Share

Bab 3 Bertemu lagi

Cukup lama aku mematung di sisi tempat tidurku.

Setelah puluhan tahun senyap, tanpa sua, tanpa sapa apalagi aksara. Lelaki yang telah memahat cinta sekaligus lara, satu jam yang lalu tepat berdiri di depanku. Garis-garis wajahnya masih sama. Aku tidak menyangka, Om Dala yang dikenal Amanda adalah dia.

Aku menghela napas lemah. Menarik diri di balik selimut. Tadi aku mampu meredam gejolak, nyatanya sekarang aku kelimpungan dengan rasa yang tidak bisa kuterjemahkan. Sehingga aku sulit merapatkan kedua mata.

"Mandala ...." gumamku lirih. Nama yang punah dari mulutku untuk sekian lama.

Aku menutup wajah dengan bantal, menghalau suara denting hujan di atap juga menghalau rasa yang tidak tenteram. Mencoba menenggelamkan diri dalam lelap.

Alarm yang berasal dari ponsel, berderit di telinga. Ah, kenapa cepat sekali hari menjelma pagi? Sepertinya baru satu detik aku tertidur pulas.

Dengan kepala yang pening dan tubuh penat aku keluar kamar. Langkahku menuju kamar mandi, mengguyur tubuh dengan air kemudian bergegas menyiapkan sarapan.

Amanda menarik satu kursi, duduk diam dengan muka masam. Aku menyorongkan segelas susu hangat dan sepiring nasi goreng. Juga ponsel milik Amanda.

"Mama akan mengantarmu ke sekolah," ujarku, duduk di seberang Amanda.

Amanda tidak mendebat. Aku hanya mengamati putriku yang sedang mengunyah perlahan nasi goreng.

"Manda, sudah berapa lama kamu kenal Om Dala?"

"Hampir dua bulan," jawab Amanda pelan.

"Kalian kenal di mana?"

Amanda memandangku jengkel. "Dari Prisila, temanku. Waktu itu dia mengajakku menemui Om Haris."

"Apa Prisila keponakan Om Haris?"

"Bukan, dia ...." Amanda menggantungkan kalimatnya.

"Oke, mama paham," sahutku, menghirup aroma teh dari cangkir yang sedang kupegang. Ini masih pagi, aku tidak akan mengkonfrontasi lagi.

"Om Dala selalu bersikap sopan dan baik," kata Amanda.

Aku tidak menyahut. Bangkit dari kursi meja makan, menaruh cangkir yang sudah kosong di wastafel. Memandang sebentar ke luar jendela, pada sisa air hujan yang menempel di dedaunan pohon jambu.

"Pulang sekolah mama jemput, sekalian beli sepatu. Tidak mahal dan berkelas, tetapi bisa digunakan sesuai fungsinya."

  "Iya, Ma."

***

"Hasna, kenapa buru-buru pulang?" tanya Mbak Niken.

"Mau menjemput Amanda," jawabku yang sedang memakai helm.

"Ikut makan-makan dulu, mumpung ada yang traktir," bujuk Mbak Niken.

"Maaf, tidak bisa ikut ngumpul, Mbak Niken." Aku menolak, sudah pukul tiga sore. Amanda pasti sudah menunggu.

Aku menyalakan mesin motor, nampak langit menghitam, pertanda hujan akan mendera bumi tempatku berpijak. Jarak tempuh menuju sekolah Amanda sekitar 15 menit. Murid-murid sekolah mulai terlihat keluar dari sekolah. Ada yang masih menggerombol di bawah pohon, ada yang sudah dijemput, dan ada yang berjalan ramai-ramai dengan tawa ceria khas anak remaja.

Amanda belum terlihat, mungkin masih ada keperluan. Sepuluh menit berlalu, dan sudah mulai sepi. Sementara rintik gerimis mulai turun. Kuputuskan turun dari motor, melangkah ke dalam sekolah.

"Eh, Dewi!" panggilku.

Dewi yang sedang duduk-duduk di bangku depan ruang UKS langsung berdiri dan berjalan menghampiri.

"Tante Hasna, ada perlu apa ke sekolah?"

"Mau jemput Amanda."

"Sudah pulang dari jam istirahat siang, katanya Tante sakit, makanya Manda minta izin pulang," kata Dewi.

Amanda telah berbohong.

"Terima kasih, Dewi," ucapku.

Jadi ke mana Amanda? Kucoba menghubungi ponselnya, tidak aktif. Hatiku semakin kebat-kebit.

Aku memutuskan pulang ke rumah, mungkin Amanda sudah pulang. Namun, sesampainya di rumah, aku mendapati rumah dalam kondisi gelap dan sunyi.

"Amanda ...." Kunyalakan lampu kamar tidur Amanda. Ranjangnya masih rapi.

Ya, Tuhan, ke mana gerangan anak itu? Kembali aku menghubungi ponselnya. Tidak tersambung.

[Amanda, kamu di mana?] Hanya centang satu.

Aku mondar-mandir gelisah di ruang tamu. Suara petir menggelegar. Hujan pun semakin meraung keras. Menambah suasana hati semakin tak karuan.

Ponselku berdering, tidak ada nama, hanya deretan nomor yang terpampang di layar ponsel.

"Ya, halo?"

"Hasna ...."

Walaupun bertahun mengendap bersama kenangan yang sudah terkubur, tetapi telingaku masih mengenali suara di seberang.

"Ini aku, Mandala."

'Iya, aku tahu,' batinku menyahut.

"Aku hanya ingin memberitahu, saat ini Amanda berada di rumahku."

"Tolong, antar Amanda pulang," pintaku.

"Dia menolak kuantar pulang," sahut Mandala.

