Share

03. Another Day

Dari sudut matanya, Evender menjadi gugup dan kaku ketika melihat Avery Aiden dan kelas mereka secara bergantian. Ini bahkan menjadi lebih menarik karena Evander berlalu begitu saja. Oh.. apa ini? Apa Yui segitu tidak pedulinya dengan sekitar hingga ia tidak tahu apa yang terjadi dan siapa Avery Aiden?

Zhu Yui sejak awal selalu memandang upper class sebelah mata. Baginya hampir semua orang kelas atas itu mempunyai sifat yang sama. Arogan, angkuh dan sombong, belum lagi mereka suka sekali memandang kelas bawah seperti mereka hanya seonggok sampah di jalanan. Ia akan pergi jika salah satu dari temannya membicarakan siapapun dari kelas A, B, C atau D yang berujung ketidak tahuannya tentang mereka. Kecuali Blue Evander yang sejak awal memang suka sekali mencari masalah dengan siapapun. Kabarnya karena orang tuanya begitu kolot hingga menurun ke anaknya dan lihatnya sekarang.

Namun melihat bagaimana Evander yang lagsung pergi ketika pemuda yang masih berdiri dengan tangan di saku celana, sudah di pastikan dia berada di bagian lebih tinggi dari Blue Evander. Hmm… mungkin murid kelas A.

Pemuda itu kemudian pergi begitu saja dengan teman-temannya, tanpa mengatakan apapun. “Ah.. si bocah Blue itu masih saja membuat keributan di sana-sini.” ucapan salah satu dari para siswa itu terdengar samar saat mereka berjalan menjauh.

Mereka melanjutkan latihan hingga sore tanpa gangguan dari siapapun. Mereka semua berlatih dengan serius termasuk dirinya hingga mereka melupakan kejadian dengan Evander. Bahkan Mika tidak membahas tentangnya. Tidak seperti sekolah lain yang memulai tahun ajar mereka dua minggu lagi, para siswa WISH sudah sibuk berlatih untuk pekan olah raga sebelum pembelajaran benar-benar di mulai dua minggu lagi, meskipun begitu, masih ada saja guru-guru yang memanfaatkan kesempatan ini untuk memberi tugas para siswa. Untung saja wali kelasnya, seorang wanita 30-an bernama Olivia tidak menyiksa mereka dengan memberi tugas di awal seperti beberapa kelas lain. Tidak heran guru Olivia mendapat panggilan malaikat Oliv dari semua siswa.

Mereka kembali ke asrama bersama-sama, di perjalanan, mereka bertemu Tsuyo yang juga berlatih bersama kelasnya. “Heh… bukankah kemarin kau bilang teman sekelasmu tidak peduli?” goda Zhu Yui.

“Mungkin kami tidak menargetkan kemenangan, namun sebagai ketua kelas aku masih harus membuktikan kepemimpinanku.” jawabnya. Tsuyo melihat pada Mika, “tetapi aku mungkin tidak bisa sekejam Mika.” kening Xian Mika berkerut dan kacamatanya tertutup di balik bayang-bayang. “Oh.. bersiaplah, kali ini kelas X akan menghancurkan kelas Z.”

“Hahaha, dewi Xian benar-benar luar biasa.” mereka berhenti di kantin untuk membeli makanan dan membawanya ke kamar. Selesai makan, Mika sudah menghilang entah kemana, kemungkinan dia pergi keperpustakaan sekolah. Malam-malam seperti ini dia lebih suka membuka buku di perpustakaan hingga penjaga perpustakaan menyuruhnya untuk pergi, dasar kutu buku. Tidak lama kemudian Vallery juga pergi setelah menghabiskan makan malamnya, “kapten memanggilku.” jawabanya ogah-ogahan 

“Ah, jadi karena itu senior Mimi datang ke kelas tadi siang.” Vallery sendiri tidak senang. Wajahnya berkerut. Sebenarnya dibandingkan dengan Xian Mika, Vallery lebih kalem dan susah di tebak, belum lagi tubuhnya yang tinggi dan wajah datarnya sering membuatnya di salah artikan, tetapi setelah mengenal Vallery lebih jauh, orang-orang akan tau jika dia adalah orang yang peka dan peduli dengan sekitar. “Hei, aku tahu kau tidak bersalah, tetapi kau sangat menikmati bermain voli, bukan? Senior Mimi juga mengetahui hal itu, dan memintamu untuk kembali.”

