Share

6. Perintah

Pelupuk mata Myan dipenuhi dengan air mata yang menggenang. Wajahnya terasa panas. Perasaannya bercampur aduk menjadi satu. Antara kesal, marah, malu, dan shock membuat darahnya seolah mendidih.

"Apa kau baru saja menyerang seorang pangeran?!" geram Kouza menatap tajam Myan.

Myan terbelalak mendengar tuduhan Kouza. Perlahan ia berdiri dengan selimut yang masih membungkus tubuhnya. Mengusap air matanya yang menetes dan dengan mata yang berapi-api mendekati Kouza. Mencengkeram baju Kouza dengan tangan satunya. Mendekatkan wajahnya pada Kouza,

"MENYERANGMU?! Hah apa?! Kau bilang aku menyerangmu?! Apa kau sudah tak waras?! Dasar pangeran bajing*n!!! Kau yang menyerangku saat aku tidur! Kau pria berengs*k!! Pangeran apanya?! Kau hanya pangeran mesum!! Cabul!! Apa kau tahu aku sudah terlalu frustasi karena masuk ke dalam duniamu! Sekarang kau memperlakukanku seperti ini?!! Kau mau memperkos*ku??!!! Kenapa??! Apa karena kau seorang pangeran kau berhak melakukan itu padaku?! HAAAHHH???!!!" teriak Myan histeris. 

Seketika amarahnya yang meledak ia luapkan dengan berapi-api. Napasnya naik turun dan terengah-engah. Mukanya masih memerah karena sisa-sisa luapan emosinya.

Kouza yang begitu terkejut tampak tertegun dan shock mendengar teriakan Myan. Apa ia baru saja dimarahi? Apa gadis itu benar mencengkeram kerah bajunya dan berteriak di depan mukanya? Mengumpatnya dengan bahasa-bahasa kasar yang belum pernah ia dengar sebelumnya seumur hidupnya?!! Saking tak percaya dengan apa yamg baru saja dialaminya, Kouza hanya bisa mengerjapkan matanya.

"Kemasukan roh apa?! Hah, omong kosong! Kau itu memiliki kepribadian ganda bukan? Kau bahkan ingat semua yang kau lakukan dengan kepribadian yang ini. Kouza liar." Lanjut Myan sinis, seolah menantang Kouza.

Myan menatap Kouza tajam, sebelum akhirnya melepaskan cengkeraman tangannya. Ia menghembuskan napasnya untuk meredakan kekesalannya.

"K_Kouza liar?" tanya Kouza tak mengerti.

"Ya! Kau! Kau Kouza liar. Kau yang memanggilku Kisha adalah Kouza versi liar yang selalu berbuat mesum dan menyerangku!"

"Sedang Kouza yang satunya adalah Kouza lembut yang memperlakukanku lebih baik. Sifat kalian sangat bertolak belakang. Jadi, yang mana diantara kalian yang diciptakan Kouza yang asli?!" tanyanya kesal.

Myan tak ingin mengalah. Ia jelas memiliki bukti yang tak dapat dibantah. Kerasukan apa? Omong kosong! Kouza hanya memiliki kepribadian dengan versi buruk. Itu saja. Apa dia akan menyangkalnya? Myan bertanya-tanya dalam hati.

Kouza berdehem, menata sedikit bajunya yang berantakan. Ia merasa takjub dengan gadis ini yang bisa dengan mudah mengetahui rahasianya. Apa karena dirinya dari dunia yang berbeda dengannya, jadi pemikirannya pun berbeda? Kouza menimbang-nimbang hal itu.

"Kau benar. Seperti yang kau bilang, aku Kouza liar yang diciptakannya. Aku muncul untuk melindungi dirinya yang lemah. Saat aku keluar, ia tertidur di dalam sini." Kouza mengetuk perlahan kepalanya sendiri.

"Ia memang tak pernah mengingat apapun yang sudah kulakukan. Lagipula apa yang bisa dilakukan si lemah itu"

"Lalu, kenapa kau melakukan itu padaku?!" tanya Myan.

"Melakukan apa?!"

"Menyerangku dan mencoba memperkosaku dam***!!!" geram Myan kesal.

"Kau itu wanitaku, aku bisa melakukan apapun yang aku mau padamu. Seorang pangeran sepertiku bisa melakukan apa saja yang kuinginkan?!"

Myan tak percaya apa yang baru saja didengarnya, "Wah... dengar ya Kouza, aku di sini karena kau yang membutuhkanku. Kau seharusnya lebih menghormatiku. Karena hanya aku yang bisa menolongmu bukan? Jadi kau harus menuruti semua perkataanku," tegas Myan.

Kouza tersenyum simpul. Ia bangkit dari duduknya dan menarik Myan dengan cepat. Myan terpekik saat Kouza menjatuhkannya di atas ranjang besar itu. Kouza mencengkeram kedua tangannya dan menindihnya untuk mengunci tubuhnya. Myan meronta dengan sia-sia karena Kouza jauh lebih kuat darinya. Tubuh mungilnya tidak seimbang melawan kekuatan Kouza.

Dengan suara beratnya Kouza memperingati Myan seolah hendak menghipnotisnya. 

