Share

Part. 2.

Tragedi Dini Hari

Jarum jam di dinding kamarku menunjukkan pukul sepuluh malam. Hari ini jadwal kepulangan Mas Divo, tapi belum ada tanda-tanda ia pulang. Aku resah dan bingung, tak biasanya ia tak menepati janji begini. Kalaupun ia telat, ia tak pernah lupa memberi kabar padaku. Namun, tidak untuk kali ini. Handphone-nya yang sedari tadi kucoba hubungi juga tidak menyala sama sekali.

Lama menunggu tanpa memejamkan mata sama sekali membuat aku kebelet ke kamar mandi. Sebenarnya aku risih untuk keluar dari kamar apalagi aku tahu, ada Mas Dion di rumah. Namun, apa dikata, kamar mandi satu-satunya untuk keluarga cuma kamar mandi yang berdekatan dengan dapur, selain kamar mandi di kamar Kak Dheea yang setiap harinya terkunci.

Desakan alam membuatku tak mampu lagi bertahan, akhirnya kuberanikan juga keluar kamar. Kubuka pintu pelan dan melangkahkan kaki menuju ruang keluarga yang tersambung dengan dapur dan kamar mandi. Suasana temaram membuat aku berjalan pelan.

Mataku menangkap cahaya lampu yang masih terang benderang dari ruang keluarga juga biasan cahaya warna warni yang bergantian, pertanda masih ada yang menghidupkan televis di sana. Pastinya itu Mas Dion. Ia terbiasa tidur paling akhir di rumah ini, dan selalu duduk di hadapan televisi sambil memegangi sebatang rokok untuk menemaninya.

Langkahku terhenti di pembatas ruang. Aku ragu untuk melewatinya. Kukumpulkan segala kekuatan dan nyali untuk tetap kesana. Namun, langkahku kembali terhenti. Tubuhku merinding. Netraku menangkap Mas Dion yang sedang fokus menatap layar televisi dengan tontonan yang membuat aku risih. Adegan yang menyesakkan dada. Namun, aku juga tak bisa bertahan dengan rasa sesak yang juga berpacu.

 “U-huk! U-huk!” terpaksa alarm kubunyikan.

Mas Dion terkejut dan mendelik ke arahku. Tubuhnya yang tadi tergolek di kasur santai serta merta bangkit dan duduk. Secepat kilat tampilan layar berganti biru. Ia pura-pura mencari siaran baru. Aku pura-pura tak melihatnya. Kulintasi dia sambil menunduk.

“K-kamu b-belum tidur, ya?” tanyanya gagap. Terlihat ia berusaha menenangkan diri. Aku menoleh dan tersenyum tipis, “Belum, Mas. Habis bobo’in Bayu,” ujarku sambil terus berlalu tanpa melihat lagi padanya.

Usai menunaikan hajat, aku pun keluar dari kamar mandi, menutup rapat pintu dan membalikkan tubuh untuk kembali ke kamarku.

Lagi-lagi aku terkejut dan langkahku terhenti. Mas Dion telah berdiri tepat di depanku. Mematung sambil melipat dua tangannya dan menyandar di dinding dapur. Aku melotot sambil memegangi dadaku. Jantungku berdegub kencang, nafasku serasa sesak. Tubuhku sedikit gemetaran dan pikiranku langsung meliar kemana-mana. Cuplikan berita-berita menyeramkan langsung menari-nari di benakku.

Apa yang mau ia lakukan di sini? Apakah ia berniat jahat padaku? Atau jangan-jangan ia sedang mabuk atau menggunakan narkoba, karena beban fikiran yang tak mampu ia kendalikan? Mengapa ia berdiri di tempat gelap ini? Padahal ia tahu kalau aku tadi di kamar mandi. Pasti ia bermaksud jahat.

”M-mas, m-mau apa?’ tanyaku gugup dengan tangan mulai berkeringat, padahal cuaca sangat dingin.

 “Ya, mau ke kamar mandi, lah!. Masa mau bobo. Kamu udah siap, ‘kan?” jawabnya dengan gaya slengek’an. Serta merta aku menghempaskan nafas lega sambil memejamkan mata sesaat. Gila! Padahal aku sudah berpikir terlalu jauh.

“U-udah, M-mas! A-aku sudah siap, kok,” jawabku lagi. Ia menyunggingkan senyuman di bibirnya. Kemudian berjalan melintasiku dengan jarak yang cukup dekat denganku. Hanya beberapa centi meter saja. Sehingga hembusan angin tubuhnya menerpa tangan dan tubuhku. Aroma parfum yang masih melekat kuat di bajunya, ikut menguar memasuki rongga penciumanku.  

“Aku juga … kebelet!” ujarnya lagi sambil berlalu. Kemudian pintu itu tertutup rapat. Detik berikutnya terdengar bunyi air keran yang mengalir deras.  Aku terdiam, sebelum akhirnya berlalu dari tempat itu. meninggalkan aku yang masih terpelongo dengan sikapnya.

