Share

4 - Pengakuan Rahasia

Suasana pagi di pantai Seminyak terlihat ramai seperti biasanya. Ayesha, Thalia, dan Hazmi baru saja tiba di lokasi pantai. Ayesha dan Thalia menumpang taxi, sedangkan Hazmi sengaja mengikuti jejak mereka berdua dengan sepeda motornya. Hingga tiba di lokasi pantai, Hazmi memarkirkan sepedanya sebentar. Kemudian ia mempercepat langkahnya mendekati Ayesha dan Thalia.

Dua gadis itu sedang berjalan melewati pintu masuk menuju pantai tanpa menghiraukan keberadaan Hazmi yang mengikuti dari belakang.

"Ay!" Begitu ketika Hazmi kembali memanggil gadis berkerudung itu. Sementara objek yang dipanggilnya mulai menghentikan langkah tepat di tepi pantai.

Melihat keberadaan Ayesha dan Thalia, Hazmi masih berlari menghampiri dua gadis itu. Hingga ia terhenti di depan Ayesha.

"Apa, sih? Nggak ada kerjaan ya, ngikutin aku mulu?" kata Ayesha yang sengaja melempar senyuman sinis.

Sebenarnya ia tak berselera melihat keberadaan laki-laki itu. Namun karena Thalia yang meminta agar Ayesha memperbolehkan Hazmi ikut serta, akhirnya Ayesha terpaksa menuruti tanpa bertanya apa maksud Thalia.

"Tugasku ya memang ngikutin kamu. Memangnya salah?"

"Haz, aku bukan anak kecil yang wajib kamu ikuti. Kalau memang hak suami istri harus begitu, ya ... gimana aku terima kenyataan, bahwa aku udah nikah sama kamu."

Hazmi tercenung sejenak, tak percaya rasanya setelah mendengar perkataan Ayesha. Apa ini pertanda Ayesha percaya padaku?

"Kamu percaya kan, kalau aku suamimu?"

"Nggak akan, dan nggak akan pernah. Udah deh, nggak usah ngikutin aku. Kamu memang nggak ada kerjaan, selain harus banget ngikutin aku?"

"Ada, Ay. Nggak mungkin aku nggak kerja, gimana aku jadi suami yang bertanggung jawab, kalau aku nganggur. Iya, kan?"

"Nah, mending kamu kerja aja. Jangan ikuti aku jalan-jalan. Pekerjaanmu jauh lebih penting daripada harus ikut aku ke sini."

"Justru pekerjaan mengikuti kamu jalan-jalan, adalah suatu hal yang jauh lebih penting dan penting banget daripada aku nggak ada di sini dan aku lebih memilih mengurus pekerjaanku."

"Kalau begitu, kamu bukan suami yang bertanggung jawab."

"Oh, nggak dong, aku masih bertanggung jawab. Karena sudah mau meluangkan waktu, untuk menjaga istriku yang bawel ini."

"Apaan sih! Lama-lama omonganmu rada ngawur. Ya udah, terserah kamu aja!" Ayesha benar-benar kesal mendengar Hazmi yang terus saja memberikan alasan. Laki-laki itu sangat tangguh mempertahankan usahanya. Ayesha saja kewalahan harus bagaimana lagi agar Hazmi tak lagi mengejarnya.

Sayangnya ketika langkah Ayesha bergegas menjauhi Hazmi dan Thalia yang masih bertahan berdiri, rupanya Hazmi makin teguh mengejar Ayesha.

"Ay! Mau kemana? Jangan kejauhan main-mainnya. Di sini aja, Ay ... bahaya, turis-turis di sini nggak seperti yang kamu kira," gumam Hazmi yang masih berjalan di belakang Ayesha. Berusaha menyamai langkah ketika Ayesha semakin jauh darinya.

Astaga! Kenapa satu makhluk ini tak mau jauh-jauh juga?

"Ayesha ...."

Semakin nama Ayesha disebut, gadis itu semakin mempercepat langkahnya menjauhi Hazmi. Ayesha sama sekali tak berniat menghentikan dirinya dan menggubris Hazmi. Sayangnya setelah Ayesha semakin berjalan jauh, Hazmi akhirnya tak lagi mengejar. Laki-laki itu hanya menatap Ayesha dari kejauhan.

Rasanya sangat sulit bagi Hazmi menaklukkan hati Ayesha. Gadis semacam Ayesha saja sangat egois mempertahankan kemauannya.Hazmi merasa bingung. Ia harus mencari cara lain agar Ayesha tak membencinya dan mau mempercayainya.

