Share

Sel Amygdala

Suara Danu terdengar kentara dari belakang. Sialnya, pria itu memang tipe orang yang tidak suka saat barang pribadinya dibongkar orang lain termasuk oleh istrinya sendiri.

"Sedang apa kau di sana?" Posisinya yang semula terlentang, kini beranjak dan berdiri tegak di belakang Widia. Tak ada cara lain lagi bagi wanita itu agar selamat dari ancaman suaminya selain berbohong. Widia menghela napas tenang, berusaha bersikap biasa.

"Aku nggak bongkar-bongkar, Bang. Cuma benerin resletingnya aja."

"Coba lihat aku ...," titah Danu tak percaya. Ia berniat mencari petunjuk sebuah gerak mata tanda bahwa seseorang yang berbicara dengannya itu berdusta. Widia pun berhati-hati dengan hal itu, ia tak akan mungkin memperlihatkan kegugupannya.

"Akh, sakit sekali kepalaku ...." Sambil mengerjapkan kelopak matanya, Widia juga membuat jemarinya menutupi sebagian wajah.

"Kau sakit?" Pria itu mulai khawatir. Bagi Danu, wanita cantik yang berdiri di hadapannya itu adalah segalanya. Danu pernah mati-matian mengejar dan membuktikan cintanya kepada wanita yang memiliki julukan kembang desa itu. Hanya saja, ia tak pandai menyembunyikan sikap tempramentalnya meski kepada wanita yang ia cintai. Sehingga tak jarang, sifat jeleknya itu membuatnya lepas kendali sampai menyakiti hati dan fisik Widia.

"Sepertinya aku butuh air hangat, Bang." Widia beranjak sambil berniat menyembunyikan perhiasan yang masih di genggamannya. Namun, Danu tak membiarkan istrinya pergi. Dengan bahasa tubuhnya pria itu memegangi bahu Widia, lalu membuat istrinya melangkah mundur sehingga terduduk di tepi ranjang tempat tidur.

"Biar aku saja yang ambilkan." Danu setengah berlari ke arah dapur. Sementara Widia secepat kilat menyembunyikan perhiasan itu ke bawah tumpukan pakaian yang tersusun rapi di dalam lemari. Setelah merasa aman, ia pun duduk kembali dan terus meyakinkan suaminya bahwa kepalanya masih sakit.

Danu kembali dengan membawa segelas air putih hangat. "Ini, minum lah!" titahnya.

Widia pun menerima dan meminumnya dengan baik. Danu duduk di sebelah Widia, memiringkan posisi duduknya sehingga lebih condong ke arah sang istri.

"Kau sudah memaafkan aku?" Kedua netra Danu memancarkan tatapan hangat.

"Iya," ucap Widia pelan seraya meliriknya sekilas.

"Aku mau jujur sama kamu." Deg, jantung Widia hampir lepas setelah mendengar ucapan Danu.

"Emm, perihal daging itu ...."

Benar saja dugaan Widia, suaminya akan mengungkap perihal daging aneh itu. Namun, kali ini Widia tidak sedang menipu suaminya. Setelah mendengar kata 'daging' perut dan mulut Widia yang sudah terkoneksi dengan pikiran buruk segera memperlihatkan reaksinya. Widia menutup mulut dan mengintruksikan kepada suaminya untuk tidak dulu menceritakan perihal daging itu.

Widia pun berlari ke arah kamar mandi. Ya, rasa mual itu kembali lagi. Apalagi saat ini, perut kosong yang sejak tadi diajak hilir mudik bepergian. Tentu saja membuat tubuhnya diserang gejala flu.

Danu tak menyusul Widia, ia hanya duduk dan memaklumi kondisi tubuh Widia yang sedang tidak baik-baik saja. Niat Danu menyampaikan klarifikasi tentang daging itu pun urung dan sengaja ia tunda sampai kondisi istrinya membaik.

Lima menit kemudian, Widia kembali dari kamar mandi dengan telapak tangan menutup mulut. Widia tak ingin bicara, ia sudah sangat muak dengan sel amygdala di dalam otaknya yang selalu mengirim bayang-bayang warna, bentuk, dan bau daging itu.

"Mungkin kau terlalu sibuk bepergian ke sana ke mari. Sampai lupa makan! Makan dulu, sana!" ucap Danu. Namun, Widia tak berselera menyantap apa pun gara-gara keadaan kesehatannya ditambah bayang-bayang tentang daging itu.

"Aku tak selera, Bang." Kerutan tipis tampak di dahi Widia.

"Ya udah, tidurlah!" Danu melengos pergi ke luar rumah. Sementara perut Widia semakin melirit, ia memutuskan untuk menyeduh minuman sereal guna meredakan sakit di bagian perut.

***

Malam semakin larut. Keduanya tertidur di tempatnya masing-masing. Widia di dalam kamar, sementara Danu terlelap di kursi sofa ruang tamu. Hingga malam pun berganti, suara lantunan sholawat mulai terdengar dari beberapa mushola di kampung tersebut. Widia terbangun lebih dahulu setelah mendengar lantunan syahdu seorang muadzin (penyeru panggilan ibadah).

