Share

Patah
Patah
Penulis: Sandra Setiawan

Prolog

GUNDUKAN tanah itu tentu masih basah. Bahkan petugas penggali kubur baru saja menancapkan nisan penanda makam. Dari namanya, jelas gundukan itu menyembunyikan jasad seorang wanita berusia menjelang empat puluh tahun. Setelah prosesi pemakaman selesai, satu per satu orang yang turut berduka pergi. Hingga sisa empat orang lelaki. Seorang suami dan tiga anaknya. Yang paling kecil berusia delapan tahun.

Bocah terkecil inilah yang wajahnya paling merana. Matanya bengkak, wajahnya sembab, hidungnya terlihat sangat merah di kulitnya yang putih. Tanpa malu dia menggosokkan lengan bajunya ke hidung untuk mengelap lendir. Wajahnya sangat berduka. Bahkan saat yang lain bersimpuh di sisi makam, dia masih memeluk nisan itu. Mengabaikan tanah merah basah yang mengotori baju dan banyak bagian kulitnya. Dia bahkan tidak peduli ketika wajahnya dipenuhi kotor tanah. Tak puas hanya memeluk nisan, dia memeluk gundukan tanah bersama taburan bunga sementara sebelah tangannya tetap memeluk nisan.

Isaknya masih terdengar. Isak yang sulit dihentikan tanda terlalu lama menangis. Sampai akhirnya ayahnya memaksanya berdiri dia terus memeluk gundukan tanah berpegangan pada nisan. Ayahnya menarik paksa pinggangnya sampai membuat nisan itu nyaris tercerabut. Sampai akhirnya ayahnya berhasil mengangkat si bocah dan membiarkan sejenak anaknya kembali meraung di kaki kubur sambil dia sendiri mengatur napas.

Raungan merana bocah berduka itu membelah langit sore bersama semburat jingga di ufuk barat.  Siapa pun yang mendengar raungan itu, mereka akan menolehkan wajah, ingin melihat siapakah yang sedemikian merana dipisahkan kematian yang pasti datang.

Dan hati siapa pun itu akan ikut teriris ketika melihat bocah lelaki kotor tanah merah meraung memanggil ibunya.

“Mama… Mama… Manggala ikut, Mama… Mama…”

“MAMAAA…. MANGGALA IKUUUTTT…” Dia kembali berteriak meraung.

Tak bisa dibiarkan, ayahnya menarik paksa si bocah lalu menggendongnya di pinggang. Mereka sudah terlalu lama di makam ini. Langit sudah semakin meredup. Matahari sebentar lagi hilang.

Tapi kesedihannya tidak berakhir di situ. Selama ini hanya mamanyalah orangtua yang dia kenal. Papanya terlalu sibuk bekerja. Ketika mamanya pergi, dia begitu kehilangan sampai merasa dunianya hilang.

Dia memang merindukan mamanya, tapi anak sekecil itu sudah bisa merasai bahwa mamanya tidak akan tergantikan. Termasuk ketika papanya datang memperkenalkan seorang perempuan cantik yang akhirnya dengan berat hati dia panggil Mama.

Kupanggil dia Mama, tapi dia bukan ibuku.

Anak kecil itu merasa ada yang salah. Bahkan mamanya belum genap dua bulan lalu pergi. Kenapa begitu cepat ibu pengganti datang? Dia tidak mau ibu pengganti. Tapi bocah sekecil itu bisa apa? Bahkan dia tidak mengerti bahwa yang dia rasa adalah sebuah kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan. Dia hanya tahu bahwa dia kehilangan pegangan. Dan tanpa pegangan dia tumbuh sendiri dengan semua luka yang dia bawa. Menutupi semua luka dengan diam yang sangat kental.

Anak kecil itu bernama Manggala Abipraya Sastradinata.

***

Tapi begitulah kehidupan. Memiliki roda yang terus berputar tanpa henti yang manusia sebut waktu. Tak peduli cerita apa pun yang terjadi di putaran rodanya, dia akan terus bergerak dengan kecepatan konstan. Membbuat ada kisah kematian dan ada cerita kelahiran.

Ada yang datang dan ada yang pergi.

Di saat seorang bocah kecil kehilangan ibunya, di tempat lain seorang anak lahir menyapa dunia. Anak perempuan dengan tangisan yang melengking kuat. Gerakan tubuhnya mantap. Semua tenaga kesehatan di ruang itu bersorak gembira dengan kedatangannya. Bayi itu sudah terlihat cantik meski baru melewati pintu ke dunia yang baru. Kepalan tangan kecil itu terus mengentak meninju, siap menghalau siapa pun yang mengganggunya menangis. Tangis yang bisa menutupi teriakan kesakitan ibunya yang berdarah-darah melahirkan dia. Tapi bukan sakit itu yang membuatnya berteriak. Teriakan itu hanya caranya menutupi kesedihannya. Kemarahannya.  Kekecewaannya.