Kamu boleh lari sekarang, Ay. Tapi akan kupastikan, kamu tak akan lari kemana-mana lagi setelah kau mau percaya padaku. Lalu, aku harus melakukan cara apa lagi? Pikir Hazmi.

"Kak Hazmi," suara panggilan itu spontan membuat Hazmi menoleh.

Setelah menengok ke pemilik suara, Hazmi menghela lega karena melihat keberadaan Thalia. Gadis yang mirip Ayesha itu, adalah Adik kandung Ayesha. Jelas saja Hazmi merasa mengenalnya. Sayangnya, Hazmi lumayan lupa dengan Thalia. Karena sewaktu dulu saja, Thalia masih kecil dan belum sedewasa ini.

Hazmi tak berniat menjawab. Ia hanya menunggu perkataan Thalia selanjutnya. "Kak, boleh aku tanya sesuatu?" ujar Thalia yang membuka suara kembali.

"Boleh, apa?"

"Kalau memang Kak Hazmi suaminya Kak Ayesha, kenapa aku dan Kak Ayesha nggak tahu apa-apa tentang Kak Hazmi? Maaf, setahuku pernikahan itu harus saling mengetahui. Antar dua keluarga pun harus saling mengenal setelahnya. Tapi, kalau Kak Hazmi ..."

"Kamu ... Lia, bukan?"

"Thalia, Kak. Panggil Lia juga boleh, kok."

Kak Hazmi saja lumayan tahu namaku, dia bukan hanya tahu tentang Kak Ayesha. Jangan-jangan pengakuan Kak Hazmi benar, kalau dia udah nikahain Kak Ayesha. Tapi, aku nggak boleh gampang percaya. Bagaimanapun, aku harus cari tahu tentang Kak Hazmi, Ayesha membatin. Ia masih memerhatikan Hazmi yang bersiap mengungkap jawaban.

"Ok, panjang ceritanya, Thal. Aku dan Ayesha itu nikah gantung, waktu aku umur empat belas tahun, dan Ayesha umur dua belas tahun. Dan awal pernikahan kami, aku sengaja meminta pada Ayahku, jangan sampai Ayesha tahu tentang pernikahan ini. Karena kalau sampai Ayesha tahu, aku percaya bahwa Ayesha akan menolak."

"Terus, kalau gitu Kakak pemaksaan, dong? Pernikahan itu, dua pengantin harus saling bersedia, Kak. Nggak boleh atas kemauan sepihak."

"Nggak begitu maksudnya, Thalia. Ok, aku ceritakan, ya. Tapi aku mohon, kalau aku udah cerita, tolong bantu aku, buat agar Ayesha percaya bahwa aku memang suami sahnya."

Menatap Hazmi jadi tak tega bagi Thalia. Ia rasa Hazmi sangat sungguh-sungguh berkata jujur. Tanpa ragu Thalia mengangguk menerima permintaan Hazmi.

"Haz, Ayah mau ngomong sama kamu, penting."

Hazmi menatap heran saat Yusuf menemuinya di ruang keluarga. Saat ini suasana rumah terlihat sepi. Ibu Hazmi sedang tidak di rumah, sedangkan Rafli Kakaknya lagi kerja kelompok. Jadi di sore itu hanya tinggal Hazmi bersama Yusuf berdua.

"Apa, Ayah?"

"Ayah sudah ketemu beberapa kali dengan Pak Erlan, beliau adalah sahabat karib Ayah sejak kecil. Dan Ayah lihat, waktu kamu ketemu dengan teman Ayah itu yang membawa putrinya, kamu malah gugup. Ayah sering perhatiin tingkahmu, loh. Diam-diam juga kamu terus menatap Ayesha, apa kamu sedang kagum dengan putri Pak Erlan itu?"

"Loh, Ayah, kok, tahu Ayesha?"

Jelas saja Hazmi gugup. Tingkahnya selama ini harus ketahuan dengan Ayahnya sendiri. Padahal Hazmi berusaha bersikap biasa saja, ketika tak sengaja bertemu Ayesha bersama Pak Erlan. Hazmi juga mengakui bahwa ia menyukai Ayesha sejak gadis itu berada di sekolahnya. Namun mengapa Yusuf menyadari akan perasaan putranya? Lagi-lagi mendengar interogasi Ayahnya, Hazmi jadi deg-degkan sendiri.

"Ayah nggak mungkin nggak tahu tentang perasaan putra Ayah sendiri. Haz, Ayah nggak mau kamu salah jalan, Nak. Apalagi di umurmu yang masih belia, kamu malah naksir cewek."

