Share

Bab 4 Mencarinya

“Apa?” Tubuh Lucia lemas diikuti tatapan kosong dan wajah memucat.

“Asistennya datang menemui ayahmu dan menyampaikan pesan kalau Dean tidak akan menikahimu,” kata Nyonya Helia. “Tidak hanya itu, dia juga batal memberikan dana ke perusahaan kita."

Pandangan Lucia seperti berputar, perlahan buram, detik kemudian tubuhnya ambruk ke lantai.

“Lucia ...!” Ibu Lucia beserta semua orang yang ada di dalam kamar tersebut berlari ke arah Lucia dengan panik.

*******

Lucia terus menghubungi nomor telpon Dean. Namun, tidak pernah diangkat olehnya, begitu pun ponsel asisten pribadinya. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengangkat telponnya, padahal Lucia sudah menelponnya berkali-kali.

Sudah 2 hari ini Lucia mengurung diri kamar. Dia tidak berani keluar karena semenjak berita pernikahannya batal dan vidionya tersebar di internet, semua wartawan berkemah di depan rumahnya.

Ketika Lucia masih mencoba untuk menelpon ponsel Dean, pintu kamarnya diketuk dari luar dan selanjutnya pintu terbuka. Ibunya datang dengan membawa nampan yang berisi makanan.

Sudah dua hari ini Lucia tidak makan, dia hanya minum air putih dan jus, itu pun dipaksa oleh ibunya dengan berlinang air mata. Hanya dalam dua hari bobot tubuhnya langsung turun 3 kilo, stres menjadi faktor utama yang menyebabkan bobot tubuhnya berkurang dengan cepat.

“Lucia,” panggil Nyonya Helia seraya mendekati anaknya yang sedang duduk di depan jendela kamar sambil memegang ponselnya. “Ibu bawakan makanan untukmu.” Ibu Lucia meletakkan nampan di atas meja lalu berdiri di samping putrinya yang terlihat sangat menyedihkan.

Bagaimana tidak, setelah pernikahannya gagal, Lucia terus mengurung diri di kamar, tidak mau makan, tidak mandi, tidak tidur, yang dia kerjakan hanya melamun dan memandang ke arah luar jendela dengan tatapan kosong. Tidak ada air mata sedikit pun yang keluar dari mata anaknya dan itu justru membuat Nyonya Helia semakin khawatir.

“Aku tidak lapar, Bu.” Suara lirih Lucia yang terdengar serak membuat ibunya semakin sedih.

“Kau bisa sakit nanti, Sayang. Jangan menyiksa dirimu sendiri.”

Sebisa mungkin Nyonya Helia menahan buliran bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya agar tidak jatuh saat melihat putrinya begitu terpukul dengan kejadian yang sudah menimpanya. Dia sangat sedih melihat masa depan putrinya hancur oleh pria yang sangat dia cintai.

Ingin sekali dia membalas rasa sakit putrinya pada keluarga Anderson. Namun, dia tidak bisa melakukan itu, keluarga Anderson terlalu berkuasa. Keluarganya tidak akan bisa melawan karena dia tahu keluargannya akan kalah jadi dia hanya bisa menerimanya.

“Bu, apa Ibu tahu di mana Dean sekarang?” tanya Lucia sambil memutar tubuhnya ke hadapan ibunya. Wajahnya terlihat sangat tirus, matanya cekung, bibir terlihat pucat, dan area di bawah kelopak matanya menggelap. “Aku ingin menemuinya, Bu. Aku ingin meminta penjelasan padanya, kenapa dia membatalkan pernikahan kami.”

Air mata yang sejak tadi ibunya tahan, kini lolos begitu saja tanpa bisa dicegah. Ibunya langsung memeluk putrinya yang terlihat sangat rapuh saat ini.

“Lupakan dia, Lucia. Dean sudah tidak menginginkanmu.” Ibunya menangis terisak sambil mendekap anaknya, sementara Lucia hanya diam dengan tatapan kosong.

