Share

Zivano Hermawan

Jangan pernah menilai seseorang dari luar saja. Terkadang apa yang dilihat mata tidak sesuai dengan kenyataan. Prameswari Paramitha. Wanita yang hidup bergelimang harta, disegani pegawai, ditakuti pesaing bisnis, bahkan hidupnya penuh sanjung juga puja. Mereka bilang hidupnya sempurna! Namun, tidak ada yang bisa mengira sedalam apa dia menyimpan semua lukanya.

Dia seorang upik abu yang beruntung menjadi seorang ratu. Seperti ulat menjijikkan yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu cantik. Mereka tidak pernah tahu apa yang telah dikorbankannya hingga sampai di titik itu. Air mata, gelimang luka, bahkan cinta pertamanya. Andai mesin waktu itu ada, pasti dia orang pertama yang rela menukar dengan seluruh harta, bahkan jiwanya.

Hutang budi yang ditanamkan keluarga Hermawan membuatnya tidak sanggup menolak keinginan sang pilar utama untuk dinikahkan dengan putra sulung keluarga tersebut. Lelaki berpostur tegap, berkulit putih, bergaris rahang tegas, dan memiliki sorot sedingin kutub. Zivano Hermawan. Mitha masih ingat malam pertama yang harusnya menjadi momen yang mendebarkan bagi pengantin baru, justru awal dari penderitaannya. Setiap ingatan itu datang selalu saja menorehkan luka semakin dalam.

"Mas, ada wanita di kamar kita, dia bilang Mas yang suruh?"

"Iya, kenapa?!" jawab Vano tanpa melihat padanya

"Tapi ... Mas, inikan mal ...."

Vano tersenyum mengejek. "Malam pertama hanya untuk pasangan yang saling mencintai! Kita bukan pasangan dan yang harus kamu tau ... AKU MEMBENCIMU! Jadi jangan pernah berharap aku akan bersikap manis padamu!" potong lelaki itu kejam.

Mitha tersentak! Ada benda tak berupa dengan cepat melesat menyayat jantungnya. Perih hingga membuat sekujur tubuhnya gemetar. Pandangan wanita itu nanar karena terhalang kabut tipis. Bulir-bulir bening segera menggenang di pelupuk mata.

"Ke-kenapa, Mas ...," erangnya lirih.

Vano mendekat. Danau kelam milik lelaki itu seakan-akan hendak menenggelamkan Mitha di sana "Kau tanya kenapa?! Kau menghancurkan hatiku, karna kau Evelin pergi. Satu-satunya wanita yang kucintai di dunia ini meninggalkanku karna ambisimu menjadi seorang nyonya Hermawan!" raungnya dengan sorot mata nyalang penuh api kebencian.

"Apa? Kau dan Evelin ... maaf, aku tidak tau," lirih Mitha tersendat.

Vano mendengkus. "Munafik! Evelin sahabatmu, tidak mungkin kau tidak tau hubungan kami. Kau tau, tapi menutup mata dan mengkhianati sahabatmu sendiri," cibirnya.

"Demi Tuhan, Mas! Aku tidak tau, Evelin tidak pernah bercerita padaku.  Ak ...."

"CUKUP! Hentikan sandiwaramu, jika bukan karna Papa, aku tidak sudi menikah denganmu. Akan tetapi, tenang saja akan kubuat kau merasakan sakit yang kurasakan," ancam Vano, kemudian berderap meninggalkan Mitha.

Akhirnya cairan bening yang menggenang di pelupuk tumpah juga. Debit airnya tak mampu ditahan kelopak mata, lalu luruh membentuk aliran sungai di pipi Mitha. Daya di tubuhnya seolah-olah ditarik dengan paksa keluar sehingga jatuh terduduk ke lantai. Hati si wanita yang semula berbunga, layu bahkan mati sebelum sempat berkembang. Ada yang patah dan berderak menjadi serpihan menusuk dadanya. Asa yang sempat dibangun hancur berkeping-keping seketika. Sepanjang malam dihabiskannya dengan menangis, hingga pagi menjelang masih dengan gaun pengantin melekat di badan.

