Share

EMPAT

Arvan terlihat sangat rapi. Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Mengenakan kemeja putih dengan celana bahan berwarna beige dan rompi tanpa lengan berwarna senada. Tidak ada yang salah dengan tubuhnya yang bahkan tetap terlihat menonjol dibalik kemeja pas body yang dia kenakan. Dia hanya tidak nyaman dengan rompi yang saat ini melekat di tubuhnya. Arvan mengambil sebuah dasi kupu-kupu dan menghela nafasnya pelan sambil melihat dasi di tangannya. Rasanya dia ingin melempar dasi itu ke cermin saat ini juga. 

Dengan malas dia mengenakan dasi tersebut. Setelah itu dia mengenakan sepatu dan melihat lagi bayangan dirinya di cermin. Setelah merasa penampilan cukup baik Arvan meninggalkan walk in closet. Dia harus bergegas dan tidak boleh terlambat.

***

Arvan tiba di aula sebuah gedung yang sudah didesain dengan banyak bunga dengan ornamen dominan berwarna rose gold. Arvan memperhatikan sekeliling lalu memilih keluar dan mencari ruang khusus dimana pengantin mempersiapkan diri. Setelah menanyakan kepada salah seorang petugas acara Arvan segera menuju sebuah ruangan yang berada di sebelah aula.

"Warna dekorasi pernikahanmu mengagumkan sekali. Sobat," ucap Arvan dengan nada mengejek tidak lama setelah membuka pintu dan langsung masuk ruangan tanpa izin.

Seorang pria yang tingginya sekitar 180 cm dan mengenakan setelan jas berwarna putih menatapnya dengan tatapan terkejut. "Seharusnya kau ketuk dulu pintunya," ucap pria itu kesal. "Itu pilihan Tasya," lanjutnya lalu kembali memperhatikan pantulan dirinya di cermin.

"Kamu sudah yakin akan pilihanmu ini sobat?" Tanya Arvan sambil mengambil sebotol wine dan menuangkannya digelas.

Pria itu hanya menatap Arvan dengan tatapan memohon tidak diganggu karena dia sedang fokus melafalkan ikrar yang akan diucapkan.

"Aku memberikanmu kesempatan untuk berpikir lagi, Jo. Kamu masih bisa kabur sekarang," goda Arvan lagi.

"Sebaiknya kamu membantuku dengan hafalan ini," ucapnya sambil menunjuk kertas yang ada di tangannya.

"Aku serius, aku bisa membantumu kabur, Johan," ucap Arvan meyakinkan.

"Berhentilah berisik Arvan. Sebaiknya kamu bergabung dengan groomsmen yang lain," ucap pria bernama Jo kesal.

Arvan tertawa lebar. “Kalau bukan demi pernikahanmu, aku enggan mengenakan baju aneh ini. aku jadi bertanya sepertinya Tasya cukup membenci kami hingga dia menyiapkan baju seperti ini di hari pernikahannya,” ucap Arvan yang hanya dibalas delikan oleh pria bernama lengkap Johan, sahabatnya.

“setidaknya bertahanlah demi Tasya, kalau tidak dia akan marah,” ucap Johan dengan sedikit memohon.

“aku sedikit cemburu, kamu lebih mementingkan wanita yang baru kamu kenal dua tahun ini dibanding persahabatan kita,” ucap Arvan.

“berhenti bertingkah aneh, kamu membuatku merinding. Bagaimana penampilanku?” Ucap Johan memilih tidak memperdulikan ucapan sahabatnya.

“ini pertama kalinya aku melihatmu berpenampilan lebih baik dariku,” ucap Arvan sambil menyeringai.

“sialan…. Keluar sana. aku harus melafalkan ikrarku dengan baik,” usir Johan yang kesal mendengar sahabatnya itu bertingkah tidak seperti biasanya.

“sepertinya aku akan kehilangan dirimu begitu kamu menikah,” ucap Arvan terdengar sendu.

kali ini Johan yang tidak bisa menahan tawanya. “Sejak kapan seorang Arvan menjadi melankolis begini? lagipula aku masih pegawaimu, seakan aku akan menghilang saja,” ucap Johan lagi.

Seseorang mengetuk pintu dan memberitahukan bahwa ikrar akan segera dimulai. dan meminta Johan untuk segera ke Aula. dengan tidak sabar Johan mengambil tuxedo dan merapikan kembali penampilannya.

