termasuk universitas bergengsi yang terkenal akan jurusan kedokteran dan farmasi yang luar biasa. Oleh karena itu persaingan untuk masuk ke jurusan itu sangatlah mengerikan, dan Dominique berhasil diterima. Ditambah lagi ia berhasil menarik perhatian para dosen.

Berbeda denganku yang biasa-biasa saja, aku belajar mati-matian demi bisa satu universitas dengan Dominique. Jurusanku, bisnis dan manajemen juga cukup sulit, tapi untung saja keberuntungan memihak padaku.

Kesampingkan itu, kini aku berada di fakultas farmasi, tempat biasanya Dominique berada, aku mengintip-intip ruang dosen yang cukup sepi. Mungkin sebagian besar dari mereka sudah pulang.

''Apa yang sedang kau lakukan?''

''UWAH!" Seketika aku menjauh beberapa langkah, aku mulai tenang saat melihat sosok yang membuatku kaget tersebut. ''Dominique!? Kau mengejutkanku!''

''Eh? Aku bertanya dengan nada yang biasa saja, lho.''

''Kukira kau dosen atau kakak tingkat ... aku takut dikira orang yang mencurigakan.'' Aku mengusap rambut coklatku frustasi.

''Kau memang kelihatan seperti orang yang mencurigakan.''

Aku menepuk pundak Dominique sebagai balasan dari ucapannya. ''Aku mencarimu, modulmu kemarin tertinggal. Ketika aku hendak menyusulmu, kau sudah hilang.'' Dominique tampak sedikit terkejut, ''Kau benar. Aku mencari-cari modulku kemarin, ternyata ketinggalan ya.''

''Yah, err ... kau bawa apa itu?'' Aku menunjuk sekantung paperbag yang ia jinjing di tangan kanannya. ''Makan siang, sekarang sedang istirahat.'' jawabnya. ''Ayo ikut aku makan siang.''

''Tidak usah!''

Kryukk ... Suara bunyi perut terdengar dengan jelas, asalnya dari perutku. Dasar, perutku tidak bisa diajak kerjasama, memalukan. Aku bisa merasakan wajahku yang perlahan memanas karena malu.

''Pfft, mulut dan perutmu tidak selaras. Ayo ikut makan, aku beli banyak.'' Ia berjalan duluan, dan aku mengekor di belakang. Kami duduk di bangku depan ruang jurnal, Dominique membuka makanannya dan menyisihkannya sebagian. Ia memberiku minuman yang ia beli di minimarket. Kami mengobrol tentang beberapa hal, sebelum Dominique menunjuk ke arah tasku.

''Hey, Theodore. Ini mungkin perasaanku saja, tapi daritadi aku lihat tasmu seperti bergerak sendiri.'' Ia menunjuk ke arah tasku dengan penasaran. Tasku hanya berisi modul, tidak ada yang lain.

Aku memutuskan untuk mengecek tasku dan betapa terkejutnya aku saat menemukan Mammon mengoyak isi tasku dengan cakarnya, dengan kesar aku menarik tengkuk kucing itu. ''Apa yang kau lakukan di dalam tasku!?" bisikku dengan nada sepelan mungkin.

''Aku bosan, oke!?"

"Kalau bosan keluar saja! Kenapa kau malah masuk ke dalam tasku!?"

"Anu ...,'' Dominique memandangku dengan tatapan gugup, ''Kau bawa kucing ke kampus, Theo? Dan sejak kapan kau punya kucing?''

''T-tidak ini—'' Aku kebingungan berusaha mencari alasan yang masuk akal. ''Kurasa ia menyelinap ke tasku saat aku tidak melihat. Kucing ini titipan teman ibuku!'' Aku tidak tahu apa Dominique akan percaya, tapi ini cukup masuk akal, bukan?

Ia hanya memandangku dalam diam, ia hanya menunjukkan senyum penuh arti di wajahnya. '' ... Jika kau tidak siap memberitahuku tidak apa-apa.''

''Bukan begitu,'' Aku tertunduk. Hei, mana mungkin aku mengatakan bahwa kucing itu bukan kucing melainkan iblis, kan? Orang bisa berpikir aku gila atau delusional. Bisa-bisa aku dikira pengidap skizofrenia.

Dominique mengecek handphone miliknya, ''Waktunya aku masuk kelas. Theo, habiskan makanan yang kuberi ya.'' Ia langsung pergi dengan tergesa-gesa tanpa melihat ke belakang.

''Hei!'' Aku berusaha memanggilnya, tapi ia tidak mendengarku. Aku melemparkan diriku lagi ke bangku yang tadi kududuki. ''Hei Mammon, jangan ikut aku masuk ke dalam kelas. Pergilah berkeliling.''

Mammon hanya mendengus, ''Baiklah! Jangan tinggalkan aku, ya!'' Iblis bersosok kucing itu perlahan pergi menjauhiku, aku menghela napas kasar. Setelah ini apa lagi yang akan terjadi ya?

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status