"Memangnya, salah ya, Yah?"

"Nggak, nggak salah, kok. Ayah pun pernah bertingkah sepertimu sewaktu Ayah masih muda."

"Terus?"

"Cuma Ayah nggak mau, kamu memilih dengan cara pacaran setelah kamu naksir Ayesha. Meskipun Ayah belum tahu niatmu nanti. Anak muda zaman sekarang, siapa yang nggak kenal sama pacaran. Sayangnya gaya pacaran mereka banyak yang melenceng. Bahkan setahu Ayah, pacaran itu tidak diperbolehkan dalam agama kita."

"Iya, Hazmi paham, Yah. Hazmi janji, nggak akan pacaran meskipun Hazmi suka sama Ayesha."

"Nggak mungkin, Haz. Yang namanya zina itu, bukan hanya dari sisi pergaulan pacaran saja, namun dari sisi hati. Kalau kamu bertahan untuk tidak pacaran, apa kamu menjamin untuk bertahan tidak menyimpan rasa terlalu dalam pada Ayesha?"

Hazmi terdiam. Rasanya sangat sulit mengiyakan pertanyaan Ayah. Jaminan yang Yusuf sebutkan membuat hati Hazmi tertekan. Apakah ia menjamin untuk tidak terlalu meletakkan perasaannya pada Ayesha? Yang jelas, mengikhlaskan Ayesha saja ia merasa ragu.

"Nah, kamu saja bingung mau jawab apa. Ayah nggak mau, kamu salah menentukan arah. Ayah mau, kamu belajar dewasa, menentukan hal kebaikan yang pantas kamu pilih. Ayah sebagai orangtua, justru sangat menyayangimu, Haz. Kemarin Ayah sempat ngomong tentang ini dengan Erlan. Kami mengobrol, membicarakan tentang lamaran dan pernikahanmu bersama Ayesha."

Hazmi melongo mendengar pernyataan Yusuf. Ini tidak salah? Ayah menyatakan lamarannya untuk Ayesha. Masa iya aku menikahi Ayesha sekarang? Pikir Hazmi. Ia masih tak percaya dengan perkataan Ayahnya.

"Haz, Ayah sudah melamar Ayesha untukmu. InsyaAllah, pernikahan kalian akan terlaksana dalam sekitar tiga atau empat bulan lagi."

"Tapi, Yah, umur Hazmi ..."

"Iya, Ayah paham, Ayah cuma nggak mau, kamu terjebak ke masalah hati yang lebih besar. Zina itu bukan hanya tentang pacaran aja, tapi termasuk hati. Ayah juga nggak akan menjamin, kalau kamu mampu mengontrol hatimu pada Ayesha. Makanya Ayah pilih dengan cara ini, alhamdulillah, Pak Erlan setuju. Tapi sayangnya, beliau masih belum bilang sama Ayesha."

"Tapi, lamaran Hazmi diterima?"

"Iya, nanti kalian akan menikah sah secara agama. Ini namanya pernikahan gantung, jadi pernikahan kalian belum terdaftar di KUA. Ayah masih punya tanggung jawab besar untukmu, dan kamu masih belum punya tanggung jawab penuh untuk Ayesha, sampai nanti setelah kamu cukup umur, kamu baru bisa mendaftarkan pernikahanmu di KUA.

"Dan Ayesha masih tanggung jawab Pak Erlan, kamu jangan khawatir. Meskipun begitu, kalian sudah menjadi suami istri. Dengan begitu juga, kamu bebas meletakkan perasaan lebih untuk Ayesha. Dan kamu nggak perlu takut untuk jatuh ke dalam hal yang dilarang Agama Islam, karena perkara hatimu sudah terjaga baik untuk Ayesha."

"Ayah, Hazmi bisa terima tentang keputusan Ayah. Tapi, Hazmi mohon, Ayesha jangan sampai tahu tentang pernikahan ini. Hazmi janji akan menjaga rahasia, sampai nanti Hazmi akan bilang jujur padanya, bahwa Hazmi dan Ayesha sudah menikah. Nggak apa-apa, kan, Yah?"

"Bisa, Ayah bisa terima permintaanmu. Karena ini masih nikah gantung, maka kamu boleh menentukan hal itu. Tapi ingat, Ayah mau, kamu mengurus tentang rahasia ini yang kamu buat sendiri, dan bagaimana caranya kamu membuat Ayesha percaya padamu nanti, itu menjadi urusanmu, Hazmi."

"InsyaAllah, Yah."

Bersambung 🌞


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status