Ada luka lain yang membuatnya meraung keras. Berharap ini adalah akhir kehidupannya. Berharap dia bertukar nyawa dengan anak yang harus dia lahirkan.

Anak itu lahir lebih cepat dari rencana karena jiwanya begitu terguncang ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri suaminya berasyik masyuk dengan perempuan lain. Jadilah dia bersalin sendirian dengan hati hancur. Tak ada kebahagiaan ketika perawat menunjukkan anaknya yang begitu cantik dan sehat.

Yang dia rasa bukan bahagia. Yang dia rasa adalah sedih dan... benci…. Tapi ini bukan yang pertama, dan yang pasti dia yakin ini juga bukan yang terakhir. Masih akan ada kekecewaan lain yang harus dia rasakan jika dia masih bernapas.

Dia merasa tidak bisa menolak nasib, tidak bisa menolak jalan hidupnya. Dia tak mau lagi berharap lelaki yang dia sebut sebagai suami akan menjadi lelaki yang dia impikan. Dia tahu, pangeran berkuda putih itu bukan untuknya. Kekecewaan yang tidak bisa dia keluarkan pada lelaki itu ternyata membutuhkan tempat untuk bermuara. Dan yang ada hanya bayi merah kecil yang menangis ribut mengganggu heningnya.

Dia tak mau melihat bayinya sendiri.

Bayi itu akhirnya tumbuh sendiri hanya didampingi baby sitter yang berganti-ganti. Bayi itu tumbuh sehat dan kuat. Kehidupan batin yang keras tanpa bimbingan orangtua membuat dia menjadi pribadi yang keras. Tak ada yang bisa menghalangi keinginannya. Dia sekeras batu karang. Wajahnya yang cantik menyembunyikan dengan rapat kekerasan hatinya.

Bayi kecil dengan lengkingan yang keras, kepalan tangan kuat, dan gerakan mantap itu akhirnya diberi nama Prisha Nayara.

***

Dua nama yang akhirnya akan berkali-kali bersinggungan dalam kehidupan mereka selanjutnya.

***

Bersambung

Author’s note:

Menulis Manggala dan Nayara sebenarnya mengeluarkan saya dari zona nyaman. Tokoh di novel sebelumnya selalu berlatar belakang keluarga bahagia. Tapi di Patah kedua tokohnya adalah broken home. Karena itu saya kasih judul Patah. Broken.

Kalau Ian aja yang sengaja saya bikin falling in love at the first sight saya butuh 110k words (edisi kembali ke asal malah 150k words) untuk membuat Rey jatuh cinta, maka ketika MGP dan Nay jadi 150k saya sih nggak heran. Keduanya harus saling mengenal dari awal dan perlahan saling jatuh cinta. Iya, meski nggak seperlahan itu juga, masih dibantu kebetulan-kebetulan yang bikin mereka sering bertemu. Aneh rasanya kalau kehidupan dua orang yang kebetulan bersinggungan tiba-tiba jatcin dan memutuskan menikah. Jatcin nggak semudah itu juga, Bro.

Pada dasarnya saya orang yang nggak percaya dengan frasa jatuh cinta pada pandangan pertama. Terlalu main fisik. Tapi, well, untuk novel, saya beberapa kali pakai tema itu untuk mempercepat cerita. Tau sendiri kan jari saya bawelnya tak alang kepalang.

Lalu sepatah apa sih kehidupan mereka?

Tepatnya masa lalu mereka sih. Nayara datang dari keluarga berantakan sedangkan Manggala korban bullying. Awalnya Nayara begitu kuat, Manggala begitu rapuh. Lalu entah bagaimana ceritanya, kondisi berbalik. Nayara menjadi rapuh dan Manggala begitu kuat. Eh, bukan entah bagaimana ceritanya sih. Tapi di situlah cerita ini berkembang. Bikin mereka jatcin lalu membalik kondisi psikologis mereka kemudian membuat mereka kukuh untuk tetap bersama. Itu yang bikin saya jadi sebawel ini.

