Share

MARJAN SOLID
MARJAN SOLID
Author: MetroWoman

Bab 1. Gara-gara mogok

“Terus, masih belum coba-coba buka hubungan baru abis cerai?” Gusti meletakkan ponsel.

Pelayan warung datang membawa sepiring udang goreng tepung, sepiring sambal petai, sepiring parkedel, dua piring nasi, dua porsi cah kangkung, dua gelas es teh manis dan air tawar. Hiruk pikuk selama jam makan siang memang selalu tidak bisa dihindari.

Riuh suara mesin kendaraan dan pelanggan warung memenuhi telinga kedua lelaki itu. Terutama di warung makan tempat mereka berada sekarang.

Pelayan tersebut kembali melayani pelanggan lainnya, usai Gusti mengucap terima kasih sembari tersenyum. 

Pria itu dan Johan menuang lauk dan sayur ke piring nasi, mengambil sepotong perkedel dan sambal petai secukupnya. Gusti melirik jam tangan dan membalas pesan sebelum mengaduk nasi. Tersisa satu jam lagi sebelum balik ke kantor.

“Belum. Bukan aku gak mau atau gak bisa move on, tapi masih sakit, Gus. Gak tahu juga dech, tiap kali mau mulai coba, hatiku selalu terasa berat.” Johan menuang cah kangkung yang tersisa.

Gusti termenung mendengar pengakuan Johan. Dia hanya memandang Johan yang bahkan sudah menghabiskan sepiring petai. Gusti tidak habis pikir tentang kehidupan Johan yang menurutnya tragis.

Laki-laki yang bertanggung jawab, tidak ngadi-ngadi, perhatian pada istri, tidak kurang uang bulanan, tapi justru malah mendapatkan perempuan yang tidak bersyukur. Tidak tanggung-tanggung, istri Johan malah selingkuh dengan tetangga rumah mereka.

“Bukan apa-apa sih, udah tiga tahun soalnya. Udah waktunya buka lembaran baru. Mantan bini udah ngelehoi kemana-mana, anak udah dua. Lah, kamu? Gini-gini aja." Gusti mengunyah parkedel.

“Ibumu gak nanya-nanya, gitu? Kan, biasanya ser –" 

“Makan!” bentak Johan cepat dengan suara tertahan.

Gusti yang duduk di depan Johan terkejut melihat mata Johan melotot. Johan tidak mau mendengar ocehan apa pun saat ini, apalagi membahas masa lalunya yang seharusnya sudah terlupakan. Laki-laki berambut hitam lurus itu hanya mau tenang di jam istirahat kantor.

“Biasa aja kali, Jo.” sungut Gusti yang mulai menyendok nasinya.

Johan menumpuk piring-piring kotor dan menggesernya ke tengah meja. Sesekali matanya mengamati sekitar yang masih ramai dengan pegawai kantoran yang datang dan pergi dari warung.

Johan dan Gusti sudah beberapa kali makan di warung itu. Letaknya lumayan jauh dari kantor. Butuh waktu sekitar lima belas menit untuk menjangkaunya daripada warteg dekat kantor yang hanya butuh dua menit berjalan kaki.

Karena terlambat memesan tempat, mereka harus rela mencari warung lain sampai akhirnya tiba di warung MARJAN SOLID.

Johan menatap Gusti yang lahap menyantap makan siangnya. Dia tidak berbohong tentang perasaannya yang ingin memulai hidup baru. Menutup cerita lama memang bisa dilakukan, bahkan semudah lidah tak bertulang.

Tetapi, mengobati luka yang terlanjur menganga tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Johan tidak mau lagi teringat-ingat apalagi mengenang kisah rumah tangganya yang menyakitkan. Cukup sudah semua cerita yang tinggal kenangan. Tidak ada yang tersisa baginya.

Mata Johan jatuh pada es teh yang masih sedikit diminum. Mungkin tidak ada lagi rasa manisnya karena es batu yang terlanjur mencair. Johan membuang napas sembari mendongakkan kepala.

"Semuanya enam puluh tiga ribu, Bang."

Johan mengeluarkan selembar uang merah, sementara Gusti langsung menuju ke mobil saat melihat panggilan telepon dari istrinya. 

Johan menerima uang kembalian dengan mengangguk dan membalas senyum ramah kasir. Dia segera keluar warung menuju mobil, ketika Gusti masih bergurau ria dengan istrinya yang sedang di luar kota.

"Kita ke SPBU dulu, Jo. Minyak hampir habis."

"Sisa tiga puluh menit. Semoga gak antri." Johan melirik jam tangan Gusti.

