Share

Bab 7

"Bener-bener ya kamu!"

Elena mendengus kesal dengan tingkah putranya. Pasalnya Enzo meninggalkan Aylin seorang diri. Hal itu lah yang membuat Elena memarahi Enzo.

"Iya-iya Enzo minta maaf," ucap Enzo.

"Kok kayak gak ikhlas gitu jawabnya!?" protes Elena sengit.

Laki-laki bertubuh jangkung itu menarik napas dalam. Daripada terjadi perang dunia lebih baik ia mengalah.

"Iya Bunda cantik Enzo minta maaf," sahut Enzo seraya memamerkan deretan giginya.

Namun wanita paruh baya itu masih saja menggerutu. Ia sungguh tidak bisa menoleransi kelalaian putranya. Bagi Elena Aylin tak kalah penting karena sudah ia anggap seperti putri kandungnya sendiri.

Tidak mempan dengan pujian Enzo mencoba memutar otak mencari cara. Guratan serius mulai terpancar dari wajahnya yang biasanya jenaka. Sungguh pemandangan yang langka.

"Bun tadi Enzo beli gulali loh," bujuk Enzo merayu sang Ibu agar luluh.

Apakah cara itu akan berhasil? Aylin geleng-geleng kepala tidak habis pikir dengan bujukan Enzo kepada mertuanya. Memangnya Ibunya anak kecil?

"Oke dimaafkan."

Hah? Aylin mengerjapkan mata tidak percaya dengan ucapan Elena sang mertua. Ia tidak menyangka semudah itu mertuanya luluh. Bahkan Elena sudah terlena dengan sebungkus gulali berbentuk kelinci ketimbang dirinya.

"Benar-benar keluarga yang absurd," lirih Aylin berjalan menuju kamar.

Berbeda dengan Elena, Markus yang baru saja tiba dari kantor lantas bergegas menuju kamar bernuansa pastel.

"Kamu tidak apa-apa Ay?" cecar Markus khawatir kepada menantunya yang ditinggal begitu saja oleh Enzo.

Aylin menghela napas lega, ternyata masih ada orang waras di keluarga itu. Dengan tersenyum hangat Aylin menyambut sang ayah mertua.

"Ay baik-baik saja Yah," jawab Aylin membuat Markus sedikit tenang.

Markus memutuskan untuk mencari keberadaan putranya. Perbuatan Enzo terlalu sembrono. Bagaimana jika ada yang menculik Aylin. Walau bagaimanapun Aylin masih dibawah umur.

"Sini kamu!" seru Markus menarik tangan Enzo dari kursi di ruang keluarga.

"Yah mau dibawa kemana anaknya?" tanya Elena tidak terima.

"Bun, dia sudah keterlaluan harus diberi pelajaran. Bisa-bisanya istri ditinggal gitu aja."

Diantara adu debat kedua orang tuanya. Enzo mengacak rambut pusing. Ia tahu ia salah tapi ia tidak suka jika orang tuanya sampai berdebat.

"Enzo sudah minta maaf Yah," ungkap Elena mencoba mendebat suaminya agar Enzo tidak jadi mendapat hukuman.

Lagi Enzo mengacak rambutnya sendiri frustasi. Ia mendadak ingat dengan luka lebam di pipi Aylin. Tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Ia diam-diam pergi menuju kamar gadis mungil yang belum lama menyandang status sebagai istri sahnya.

"Belum tidur?" tanya Enzo setelah membuka pintu kamar.

"Aaaa!"

"Stttttttt, diam jangan berisik nanti ketahuan Bunda."

Aylin mendelik menatap waspada laki-laki yang dengan lancang masuk kamarnya. Ditambah Enzo membungkam Aylin dengan jemarinya yang panjang dan lebar. Aylin benar-benar tidak bisa bersuara.

Mau apa dia? Batin Aylin takut. Jantungnya berdegup dengan kencang. Waspada dengan kedatangan Enzo yang mendadak seperti tahu bulat.

Enzo menatap dalam wajah gadis mungil yang nampak ketakutan itu. Alisnya bertaut dengan serius.

"Pipimu masih sakit?" tanya Enzo memecah pikiran Aylin. Serentak dengan tangan Enzo yang juga mulai mengendur tidak lagi membungkam Aylin.

Gadis mungil itu menggelengkan kepala. "Tadi sudah di kompres bunda," jawab Aylin.

Mendengar hal itu Enzo merasa sedikit lega. Dan berlalu meninggalkan Aylin di kamar. Sementara Aylin hanya bisa bertanya-tanya. Apa yang menjadi alasan Enzo meninggalkan dirinya begitu saja?

