Share

Hati yang Patah

Alyasha memasuki restoran kelas menengah Itu dengan langkah anggun. Ada senyum yang terbentuk di bibirnya. Satu-satunya hal yang mengindikasikan bahwa ia tengah tidak sabar untuk bertemu seseorang adalah gerak kepalanya yang menoleh pelan kesana kemari. 

Mas Arya meneleponnya hari itu. Menanyakan jika Alyasha punya waktu untuk makan siang bersama. 

Tentu saja Alyasha mengiyakan. Hubungannya dengan Mas Arya sudah jauh membaik daripada sebelumnya. Alyasha tidak mau mengecewakan suaminya lagi.

Langkah kaki Alyasha terhenti ketika matanya menemukan sosok sang suami. Hanya saja, Mas Arya tidak sedang sendiri, ada seseorang yang sedang duduk di sampingnya. Jessy, si sekretaris. Jarak mereka kelewat dekat di mata Alyasha. Rasa tidak sukanya pada Jessy bertambah satu tingkat. 

Ia melihat Jessy meraih napkin, dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa didengar Alyasha dari jaraknya berdiri. Lalu, wanita itu mengusap sudut bibir Mas Arya dengan napkin. Padahal, Alyasha cukup yakin tidak ada noda apapun di sana!

Alyasha mengepalkan tangannya. Adegan ini cukup klise; ia yang berdiri beberapa langkah dari suaminya yang terlihat seperti sedang digoda perempuan lain. Alyasha akan tertawa jika saja bukan ia yang sedang mengalami ini.

Alyasha segera memperbaiki ekspresi wajah. Memasang senyum percaya diri yang biasa ia berikan untuk mengintimidasi orang-orang yang berpotensi untuk memandang rendah dirinya. Jessy hanya orang luar, sekedar sekretaris. Ia jelas bukan apa-apa dibanding Alyasha.

Mas Arya tampak memegang tanganJessy, dan menjauhkan dari wajahnya. Ia mengatakan sesuatu, membuat Jessy menarik tangannya, dan tertunduk malu sambil menggumamkan sesuatu.

Alyasha tidak bisa menahan senyum penuh kemenangan di bibirnya. Ia yakin Mas Arya pasti baru saja menegur sekretaris tidak sopan itu. Hahaha. Rasakan.

"Mas Arya," sapa Alyasha. Ia melirik sekilas Jessy yang tersenyum kaku ke arahnya.

"Aku kira kita akan kencan berdua saja," ujar Alyasha separuh bercanda. Ia dengan jelas mengabaikan keberadaan Jessy, dan hanya menatap pada sang suami.

Mas Arya tersenyum minta maaf. Ia bangkit dan menarik kursi untuk sang istri. "Tadinya, rencananya memang begitu. Tapi, ada perubahan untuk schedule meeting setelah makan siang nanti. Makanya aku ajak Jessy sekalian."

"Oh." Kelopak mata Alyasha turun, berlagak seperti istri penurut. "Kalau Mas Arya masih perlu diskusi soal kerjaan, aku bisa pindah, kok, makannya. Nggak mau ganggu."

Mas Arya seketika meraih tangannya di atas meja. Alyasha bersorak dalam hati.

"Jangan. Kamu tetap di sini. Temani aku makan siang. Lagian, ini juga udah selesai, kok." Mas Arya menoleh pada Jessy, dan bertanya, "Sudah semuanya, 'kan? Atau ada yang perlu saya ketahui lagi?"

Pesan Mas Arya sangat jelas; kalau tidak ada lagi, kamu silakan pergi. Alyasha harus menggigit bagian dalam pipinya agar tidak tersenyum lebar. 

"Sudah semuanya, Pak."  Jessy buru-buru berdiri. "Kalau begitu, saya permisi dulu."

Alyasha melempar senyum manis ketika Jessy mengangguk ke arahnya. "Mbak Jessy sangat pekerja keras, ya. Jangan sampai lupa makan siang, lho."

Senyum Jessy jelas terlihat dipaksakan sebelum ia meninggalkan pasangan suami istri itu.

Mas Arya memerhatikan Alyasha selema beberapa saat. "Kenapa, Alya?"

"Apanya yang kenapa, Mas?"

"Mas perhatikan kamu nggak terlalu suka sama Jessy."

"Nggak, kok, Mas. Biasa aja."

"Hm, gitu." Mas Arya menekuni menu. "Jessy itu cara kerjanya bagus. Tapi, kalau kamu terganggu, Mas bisa cari sekretaris lain."

"Nggak usahlah, Mas. Aku enggak apa-apa, kok. Kan Mas Arya punya aku, yang lain bisa apa," canda Alyasha.

Aryadi terkekeh mendengarnya. 

***

Alyasha telah menikah selama enam belas tahun dengan Mas Arya. Dan selama itu, tidak sekalipun ia meragukan kesetiaan suaminya. Ia bahagia. Hidupnya sempurna. Dua orang anaknya seperti permata hati baginya.

Namun, tidak ada yang mempersiapkannya akan apa yang ia lihat tepat di depan matanya kini. 

