Share

3 ☆ Anak Pungut

"Apa-apaan itu?" gumam Kara pelan, "Kiss ... kiss apa? Kissing partner katanya?"

Pemikiran buruk tentang Bara pun tercipta. Awalnya, Kara berpikir jika Bara adalah sosok pria yang penuh wibawa. Tapi nyatanya, dia hanyalah tuan muda cabul, tidak beretika dan sangat mesum. Yah, seperti itulah pendapatnya, setelah ia mendengar penawaran Bara.

Dia bahkan tidak mau peduli dengan alasan yang Bara lontarkan, tentang phobia atau apalah itu. Menurut Kara, itu hanya sebuah trik licik.

Namun disisi lain. Bara yang masih berdiri ternganga, merasa sangat kesal. Tentu saja, ini pertama kalinya dia mendapat penolakan. Padahal, biasanya Bara lah yang menolak para wanita yang mencoba mendekatinya.

Ambisi untuk menaklukan Kara tiba-tiba tumbuh hanya dalam semalam, Bara seolah merasa tertantang untuk menghadapi penolakan dari gadis yang baru bekerja padanya selama beberapa hari itu.

Sejak kejadian malam itu, setiap tindakan Kara selalu mendapatkan tatapan dingin dari Bara. Bahkan saat dia memasak, Bara berpura-pura membaca laporan sambil menatapnya diam-diam.

Ketika bersih-bersih pun, tatapan pria itu masih menatapnya dengan tajam, membuat Kara merasa seperti diintai oleh harimau yang ingin menjadikannya sebagai santapan makan siang.

Perlakuan Bara sudah pasti membuat Kara tidak nyaman. Gadis itu pun mencoba berbicara pada Helena untuk dipindahkan ke tempat lain. Namun sayangnya, sebelum dia berbicara pada Helena, Bara sudah lebih dulu mendahuluinya.

"Apa ada masalah di sana?" tanya Helena ketika Kara mengutarakan keinginannya.

"Ti-tidak. Itu hanya—" Perkataan Kara tiba-tiba tertahan.

Dia sendiri juga merasa bingung harus memberikan alasan seperti apa pada Helena. Tidak mungkin jika dia menjadikan tawaran sang tuan muda sebagai alasan, karena ia yakin jika Helena pasti tidak akan mempercayainya.

"Kamu baru beberapa hari bekerja. Jika pekerjaan ini terasa berat, kamu bisa mengundurkan diri," terang Helena tanpa basa-basi.

Sontak saja ucapan Helena membuat Kara gelagapan, "Tidak! Maaf, Bibi Helena. Saya kehilangan fokus sesaat. Saya akan bekerja lebih giat lagi."

"Bagus. Aku menyukai pekerjaanmu yang rapi dan cekatan, Kara. Jadi, bertahanlah."

Kara mengakhiri panggilan teleponnya, kemudian menghela napas kasar. Helena benar-benar tidak mudah dibujuk dengan alasan apapun, seperti rumor yang beredar di kalangan para pekerja.

Pada akhirnya, dia mencoba untuk tetap bertahan, meski Bara terus menatapnya seperti seekor kelinci yang akan menjadi santapan. Hingga akhirnya, satu minggu pun berlalu setelah tawaran dari Bara.

Hari itu Kara mendapatkan tugas untuk berbelanja kebutuhan di luar bersama Jefri, supir paruh baya yang sudah mengabdi pada keluarga Alexandrio selama lebih dari 10 tahun.

Beberapa barang kebutuhan sudah berhasil dibeli oleh Kara, ketika tiba-tiba ia mendapatkan panggilan telepon dari kakak laki-lakinya.

"Kara, kamu ada dimana? Para preman itu datang lagi, dan memukuli Ayah!"

Dengan panik, Kara menyuruh Jefri pulang lebih dulu dengan membawa barang belanjaan. Sedangkan dia buru-buru kembali ke rumah.

*

Beberapa menit berselang, sampai Kara tiba di sebuah kawasan yang bisa dibilang kumuh, dengan beberapa rumah dan bangunan yang terlihat tak terawat, bahkan hampir roboh. Salah satu diantara bangunan itu adalah milik keluarga Kara.

Gadis dengan rambut panjang yang digelung rapi itu, terlihat berlari tergopoh-gopoh usai turun dari taxi. Melihat banyak orang berkerumun di depan rumahnya, membuat Kara semakin panik.

Kara menerobos kerumunan tetangga yang sedang melihat sang ayah dihajar habis-habisan oleh para preman. Fokus Kara langsung tertuju pada sang ayah.

Naas, tepisan tangan salah satu preman mengenai wajahnya, saat Kara hendak menyelamatkan sang Ayah. Kara pun jatuh tersungkur tak berdaya, namun dia buru-buru bangkit dan mengancam mereka sambil menunjukkan ponselnya.

"Berhenti atau kupanggil polisi!"