“Ya, ya, ya. Aku tahu.” perkataan Vallery terdengar menggantung, namun ia tidak melanjutkan. Setelah mengucapkan selamat malam dan menutup pintu, kini Yui benar-benar berada seorang diri di kamarnya.

Waktu masih pukul 8 malam, matanya belum lelah dan ia juga telah menyelesaikan semua yang harus ia lakukan. Ia sudah mandi, ia sudah makan, ia juga sudah bersih-bersih. Mika dan Vallery masih belum kembali, ia sangat bosan.

Bicara tentang Vallery, ia jadi ingat masalah yang di timbulkan roommate yang merangkap classmate-nya itu. Baru saja mereka memulai tahun ajaran baru, ia dikejutkan dengan Vallery yang merupakan anggota klub voli wanita membuat keributan, ia bertengkar dengan kakak kelasnya dan berakhir dengan cek cok di antara anggota tim yang lain. Beruntung pelatih mereka tidak ingin membesarkan masalah karena kedua tersangka adalah anggota tim inti yang cukup penting bagi tim. Ia hanya menghukum mereka berdua dan membuat surat permintaan maaf.

Saat ditanya, masalah bermula ketika sang senior mengeluarkan kata-kata yang tidak mengenakan pada salah satu anggota mereka. “Meskipun dia bukan anggota tim inti, namun dia berlatih dengan giat setiap hari, apalagi wanita itu membawa-bawa latar belakang keluarga. “Walau dia berada di kelas 3-A, selama bermain di lapangan yang sama, kita akan bermain sebagai tim, aku tidak dapat memaafkan kata-katanya.” setelah itu, entah Vallery sedang merajuk atau dia hanya masih kesal, dia mulai malas-malasan pergi ke klub. 

Dasar.

Masalah status golongan keluarga bagi beberapa orang adalah hal yang sangat sensitif. Tidak sedikit dari mereka yang sudah merasakan bagaimana perlakuan orang -orang kepada mereka walaupun mereka masih 17 tahun. Vallery tidak banyak bercerita tetapi pasti ada sesuatu yang membuatnya lebih sensitif dengan masalah ini dari pada yang lain.

Vallery masuk WISH setelah menerima beasiswa volly, dia berencana bermain sebaik mungkin agar dia bisa langsung menjadi pemain profesional setelah lulus SMA, ‘itu semua demi keluarga’ adalah jawaban yang selalu Vallery katakan. Tetapi jika dia mulai membuat masalah dan tidak lagi ke klub, bagaimana dengan cita-citanya?

Berguling-guling di kasur, serta tidak lagi tertarik dengan ponsel yang 24 jam selalu menemani hari-harinya, Zhu Yui mengangkat tubuh dan membawa kakinya ke luar asrama, menuju kamar nomor 20 di lantai dua. Tanpa mengetuk dia masuk begitu saja. Dua orang pemilik kamar tidak lagi terkejut melihatnya.

Seorang siswa dari kelas Y bernama Yinyin dan satu orang lagi dari kelas Z, Zana sedang asik di depan komputer, tisu di samping mereka, dan layar komputer menampilkan wajah pria tampan, ah.. mereka sedang menonton “Yui,” sapa Zana tanpa beralih dari layar komputer.

“Hei, kalian menonton tanpa ku!” Zhu Yui mengambil tempat di belakang mereka berdua.

“Kau bilang tidak suka jika ceritanya sedih, jadi aku tidak mengajakmu.”

“Ah, geser-geser, aku ingin ikut menonton! Di kamar sedang tidak ada orang, aku bosan, meskipun aku harus menangis aku akan ikut menonton!”

Lalu, akhirnya Zhu Yui menghabiskan satu episode bersama dua orang yang kini sudah berlinang air mata. 