*

Gelap masih enggan meninggalkan langit. Sang surya juga setia bermalas-malasan di peraduannya, meski ayam jantan telah lantang berkokok sejak tadi. Mitha memandang langit dari balkon kamar. Udara dingin yang terasa menusuk kulit mengembalikan ingatannya kembali setelah berlari sejenak menjemput masa lalu. Dia merapatkan jubah tidur berwarna merah hati, berharap hangat menjalari sekujur tubuh. Aroma citrus perlahan terhidu lembut menggelitik indra penciumannya. Perpaduan mandarin oranye, kayu manis, pala, serta cengkih tercium. Aroma familier yang telah menemaninya selama tiga tahun menikah.

"Ada angin apa kau mengunjungiku sepagi ini, Mas?" tanpa melihat Mitha tahu siapa sosok yang kini mendekatinya

"Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya Vano. Kini dia berdiri di sisi wanita itu. Tangannya bersedekap dengan pandangan lurus ke depan.

Sudut bibir Mitha terangkat. "Apa maksudmu, Mas?" 

Vano memutar tubuhnya. Satu tangan terbenam di saku celana sedangkan tangan yang lain mencengkeram pinggiran pagar balkon. 

"Apa maksudmu memerintahkan inspeksi ke dalam jajaranku?!" tanyanya sengit.

Mitha terkekeh. Berbalik melangkah masuk ke dalam kamar. 

"Itu keputusan Dewan direksi, tidak ada hubungannya denganku."

Vano berderap mendekat. "BOHONG! Aku tau pasti ada campur tanganmu, bukan?" tanyanya dengan raut murka.

Mitha berbalik, menantang netra hitam itu. Matanya menghunjam tepat di manik kelam milik Vano.

"Jika aku membantah, apa kau akan percaya?" balasnya tak kalah sengit.

"Kau memang tidak bisa di percaya," desis Vano.

"Kau memang tidak pernah percaya padaku. Di hatimu secuil pun tak ada rasa untukku. Seberapa besar usahaku meyakinkan tetap tidak bisa menyentuh hatimu," ucap Mitha, suaranya serak menahan pilu.

Vano bergeming. "Aku sudah memperingatkanmu sejak awal, apa sekarang kau menyesal?"

"Menyesal?! Kau sudah terlanjur menyulut api, Mas. Pantang bagiku untuk mundur. Jika, harus terbakar biar kita terbakar bersama menjadi abu!" Mitha mendekati Vano, hingga jarak mereka tinggal sehasta saja, "lupakah bahwa kau ingin membuatku menderita, merasakan sakit hati? Atau sekarang kau sudah lelah, Mas?"  Tak sedikit pun mata Mitha berkedip menantang sorot Vano yang memancarkan kebencian.

Vano mengepalkan kedua tangannya, mencoba menekan emosi di dada. "Baiklah jika itu maumu. Kita lihat, siapa yang akan menjadi pemenang, kau atau aku." Sang lelaki berderap meninggalkan Mitha yang masih menatapnya dengan tatapan menajam.

Setelah sosok lelaki itu lenyap, netra bening Mitha pun meredup. Wanita itu sedikit terhuyung mencapai pinggiran ranjang. Tiga tahun selalu berpura-pura kuat, menjadi wanita ambisius yang dingin, dan tidak berperasaan. Namun, jauh di sudut hati ada luka yang bernanah dan terlanjur membusuk. Luka yang ditorehkan Vano sejak malam pertama pernikahan mereka.

Ancaman lelaki itu dan perlakuannya, membuat Mitha memasang tameng sekuat baja untuk melindungi hati serta hidupnya. Jika hidup wanita itu terselamatkan, tidak dengan hatinya. Pengkhianatan yang dilakukan Vano seakan tidak pernah usai. Kadang ada kalanya dia ingin menyerah kalah, tetapi janji pada Presiden Komisaris sekaligus ayah mertua menahan asanya.

Mitha sangat menyayangi panti asuhan tempat dia di besarkan. Jika dia menyerah menghadapi Vano, otomatis semua fasilitasnya akan dicabut. Termasuk meratakan panti asuhan tempat dia dibesarkan. Dia masih sangat waras untuk tidak membiarkan anak-anak di panti terusir dari rumah mereka. Jika pengorbanannya bisa membuat anak-anak itu tersenyum, maka dia rela menceburkan diri dalam derita tak berkesudahan.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status