Share

My Future Huby
My Future Huby
Author: Penalancip

Part 1 ( Zea )

"Kamu tidak sarapan dulu, Zea sayang? Mama sudah membuatkan nasi goreng spesial!" seru Mona--mama Zea, gadis yang sedang terburu-buru menuju rak sepatu.

"Makasih, Ma, tapi Zea udah terlambat. Zea Pasti makan pas pulang nanti." Gadis itu berkata sambil tergesah-gesah memasang sepatu. "Zea pamit, Ma!" Sesaat kemudian bunyi pintu yang ditutup terdengar. Ia sudah berlari keluar rumah.

Pagi yang indah dan langit kota Bandung terlihat jernih. Gumpalan awan tipis berarak  kearah utara, gerombolan burung melompat dari dahan satu ke dahan yang lain, angin musim dingin yang sejuk bertiup.

Gadis itu merapatkan jaket, lalu menutup pelan pintu mobil. Ia berjalan terburu-buru menyusuri koridor, kelasnya akan di mulai lima menit lagi. Dan ia tidak mau terlambat, sesekali ia berhenti untuk membenarkan tali sepatunya yang tadinya ia ikat asal, juga membenarkan tumpukan buku di tangan.

Sepanjang koridor sudah sangat sepi, Ia berharap kali ini guru biologinya mau berbaik hati membiarkan ia masuk ke dalam kelas. Ia tidak suka terlambat, demikian juga hari ini. Zea melirik jam pink di pergelagan tangannya.

Tinggal 2 menit lagi!

Ia mendesis.

Gadis itu mulai cemas, sampai di lantai koridor kelas tiga. Seseorang secara tiba-tiba menabrak bahunya, hingga buku yang ia pegang jatuh ke lantai. Pemuda tadi berlalu begitu saja tanpa meminta maaf, Zea mengeleng, ia kesal. Bahkan ia tidak sempat melihat wajah orang yang membuatnya emosi pagi ini.

Zea berlari cepat menuju kelasnya, menerobos masuk kedalam pintu kelas yang tertutup. 

"Permisi Bu, maaf saya---"

"Keluar!"

"Tapi Bu."

"Saya sudah sering mengingatkan kalian. Kalau dijam saya, saya tidak menerima alasan apa pun jika kalian terlambat. Saya tidak suka dengan orang-orang yang tidak disiplin, ingat itu Zealana Adista." Bu Nurma menatap Zea, lalu pandangannya beralih kepada siswa-siswi yang lain." Dan untuk kalian juga!" Bu Nurma menatap Zea dengan mata memicing, menatap mata Zea tajam. Lalu menunjuk pintu.” Keluar!”

Zea pasrah, usahanya sia-sia. Ia berjalan pelan menuju kantin, rasanya ia malu dan was-was takut bila nilainya tidak tuntas karena tidak mengikuti ulangan harian biologi. Zea ingin menunggu di depan kelasnya tapi ia urung, tidak mau menjadi bahan ejekan kelas lain, dan juga sedari tadi ia mengabaikan rasa laparnya.

Zea mengaduk bakso miliknya, rasa laparnya terganti dengar rasa kesal. Ingin rasanya mengumpat. Tapi, Zea takut kena karma. Kata guru agama doa orang yang terzalimi itu sangat dahsyat, makanya Zea takut kalo salah  bicara. Waktu baru saja menunjukan pukul sembilan lewat beberapa menit, ketika Zea baru saja selesai makan. Setelahnya ia menenteng kembali tas sembil menyelipkan anak rambut yang menutup matanya ke telinga. Sebentar lagi pergantian jam.

Zea menempelkan punggung di tembok, menunggu Bu Nurma—guru Killernya keluar kelas.

"Lain kali jangan di ulangi." Bu Nurma memandangnya sinis.

Zea menganguk dengan senyum yang di paksakan," Iya buk."

Zea menduduki bangkunya, ia menghela nafas lelah.

"Ze, tumben lo telat?" Gadis berambut pendek di belakang menepuk pundak Zea pelan.

"Tadi malem gue bergadang, ngerjain tugas mtk."

"Oh gitu, eh, Ze. Tadi Rey nyariin lo."

Zea berbalik menghadap gadis bernama Amel itu. "Dia bilang apa?"

"Ngga ada, dia cuman mau ketemu lo. katanya ada hal penting yang mau dia omongin. Kayaknya dia mau ngajak lo balikan." Amel menatap Zea serius.

Zea mengedikkan bahu acuh, ia sudah muak mendengar nama Rey. Pemuda itu lah yang memutuskannya terlebih dahulu. Tapi ia bersikap seolah dia yang tersakiti. Dasar buaya  darat!

Bel istirahat baru saja berbunyi beberapa saat lalu. Secara tiba-tiba Amel mengapit lengan Zea yang tengah berdiri membenarkan rokya.

"Zeee...  Anterin gue ke kelas Conan ya, pliss," pinta Amel penuh harap sambil mengedip-ngedipkan mata.

Zea mengangguk, tidak ada salahnya ia ikut bersama Amel. Dengan begitu ia bisa menghindari Rey. Rasa marah Zea belum pudar, enak saja dia ditinggal saat masih sayang-sayangnya. Dikira itu enak? Kalo Zea sih lebih milih sakit gigi daripada sakit hati.

