Share

3. Terbangun dalam keadaan tanpa busana

"Bastard!" geram Matteo saat mendapati tubuhnya terjerembab di atas lantai tanpa menyadari siapa pelaku yang mendorongnya.

Pria 32 tahun itu berjalan gontai menuju ke sebuah ranjang, karena dalam keadaan mabuk berat pun dia tau bahwa berbaring di ranjang jauh lebih nyaman dari pada di atas lantai yang dingin.

Dibawah pengaruh psikedelik yang Adrian masukkan ke dalam minumannya, menjadikan Matteo berhalusinasi dan mulai bereuforia saat melihat gadis yang dia sukai terlelap di atas ranjang hanya menggunakan pakaian dalam, sementara gaun indah yang melekat pada tubuhnya tergeletak di atas lantai.

"Ah, Luna, aku nyaris berpikir bahwa harapanku akan pupus malam ini." gumam Matteo sembari menyentuh pipi Luna yang sehalus porseline cina. "Ternyata aku salah, kau datang dan menyerahkan tubuhmu sepenuhnya padaku! Sekarang aku sadar, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan!"

Dalam halusinasinya, Matteo melihat Luna seolah sangat berhasrat padanya, sehingga ia pun tertawa renyah karenannya.

"Baiklah, Look at this, Baby," gumamnya sembari melepaskan pakaian yang melekat pada tubuh, sebelum ahirnya mencumbu tubuh terlelap Luna yang dalam halusinasinya gadis itu melenguh kenikmatan dengan segala sentuhan yang Matteo beri.

"Aku harap ini bukan mimpi." gumam Matteo lagi dengan suara seraknya.

Pria itu melepas celana dalam renda yang menutupi bagian tubuh paling sensitif Luna.

"I will do my best, love, ku harap kau masih perawan." ucap Matteo sebelum akhirnya menghujamkan kejantanannya yang telah menegang pada bagian tubuh sensitif Luna yang semula tertutup oleh celana dalam renda.

...................................

Semua tamu undangan dibuat bertanya-tanya atas ketidakadiran Luna di panggung pertunangannya. Hal tersebut tentunya memancing kepanikan Alexander yang mulai mengkhawatirkan keadaan putri kesayangannya.

Luna pernah berkata padanya bahwa dia sangat menantikan hari pertunangan itu, mustahil jika Luna dengan sengaja menghilang di malam pertunangannya.

Tidak jauh dari tempat Alexander berdiri, Adrian berpura-pura bergerak gelisah sebagaimana yang Alexander lakukan.

"Paman, dimana Luna? Bukankah seharusnya dia sudah ada di sini? Waktu dimulainya acara bahkan telah lewat 20 menit, tetapi Luna belum juga muncul." ucap Adrian sembari menarik siku untuk melihat jam yang melingkar di tangan dan memainkan mimik wajahnya agar terlihat segelisah mungkin untuk menutupi perbuatan busuknya.

Alex yang bisa memahami kegelisahan Adrian hanya bisa menarik nafas dalam sebelum menghembuskannya perlahan.

"Kita tunggu dulu sebentar, aku yakin Luna pasti segera datang dan acara dapat segera dimulai." ucap Alexander berusaha menenangkan diri Adrian.

Sederet pertanyaan memenuhi benak pria paruh baya itu. Apa yang sedang menimpa Luna, sehingga putri kesayangannya itu tidak hunjung turun ke hall? Bukankah dia sangat menanti acara malam ini?

Kemunculan seorang pelayan bernama Greta di tengah kegelisahan yang Alex alami seketika mencuri perhatian Alex dan beberapa orang yang ada di sana, termasuk kedua orang tua Adrian.

"Maaf, Tuan, sepertinya Nona Luna berada di koridor kamar pembantu. Tadi saya melihat Nona berjalan di sana." ucap pelayan itu dengan kesaksian palsu, sesuai dengan arahan Emily.

"Benarkah?" tanya Alex tak percaya.

Untuk apa Luna berada di koridor kamar pembantu? Setahunya putri kesayangannya tersebut tidak akrab dengan salah satu pelayan yang ada di sana. Batin Alex bertanya.

Hal itu tentu saja memancing kejanggalan dalam benak Alex.

Diikuti oleh Rosaline-istri keduanya, Adrian, Emily dan beberapa pelayan yang ada di sana, Alex berjalan menuju koridor kamar pembantu untuk mencari keberadaan putrinya. Rombongan berpencar membuka satu persatu pintu yang berada di sepanjang koridor kamar pembantu.

"Tuan, lihat apa yang saya temukan!" teriak salah satu pelayan dengan gesture terkejut, sehingga Alex dengan cepat melangkah ke arah kamar yang memancing keterkejutan pekerjanya.

Diam-diam Emily dan Adrian saling menatap dan tersenyum, upaya mereka untuk bersama akan segera terwujud, tanpa mempedulikan nasib Luna dan Matteo setelahnya.