“Aku tidak bisa melupakannya, Bu. Aku sangat mencintai, Dean.” Bagaimana bisa dia melupakan Dean, apalagi setelah yang terjadi pada mereka malam itu.

******

Pukul 8 malam, Lucia keluar dari kamarnya, suasana di rumahnya nampak sepi, dia berjalan ke pintu lalu masuk ke dalam mobilnya. Malam ini, dia berencana pergi ke kediaman Anderson untuk menemui Dean.

Pada siang hari, dia tidak bisa pergi ke mana-mana karena saat ini keluarganya sedang menjadi pusat perhatian semua orang, juga banyak wartawan yang yang menanti di depan rumahnya.

Beruntung malam ini, tidak ada satu pun wartawan di depan rumahnya setelah ibunya meminta bantuan polisi untuk mengusir semua wartawan itu jadi dia bisa keluar dengan leluasa.

Tiba di depan kediaman Anderson, mobil Lucia dihentikan oleh petugas yang berjaga di depan gerbang. “Maaf, Nona. Anda dilarang masuk ke dalam.”

“Aku hanya ingin bertemu dengan Dean sebentar.”

Ini pertama kalinya Lucia dihentikan oleh petugas yang berjaga di depan gerbang kediaman Anderson. Biasanya, jika sudah melihatnya, siapa pun pasti akan membiarkannya masuk ke dalam tanpa banyak bertanya.

“Tuan muda sedang tidak ada, Nona. Lebih baik Nona pulang.”

“Dean ke mana?”

“Tuan muda belum pulang.”

“Kalau begitu, aku akan menunggunya di sini.”

Lucia tidak bisa kembali ke rumahnya tanpa bertemu dengan Dean. Malam ini, dia berniat meminta penjelasan padanya, kenapa pria itu tiba-tiba membatalkan pernikahan mereka berdua. Sebelumnya mereka berdua tidak memiliki masalah besar yang membuat pernikahan mereka menjadi batal jadi Lucia ingin memperjelas semuanya.

Lucia sudah menunggu selama 3 jam lamanya. Namun, mobil Dean belum juga terlihat. Dia semakin khawatir, akhirnya dia turun dari mobil lalu menghampiri pria yang berjaga di dekat gerbang dan menanyakan kembali pada pria tersebut, apakah Dean akan kembali malam ini.

"Tidak tahu, Nona. Tuan muda sudah dua hari tidak pulang ke sini."

Wajah Lucia seketika menjadi lesu. Sepertinya Dean tahu kalau dirinya akan mencarinya ke kediaman keluarga Anderson, jadi dia sengaja tidak pulang agar tidak bertemu dengannya.

"Nona Lucia, lebih baik Nona pulang. Kau bisa sakit jika terus berada di sini," ucap pria itu dengan wajah mengiba. Pria itu hanya takut terjadi apa-apa dengannya karena melihat wajah pucat Lucia, apalagi cuaca saat ini sangat dingin.

Malam ini, baru saja turun salju, Lucia hanya mengenakan pakaian tipis dan itu membuat sekujur tubuhnya menjadi gemetar dan wajahnya terlihat sangat memerah. Meskipun sejak tadi Lucia menunggu di dalam mobil. Namun, tetap saja dia tidak mengenakan pakaian tebal, jadi dia akan lebih mudah jatuh sakit.

"Aku akan menunggu sebentar lagi."

Lucia kembali ke mobilnya, mengambil coat serta syal lalu berdiri di dekat gerbang untuk menunggu kedatangan Dean.

Satu jam berlalu dan tubuh Lucia sudah kaku. Wajahnya semakin pucat seputih salju, seolah tidak ada aliran darah yang mengalir di tubuhnya. Kaki mulai terasa kebas, bibir sudah mulai membeku, lima menit kemudian pandangannya menjadi buram dan selanjutnya berubah menjadi gelap dan tubuhnya pun secara tiba-tiba ambruk.

