Share

Bagian Kelima

Aku dan Ali kembali masuk mobil hitam. Aku duduk diam di depan bagian samping sebelah kiri. Sementara Ali berada di kananku. Dia menyandarkan kepalanya di kemudi. Kami diam beberapa saat. Aku biarkan Ali memulai pembicaraan. Karena aku yakin atas kejadian barusan bisa jadi jiwanya terguncang. Tiba-tiba Ali menyodorkan tangannya, meminta berjabat tangan sambil mengatakan..

“Selamat, kamu beruntung sekali Iz..” Ali berkata kepadaku dengan air mata merembes ke mana-mana. Aku memilih tidak menyalaminya tapi langsung memeluknya. Beberapa menit kemudian, dia baru melepaskan pelukanku.

“Aku mengajakmu ke sini untuk mengantarku. Tapi takdir tertulis, Putri justru memilihmu. Itulah kenyataannya”

“Jika karena ini lalu kamu memilih berhenti berteman denganku. Maka aku tidak akan menerimanya!” Jawabku penuh emosional.

“Hey, jangan keliru! Kamu bodoh kalau tidak menerimanya. Putri anak yang baik, pintar, cantik, dan ternyata juga kaya. Dia sudah mengetuk hatimu, kalau kamu menutup pintu hatimu gara-gara aku. Kamu pasti menyesal”

“Aku juga belum ada rasa cinta..”

“Kamu sudah tahu kalau cinta bakal datang karena terbiasa. Sekarang berjanjilah kamu akan menerimanya”

“Kamu ini aneh. Apa maksudmu? Apa kamu mau menunjukkan kalau aku teman makan teman begitu?”

“Kamu yang aneh. Jangan kekanak-kanakan! Mungkin seumur hidup sekali ini kamu dapat kesempatan sebagus hari ini. Demi Allah dan demi aku sahabatmu, terimalah. Justru ketika aku tahu Putri bersama orang sepertimu aku jadi ikut bahagia”

Dari situ aku belajar lagi, karena seringkali orang kalap setelah tahu kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Lalu tiba-tiba menjadi tidak dewasa dengan memilih menghindar atau menjauh. Dan Ali tampil dengan gentle, dia rela dan bahkan meyakinkan aku agar menerimanya. Ah sahabatku Ali, ilmumu tingkat tinggi. Mungkin kamu akan disandingkan dengan perempuan yang benar-benar sesuai dengan kebesaran hatimu.

“Akan aku fikirkan..”

“Jangan sampai salah mengambil keputusan. Aku jadi tahu, pantas saja beberapakali  dia tanya tentang kamu Iz..”

“Oh ya? Kok kamu tidak pernah bilang?”

“Lah dia sendiri punya akun f******k-mu kok. Aku suruh tanya langsung saja ke orangnya”

“Emm, dia tidak pernah tanya. Aku juga tidak tahu kalau ternyata dia sudah berteman denganku”

“Nanti kamu chek, nama f******k-nya Reny Putri Salsabila”

***

Persis tiga jam setelah kejadian itu Putri yang memulai chat aku. Dan memang kami sudah berteman di f******k. Setelah aku chek, ternyata dia juga beberapa kali pernah like statusku. Sejak itu kami berdua jadi sering chatting, kemudian saling tukar nomor handphone, lalu teleponan, nyambung, ada chemistry. Yup, betul. Dua hari setelah pertemuan yang mendebarkan hati itu, aku memutuskan menerima Reny Putri Salsabila. Karena Ali juga menyuruh aku menerimanya, jadi tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya. Dan tiga minggu setelah itu kami berdua menikah. Berarti tidak sampai satu bulan aku mengenal Putri, dan sekarang dia sudah menjadi istriku.

Oh iya, sebenarnya sejak kecil Reny Putri Salsabila dipanggil Reny. Hingga suatu hari Reny sering sakit lalu mengganti panggilan namanya menjadi Putri. Sejak itu dia tidak kambuh lagi dari sakitnya. Alhasil setiap berkenalan dia selalu meminta dipanggil Putri. Hanya saja ayah, ibu, dan keluarga terdekatnya masih tetap memanggilnya Reny. Dan aku termasuk yang diminta untuk memanggilnya Reny, plus sayang.

Semua jodoh, tidak ditentukan oleh panjangnya masa berkenalan. Tetapi yang menentukan adalah kesesuaian jiwa. Kau adalah aku. Aku adalah kau. Dukamu dukaku. Dukaku dukamu. Sukamu sukaku. Sukaku sukamu. Cita-citamu cita-citaku. Cita-citaku cita-citamu. Senangmu senangku. Senangku senangmu. Bencimu benciku. Benciku bencimu. Kurangmu kurangku. Kurangku kurangmu. Kelebihanmu kelebihanku. Kelebihanku kelebihanmu. Milikmu milikku. Milikku milikmu. Hidupmu hidupku. Hidupku hidupmu.

***

Inilah kenyataan kisah sebelum pernikahan kami. Makanya terkadang tanpa disuruh, rasa bersalah tiba-tiba hadir menyusuri dadaku ketika teringat kisah itu. 

“Sudah puas dengan jawabanku sayang?” Tanya Reny.

“Sangat puas”

“Sekarang aku bertanya pertanyaan yang sama. Apa yang membuatmu yakin hingga akhirnya kamu mau menerima aku? Padahal aku tahu, sebenarnya kamu banyak pilihan. Tapi mengapa kamu masih tetap memilih bersamaku?”

“Sebab di chat f******k kamu bilang, bahwa kamu tidak pernah pacaran. Aku percaya itu. Dan itu-lah yang membuat aku yakin bahwa kau lah bidadari yang dikirimkan Tuhan hanya untukku.

“Istriku, ketahuilah aku juga sama sepertimu. Sungguh aku juga tidak pernah mempunyai pacar. Sengaja aku menyimpan diri secara khusus untuk orang yang sesuai bagiku untuk mengabdikan cinta. Dan aku rasa kamu lah orangnya”

“Kamu luar biasa romantis sayang”

Ku pandangi lekat-lekat wajah Reny sambil terus memuji keagungan Tuhan. Hasrat yang terlukis di wajahnya dapat kubaca dengan jelas. Setelah berdo’a diubun-ubun Reny. Kemudian aku mengecupnya.

Kami lalu memainkan melodi cinta paling indah dalam sejarah percintaan manusia, dengan mengharap jihad fi sabilillah, dan mengharap lahirnya generasi pilihan yang bertasbih mengagungkan asma Allah Azza wa Jalla di mana saja kelak mereka berada.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Seakan-akan bidadari itu seperti permata Yajut dan Marjan.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status