“Ya, ya. Pergi sana, kembali ke kamarmu” Zhu Yui terkikik.

Yui keluar dari kamar nomor 20, kembali ke kamar, Xian Mika sudah kembali ke kamar mereka. Ia mendekat, duduk di sebelah Mika yang sedang serius di meja belajar, dia belajar lagi.

“Mika, aku ingin bertanya tentang aktivitas klub untuk pekan olah raga .” waktu berlalu sangat cepat bukan? Dan acaranya akan diselenggarakan tiga hari lagi.

“Ah benar. aku sudah bicara dengan Senior Moon, dia bilang kita harus tetap menjalankan misi selama acara pekan olah raga.”

“Eh, tetapi aku berniat untuk menikmati festivalnya!” keluh Yui.

“Ya.. senior bilang itu karena kita berdua sudah terlalu sering tidak datang ke klub.”

“Ah, mereka sedang memberi hukuman.” sebenarnya Yui ingin menikmati festival dengan nyaman dan bersenang-senang. Klub jurnalis mereka cukup aktif dan terkenal di sekolah, meskipun begitu mereka tidak memiliki begitu banyak anggota, hanya ada kurang lebih 13 orang dan WISH itu adalah sekolah elit besar yang setiap sudutnya bisa dijadikan berita setiap hari. Mereka harus mengupdate website dan media sosial sekolah secara berkala yang seharusnya adalah tugas dari anggota komite sekolah.

Di acara-acara tertentu mereka juga akan menerbitkan photo-book hasil jepretan klub photographi dan menghasilkan uang. Berita yang mereka tulis setiap hari bukan hanya di tunggu-tunggu oleh warga WISH, tetapi juga orang luar. Banyak murid sekolah atau bahkan orang lain yang mengakses halaman sekolah mereka. Selain banyaknya atlet terkenal di SMP, juga banyak anak-anak pejabat terkenal yang bersekolah di sana, mereka menunggu setiap berita yang mereka tulis.

Selama ini Zhu Yui menikmati perannya sebagai anggota klub jurnalis, namun membuat berita tentang seseorang yang mengalahkannya tidak akan menyenangkan.

“Besok kita akan membicarakannya dengan semua anggota klub.” dengan malas Yui menyetujui. Bukan berarti ia tidak menyukai klub atau yang lainnya. Ia masuk klub jurnalis karena dia menyukainya, namun Senior Moon adalah wanita yang menakutkan, dia akan menyiksa mereka karena seminggu ini tidak ke klub, meskipun sesekali Yui masih menyempatkan diri mengupdate berita di website sekolah jika ia menemukan kejadian yang bisa ia jadikan berita. Walau hanya berita konyol sekalipun, ia akan tetap mendapatkan respon yang baik dari pembaca.

Xian Mika tidak berbicara lagi padanya, gadis itu sibuk membaca buku pelajaran untuk semester ini. Yui tidak mengganggu si ketua kelas. Mika bekerja keras hingga berhasil masuk lima besar rangking sekolah dan bisa bersaing dengan anak-anak dari kelas A juga berkat kerja keras yang ia kerahkan. 

Karena namanya, Xian Mika sudah menjadi ejekan sejak awal ia masuk sekolah.

Nama keluarganya berawalan huruf X sedangkan namanya memiliki awalan M. di sana sudah terlihat sebuah kesenjangan. Tanpa perlu di selidiki, orang-orang sudah tau apa artinya itu. Salah satu orang tuanya berasal dari kalangan middle class dan memutuskan untuk menikah dengan seseorang yang berasal dari lower class.

Itu adalah sebuah aib. Walaupun berasal dari golongan atas sekalipun, jika kau menikah dengan seseorang dari kelas bawah, maka dirimu beserta seluruh keturunanmu akan berstatus lower class. Tidak banyak orang yang memilih jalan ini. Mau tidak mau Yui mengagumi ayahnya Mika yang berani mengambil resiko dan memberi nama anaknya dengan awalan huruf M.

