Share

Pt. 05 : Diusir dari Kos-kosan

"Kok bisa?!" Pekik Silvi di seberang nun jauh disana, aku menelponnya dengan sisa keberanianku. Tubuhku bergetar menahan gejolak di dadaku. 

"Aku bisa jelasin nanti, sekarang kamu bisa kesini?" Tanyaku dengan suara datar, pandanganku kosong menatap langit sore yang mulai menggelap. Sejam yang lalu aku sampai kosan dengan di hadapakan wajah panik Alana, semakin kalut karena melihat barang-barangku sudah di luar kosan semua, sempet ngeri bayangin apa barang-barangku di lempar? Kan kasihan laptop ku kalauy kebanting. Tapi syukurlah nggak di lempar-lempar, tapi sumpah teriakan ibu kos membuatku bergidik ngeri. 

"Aku bikin kos-kosan kaya gini bukan untuk di utangi ya mbak! Jadi tolong kalau nggak bisa bayar pergi sekarang! Ingat! Kamu masih hutang bayar kos 3 bulan! Bayar itu akhir bulan nanti! Sekarang kamu pergi!" teriak bu Lis tadi membuat jantung ku seperti berhenti, udah di usir, masih di anggap hutang pula? Tapi ya emang aku salah sih, ya gimana ya? Aku akhirnya janji untuk melunasinya akhir bulan ini dan aku berterimakasih karena laptop ku nggak di lempar. Bu Lis nya diem aja dan aku pergi. Alana sempet nangis, katanya baru kali ini Bu Lis semarah itu sama anak kos, biasanya telat pun nggak akan semarah itu bu Lis, bahkan Alana saja udah 5 bulan ini belum bayar kos, banyak yang kaget juga karena setau anak-anak kos sini ibu kos terkenal santuy. Aku jadi mikir, di kampus aku terhempas di kosan pun di tendang. Nikmat sekali hari ku ini? Pengen nangis tapi sampai aku nelpon Silvi semua masih tertahan di dadaku. 

"Kamu di mana Ara?!" bentak Silvi menyadarkanku dari angan-angan betapa tajam ucapan bu Lis padaku.

 

"Di depan warung kafi..." sahutku setelah meregang ke terkejutanku. 

"Aku kesana," ujar Silvi tanpa permisi sudah mematikan sambungan telpon. 

Ddrrrttt...

Ponselku bergetar lagi, nomer tak di kenal? Siapa? Aku pribadi selama ini kalau ada pesan masuk tanpa nama jarang merespon, tapi awalan kalimat yang muncul membuatku membukanya. 

+62821098xxxxx : "menikahlah denganku, maka keadaanmu akan lebih baik Ara... -Candra-"

Mataku membola, dia gila? Aku udah nolak berkali-kali masih maju aja? Andai aku bisa mengatakan pada siapapun, aku ingin teriak "aku takut dengan pernikahan! Tidak akan menikah selama ketakutan ku masih ada!". Dan aku nggak pernah bisa menyuarakan itu, tidak bisa! Ini sulit. 

###

“gimana ceritanya sih Ra? Aku nggak paham sama semua kejadian ini,” Tanya Silvi dengan sangat tidak sabarannya setelah membantuku mengangkut barang-barangku yang memang tidak banyak, dua ransel pakaian dan satu kardus buku sekaligus separangjat laptop serta balakurawanya. Motor mio biru putih itu udah kaya teman setia Silvi, yang bahkan seandainya digunain buat ngangkut beras sekwintal kuat.

“aku yang jalanin aja masih bingung, apalagi kamu yang hanya pendengar setia…” kataku sambil melihat sepanjang perjalanan menuju kontrakan Silvi yang berjarak sekitar 500 meter dari warung kafi.

“itu ibu kos laknat amat sampe begitu? Aku inget banget Alana bahkan udah 5 bulan gak bayar, gak ada tuh sejarahnya Alana di usir…” tukas Silvi terdengar emosi.

“kamu tau dari mana Alana telat bayar?” 

“dia kemarin cerita sendiri di sanggar, itu si Diana juga…”

“Diana siapa Vi?”

“anak FBS… yang alay itu…”

“oh, Diana yang kpopers itu?”

“ya siapa lagi anak FBS yang sekosan sama kamu Ara?”

“ya aku kan gak tau kalau Diana itu sekosan ama aku, emang dia juga telat bayar?”

“ampun deh ini anak! Kamu hidup di hutan mana sih Ra?”