Pintu ruang kerja Mas Arya agak terbuka ketika Alyasha berkunjung. Ia sengaja tidak mengetuk, ingin memberi kejutan pada sang suami. Siapa yang menyangka malah ia yang mendapat kejutan yang sangat buruk?

Karena di atas sofa, Mas Arya, suami yang ia percayai jiwa raga, tengah bergumul dengan seorang wanita. 

Alyasha tidak mungkin salah mengenali wanita itu.

Jesselyn.

Wanita itu melempar senyum penuh kemenangan pada Alyasha lewat bahu Mas Arya. 

Alyasha mundur selangkah, tidak bisa memercayai apa yang tengah ia saksikan. 

Suara desah Jessy yang dilebih-lebihkan menyentakkan Alyasha kembali ke dunia. Ia langsung berbalik. Lari. Pergi jauh. Tidak ingin menghadapi kenyataan di depannya.

Mas Arya?

Mas Arya! 

Suaminya yang ia cintai sepenuh hati tega melakukan ini? Apa....apa perlakuannya pada Alyasha selama ini adalah kebohongan belaka? Semua kelembutannya? Kata-kata cintanya?

Air mata Alyasha jatuh bebas sepanjang ia melajukan mobilnya tanpa arah yang jelas mau ke mana. Pikirannya kacau. Ia langsung menepikan mobil begitu seseorang di belakangnya mengklakson keras-keras karena ia menyalip ugal-ugalan.

Dengan gemetar Alyasha mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Juan," ucapnya dengan suara bergetar. "Juan, tolong aku...."

"Queenie? Ada apa?" Juan mendengar suara isakan Alyasha di seberang telepon."Oketenang dulu, oke? Jangan bergerak dari tempatmu. Beritahu aku kamu ada di mana, aku akan pergi ke sana sekarang."

***

Aryadi kesal. Sungguh. Jesselyn benar-benar sudah melewati batas. Aryadi tidak buta. Ia jelas tahu bahwa Jesselyn hanya pura-pura tersandung kaki sofa dan menarik Aryadi sehingga jatuh menimpa tubuhnya. 

Aryadi tidak menyadari Alyasha yang segera berbalik pergi ketika itu.

Ia mendorongnya kasar. Ia menatap dingin Jesselyn dan mengucap satu kata yang tidak bisa dibantah,

"Keluar."

Jesselyn bergegas meminta maaf dan keluar dari ruangan. 

Aryadi hanya tidak tahu bahwa apa yang Jessy harapkan sudah ia capai. Alyasha sudah melihat sang suami menindih wanita lain di kantornya sendiri. Seteguh apapun kesetiaan dan kepercayaan seorang wanita pada suaminya, siapa yang masih bisa tenabg setelah menyaksikan itu?

Jesselyn tersenyum senang sambil membenahi ikatan rambutnya. Kini ia tinggal menunggu hasil dari benih-benih pertikaian yang telah ia tebarkan.

***

"Alya?"

Hari itu Aryadi pulang ke rumah dan mendapati sang istri terduduk di tepi ranjang mereka. Matanya memerah sembab sepeeti habis menangis. Alyasha tidak menoleh ketika Aryadi memanggilnya.

"Mas, aku ingin Mas jujur sama aku."

Aryadi menaruh tas kerjanya dan duduk di samping sang istri. "Alya, ada apa?" 

Ia mencoba menyentuh tangan Alyasha, namun Alyasha menghindarinya.

"Mas Arya sama Jessy...." Suara Alyasha tercekat. Rasanya ingin menangis lagi.

Aryadi mengerutkan kening. Apa Alyasha cemburu pada Jessy lagi?

"Tidak ada apa-apa di antara kami, Alya."

Alyasha meremas piyama tidurnya dengan kepala masih menunduk. "Aku ingin Mas berhenti mempekerjakan Jessy."

Aryadi terdiam sesaat. Setelah kejadian hari ini, ia memang mempertimbangkan untuk memberhentikan Jessy. Namun, ada proyek perusahaan yang tengah berjalan dan Jessy sudah tahu seluk beluk untuk mengerjakannya.  Selain itu, akan susah mengajari sekretaris baru lagi di tengah-tengah jalannya proyek seperti ini.

"Untuk saat ini, aku nggak bisa, Alya. Perusahaan masih membutuhkannya."

Alyasha tampak menggigit bibir bawahnya. 

"Alya," panggil Aryadi sekali lagi. Kali ini mencoba mengelus pipinya. "Kamu jangan khawatir. Kamu tahu hanya ada kamu seorang untukku."

Alyasha mengalihkan pandangannya, sekaligus menghindari sentuhan Aryadi. Ia menghela napas.

"Aku mau tidur dulu, Mas. Aku lelah."

Aryadi merasa heran dengan perubahan hati sang istri. Kemarin ketika ia menawarkan untuk memecat Jessy, Alyasha bilang tidak usah. Kenapa sekarang tiba-tiba ia ingin Aryadi memberhentikannya? Bingung, Aryadi berusaha memikirkan alasan Alyasha berubah pikiran, namun ia tetap tidak bisa menemukan jawabannya.

Malam itu Alyasha tidur dengan memunggunginya. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status