"Makasih, Zee... emang sahabat Amel yang paling baik."

"Conan!" Teriakan itu mengalihkan perhatian pemuda berambut cepak dari layar ponselnya, ia tersenyum manis. Lalu balas melambaikan tangan ke arah Zea dan Amel.

Tangan Amel yang mengapit lengan Zea mulai melonggar, lalu terlepas. Tanpa mengatakan apa pun Amel langsung masuk ke dalam kelas, meninggalkan Zea di depan pintu.

"Dasar Amel, giliran udah ketemu sama doi. Temen di lupain," sungutnya.

Conan yang menyadari Zea belum masuk kembali melambaikan tangan." Ayo masuk, Ze."

"Eh, Iya."

Zea ikut bergabung, dengan terpaksa ia harus menjadi obat nyamuk di antara dua sejoli  yang tengah berbunga itu. 

"Yang, nanti aku nggak bisa nganter kamu pulang ya. Aku harus jemput Bima di bandara," Conan meminta persetujuan. Ia menggenggam jemari Amel.

"Iyah, tapi kok Bima nggak ngabarin aku sih. Padahal 'kan kita temenan, emang ya, si Bima suka lupa sama teman sendiri," cicit Amel mengebu.

"Lo juga kali," sindir Zea berpura-pura marah.

Mendengar nada sindiran itu Amel mengatupkan tangan. Ia tahu sahabatnya itu cuman bercanda. Ia  mengangkat dua jari Pertanda permohonan maaf, ia nyengir lalu bergumam," maaf."

Zea terkikik geli." Gue cuman becanda, Mel. Ngga usah di bawa serius." Zea bangkit berdiri." Gue ke toilet dulu," katanya.

"Gue temenin?"

"Ngga usah."

Zea keluar dari kelas Conan, tadinya ia memang ingin ke toilet. Tapi di koridor ia melihat Rey dan kedua temannya. Jadi Zea berbelok arah dan pergi bersembunyi ke perpustakaan. Tempat yang Zea yakini tidak mungkin Rey kunjungi.

Zea terduduk di meja pojok, ia mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuknya. Ucapan Conan tadi kembali terngiang di benaknya. ‘Bima pulang’ dan artinya acara pertunangan akan benar-benar terjadi. Zea tidak suka Bima, pemuda itu selalu menjahilinya dulu saat masa kanak-kanak. Terlebih keputusan sepihak orang tuanya membuat Zea tidak terima, menurut Zea ini era modern bukan jaman Siti Nurbaya yang harus di jodoh-jodohkan.

Zea memegang kepalanya gusar, tunangan, Bima dan menikah. Tiga hal yang sangat jauh dari niat Zea, belum genap seminggu Zea putus dengan Rey tapi sekarang ia malah terjebak perjodohan dengan Bima. Ia pusing. 

Zea meletakan kepalanya di meja, ia menguap lebar. Efek bergadang tadi malam masih ia rasakan, ia sangat mengantuk. Zea melirik jamnya, masih tiga puluh menit lagi sebelum jam istirahat berakhir. Sebaiknya ia tidur sebentar.

Amel menguncang pelan bahu Zea, di tanganya tersampir tas biru navi milik Zea. Bel pulang telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Dan Zea melewati pelajaran terakhir, beruntung guru piket tidak hadir.

"Ze, bangun!" 

Merasa tidurnya terusik, Zea bangun dengan wajah bantalnya. Matanya sayu juga suaranya serak." Udah masuk Mel?" tanya Zea yang belum sepenuhnya sadar.

Amel menepuk jidat."Aduh Ze, udah pulang kali. Makanya jangan tidur sembarangan."

"What!" Mata Zea membulat sempurna, ia melirik jam tangan. Sudah pukul dua lebih lima belas menit. Ia garuk kepalanya tak gatal, mengumpulkan kembali separuh kesadaranya. 

"Kok lo  ngga bangunin gue sih! berarti gue bolos dong?"

"Tenang aja, Pak Beno enggak hadir."

Zea menghembuskan nafas lega, cukup tadi pagi ia melakukan kesalahan. 

"Nih tas lo, baik 'kan gue,” kata Amel sambil membusungkan dada dan menepuknya bangga.

"Makasih, Mel."

" Ayo balik, gue nebeng sama lo, ya?"

"Huuu... baik ada maunya."

"Ya itung-itung bales budi, ha ha ha."

Zea dan Amel berjalan sambil bergandengan tangan. Amel terus mengoceh sementara Zea lebih banyak diam, setelah lama menunggu akhirnya Pak Budi--supir Zea datang. Setelah mengantar Amel sampai di depan gerbang rumah, Zea kembali menuju rumahnya sendiri.

Penalancip

Hallo makasih udah mampir💙 author sambilan Revisi maaf ya kalau merasa kurang ramah💙 jangan lupa tinggalkan jejak Vote and comen ya😊😉

| Like
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Rahmy
Teman aku banget nih yg modelannya kek gini😂
goodnovel comment avatar
Rahmy
Jadi kangen emak:)
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status