Sampai di kamar, aku duduk di bibir ranjang. Pikiranku terusik dengan sikap Mas Dion beberapa waktu belakangan, termasuk yang terjadi barusan. Aku merasa ada sedikit kejanggalan dari sikapnya. Sepertinya, ia memang sengaja melakukan ini. Tapi untuk apa? Apa ia ingin mengangguku? Istri adik kandungnya sendiri?

Drrrt drrrt. Gawaiku bergetar. Aku melirik pada biasan cahaya yang merembes di sisi sarung bantal. Dengan cepat kuraih handphone itu. “Barangkali saja pesan dari Mas Divo,” bisikku dalam hati.

Kutatapi layar handphone itu berulangkali. Lagi-lagi aku dibuatnya kaget. Kelakuan pria itu benar-benar membuat otakku berpikir keras. Buat apa dia ngirim pesan malam-malam begini? Bukankah, barusan juga ketemu di luar?

 “Vi besok kalau mas ketiduran, tolong bangunin mas jam delapan, ya?

Aneh! Dia benar-benar bersikap aneh beberapa waktu belakangan. Padahal dulunya ia sangat berwibawa, terlalu menjaga adabnya padaku, Menegurku saja seperlunya. Namun, sejak tinggal di sini, ia sok akrab dan sok dekat. Bahkan, perbuatannya banyak yang di luar kelaziman. Mau apa sebenarnya lelaki itu?

Belum habis jelajah pikirku tentang sikap Mas Dion, tiba-tiba gawaiku berkedip lagi, sebuah notif kembali muncul.

“Vi, kog cuma dibaca doang? Emang nggak mau bantuin, Mas ya?” Aku tersentak, seakan tersadar dari sebuah mimpi, cepat-cepat kugerakkan jempol mengetikan balasan.

Iya, Mas. Besok aku bangunin.” Langsung kukirim padanya. Kemudian gawai kuletakkan kembali di dekat bantal dan berniat menghempaskan tubuhku ke ranjang.

Namun, kembali niatku kuurungkan. Netraku kembali terusik. Gawaiku kembali berkedip diiringi lagu kesayangan yang kusetel sebagai nada panggilan lagu kesayangaku. Buru-buru kuraih lagi gawai itu.

“Mas Divo!” desisku sambil langsung meraihnya kasar dan mengusap tanda angkat pada panggilannya serta meletakkannya di telingaku.

Assalammualaikum, Mas. Mas dimana? Kenapa, sih, dari tadi nggak bisa dihubungi?” tanyaku seakan merajuk.

“Buka pintu, Sayang, kok masih aktif jam segini?”

‘Astaga, Mas! Mas udah di depan, ya? Kok aku nggak dengar suara mobil Mas?”

“Yah! Ditanya nggak dijawab, malah balik tanya.”

“Iya, Mas. Soalnya aku benar-benar nggak denger,” sahutku kemudian.

“Iya, habisnya kamu asyik nge-chat, kan?”

 “Enggak kok, Mas. Aku cuma ngeliatin bentar. Tadi udah tidur, trus kebangun, kebelet ke kamar mandi,” kilahku, tak ingin Mas Divo tahu yang kualami barusan.

“Ya, udah! Buruan bukain pintu, dingin di luar, nih.”

Aku tersenyum, meskipun itu tak terlihat sama sekali oleh Mas Divo. “Okey, Mas. Bentar aku bukain.” Handphone kumatikan dan bergegas keluar kamar mencari kunci pintu di ruang tamu. Kemudian membuka kunci dan grendel-nya. Benar saja, Mas Divo sudah berdiri di depan pintu. Pakaiannya kusut, wajahnya terlihat sangat lelah. 

“Kok malam kali pulangnya, Mas?” rajukku manja. Kusalim punggung tangan suamiku dan menuntunnya masuk ke dalam.

“Lembur! Tadi ada pemeriksaan dari pusat. Mas nggak tahu kalau kamu masih bangun, kalau tau kan bisa bawain sesuatu.” Mas Divo mentowel hidungku mesra. Aku tersenyum.

“Nggak papa, Mas. Eh, Mas mau tidur langsung apa mau sesuatu dulu?” tanyaku dengan ekspresi lucu, sambil mengamit lengan Mas Divo manja.

“Mau minuman hangat saja. Dingin, mana di jalan sepi lagi,” curhat lelaki kesayanganku itu. Aku mengangguk sambil tersenyum. Kamipun langsung melangkah ke ruang keluarga.

Sampai di belakang, mataku jelalatan mencari keberadaan Mas Dion. Namun, aku tak menemukannya. Sepertinya ia telah masuk ke kamarnya setelah mengirim pesan padaku tadi. Aku pun menyiapkan minuman yang diminta Mas Divo, sementara suamiku itu, langsung berlalu ke kamar untuk menganti pakaiannya.

Dean Han

Jangan lupa vote, koment dan ratenya. Makasi telah membaca karyaku.

| 1

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status