“amason mungkin…”

“serius ini Ra! Diana itu di HMP bahasa sampe terkenal modis luar tapi ancur dalemnya, dia tuh jarang di kosan… ayam kampus dia, udah gitu Vira pernah cerita kalau Diana itu langganan telat bayar sampe beberapa bulan… nyatanya masih betah aja di sana… ibu kosmu nggak adil Ra!” ungkap Silvi hamper berteriak saat roda motor berhenti di depan rumah kontrakan dia, ketika jiwa ghibah mulai meronta-ronta. 

“bu Lis udah bukan ibu kos ku lagi,” kataku sambil turun dari motornya membawa kardus buku ku dan menurunkan tas yang tadinya kutaruh diatas paha selama perjalanan kami. Sambil masuk kedalam rumah minimalis yang selama dua tahun ini ia singgahi, kadang aku mikir betapa beruntungnya Silvi yang selalu terlihat rejekinya sampai tumpah-tumpah, tapi secara logika juga aku serimh menyangkal pikiran itu, dia kan anak yang rajin dari SMA pun udah mandiri dan banyak prestasi, lha aku? Mau membandingkan diri akhirnya piker-pikir lagi 1001 kali lagi. “apa aku jadi ayam kampus aja ya? Biar uangnya banyak… bisa bayar kuliah juga…” celetukku ketika ingat pekerjaan sampingan beberapa mahasiswa yang katanya jadi ayam kampus untuk melangsungkan hidup di perantauan.

PLETAKKK

“ahhhh… sakit Vi!” teriakku saat merasakan nyeri di pundakku karena kelakuan Silvi yang memukulnya dengan tangan terkepal, ishhh ini bukan tangan cewek kayaknya, sakit banget serius.

“kamu sebenernya tau nggak sih ayam kampus itu apaan?” Tanya Silvi terlihat sangat marah, aku hanya ingat kata Naya waktu itu kalau ayam kampus itu bahasa kerennya mahasiswa yang jualan anget-anget pas udah sore gitu, penjual wedang ronde kan juga nyediain yang anget-anget kan? 

“tau,” jawabku dengan lagak cuek ku, aku meletakkan barang-barangku di ruang tamu rumah kontrakan Silvi. 

“apa coba?”

“anak kampus yang kerja jualan anget-anget di bawah plasa sama sekitar alun-alun…”

“hah? Siapa yang bilang?”

“naya…”

“kok tau kalau banyak uangnya?”

“ya kan penjual gorengan, ronde, wedang jahe, bajigur, warkop juga jualan anget-anget Vi, mereka kalau jualan sore-sore tuh pulang pagi dan selalu laris kan artinya banyak duit keuntungan bejibun…”

“astaghfirullahal’adzim… thobatannasuha…” erang Silvi dengan menutup wajahnya, aku tau dia frustasi. Tapi salahku dimana? “Asmara….” desis Silvi tertahan.

“kurang apa ku padamu… cinta menusuk jan-“

“siapa suruh nyanyi?!”

Bentakan Silvi itu membuatku kicep, aku diam dan menikmati kesunyian yang kuciptakan di otakku. Seharusnya aku yang pusing hari itu, saat pengusiran demi pengusiran terjadi padaku berturut-turut, saat kepercayaan orang-orang di sekelilingku mulai meruntuh. Tapi yang terjadi Silvi justru sangat emosional menghadapiku, aku hanya butuh banyak bicara untuk mengabaikan rasa sakitku, mengesampingkan mataku yang memanas hamper menumpahkan laharnya, aku masih diam bebrapa saat, aku mendengar beberapa kali Silvi memanggilku, dan mulutku seketika bisu.

“mau kemana?” Tanya Silvi yang masih kuingat sedikit panik dan ada nada penyesalan, ya mungkin karena panggilan-panggilannya tadi ku abaikan dalam diamku.

“jangan ikuti aku! Jagain barang-barangku aja.” Kataku tanpa menoleh padanya dan keluar dari rumahnya. 

Hari itu aku berjalan tanpa mempedulikan teriakan Silvi, hari itu aku menuju tempat yang mungkin akan membuatku lebih tenang tanpa beban. Beberapa kali aku menghela nafas di sana, otakku sudah menyusun beberpa skenario yang muncul tanpa permisi. Waktu itu aku beristighfar sebanyak yang aku bisa, mataku sempat ngeri juga melihat derasnya air sungai.

“hidupmu terlalu berharga untuk diakhiri di tempat ini,” suara bariton yang tidak asing di telingaku membuat langkah ku terhenti sebelum terlalu jauh, aku menoleh padanya. Aku tersenyum sinis sebelum melangkah lagi.

###

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nurul Aminin
Jangan berpikir untuk mengakhiri hidupmu...
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status