Share

Bab 5

Langkahku telah sampai di ruang kantor Grandma Hilda, yang terletak di lantai dua Kafe. Ruangnya terpisah oleh dinding, dimana masih ada kafe disebelah kantor milik sang Grandma. Mungkin bukan kantor tepatnya, sebuah ruang kerja. Grandma Hilda sebetulnya jarang datang Kekantor, karena ada tangan kanannya yang bernama Denise Milano, wanita Mexico-Amerika yang  berusia sekitar lima puluh tahun yang selalu membantunya. Wanita itu berperangai setengah bayah, berambut coklat tua sanggul, dan masih melajang. Dia  bergantian menjalankan kafe ini dengan sang Nenek.

Sebetulnya tempat ini bukan harta satu-satunya milik Grandma Barnet yang berusia 70 tahun itu. Mereka punya banyak tanah, peternakan, dan khususnya suamiku, Dia adalah Pria yang menjalankan bisnis Hotel dan memiliki cabang dimana-mana. Anthony pindah dari New york atas perintah Neneknya setahun yang lalu tanpa penolakan. Ya, banyak rumor mengatakan Dia sangat sayang neneknya itu, dan tentunya juga alasan yang diketahui orang-orang karenansang Nenek adalah penentu masa depannya sebagai pemegang kekuasaan atas semua kekayaan yang akan diwariskan padanya. Ya, hanya Dia satu-satunya pewaris yang Aku tahu di Keluarga Barnet.

Dan tanpa sadar akan kakiku sudah sampai di depan pintu kerja ruang grandma Hilda. Menarik napas sekali dan mengeluarkannya dengan intens, napasku malah terdengar gusar.

Tok, tok.

 Dan lagi, tanpa perintah dari kepalaku tanganku spontan baru saja memberanikan diri mengetuk pintu. Seharusnya ketika sudah sampai di sini Aku sudah siap dengan apa yang akan kualami di dalam kan ? Tapi jari jemariku malah gemetar berikut nadiku yang bergejolak setelahnya. Apa karena takut ketahuan sudah tak perawan, maka Aku merasa seperti penjahat yang baru saja merampas sesuatu yang tak seharusnya kumiliki?

Aku mendesah dalam ketidakkaruan pikiran dan sistem tubuhku. Seharusnya aku berpikir ulang ketika marah-marah pada Anthony saat itu, apalagi alkohol yang tak pernah konsumsi itu membuatku hilang akal dan malah membuatku jatuh pada pelukannya dan akhirnya berbuat seenaknya terhadap diriku. Satu harapanku yang kuharap menjadi kenyataan. Mudah-mudahan Anthony tak cerita apa-apa tentang apa yang terjadi pada kami. Semoga sikap cueknya itu terbawa-bawa sampai ke sini atau bila tidak, Aku tidak bisa mendapatkan uang itu, padahal itulah tujuanku berkorban sampai disini.  Mendapatkan uang yang bisa membantu keluargaku tetap hidup dan membayar sisa hutang.

“Masuklah, Megan…” tiba-tiba saja suara  wanita itu yang adalah Granma Hilda terdengar dari dalam ruang itu.

Da-dari mana dia tahu aku mengetuk pintu? jangan-jangan ada cctv diluar? Mataku segera mencari segala arah dari mana dia bisa melihatku. Aku bahkan tak terdengar sama sekali ketika menaiki tangga berderit ini. "Di luar tidak ada CCTV, Aku memang tahu kamu yang akan datang kemari" sahutnya yang jelas-jelas masih mencurigakan untuk Megan. "Jangan diam di depan sana dan menebak-nebak ayo masuklah" sahutnya kemudian, dan Baiklah, Aku memang datang untuk diundang masuk. Tanganku kemudian membuka pintunya.

Klek!.. krieeet.

Pintu pun terbuka.

Wanita yang dibilang ‘Nyonya tua Barnet’ oleh Kei itu duduk pada sebuah kursi kayu teras, yang yang terletak dekat tirai tipis putih dalam ruangan itu. Dia sedang minum segelas cangkir teh sendirian, didampingi segelas teh yang tengah menguap yang kupercaya ada telah disiapkan untukku.   “kemarilah… “ ujarnya lagi.