*******

Ketika matanya terbuka, tatapan Lucia langsung tertuju pada langit-langit berwarna putih. Aroma khas desinfektan menyeruak masuk menusuk indra penciumannya. Di samping kanannya, terdapat tiang infus dan punggung tangannya terhubung dengan selang infus.

Lucia segera mengalihkan pandangannya ke arah pintu saat mendengar suara pintu yang dibuka. Dia melihat ibunya membawa bungkus makanan di tangannya.

"Bu."

"Kau sudah bangun?" Nyonya Helia bergegas menghampiri putrinya lalu duduk di kursi yang berada di samping kanan ranjang Lucia. "Apa ada yang sakit?" tanya Nyonya Helia sambil mengelus rambut putrinya dengan lembut. "Apa kau merasa pusing?"

Lucia menggelengkan kepalanya dengan lemah kemudian menatap ke arah pintu yang tertutup. "Di mana ayah?" tanya Lucia dengan suara lemah.

"Ayahmu masih di kantor. Semenjak vidiomu dan juga berita tentang batalnya pernikahanmu tersebar, perusahaan ayahmu mengalami banyak masalah."

Tidak hanya harga saham perusahaan yang turun drastis. Namun, banyak kontrak kerjasama yang dibatalkan secara sepihak, bahkan perusahaan ayahnya harus mengganti rugi dengan jumlah yang sangat besar pada perusahaan yang merasa dirugikan akibat skandal yang menimpa putrinya. Terlebih lagi, sekarang tidak ada investor yang mau mengucurkan dana lagi perusahaan Hengli Corp.

"Maafkan aku, Bu." Mata Lucia berkaca-kaca, ekspresi wajahnya terlihat sangat bersalah. Karena kesalahannya, ayahnya juga harus ikut menanggung akibatnya.

"Sudahlah, menyesal juga sudah tidak ada gunannya." Nyonya Helia berkata dengan lembut lalu meraih makanan yang ada di atas nakas yang dibawa oleh petugas rumah sakit sebelum Lucia sadar. "Makanlah, kau belum makan apapun sejak dua hari yang lalu."

Setelah pingsan semalam, Lucia baru saja bangun pagi hari. Mungkin karena tidak tidur selama dua hari jadi dia tidak terbangun hingga pagi hari.

"Aku tidak lapar, Bu." Lucia mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Sekelabat bayangan yang familiar melintas dengan cepat yang terlihat melalui kaca bening yang berada di pintu.

"Ada apa Lucia?" Ibunya mengikuti arah pandangan anaknya yang sejak tadi tidak beralih sama sekali.

"Bu, sepertinya aku melihat ...."

"Ada apa?" tanya Nyonya Helia ketika putrinya tidak kunjung melanjutkan ucapannya.

"Sepertinya ada Dean di depan. Aku melihat bayangannya tadi."

Nyonya Helia segera menoleh ke arah pintu, mengikuti arah pandang putrinya, tapi tidak melihat siapa pun di sana.

"Aku ingin menemuinya."

Saat Lucia akan turun dari ranjang, Nyonya Helia segera mencegah putrinya. "Biar ibu yang melihat. Kau di sini saja."

Nyonya Helia segera berjalan menuju pintu dengan terburu-buru dan ternyata tidak menemukan keberadaan Dean di sepanjang lorong ruangan rawap inap yang ada di lantai itu. Dia memutar kepalanya ke kanan dan tidak juga menemukan apa yang dia cari.

Karena masih merasa penasaran, Nyonya Helia berjalan menelusuri koridor bangsal hingga tiba dekat lift, di mana meja perawat berada. Setelah memastikan tidak ada Dean di lantai tersebut, Nyonya Helia kembali ke kamar putrinya.

"Bagaimana, Bu?" tanya Lucia penuh harap.

Nyonya Helia menatap iba pada anaknya lalu berkata dengan wajah lembut, "Lucia, Dean tidak mungkin datang ke sini, dia sudah tidak menginginkanmu lagi."

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Meria helenaria Sihombing
pria brengsek Dean it.hbs manis sepah di buang.
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status