KRINGGGGG!!!!!

Bel istirahat berdering nyaring. Tidak seperti biasanya yang bersemangat. Aylin kembali terduduk lesu mendengar bel istirahat kedua. Tidak ada bedanya dengan istirahat pertama. Semenjak kejadian beberapa Minggu lalu Aylin tidak berani keluar saat istirahat. Ia masih takut berhadapan dengan kakak kelasnya yang bernama Misel.

"Serius Ay kamu gak ke kantin?" tanya Sesil yang merasa aneh dengan perilaku Aylin. Ia hafal betul sahabatnya itu selalu semangat pergi ke kantin.

Aylin mengiyakan pertanyaan Sesil dengan lemah. Tanpa mampu protes sedikitpun.

"Kenapa? Takut ketemu kak Misel?"

Insiden tentang pertengkaran Misel dan Aylin sudah menyebar di penjuru sekolah. Gosip itu menyebar dengan sangat cepatnya. Dengan pasrah Aylin kembali menganggukkan kepala.

"Aylin."

Suara khas laki-laki yang begitu Aylin hafal membuat ia mendongakkan kepala. Matanya membulat melihat siapa yang tengah masuk ke dalam kelasnya. Seorang laki-laki yang membuat dirinya mendapat tamparan keras hingga lebam. Laki-laki itu kini berada dihadapannya. Rasanya tidak masuk akal.

"K-kak Devin."

Kedatangan Devin sebagai kakak kelas membuat suasana menjadi riuh. Devin begitu terkenal di sekolah lantaran kharismanya yang kuat.

"Oh my God, kak Devin beneran kesini dong."

Aylin menginjak kaki Sesil yang dengan berani berkata demikian. Apa Sesil lupa Devin memiliki pawang yang begitu menyeramkan. Mengingat wajah Misel membuat bulu kuduk Aylin meremang.

"Sakit ogeb!" lirih Sesil meringis menahan sakit di kakinya.

"Jangan bicara sembarang Sil," tutur Aylin dengan tegas. Walaupun hanya Sesil yang dapat mendengar dengan jelas.

"Wah ada apa nih. Kak Devin sampai bela-belain dateng ke kelas XI?" sindir salah satu siswa di kelas Aylin.

Dengan percaya diri Devin berjalan mendekati Aylin yang diam terpaku. Laki-laki menyunggingkan senyuman menawan seperti biasanya lengkap dengan kedua lesung pipi yang manis. Hal itu justru membuat Aylin kesulitan bernapas. Jantungnya berdetak tidak karuan.

"Ay kamu mau gak jadi pacarku?" ungkap Devin dengan sekali tarikan napas. Jantungnya bergemuruh hebat. Seolah seisi ruangan dapat mendengar detakannya.

Bak disambar petir disiang bolong. Tubuh Aylin semakin kaku. Perkataan Devin sungguh diluar nalar. Tunggu bukankah Devin sudah mempunyai pacar?

"Terima! Terima! Terima!" sorak kompak teman-teman Aylin menggema di kelas. Tak lupa dengan bertepuk tangan membuat suasana kian mendebarkan.

Devin yang semula begitu percaya diri pun mulai goyah. Peluh mulai mengucur dahinya tanpa tertahan. Ia begitu ingin memiliki Aylin namun disaat bersamaan ia juga takut Aylin menolak perasaannya.

"Ta-tapi ..." Aylin terbata. Tenggorokannya tercekat susah sekali untuk berbicara dan menelan saliva.

"Devin!!" seru gadis bertubuh sintal menerobos masuk kelas Aylin.

Kehadiran Misel membuat suasana meriah menjadi mencekam. Ditambah lagi tatapan bengis Misel seolah mengisyaratkan akan menelan Aylin bulat-bulat. Tangan Aylin berkeringat dingin. Bayangan Misel menampar dirinya kembali muncul ke permukaan.

Geram dengan Devin yang terang-terangan menyukai Aylin. Misel naik pitam ia sudah bersiap ingin mendaratkan tamparannya kembali ke wajah Aylin.

"Misel jangan sentuh Aylin!" seru Devin seraya menarik tangan Misel yang hampir mendarat di wajah Aylin.

"Lepasin!" protes Misel mencoba melawan tarikan tangan Devin yang kuat.

"Aku suka sama kamu Vin."

Devin tertegun seketika. Ia tidak menyangka ucapan itu akan keluar. Rasanya begitu mustahil. Bagaimana bisa? Sejak kapan?

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status