Share

Kembali Bertemu

Kembali Bertemu

Aku tiba di rumah, sepertinya ada seseorang. Apa Mas Beni? Pintu kamar terbuka sedikit, di saat aku membukanya ada Mbak Husna dan Sania sedang membuka lemari pakaianku dan beberapa pakaian sudah mereka keluarkan, berserak di atas kasur.

"Sedang apa kalian!" suaraku sukses membuat Mbak Husna dan Sania kaget dan menoleh padaku.

"Kami cuman-" Sania seperti gugup.

Aku merebut gamis yang di pegang Mbak Husna. Dan juga merebut dari Sania. Mereka seperti nya sedang menjajah lemari pakaianku, karena gamisku banyak dan bagus.

"Kita cuma pinjam untuk acara nanti malam!" ujar Mbak Husna kemudian ia menjadi salah tingkah dan menutup mulutnya menggunakan telapak, tangan.

"Memangnya ada acara apa nanti malam?" tanyaku.

Sania menatap tajam kearah Mbak Husna seperti memberi isyarat untuk diam.

"Mau kondangan!" ucap Sania padaku.

"Apa kalian tidak mempunyai gamis yang bagus, sehingga mencuri gamisku seperti ini!" cercaku pada mereka.

"Kita juga gak sudi pakai gamismu ini!" tunjuk Mbak Husna.

Kemudian mereka berdua melenggang pergi dari kamarku, setelah di buat berantakan. Siapa yang memberi kunci rumah, apakah Mas Beni.

Aku melihat kalung berlian di leher Mbak Husna. Dengan cepat aku menariknya, untuk saja tidak putus.

"Sakit!" teriaknya.

"Ini kalung berlianku, kenapa bisa kamu pakai! Mbak kamu ini klepto kah? Suka mencuri barang milik orang lain!" ujarku.

"Apalagi yang kalian curi!" ucapku kembali.

"Tidak ada lagi Najwa kamu Jangan nuduh ya!"

justru kini Mbak Husna mendelik padaku.

"Benarkah? Di rumah ini ada CCTV, aku bisa melaporkan Mbak ke kantor polisi dengan tuduhan pencurian, jadi cepat keluarkan apa yang kamu ambil lagi sebelum aku melaporkanmu!" raut wajah mereka yang sebelumnya seperti menantang kini padam.

"Jangan kamu laporkan aku ke polisi!" ujarnya.

"Keterlaluan Mbak Najwa, mau melaporkan kita ke kantor polisi!" ujar Sania.

"Kalian juga keterlaluan masuk rumah orang tanpa izin, mengambil barang seenaknya, bahkan mencuri kalung berlianku, cepat keluarkan apa yang kalian curi lagi!" bentakku.

"Tidak ada lagi, hanya itu saja yang aku ambil, lagian cuma niat pinjam kok!" ujar Mbak Husna.

"Mau pinjam atau maling?" sahutku.

"Tapi sumpah beneran nggak ada lagi!" timpal Sania.

"Cepat kali bereskan kembali pakaianku pada tempatnya. Aku tidak mau kamarku berantakan seperti ini, atau mau kulaporkan?"

Kemudian Sania dan Mbak Husna bergegas merapikan kembali pakaianku, yang telah mereka acak-acak.

"Dia juga mencuri uang suami sendiri!" ucap Mbak Husna pada Sania yang masih bisa kudengar.

"Apa katamu Mbak, aku mencuri uang suamiku?

"Deni sudah menceritakan semuanya, kamu mengambil uangnya di rekening bukan?" sahut Mbak Husna.

"Terserah aku dong, itu hak akusebagai istrinya. Emangnya kamu tidak berhak apapun udah minta lima juta. Kamu pikir aku nggak tahu, kalau kamu sering morotin uang mas Beni, Makanya mbak suamimu itu suruh kerja jangan suruh jadi pengangguran dan minta uang pada suami orang. Sungguh tidak tahu diri!" ucapku.

"Emangnya kenapa, Beni hanya memberi uang kepada keponakannya, ia juga berhak dong menafkahi keponakannya!" jawab Mbak Husna.

Wanita bermulut lemes ini memang mengesalkan, apalagi penampilan nya itu seperti Tante-tante kaya padahal.

"Yang wajib di nafkahi oleh mas Beni itu aku, istrinya, bukan kamu yang istri kakaknya. Sejak kapan mas Beni mempunyai tanggungan menafkahi istri orang lain, tidak usah mengubah aturan deh!" Aku kemudian duduk di tepian ranjang sambil memperhatikan mereka merapikan kembali pakaianku.

"Yang rapi! Jangan kasar seperti itu Mbak! Kalian jangan pernah macam-macam denganku, jika tidak aku akan melaporkan kalian. Aku sudah mempunyai video CCTV sebagai bukti pencurian!" ujarku kembali. Mereka seperti ketakutan.

Sore harinya mas Beni kembali, dia masuk ke dalam kamar membuka lemari dan mengambil pakaiannya celana hitam dan kemeja berwarna putih. Sepertinya dia akan mengenakan pakaian itu untuk acara nanti malam.

Dia tidak mengajakku bicara. Baiklah tidak apa-apa, setelah mas Beni pergi Mas Seno dan Kak Marwah datang, mereka aku persilahkan untuk masuk ke dalam rumah.

Kami duduk di ruang tamu.

"Najwa, kamu jadi ikut ke acara itu membuntuti, Beni?" tanya Kak Marwah membuka pembicaraan.

"Jadi Kak," sebenarnya aku kan juga ada maksud tertentu yang berhubungan dengan masa laluku, tapi Kak Marwah belum kuberitahu tentang ini.