"Share lokasi alamat rumahmu."

"Rumahku masih di alamat yang sama."

Aku tidak segera menjawab, ada gamang sekaligus ragu. Bagaimana mungkin aku menapaki rumah itu kembali?

"Ibuku masih di luar negeri," lanjut Mandala seolah bisa membaca pikiranku.

Aku mengesah. "Baiklah, aku akan menjemput Amanda."

"Hasna ...." lirih suara Mandala.

"Iya, ada apa?"

"Hati-hati. Cuaca sedang buruk."

Bukan hanya cuaca yang buruk, kondisi pikiranku juga buruk. Aku putuskan naik taksi. Kasihan Amanda jika kehujanan.

***

Jariku menekan bel. Rumah ini tidak banyak berubah. Ada seutas kenangan yang pernah terjadi. Kenangan pahit.

Kudapati seraut wajah mengulas senyum lebar ketika pintu terbuka. Pada akhirnya aku harus semuka dengan Mandala.

"Silakan masuk, Hasna."

"Di mana Amanda?" tanyaku, berjalan mengekor di belakang Mandala.

"Amanda sedang tidur," jawab Mandala.

"Aku akan membangunkan dia," ujarku.

"Tolong, jangan bangunkan Amanda. Dia baru saja tertidur. Bisakah kau menunggu lima belas menit lagi?"

Aku berhenti tepat di mulut pintu kamar, tampak Amanda meringkuk di balik selimut. Akan kubiarkan dia menikmati mimpinya sebentar saja. Aku berbalik, duduk di sofa.

"Aku buatkan secangkir cokelat panas." Mandala mengulurkan cangkir.

"Terima kasih."

Aku dan Mandala terdiam. Wajahku tertunduk, menekuri cangkir yang kupegang. Sebisa mungkin aku menghindari kontak mata dengan Mandala.

"Amanda mirip sekali denganmu." Mandala mencoba memecah kebekuan di antara kami.

"Ya, begitulah," sahutku, malas. "Apa kau tertarik dengan Amanda?"

Mandala tergelak. "Sebagai wanita?"

"Iya."

"Kali pertama bertemu dengannya, dia langsung mengingatkan aku padamu. Aku menganggapnya sebagai seorang anak. Tidak lebih dari itu."

"Tapi, temanmu berhubungan dengan gadis remaja," selorohku.

Mandala menarik napas lalu berkata, "Mengenai hal itu aku tidak bisa ikut campur urusan mereka."

Kembali hening. Tatapan Mandala membuatku jengah. Aku melirik jam di ponsel, lima menit lagi.

"Hasna, apa Amanda anakku?"

Aku hampir tersedak mendengar pertanyaan Mandala. "Bukan," jawabku cepat. "Pernikahan kita hanya berumur dua hari, apa bisa menghasilkan seorang anak?"

"Jadi kau menikah lagi?"

"Iya."

"Tapi, Amanda bercerita padaku, dia tidak pernah bertemu dengan papanya."

"Itu bukan urusanmu." Aku meletakkan cangkir di meja. "Aku harus membangunkan Amanda."

"Hai, Mandala, kejutan!"

Refleks aku menoleh ke sumber suara, perempuan paruh baya yang masih cantik di usianya, berjalan mendekat ke arah kami. Seketika pengap. Seketika ruang keluarga ini tidak ada udara.

Mandala menatapku khawatir.

"Ada tamu rupanya ...."

Aku mengangkat daguku, tersenyum samar. "Selamat malam."

Bu Rosie. Ibu kandung Mandala bagai melihat setan. Matanya tidak berkedip. Aku memilih tidak peduli, berjalan ke kamar untuk membangunkan Amanda.

Aku menepuk pipi Amanda, dia menggeliat kemudian matanya yang merah memicing melihatku.

"Ayo, kita pulang," ajakku, menarik selimut. "Lekas bangun."

"Aku mau pulang jika barang-barang yang Om Dala berikan, juga ikut pulang," bantah Amanda.

"Amanda, Mamamu sudah mengizinkan perihal itu. Sekarang aku akan mengantar kalian pulang," kata Mandala.

Aku memprotes, "Kapan aku mengizinkan?"

"Bisakah kita tidak bertengkar untuk saat ini?" Sorot mata Mandala memberi isyarat untuk tenang. Aku tahu maksudnya, karena ada yang sedang mengawasi kami.

"Baiklah. Ayo, kita pulang, Manda."

Ketika melewati ruang keluarga, Bu Rosie tengah duduk. Wajahnya merah, seperti ada amarah yang coba dia tahan.

"Mama tunggu penjelasanmu, Mandala. Untung saja Soraya mampir dulu ke rumah orang tuanya. Dia pasti akan marah, melihat dua wanita asing di rumah ini," ucap Bu Rosie dengan suara yang nyaris meledak.

"Aku pergi dulu, Ma," pamit Mandala.

Sepanjang perjalanan pulang aku tidak bicara, pun dengan Mandala yang fokus menyetir. Hanya Amanda yang kadang menyeletuk bahagia. Benar-benar suasana yang kaku.

Mobil yang kami tumpangi mulai memasuki kompleks perumahan. Mandala masih ingat di mana aku tinggal.

"Terima kasih, Om Dala," ucap Amanda riang sebelum turun dari mobil. Dia langsung berlari masuk ke dalam rumah.

"Selamat malam, Hasna," kata Mandala.

Aku yang masih berdiri di sisi mobil, hanya mengulas senyum. Mobil hitam itu melaju perlahan, hilang di tikungan.

Aku mengembuskan napas satu-satu. Seharusnya tidak ada sua kembali. Lebih baik senyap seperti semula.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status