“aku sungguh gugup sekarang, Arvan,” ucap Johan sambil menggenggam kedua tangannya.

“karena itu aku menyuruhmu kabur," Ucap Arvan dan dibalas tonjokan ringan di pundaknya. mereka berdua lalu keluar dari ruangan itu menuju aula tempat resepsi pernikahan akan digelar.

Pernikahan Johan yang digelar mewah di aula sebuah hotel berlangsung dengan sangat meriah. Para tamu undangan yang hadir terlihat larut dalam suka cita pasangan pengantin ini. Bahkan beberapa dari mereka akhirnya menjadi ajang reuni karena sudah lama tidak bertemu. Pasangan pengantin terlihat cantik dan kharismatik ibarat raja dan ratu di negeri dongeng. Beberapa tamu undangan bahkan mengantri untuk dapat mengabadikan momen bahagian pasangan pengantin tersebut.

"Selamat Bro, akhirnya lo nikah juga. Gue sedih tapi juga bahagia buat kalian," ucap Arvan yang mendapat giliran berfoto bersama groomsmen yang lain.

"Thanks Bro…," ucap Johan tidak bisa berkata.

"Makasih yah Van, lo datang sendiri? Lo nggak bawa calon lo?" Tanya Tasya.

"Lo tau gue enggan punya hubungan serius Tasya. But Thanks udah tanya," ucap Arvan santai.

"Gue harap lo bisa dapat yang terbaik dan segera naik pelaminan yah," ucap Tasya dengan tulus.

Arvan sedikit tertawa. "Gue harap lo berdua nggak berakhir di pengadilan," ucap Arvan tanpa beban yang langsung disambut tatapan tidak suka oleh Tasya. Bagaimana bisa dia menyinggung pengadilan di hari pernikahannya.

"Gila lo Van.. sayang kamu tahu Arvan suka berbicara sesukanya. Tapi maksudnya baik bukan," ucap Johan berusaha agar pengantin wanitanya tidak merajuk.

Seorang fotografer menginterupsi percakapan mereka dan mulai mengabadikan momen pasangan pengantin bersama bridesmaid dan groomsmen secara bergantian.

Sesuatu yang paling Arvan benci saat pesta pernikahan adalah berbagai pertanyaan yang menanyakan kapan dirinya akan mengikuti jejak sang mempelai. Apalagi bila salah satu mempelai adalah kerabat atau sahabat maka orang tua mereka akan menanyakannya. Lalu setelah itu akan ada ajang perjodohan yang akan melibatkan dirinya. Karena itu dia selalu memilih berada jauh dari kerumunan.

Acara pernikahan tersebut berakhir dengan sukses. Bahkan pelemparan bunga diikuti tamu undangan yang masih menjomblo tapi Arvan tentu saja memilih tidak ikut. Dia lebih suka memperhatikan dari jauh sambil menyeruput minuman di tangannya.

Arvan menatap sekitar tanpa minat sebelum akhirnya matanya menangkap seorang bridesmaid yang menatapnya dengan intens. Arvan yang menyadari dirinya sedang diawasi malah meneguk habis minumannya lalu dengan penuh percaya diri menghampiri bridesmaid itu.

Tidak beberapa lama, Arvan dan wanita yang baru dikenalnya itu tampak meninggalkan lokasi pernikahan secara diam-diam.

Arvan mencium bridesmaid yang baru ditemuinya di pernikahan Johan dengan penuh gairah. Mereka bahkan sudah berada disebuah ruangan berbatas dinding. Arvan dan wanita itu saling melumat satu sama lain. Bahkan Arvan tidak ragu membuka resleting gaun bridesmaid dan membiarkannya terjatuh menampilkan puncak gunung kembar sang wanita yang terlihat sintal dan kenyal. Arvan lalu mengulum salah satu puncaknya sedangkan tangan lainnya meremas puncak yang lain hingga membuat wanita itu mengerang merasakan nikmat yang diberikan Arvan.

Arvan mengangkat tubuh ramping gadis itu dengan mudah dan memindahkannya ke atas ranjang. Dia lalu beralih mencium bibir wanita itu dan bermain disana. Lidah mereka saling bertaut seolah tidak ingin lepas.

"What your name, baby," ucap Arvan serak di telinga wanita itu.

"Natasha," ucap wanita itu lalu mereka kembali berciuman

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status