"Apa Beni perlu memberi Mas beri pelajaran, kurang ajar sekali dia punya istri tapi ingin ta'aruf dengan wanita lain!" ujar Mas Seno dia tampak geram.

Untung saja Mas Seno berpihak padaku. Begitu pun dengan istrinya Kak Marwah.

"Tidak usah Mas, aku bisa mengurusnya sendiri untuk saat ini," jawabku.

"Sabar ya, Najwa," ujar Kak Marwah.

"Aku selalu sabar mbak dan kuat menghadapi semua ini,"

Malam harinya aku memarkirkan mobil tidak jauh dari depan rumah ibu mertuaku, jam 7 malam mobil keluar dari halaman rumah Ibu, aku mengikuti mobil itu untung saja malam, semoga mereka tidak menyadari jika aku buntuti. Mobil yang di gunakan Mas Beni seperti nya pinjam punya Riki temannya.

Setelah 40 menit perjalanan, mobil itu berbelok ke rumah mewah, pagar dibuka mobil melaju masuk ke dalam. Aku memilih berhenti di dekat rumah itu, jadi ini di rumah Delia.

Jika benar itu adalah tante Ratu sangat kaya dia sekarang. Aku kemudian keluar dari dalam mobil, menghampiri security.

"Saya teman Delia, mau masuk kedalam," ujarku.

Security itu memperhatikanku.

"Delia sudah menungguku di dalam, Mamanya Tante Ratu, bukan?"

"Iya benar!" sahut security itu kemudian ia membukakan pagar untukku. Aku masuk ke dalam rumah mewah itu.

Aku menekan bell, seorang wanita membuka pintu seperti nya dia ART di rumah ini. Aku tersenyum dan menerabas masuk sebelum ia mengizinkan.

Aku menuju ruangan di mana mereka berkumpul, untuk membongkar kebohongan mas Beni dan keluarganya.

Tampak dua keluarga saling bertemu dan duduk berhadapan, di sofa yang besar dan begitu nyaman sepertinya Ibu menatap ke arahku yang tiba-tiba saja datang.

Keluarga Delia pun menatapku heran, karena aku adalah orang asing.

"Jadi ini Mas calonmu? Bagaimana bisa kamu melakukan ta'aruf di saat kamu masih berstatus kan suamiku!" ujarku di hadapan mereka semua.

"Najwa! Kenapa kamu bisa sampai sini?" ujar Mas Beni lirih Mas mendekatiku.

"Aku tidak akan pulang sebelum mereka tahu tentangmu!"

"Delia, pria yang akan Ta'aruf denganmu, masih berstatus suami orang. Apakah kamu tidak mengecek dahulu siapa dirinya?" jelasku.

"Aku sudah diceritakan semua oleh Mas Beni, dia sedang mengurus perceraian denganmu. Dan aku terima semuanya, jadi kamu jangan menghalangi acara kami!" jawab Delia padaku.

Jawaban yang membuatku tercengang.

Mereka sama sekali tidak mempermasalahkan, justru percaya ada mas Beni. Ibu tampak tersenyum menyeringai melihatku seperti meledek. Mbak Husna menutup mulutnya seakan menahan tawa. Mereka seakan menang untuk saat ini.

"Silakan kamu pergi dari rumah kami, kehadiran kamu sangat mengganggu!" ucap Tante Ratu dan berdiri sambil menunjuk arah pintu keluar.

Pasti dia tidak ingat siapa aku. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh sisi rumah ini, semua ini adalah harta orang tuaku yang telah mereka rampas. Lihat saja kau Delia, Tante Ratu, dan om Firman aku akan balas kalian, kemudian pergi dari rumah itu.

Mungkin kini, keluarga mas Beni bersorak gembira karena aku diusir seperti yang mereka inginkan.

Saat keluar. Aku mau lihat seorang wanita tua baru saja keluar dari dalam mobil, seorang sopur membukakan pintu mobil untuknya.

Itu nenekku, dia masih hidup. Aku berjalan menghampirinya.

"Nenek," panggilku.

Ia menatapku heran.

"Aku Najwa," ucapku kembali.

"Najwa?" sahutnya dan memperhatikan diri ini. Wajar jika nenek tak mengenaliku, karena sudah hampir 12 tahun kami tidak bertemu.

"Aku Najwa anak Mama Nilam dan Papa Daniel," setelah aku menyebutkan nama orangtuaku, raut wajahnya berubah kemudian memeluk diriku.

"Kamu Beneran Najwa? Anak Nilam," kemudian nenek terisak.

"Ya benar Nek," aku menjadi ikut sedih karena sudah lama kami tidak bertemu.

"Ternyata kamu masih hidup? Kenapa Ratu bilang kamu sudah meninggal karena kecelakaan dan jasadmu tak di temukan. Tapi Nenek selalu yakin mereka berbohong dan benar," tutur Nenek.

"Ya, mereka itu berbohong, Tante Ratu dan Om Firman membuangku ke panti asuhan," jelasku.

"Selama ini nenek berusaha mencarimu. Tapi tidak pernah mendapatkan informasi apapun, karena Ratu seperti membatasi semua yang Nenek lakukan," ucap Nenek, sudah jelas Tante Ratu menutupi semuanya.

"Mereka melakukan semua demi harta warisan Mama dan Papa," tuturku.

"Kamu masih bisa menemui notaris orangtuamu, karena semua harta ini masih milikmu. Belum menjadi milik mereka, karena Nenek yakin kamu masih hidup." ujarnya.

Comments (3)
goodnovel comment avatar
Isabella
asyik akhirnya ketemu nenek
goodnovel comment avatar
Ida Nurjanah
Mantap Nazwa ,Meriang tuh si Beni
goodnovel comment avatar
Ati Husni
seru.......
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status