"Entahlah, kita lihat saja, kau atau aku yang sangat membutuhkan bantuan di sini. Usaha yang bagus sudah berani mengancamku seperti tadi. Seperti yang kau tahu Nona, aku bukanlah pangeran yang dikutuk oleh seorang roh. Dan kau sekarang hanyalah seorang gadis kecil lemah yang sangat putus asa, yang ingin segera kembali ke duniamu sendiri bukan?" kali ini seulas senyum licik menghiasi wajah Kouza.

"Jadi, menurutmu____aku___atau kau___ yang paling membutuhkan bantuan di sini? Hmm?" tanyanya. Myan mengerjap karena terpojok.

Dimata Kouza sekarang ia bagaikan seekor kelinci kecil yang sedang meringkuk ketakutan karena terperangkap oleh serigala buas yang hendak memangsanya.

"Dan menurutmu sekarang, siapa yang harus menuruti perkataan siapa?" tanya Kouza sambil tersenyum penuh kemenangan melihat Myan terpojok sambil menggigit bibir bawahnya. Matanya mulai berlinang air mata lagi.

"Siapa tahu, dengan kau menurutiku___kau bisa kembali ke duniamu___sendiri" bujuk Kouza lambat-lambat.

Ia mulai mengecup air mata Myan yang menetes hingga ke lehernya. Myan memalingkan wajahnya menghindari tatapan Kouza.

Benar, semua yg dikatakan Kouza liar memang benar. Sekarang satu-satunya yang diinginkannya hanyalah pulang. Pulang ke dunianya sendiri. Dan Kouza adalah orang yang sangat memungkinan bisa mewujudkan itu.

"Apa sekarang kau mengerti posisimu? Hm?"

Kouza masih mencumbui leher Myan. Myan menelan ludahnya berkali-kali.

"Kau tidak menjawabku?!" desak Kouza menuntut dengan suara parau.

"Y__ya..." Myan akhirnya menjawab dengan pasrah. Dengan memikirkan semua kemungkinan yang ada, jika ia menuruti Kouza mungkin keadaannya tak akan terlalu sulit. Bukankah ia sudah bertekad akan bertahan di sini bagaimanapun caranya sampai ia kembali lagi.

"Gadis pintar... hm..." puji Kouza penuh kemenangan.

Kouza langsung melumat bibir Myan yang merekah itu tanpa ampun. Memuaskan kenikmatan yang sempat ditahannya tadi. Sekuat apapun Myan menghindar dan meronta, tenaga Kouza jauh lebih kuat. Semakin Myan berusaha menghindar, semakin liar Kouza mencumbunya.

"K__Kouza..." Myan mencengkeram rambut Kouza disela-sela desahannya.

Walau dirinya tak menginginkan ini, tapi permainan Kouza yang intens cukup membuatnya melayang. Selama ini Myan bahkan tidak pernah mendapat perlakuan dari seorang pria seperti Kouza liar memperlakukannya saat ini. Ia tidak pernah disentuh sedemikian intimnya sebelumnya.

Semakin Myan meronta dan mencengkeram rambutnya, Kouza semakin rakus melahap yang tersaji di hadapannya. Ia yakin gadis itu sangat sensitif terhadap sentuhannya. Hanya dengan sedikit ciuman dan sentuhan di area sensitifnya saja gadis itu langsung menegang dan napasnya begitu memburu. 

Kouza sendiri tahu, dibalik penolakannya yang keras, gadis itu pun sebenarnya juga menikmati permainannya. Kouza semakin bernafsu untuk memilikinya.

"Hen___hentikan!!! Kita bahkan belum menikah!" seru Myan panik.

Hanya itu yang terpikir olehnya untuk menghentikan 'serangan' Kouza. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Myan terlalu panik jika ia tak segera menghentikan serangan Kouza, maka habislah dirinya....

Kouza menghentikan aktifitasnya segera karena terkejut. Menatap Myan dengan mata liarnya dan tersenyum licik penuh arti.

"Arokaaaa!!!!!!!!" teriaknya kemudian.

Myan tergagap, refleks meraih selimut untuk menutupi tubuhnya. Kouza bangkit turun dari ranjangnya, membelakanginya. Menutup semua tirai yang terpasang pada ranjangnya. Sebisa mungkin menjauhkan semua mata yang mungkin bisa mencuri pandang tubuh Myan.

Aroka dengan cekatan masuk setelah namanya diteriakkan. Membungkuk penuh hormat pada pangerannya.

"Sampaikan pesan kepada baginda raja dan ratu, bahwa pangeran Kouza akan melaksanakan pernikahan hari ini dengan Kisha. Persiapkan semua yang diperlukan untuk pernikahanku hari ini." tegasnya.

"Ap.. apaa?!!" teriak Myan tercekat. Refleks menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya membulat ngeri.

"Baik pangeran!" Aroka segera beranjak keluar meninggalkan kamar tersebut dengan hormat.

Kouza menyibak tirai halus yang menyelubungi ranjangnya. Menatap Myan dengan wajah maskulinnya yang penuh kemenangan. Senyumnya yang sangat arogan dan menawan sekaligus mematikan itu ia sunggingkan penuh kepuasan.

"Bersiaplah untuk pernikahan kita hari ini permaisuriku" ucapnya sambil mengecup ujung rambut Myan yang tergerai lembut di bahu setengah telanjangnya.

Myan hanya bisa memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya dengan geram.

*******

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Kikiw
bangke wkwkkwk termakan omonganmu sendiri My
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status