Seketika, tiga preman bertubuh kekar itu menoleh dan menatap Kara yang memegang ponsel, bersiap memanggil polisi. Gertakan Kara akhirnya membuat para preman itu melepaskan sang ayah.

"Tidak bisa bayar, ambil rumahnya saja!" ucap pria bertubuh kurus tinggi yang sejak tadi berdiri bersandar pada sebuah mobil kuno berwarna biru.

Seorang wanita paruh baya tiba-tiba saja berteriak dengan lantang, "Tidak! Tidak, jangan ambil rumahku!"

Wanita bernama Viola itu buru-buru berlari menghampiri pria bertubuh kurus, dia berlutut dan memohon belas kasih padanya. Tak lama kemudian, seorang pria berusia 25 tahunan juga menghampiri pria itu.

"Kami pasti akan membayarnya. Adikku bekerja di kediaman orang kaya, dia akan membayar kalian dalam seminggu. Percayalah!"

Perkataan sang kakak, tentu saja membuat Kara tertegun. Dia menoleh, melihat kakak dan ibu angkatnya dengan tega menjadikan dirinya sebagai tameng.

Pria itu memincing tajam ke arah Kara, menatap dengan mata liciknya dari atas hingga ke bawah. Melihat baju maid hitam yang dipakai Kara, membuatnya sedikit percaya perkataan Eiden.

"Oke! Satu minggu lagi. Jika tidak bisa membayarnya, rumah ini jadi milikku!"

Kaki Kara seketika lemas, saat orang-orang itu pergi meninggalkan mereka. Ada perasaan lega, ada juga rasa khawatir tentang janji yang disematkan Eiden.

Namun, rasa kesal dan marah lebih mendominasi diri Kara. Dia mendekati Eiden, kemudian melayangkan tangannya di pipi sang kakak.

PLAK!!

"Apa kau sudah gila!" Kara meluapkan emosinya yang menggebu-gebu.

Bukannya mendapatkan pembelaan dari sang ibu, wanita berumur 50 tahun itu justru membela kakaknya.

"Bukankah kamu sudah bekerja di tempat orang kaya? Setidaknya pinjamlah sedikit dari mereka, lalu cicil dengan memotong gajimu!"

Mendengar kata-kata sang ibu, membuat Kara bertambah emosi. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat, berusaha menahan agar tidak meledak di depan umum. Hanya saja, perkataan sang ayah justru semakin memancing amarah dalam dirinya.

"Ibumu benar. Pinjam sedikit dari mereka, 200 ribu dollar hanya uang kecil bagi mereka."

Tak hanya keluarganya saja yang terus memojokkan Kara, bahkan beberapa tetangga yang melihat pun ikut bersuara. "Benar, berbaktilah sedikit pada ayah dan ibumu, Kara. Mereka sudah memungut dan merawatmu, jangan tidak tau balas budi!"

Mendengar kata-kata menyakitkan itu, membuat kara tersenyum miris. Benar, dia hanyalah anak pungut. Dia ditemukan di pinggiran sungai, oleh ayah dan ibunya saat dia masih bayi.

Kara berbalik menatap beberapa tetangga yang belum juga pergi itu dan berkata, "Berbakti? Apa Anda yakin, Anda mengerti dengan benar arti kata berbakti? Selama 3 tahun ini aku bekerja siang dan malam untuk menghidupi keluarga ini! Menurut kalian, siapa yang hanya menonton serial di rumah, mabuk-mabukan dan berjudi?!" Kara menatap Eiden dengan tajam, "Apa kau pernah berpikir untuk mencari pekerjaan? Tidak kan?!"

Kara menatap ketiga anggota keluarganya secara bergantian. Namun tak ada satupun dari mereka yang menampilkan raut wajah bersalah atau semacamnya, mereka justru menatapnya dengan tidak suka.

"Hutang 100 ribu baru saja selesai dibayar, dan aku harus bekerja dari siang sampai malam selama tiga tahun!" Kara masih meneruskan luapan emosinya. "Dan sekarang ... sekarang aku harus membayar lagi hutang yang dua kali lipat lebih banyak dari itu? Berapa lama aku harus bekerja untuk itu?!"

"Kamu mencoba berhitung dengan keluargamu sendiri? Ibu dan ayah sudah memungut dan membesarkanmu, Kara. Setidaknya bantulah sedikit. Itu tidak sebanding dengan pengorbanan mereka selama ini!"

Perkataan Eiden berhasil membuat mata Kara memerah. Gadis itu tidak bisa berkata apapun lagi. Usahanya untuk menyadarkan keluarganya berakhir sia-sia. Alih-alih meneruskan perdebatan, Kara memilih pergi dengan membawa rasa kecewa, sedih dan emosinya.

"Haruskah aku merendahkan diri dan menerima tawaran Tuan Bara? Haruskah aku melakukan itu demi sebuah keluarga yang bahkan tidak pernah peduli dengan rasa lelahku?" batin Kara dengan menahan rasa sesak di dadanya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status