Lelaki itu mengangguk. Gusti melajukan mobilnya santai ke pom bensin yang hanya lima menit dari warung makan tersebut. Cukup sepi saat mereka tiba, dan Gusti langsung ambil posisi.

Dia meminta pengisian penuh beserta struk pada petugas pom bensin. Gusti mematikan mesin mobil, saat petugas akan membuka penutup tangki minyak.

Jendela yang terbuka membiarkan angin sepoi mengelus rambut dan wajah manusia yang ada di pom bensin. Gusti merasa ingin pulang dan bermanja di tempat tidur.

Pria itu terdiam di sebelah Johan yang memejam mata sesaat. Pikirannya kosong seperti berhenti berpikir. Johan terlena disentuh angin sejuk di siang yang terik itu.

"Eh, Jo ... Jo ... tolongin tuh. Kasian."

Gusti menepuk pundak Johan saat melihat seorang perempuan sedang kepayahan mendorong motornya memasuki gerbang SPBU. Mata Johan terbuka, menoleh ke belakang dan melihat perempuan itu berhenti sesaat untuk bernapas. Dia juga meminggirkan motornya dan menyangga cagak sebelum akhirnya mengelap keringat yang menetes.

"Tolongin, Jo. Kasian."

"Udah biasa kayak gitu tu, Gus."

"Ya, Allah, Jo. Gitu amat. Kasian anak orang."

Jarak dari gerbang ke booth pengisian bahan bakar minyak motor lumayan jauh dengan jalan kaki. Gusti tidak tega melihatnya sementara antrian mulai terlihat. Dia yang baru saja turun dari mobil, mengurungkan niat untuk memeriksa volume minyak di tangki.

"Ambil alih, Jo! Aku mau ke sana."

Gusti menyerahkan beberapa lembaran merah pada petugas, ketika Johan turun dari mobil karena mulai tidak enak hati menolak permintaan Gusti.

"Maaf, permisi."

Marina menoleh. Matanya melihat sosok lelaki berpostur tinggi, berkulit cokelat tapi berperawakan manis, sedang menatap dirinya yang berkeringat.

"Motor kamu mogok? Biar saya bantu dorong ke sana."

Johan menunjuk sopan ke booth motor, sementara Marina bengong menatap lelaki di hadapannya. Dia terkejut seseorang tidak dikenal menawarkan bantuan padanya yang sedang kepayahan dan kepanasan. 

Dia tidak segera menjawab, malah diam membuang waktu Johan yang harus balik ke kantor. Johan bengong memandang perempuan yang masih menggunakan helm itu.

"Oh, terima kasih. Saya bisa dorong ke sana," tolaknya halus.

"Yakin?" Johan menoleh ke arah booth motor yang mulai tampak ramai.

"Ok, kalau gitu. Saya tinggal ya, saya harus balik ke kantor. Permisi."

Baru enam langkah Johan berjalan untuk kembali ke Gusti yang sudah menunggunya di seberang sana, suara Marina kembali terdengar.

"Eh, tunggu!"

Johan tidak mendengar teriakan Marina. Pria itu terus berjalan cepat mengejar waktu menghindari Keterlambatan. 

"Bang! Bang! Eh, aduhhh ...." Marina memperbaiki posisi helmnya yang melorot.

"Bang!"

Marina mengejar Johan yang hampir dekat dengan booth mobil. Johan menoleh saat mendengar suara yang memanggil seseorang. 

"Maaf. Boleh bantuin dorong?"

Marina tersenyum sungkan, dengan napas ngos-ngosan dan semakin berkeringat. Johan menarik napas melihat Marina yang seperti Bunglon. Tadi menolak, sekarang meminta. Johan tersenyum mengejek. Tapi, Johan teteplah Johan –lelaki yang tidak tegaan.

"Ok, ayo!" 

Johan berlari ke tempat parkir motor Marina, lantas mendorongnya sampai ke booth selang motor.

"Terima kasih banyak, Bang. Maaf ya, saya ngerepotin," ucapnya ngos-ngosan karena kehabisan tenaga mondar-mondar berlari.

"Sama-sama. Saya balik ya. Permisi."

"Eh, tung –" 

Johan jalan terburu-buru, mengingat waktu yang sudah mepet. Sepuluh menit lagi untuk tiba di kantor sebelum rapat dimulai.

"Yah ... main kabur aja nih abang-abang!"

Marina berdiri mengantri bbm sembari menatap Johan, yang sudah berlari mengejar waktu yang tersisa.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status