Tanpa menjawab aku segera melangkah masuk. “Duduklah disebelahku” suruhnya lagi, dan gelas di sebelahnya itu memang benar diperuntukkan untukku. Dan sesuai permintaannya aku telah duduk di sampingnya.

“Aku sudah memesan the Chamomile pada Denise, minumlah…” Tukasnya. Aku mengangguk, dan sebelum duduk mataku memandang seluruh penjuru ruangan, tak ada Nyonya Denise. "Anda sendirian?' tanyaku.

"Ya... Denis sengaja kau suruh ke bawah..."

Keningku spontan berkernyit, dan disadari Grandma Hildanyang segera tersenyum tipis. "Dia tak perlu mendengarkan perjanjian rahasia ini" sungguh tumben mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Grandma Hilda, pasalnya sejak kemarin ketika grandma memintaku menikah dengan Anthony, wanita itu tak pernah pergi dari sisi Grandma.  Dia selalu ada disekitar kami bahkan aku seperti merasa diawasi oleh Nyonya Denise, menurutku dia kurang percaya padaku.

Dan, dalam keheningan emas ini,  tangan kananku memilih memegang cangkir teh Chamomile untuk minum lebih dulu. Keadaan bisa terlalu berbahaya bila aku memulai percakapan yang salah. Mataku lalu memperhatikan cara Grandma memperlakukan gelasnya. Lucunya aku menyukai keningratannya itu dan melakukan hal yang sama. Orang kaya memang berbeda sekali. Tidak seperti perlakuan keluarga adopsiku dirumah yang serba ‘apa adanya’. Disini, sebagai cucu menantu aku harus hati-hati bergerak, dan tidak sembrono.

"Tehnya segar bukan?" Grandma Hilda mulai bersuara.

"Ya Grandma" kembali ke minum segelas cangkir teh chamomile itu, karena kurasa teh ini menenangkan kegugupanku. Sekilas, dari celah cangkirku kudapati tatapan grandma Hilda sedang tertuju padaku seperti mengamatiku akan sesuatu.

Sruuuup...

“Apa ada sesuatu yang terjadi pagi ini?”

Sruuuusssshhhhh!!!!!

Pertanyaannya itu membuat Air teh chamomile yang hampir sampai pertemuan kerongkongan dan tenggorokanku tiba-tiba tersembur dari mulutku.

Uhuk! Ukhhh! Mmmmmmh, kutahan, batuk ini harus kutahan. 

“Hei… hei…” Grandma Hilda bangkit dan menepuk-nepuk punggungku. “Uhuk, huk, huk, uhuuueeekk!” Jelas tak bisa kutahan.

“Kau baik baik saja?”

Bagaimana baik-baik saja, bila batuk begini? namun hal itu tak mungkin kukatakan. “Hoek, uhoekk!” Mulai reda, gatal tenggorokan ini mulai reda. Harusnya Dia tak bertanya 'sesuatu itu' saat Aku minum teh. “Aku, hoekk.. Aku baik-baik saja” jawabku seraya memegang tenggorokanku. Rasanya gatal dan panas. "oke oke baiklah selesaikan dulu batukmu. Aku akan mengambilkan segelas air putih"dia lalu beranjak dari samping kanan Meghan tadi dan berjalan pada sebuah meja yang menyediakan centong air putih.

Nenek tua itu kembali dengan membawa segelas cangkir yang berisikan air putih. "Nah, minumlah" ujarnya dan aku mengambil air gelas putih itu dan meminumnya. 

***

Keadaan sudah tenang setelah 10 menit kemudian, karena grand Max baru saja menyediakan air putih untukku dan yang bisa menetralkan batuk ini. Sambil meredakan sisa gatal tenggorokan ini aku mencari cara untuk menjawab pertanyaan sang nenek, dan bagaimana cara menjawabnya agar grandma Hilda tidak tahu apapun Yang terjadi.