Tokoh di novel ini nggak banyak. Jadi beneran fokus di mereka berdua aja. Setting masih di Jabodetabek. Melipir dikit ke Parung Kuda. Mimo dan Shaq muncul dua kali ketika saya butuh tokoh tanpa perlu menjelaskan siapa mereka. Iye, kalau yang baca Ruang Rindu kenal Mimo dan Shaq. Yang nggak baca? Ya baca juga Ruang Rindu lah. Itu kan iklan Ruang Rindu terselubung. *wink*

Ngomong-ngomong, eh, ngetik-ngetik, di atas saya nyinggung soal Ian versi kembali ke asal yang 150k words.  Ian itu naskah aslinya nyaris dua rim belum sampai timit. Banyak scene kena sabet samurai Emak. Karena dulu di PN memang begitu tuntutannya. Nggak boleh bertele-tele. Nah, karena sekarang saya publish di platform kepenulisan yang publish per bab, style di sini beda. It’s okay berpanjang kata dan bab. Maka di New BDTH saya masukkan scene-scene yang dulu kena sabet.  Nggak sampai mengubah cerita. Plot tetap sama. Mantan Ian yang di sana tetap cuma tiga, April, Gladys, dan Cattleya si cinta platonis. Mantan lain tetap saya buang. Saya kadung suka sama plot Ian hasil diskusi saya dan Emak berbulan-bulan.

Terus yang dimasukin scene apa?

Teuing lah. #plak

Paling nggak di New BDTH ketauan kenapa Rey kalau panggil Tristan abang. Dan Rey ternyata nggak se’dikali nol’ gitu juga kok. Ada juga cowok yang bikin Ian merasa aneh.  Dan yang saya suka sih di New BDTH tuh tokoh Dee dan Nana lebih menunjukkan perannya sebagai sahabat Rey. Beneran jadi tempat Rey curhat. Nggak cuma sesekali muncul untuk dijodohkan sama Ari dan Aa.

Bunga di Taman Hati, kalau judulnya dibuat ala-ala sinetron ikan terbang, jadinya begini nih.

Suamiku, dosenku, sahabat kakakku, ipar sahabatku.

Halah.

Patah akan eksis besok di W*****d, KBM app, dan Joylada. New BDTH belum tau di mana. Paling sama juga. Emak keluarin kalau tabungan bab sudah menipis.

Janji Hujan, Rindu Surya, dan Pulang?

Ini yang bikin saya galau. Nggak disebut nanti mereka merasa dianaktirikan. Disebut nanti yang nunggu merasa di-PHP.

Biarkan Senja, Surya, dan Fajar menjalani nasib menuju takdirnya ya. Waktu berpihak pada orang-orang yang sabar. Saya tidak menyesal keputusan saya membuat nasib tiga anak itu terkatung-katung. Mereka tetap mendukung emak dan idealismenya. Sesabar Senja menanti Surya pulang. Sesabar Fajar mengurus Senja. Sesabar Surya bertahan. Jadi tiga orang ini kisahnya gimana?

Sabar.

Ian, Fajar, Manggala?

Saya pilih Fajar.

Rey, Senja, Nayara?

Saya pilih Senja.

Yang terbaik memang menunggu waktu yang tepat untuk publish.

Btw, Emak lagi ngetik anak baru nih. Vladimir, Savannah, Bhagavad. Tanpa sadar semua mengandung huruf V. Wish me luck ya. After story Mimoshaq dan Aa masih belum jelas wujudnya.  Memang harus banyak sabar nunggu anak-anak itu beres. Apalagi Aa. Sudah enam tahun kalian masih nunggu loh. Saya tersandjoeng.

Love you all, My Lovely Readers.

Ketjup Basyah

-Sandra Setiawan-

Emak Ian & Rey

Emak Sophia Anne, Ari, & Dee

Emak Angga & Ells

Emak Senja

Emak Surya

Emak Fajar

Emak Mim & Shaq

Emak MGP & Nay

Emak Bond & RJ

Emak  Vlad, Anna & Bhaga.

[Selasa, 20 Juli 2021, Eid adha 1427H]

Komen (3)
goodnovel comment avatar
Yunique Djafar
setelah baca ini akan kucari semua novelmu mba ku, love:)
goodnovel comment avatar
Sandra Setiawan
etdah, ga bs reply panjang2 di sini.
goodnovel comment avatar
zerokiryuu11
Demi Nay dan Manggala saya kejar mereka sampai ke sini, Mba ... Eh, tapi gak nyesel jg sih soalnya disini bab nya udah banyak jadi cus...lompat ... *eh, kok gitu Soalnya keburu penasaran Mba, jadi saya lanjut baca yg lanjutan di watty aja ya. Gak apa2 kan Mba ... Tetap semangat berkarya ya Mba ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status