Share

MDDM 2

Keesokan paginya |

Kana mengerang menarik tubuhnya selepas bangun tidur. Belum beranjak, tubuhnya masih terbungkus selimut tebal, tatapannya nyalang ke arah langit-langit kamar. Sesaat dia sadar, seperti ada yang salah pagi ini. Kana langsung menyibakkan selimut dan hendak turun dari ranjang. Tapi, dia kembali mengurungkan niatnya melihat seseorang duduk di sofa dekat ranjangnya.

"Ya ampun! Gue gak mimpi?" gumam Kana menepuk kedua pipinya.

Dap

Dap

Dap

Kana tak berani menatap pria yang tengah berjalan ke arahnya. Tinggi sekali pria itu, tubuhnya tegap dengan otot lengan nyaris merobek bajunya. Pria itu berdiri tepat di depan Kana, dia sedikit membungkuk menarik dagu Kana agar mendongak menatapnya.

"Kamu, Kana?"

Deg!

Kana tertegun dengan suara berat dan sedikit serak itu. Seketika jantungnya berpacu kala kedua mata saling bertemu, Kana benar takjub dengan tatapan pria itu.

"Saya bertanya!" ulang pria itu, kali ini suaranya lebih sedikit meninggi.

"Om Bara, Kenapa di rumah saya?"

Om? Kenapa dia bisa memanggilnya dengan sebutan itu? Bahkan walau untuk usia paman-paman rasanya itu tidak cocok untuk pria berparas tampan itu. Tapi tunggu, kenapa Kana mengenal pria dengan nama Bara itu? Dengan senyum miring, pria bernama Bara itu mengeratkan kepalan sebelah tangannya lagi. Kemudian dia melepaskan tangannya dari dagu Kana dan mundur satu langkah menjauhinya.

"Kamu lihat mereka?" tanya Bara.

Glek!

Kana menelan susah salivanya, dia ingat apa yang terjadi semalam. Bahkan dia juga mengingat wajah orang yang menembak dan merusak jendelanya.

"Kamu tinggal sendiri?"

Kana menganggukan kepalanya membenarkan pertanyaan Bara. Benar memang, dia tinggal sendiri sekarang setelah Kakaknya pergi kemarin.

"Dengar, saya tidak akan mengulang ucapan saya dua kali. Jadi, dengarkan baik-baik."

Kana mengeritkan keningnya mendengar kalimat tegas dari Bara.

"Mereka sudah melihat kamu, bersama saya. Itu akan membuat mereka beranggapan kalau kamu bagian dari saya. Kamu harus ikut dan tinggal bersama saya agar mereka tidak menyakiti kamu."

"Hahh? Gimana maksudnya? Tinggal bersama?"

"Mereka tidak peduli siapa kamu. Kalau saja mereka lihat kamu berkeliaran sendiri di luar, bisa saya pastikan mereka akan menyerang mu."

"Tapi, kenapa saya harus ikut sama Om? saya gak mau!"

"Kamu harus mau!"

"Enggak! Sekarang Om pergi dari rumah saya."

"Kamu dalam bahaya, saya hanya ingin melindungi kamu."

"Kenapa harus lindungi saya? Kita gak ada hubungan, mereka gak akan lakukan apapun sama Kana."

"Salah saya masuk ke rumah kamu. Apapun itu, mereka tetap akan mengincar kamu!" Bara begitu geram, dia mencekram kedua bahu Kana dengan tatapan tajam.

"Saya gak mau! Sekarang silahkan keluar dari rumah saya!" dengan beraninya Kana menentang Bara. Dan itu semakin membuatnya geram.

"Dengar, gadis kecil. Saya bisa saja meninggalkan kamu di sini, tidak peduli dengan keadaan mu. Tapi yang saya fikirkan, kamu sahabat Indira."

Kana terdiam, dia menatap pria yang tengah berdiri di depannya. Iya, pria ini adalah Ayah dari Indira, Joe Bara. Pantas saja Kana mengenal dan langsung menyebutnya dengan sebutan Om.

Pria berparas tampan dengan tubuh tinggi tegap berotot yang kini usianya sudah menginjak 32 tahun. Hah! 32 tahun sudah memiliki putri yang usianya sama dengan Kana, 18 tahun? Yang benar saja? Tentu benar. Bagaimana bisa terjadi? Tentu itu tidak di bahas sekarang.