“Okey.. bila begitu, Dia kembali duduk ditempatnya, dan kembali  menatapku. Posisiku pun sudah bisa stabil dan duduk dengan formal kembali. Sejenak, tatapannya  membuatku merasa seperti sedang diselidiki.  Dan pastinya, Aku tak punya pilihan lain selain menutupinya.

“Aku tidak akan membahas hal tak perlu. Anthony sudah memberi tahu semuanya…”

Wajahku kaku, Aku tak ingin bertanya namun bibirku ingin memastikannya, “Semua? Tentang apa?”

Uang....., uangku, bagaimana ini? pekikku dalah hati.

“Ini….. tentang masalah yang akan kita bahas”

“Ya…. , Uhmmmh, Itu… maksudku… apa yang Dia jelaskan?”

Aneh sebetulnya tak melihat Grandma marah. “Kontrak yang akan kita buat” jawabnya.

“O,….Ouhhh, begitu. Hanya….. kontrak?” tanyaku, mudah-mudahan Anthony tak mengatakan yang lainnya. “Memangnya ada lagi?” tanya Grandma. “Tidak.. maksudku tak ada” Ya, jawab saja seyakin-yakinnya. Dengan begitu Grandma tak akan bertanya. “Dan, kudengar pagi ini kalian bangun diranjang yang sama bukan?”

HAH???!

Mataku membulat. Palu seperti bar saja dipukulkan kekepalaku di hampir semua areanya. Sementara Grandma, Dia hanya memasang wajah masabodoh seakan apa yang Dia tanyakan bukanlah apa-apa. “Sudah kuduga, cucu brengsekku itu pasti melakukan sesuatu padamu” umpatnya. Aku tersadar, Grandma malah terlihat marah, dan ekspresinya itu pasti Dia tujukan pada cucunya. “Cucuku itu… benar-benar…..” Dia memijat keningnya, dan bersender pada punggung kursi dengan lengan yang bertumpu pada peyangga kursi. “Apa Kalian pakai pengaman?”tanyanya lagi. Kujawab atau tidak? Bulu kudukku panas dingin. Aku sendiri juga tak hamil.

“Dari ekspresimu itu, Kau tak bisa berbohong lagi padaku.. Dia menidurimu kan?”

Benar, Aku tak bisa melarikan diri lagi. “Ya… Kami satu…. Ran, jang. Tapi Aku-“

“Sudahlah. Aku tahu apa yang terjadi. Kau tak usah menjelaskannya, Aku sudah cukup tua untuk mendengar emosi labil kalian saat melakukannya” Jawabnya, tak mau melihatku. “Begitu melihat Wanita cantik dan seksi… dasar Anthony…” Grandma mendengus. Aku seksi, dan cantik?

“Kami.. terjebak alkohol” jawabku, berpura-pura tak berdaya. Padahal kenyatannya, Aku masih mengingat bagaimana Aku yang memaksanya duluan, dan melihat Anthony bergairah menindihku.

“Kau harus memastikan bahwa Kamu tidak hamil, mengerti” tukasnya. Aku hanya bisa menjawabnya dengan mengangguk lambat. Aku juga salah. Tidak, sangat salah. Membiarkan alkohol menguasaiku, padahal Aku hanya jengkel biasa tadi malam.  “Kau tahu kenapa Kau kuminta menikah dengan Anthony?” tanya Grandma kemudian. Aku menggeleng, tak tahu. “Ada seorang Wanita yang berusaha menjebak Anthony beberapa tahun yang lalu, Dia mengklaim hamil dari Anthony, namun Aku mengambil sikap tanggap. Dengan segera Aku meminta Wanita  yang bernama Charlotte Grey itu melakukan test DNA. Kuminta dokter untuk mengawasinya dengan ketat. Dan, hasil test DNA keluar, Anak itu bukan anak Anthony. Tapi Wanita itu tak terima, Dia terus meneror Anthony. Dia ingin dinikahi Anthony….”

What…..?

Jadi itulah yang terjadi?

“Dan kamu menikah…. Untuk menghalau Wanita itu sampai pada Anthony… itu akan menjadi tugasmu… selama dua tahun kedepan……”

***

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status