Mata Alex terbuka lebar sementara salah satu tangannya memegang dada. Jantungnya terasa berdenyut nyeri di bawah telapak tangan, melihat penemuan memalukan yang juga dilihat oleh beberapa pelayan dan Adrian yang merupakan calon tunangan Luna.

"Apa yang sudah dia lakukan?" geram Adrian, berpura-pura marah dengan kondisi Luna yang berada di atas satu ranjang dengan Matteo tanpa sehelai kain menutupi tubuh keduanya.

Alex hanya dapat menarik nafas dalam untuk menelan segala kekecewaan atas perbuatan Luna yang mencoreng wajahnya. Pria paruh baya itu tidak dapat lagi berkata-kata untuk menyangkal, bukti terpampang jelas di depan mata, putri kesayangannya melakukan hal tak senonoh dengan bodyguard yang sangat dia percaya selama dua tahun terahir.

Untuk sesaat mata Alex terpejam dan menarik nafas dalam. Kejadian sehari yang lalu, di mana Luna mengadukan ketidak sukaannya atas keberadaan bodyguard yang dia percaya untuk menjaga putrinya tersebut membuat pelipisnya berdenyut.

'Drama apa yang sebenarnya ingin kau tunjukkan kepada ayah, Luna.' batin batin Alex dalam hati sembari meringis. Jantungnya terasa diiris oleh penghiantan yang Luna dan Matteo lakukan.

Rosaline yang juga sudah tahu rencana busuk Adrian dan Emily menyentuh punggung suaminya lalu berkata,"Seperti itukah kelakuan putri kesayanganmu, Alex?" lirih Rosaline sembari mengerling jijik ke arah Luna dan Matteo yang berbaring di atas ranjang. "Selama ini kau terlalu memanjakannya dan hanya sedikit menaruh perhatian pada Emily. Dan, ya, sekarang kau lihat dengan mata kepalamu sendiri. Bahwa anak yang paling mengecewakanmu justru anak kesayanganmu."

Ucapan Rosaline semakin menyalakan bara amarah Alex terhadap Luna, membuat kedua tangan Alex terkepal di samping tubuh, sementara wajah pria itu mengetat.

"Keluar kalian semua dari ruangan ini, dan jangan berusaha membangunkan mereka. Aku sendiri yang akan menginterogasi mereka begitu mereka bangun dari tidur." ucap Alex dengan suara datar, namun berhasil membuat semua orang yang ada di sana satu persatu meninggalkan ruangan tersebut.

Karena kekecewaan yang mendalam, Alex memilih untuk membiarkan Luna dan Matteo tetap berada di posisi semula. Pria itu hanya berpikir bahwa putrinya dan Matteo hanya tertidur lelap setelah melakukan aktivitas panas mereka, dia tidak tahu bahwa sebenarnya Luna dan Matteo berada di bawah kendali obat-obatan tertentu yang menjadikan keduanya tidak sadar kan diri.

Sebelum benar-benar beranjak dari ruangan tersebut, Adrian membidik kamera ponselnya ke arah Matteo dan Luna, sebelum akhirnya seringai tipis terbit dari wajahnya dan memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku celananya.

.............................................

"Kyaaaaa!" jerit Luna terkejut saat mendapati dia terbangun dalam keadaan tanpa busana bersama Matteo.

Matteo yang merasa terusik dengan jeritan Luna perlahan mengerjabkan mata, dan seketika itu juga pria itu menjerit saat mendapati tubuhnya dan gadis itu tanpa busana.

"Apa yang sudah kau lakukan, pervert!" Luna menutupi tubuhnya dengan gaun pertunangannya yang semula tergeletak di atas lantai.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Matteo balik bertanya yang seketika itu berbalas tamparan keras di salah satu sisi wajahnya.

"Jangan pura-pura bodoh Matteo, aku tahu bahwa kau sebenarnya adalah pria yang sangat licik!" ucap Luna dengan suara bergetar, air mata yang semula menggenangi kedua matanya kini telah luruh melintasi pipi.

Matteo berusaha mengingat-ingat apa yang telah membawanya berada dalam satu ranjang dengan Luna, namun sekeras apapun dia mengingat, tetap saja dia tidak menemukan ingatan bahwa dia memasuki ruangan tersebut bersama Luna.

Jeritan yang berasal dari koridor kamar pembantu menyadarkan para penghuni kamar yang berada di sekitar kamar yang Luna tempati saat ini.

Segera salah satu dari mereka melaporkan kepada Alex.

Tak berselang lama, pintu ruangan diketuk yang seketika membuat Luna dan Matteo menatap ke arah sumber suara.

"Siapa di luar?" sahut Luna.

"Saya Donna, Nona. Tuan menyuruh Anda dan Matteo menemuinya di ruang tamu."

Seketika nafas Luna tercekat, dia merasakan sebuah firasat buruk. Akankah Alex memanggilnya dan Matteo terkait peristiwa memalukan yang dia alami saat ini?

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status