"Kamu harus ikut dengan saya." kata Bara lagi.

"Ok, gak masalah. Kana ikut, di sini juga gak ada siapa-siapa. Lumayan juga, bisa numpang hidup."

Bara mengeritkan keningnya mendengar kalimat pasrah gadis kecil itu.

"Apa maksud kamu?" Bara mencekram lengan Kana menghentikannya dari langkahnya.

"Rumah ini sebentar lagi pasti akan di sita, udah nunggak 3 bulan. Kak Maudy gak bayar angsuran, jadi ya lumayan lah kalau Om nawarin Kana tempat tinggal, sama Dira juga."

"Siapa yang bilang kamu tinggal sama Indira?"

"Apa?"

"Kamu tinggal dengan saya, bukan dengan Indira."

"Hah? Tapi, Om!"

"Kamu bilang rumah ini akan di sita 'kan? Jadi kamu harus tinggal dengan saya agar kamu punya tempat tinggal."

"Tapikan Kana bisa tinggal sama Dira."

"Enggak. Kamu harus tinggal dengan saya,"

"Gak mau! Kana gak mau tinggal sama Om."

"Kamu harus mau, Kana!"

"Enggak! Lepasin!" Kana mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Bara. Tapi sepertinya pria besar itu mengabaikan berontakan Kana yang tidak sebanding dengan setengah tenaganya.

"Gak mau! Lepasin Kana, Om!" Kana menahan tubuhnya dengan memegangi handel pintu kamar yang tertutup.

Bara mengeratkan rahangnya menatap kesal pada Kana yang keras kepala. Dia mendekati Kana dan mengungkung tubuh kecil Kana di antara kedua tangan kekarnya.

"Jangan keras kepala, Kana! Kamu harus ikut saya, atau mereka akan kembali dan membawa mu pada perdagangan wanita. Kamu mau, ikut mereka?"

Glek!

Kana benar jantungan di buat Bara, dia mendongak menatap pahatan sempurna pria itu. Bahkan bau parfum yang begitu maskulin masih bisa tercium walau penampilannya sudah sangat kacau dan penuh darah di bagian perutnya.

"Kamu dengar saya, Kana?"

"Tapi kenapa harus tinggal sama Om? Kana bisa tinggal sama Dira, di sana juga 'kan banyak penjaga."

Bara meleraikan kungkungannya, dia mundur satu langkah menatap Kana. Tangannya terulur menggapai tangan Kana, erat sekali dia menggenggam tangan itu. Seperti benar ingin membawanya pergi. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Bara langsung membawa Kana, kali ini tidak memaksa. Tapi ajaibnya malah membuat Kana menurut begitu saja tanpa memberontak atau menolak.

"Mana kunci motor kamu?"

Kana masih berfikir keras, kenapa dia harus ikut dengan Ayah temannya itu?

"Bukannya kata Dira, Om lagi di London 'ya?"

"Mana kunci motor kamu, Kana?"

"Jawab dulu Om. Kana gak mau Dira salah paham."

Bara membuang nafas kasar, dia menunduk menatap wajah Kana yang masih kusam. Bahkan untuk membasuh wajah saja tadi dia belum sempat karena Bara terus memaksanya untuk pergi bersama.

"Dimana kunci motor kamu, Aira Kana Stuart!"

Kana membulatkan matanya sempurna mendengar Bara menyebut namanya dengan lengkap, beserta marganya sekaligus.

"Om, kok tau-,"

"Jawab aja, Kana. Dimana kamu taruh kunci motor, kamu ini selain keras kepala ternyata banyak tanya juga! Sekarang ambil kunci motor kamu, saya tunggu di sini."

Kana mengerjapkan kedua matanya mendengar kalimat panjang Bara yang terlihat sudah sangat kesal dengan gadis muda ini.

"KANA!"

"Iya ihh! Bentar!" Kana kembali masuk kedalam rumah mencari kunci motornya. Seingatnya semalam dia menaruh di sofa ruang tamu. Benar saja, masih ada di sana benda itu. Segera Kana kembali pada Bara, tak lupa dia menutup pintu dan menguncinya. Dia menyertakan kunci rumahnya sebagai bandul pada kunci motor agar tidak hilang.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status