Mumpung Danu masih terlelap, Widia segera menuju tempat beribadah. Sesampainya di mushola, Widia berpapasan dengan seorang pria yang tak lain adalah muadzin di kampung itu. Satya namanya, dia merupakan teman se-almamater Andi-Kakak laki-laki Widia-yang telah meninggal.

"Wid ...," sapa pria itu kepada wanita yang baru saja tiba. Widia hanya tersenyum dan mengangguk membalas sapaan. Tak ingin banyak berinteraksi dengan pria itu. Widia pun langsung mengambil shaf (barisan shalat) yang sudah menggunakan sekat pemisah antara laki-laki dan perempuan. Keduanya melirik kiri kanan. Muncul pertanyaan di dalam benak keduanya, mengapa tak ada orang lain selain mereka? Meski jarak keduanya berjauhan tetap saja ada perasaan tidak nyaman.

"Mulai saja sekarang, Bang," pinta Widia karena sudah cukup lama warga lain tak kunjung datang. Memang warga kampung ini terbilang sulit sekali mengunjungi tempat suci yang difasilitasi oleh pemerintah daerah setempat. Sehingga, jika bukan Satya atau pria itu sedang tak ada di kampungnya. Maka, penduduk setempat tidak akan mendengarkan seruan adzan.

Satya menyetujui permintaan Widia untuk menjadi imam dan memulai ibadah shalat sebelum fajar menyingsing.

Beberapa menit kemudian.

"Assalamualaikum, warahmatullah," desis sang imam menuntaskan ibadahnya dengan bacaan salam. Widia mengikuti gerakan dan bacaan tersebut dari belakang. Detik itu juga terdengar derap langkah tegas di teras mushola. Keduanya reflek menoleh ke belakang.

"Widiaa!" teriak Danu di ambang pintu masjid. Sontak saja, keduanya terkejut dengan kehadiran Danu. Kelopak mata Widia pun terbuka lebar, sungguh situasi tersebut membuat Widia tak berkutik dan hanya mampu bersiap menerima amarah suaminya.

"Sejak kapan kau shalat di masjid, hah?" Danu menghampiri istrinya sambil menyambar lengan yang masih terbalut mukena.

"Agh, sakit, Bang. Aku minta maaf," pekik Widia kesakitan saat pria itu memaksanya berdiri.

"Oh, ternyata memang benar ya dugaanku selama ini, kalian selingkuh? Kalian berdua janjian untuk bertemu di sini, hah?" bentak Danu yang begitu tersulut emosi.

Satya adalah teman SMA kakak laki-laki Widia yang juga saingan Danu saat berlomba mendapatkan cinta Widia. Widia yang sering dijuluki kembang desa itu memang memiliki banyak fans dari kalangan pria, termasuk pria yang baru saja menjadi imam shalatnya.

Sebelum Danu melamar dan menikahi Widia, Satya pernah menyatakan cinta kepada perempuan itu. Namun, meski bebet bibit bobot pria bernama Satya Bagaskara itu jauh lebih baik daripada Danu karena terlahir dari keluarga terhormat. Namun, Widia lebih memilih Danu karena Widia hanya menganggap Satya sebagai 'abang' karena ia adalah sahabat kakaknya, tidak lebih. Sementara, Danu adalah pria yang paling menonjolkan diri atas keseriusannya dalam mengejar cinta Widia.

Lambat laun, Ibu Kandung Widia pun lebih menyetujui putrinya menikah dengan Arkhan Danu . Seorang pria yang mengaku bahwa dirinya adalah anak semata wayang dari pasangan orang tua yang sudah tiada.

"Danu! Lepaskan, dia! Kami hanya melaksanakan sholat saja, tidak lebih," bela Satya. Sebisa mungkin ia memasang badan untuk meredam amarah Danu terhadap.

"Diam, lu! Oh ... gua tau, lu masih penasaran 'kan sama istri gua, hah? Ayo ... ngaku!" Bola mata Danu membulat sempurna, sementara dada lapangnya kembang kempis. Rupanya, Danu terbakar api cemburu. Pria itu kembali menarik kasar lengan istrinya.

"Hei! Jangan kasar sama perempuan!" Rahang tegas Satya tampak saat pria tampan itu memperingatkan Danu. Danu tak terima ditunjuk-tunjuk oleh pria yang membuatnya cemburu.

"Gua peringatin sekali lagi, kalau sampai gua lihat kalian seperti ini sengaja atau pun tidak sengaja. Gua gak bakalan segan melenyapkan kalian berdua!" ancam Danu tak kenal tempat berucap.

"Bang, sudah lah. Ayok, kita pulang!" Kini, Widia yang meminta pria itu menjauh dari sahabat kakaknya. "Awas, lu ya ...," ancam Danu dengan tatapan tajam menghujam me arah Satya.

Setelah keduanya berlalu meninggalkan Satya. Danu melirik istrinya yang begitu ketakutan dengan seringai sinis.

"Kau sudah berani berbohong, Widia. Kau harus dihukum...," bisik Danu di telinga perempuan yang masih lengkap mengenakan mukena itu.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mrlyn
Ngeri banget gak ngurus tempat ibadah kau Danu 🫣
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status