“Kenapa aku harus malu? Ayahku berani menamaiku Mika bukan karena dia ingin mempermalukanku, tetapi agar aku kuat dan menunjukkan kepada semua orang bahwa meskipun nama keluargaku adalah Xian, tetapi namaku masih bisa menggunakan awalan M, itu berarti tidak peduli jika ayah atau ibuku berasal dari golongan bawah, mereka masih hidup bahagia dan membesarkan ku dengan baik. Maka dari itu aku akan membuktikan kepada semua orang, tidak peduli dari mana darahmu mengalir, tetapi masa depanmu tetap dirimu yang menentukan. Aku mengagumi ayahku yang berani mengambil keputusan. Aku bahkan tidak pernah bertemu keluarga ayahku hingga sekarang” itu adalah jawaban Mika saat di tanya tentang namanya.

Yui menjadi teringat dengan ayahnya yang mulai terlihat tidak baik-baik saja akhir-akhir ini. Adiknya juga masih sekolah sedang yang paling kecil juga akan memulai sekolah dasarnya. Jika ia bekerja keras, setelah lulus ia bisa bekerja di tempat yang bagus sehingga orangtuanya tidak perlu lagi bekerja.

Gerbang asrama akan segera di tutup, Vallery masih belum kembali ke asrama. Yui keluar untuk mengambil air, masih banyak siswi yang berkeliaran di sekitar koridor di jam segini. Mereka hanya akan bubar setelah anggota disiplin asrama memeriksa kamar di larut malam.

Asrama putri dan putra berjarak 5 menit berjalan kaki. Biasanya para siswa pria dari klub baseball harus melewati asrama putri terlebih dahulu. Suara kerumunan dari bawah mau tidak mau menarik perhatian Zhu Yui yang sedang menuju kamar. Ia menjulurkan kepala ke arah bawah, pagar pembatas yang dingin ia pegang seraya berteriak, “Hinode Tsuyo! Sudah selesai latihan?” Yui hanya meneriaki Tsuyo, tetapi sekarang mau tak mau seluruh anggota tim baseball putra yang berjalan melewati asrama mereka serentak menoleh ke arah gedung asrama. Zhu Yui tidak peduli, ia malah melambai pada Tsuyo.

“Sudah! Aku mau menjemput Vallery dulu!” teriak pria itu balik melambai. Giginya yang putih bersinar di jalanan yang minim cahaya.

“Sejak kapan kau menjadi ibunya?” ledek Zhu Yui, Hinode Tsuyo mencibir. Tentu saja Hinode Tsuyo tahu Vallery belum kembali ke asrama. Tentu saja pria itu akan menjemputnya dan mengantarnya kembali ke asrama hingga ia harus berlari kembali ke asrama pria sebelum gerbang asrama di tutup.

Berbicara tantang Tsuyo, bukankah dia berasal dari golongan middle class? Ayahnya bahkan seorang dokter dan ibunya adalah dosen, lalu kenapa dia malah berada di kelas Z yang tinggal di asrama seperti mereka?

Ia harus menanyakan itu secepatnya.

Yui balas tersenyum, ketika akan berbalik, ia menangkap seorang pemuda yang berjalan di bagian paling belakang, dia sangat tinggi sehingga mudah untuk menarik perhatian, wajahnya tidak begitu terlihat karena lampu yang tidak menjangkau tempat pemuda itu, namun sepertinya ia pernah melihat orang ini sebelumnya.

Zhu Yui menutup harinya dengan kembali ke kamar, sepertinya Vallery tidak akan kembali segera. Xian Mika juga masih membaca di meja balajar. Tsuyo mengatakan ia akan menjemput Vallery yang berarti ia akan bersama Vallery, itu akan baik-baik saja.

Tidak lama kemudian, Vallery kembali mendapati Yui sudah terlelap di atas kasurnya dengan tangan yang masih menggenggam ponsel.

Callme_Kiira

Terimakasih sudah membaca ~~~ Jangan lupa tinggalkan komentar agar saya juga tahu jika ada yang membaca cerita ini :) Terimakasih untuk 5 subscribers cerita :) Dan jangan lupa untuk vote cerita ini ya~~~

| Like

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status