Share

Part 5 | Hari Yang Ditunggu

Tatapanku tertuju pada cermin besar di depan ku. Sesosok perempuan berkebaya putih dengan gaya busana khas Jawa Timur itu begitu cantik. Make up melekat di wajahnya, dengan hijab berwarna putih serta mahkota kecil di kepalanya membuat sosoknya begitu memesona. Tak lupa ronce bunga melati di sisi sebelah kiri dan kanan berbeda ukuran membuat aroma wangi semakin semerbak.

"Cantiknya anak Ibu."

Ibu datang, seraya mengelus pundakku. Senyum manis di bibir keriput Ibu terlukis hangat, berbeda dengan pelupuk matanya yang berkaca-kaca.

"Ibu..."

"Sekarang, Cah Ayu-nya Ibu sudah mau menikah ya? Padahal kemarin kamu masih nangis minta jajan ke Ibu. Rebutan boneka sama Wahyu."

"Ibu..." Panggil ku dengan suara bergetar, tak mampu ku sembunyikan air mata yang nyaris jatuh.

"Jangan nangis ya, Cah Ayu-nya Ibu. Seberat apapun masalah kalian di dalam rumah tangga nanti, tetap layani suami mu dengan baik. Berbakti sama suami mu dan penuhi kebutuhannya meski kalian sedang bertengkar."

"Ibu jangan ngomong gitu..."

Ibu menyeka air matanya pelan, "Beberapa saat lagi, tanggung jawab Bapak dan Ibu sama kamu akan diambil alih oleh calon suami mu. Tapi sampai kapan pun, Bapak dan Ibu akan selalu jadi orang tua untuk Lulu."

Rasanya dadaku semakin sesak, air mata jatuh merembes membasahi pipi. Ibu menyeka pelan, lalu menggeleng.

"Cah Ayu-nya Ibu jangan menangis, kalo Nak Bagas menyakiti Lulu jangan lupa. Ada Bapak dan Ibu yang selalu ada buat Lulu, ada Wahyu yang selalu siaga buat Lulu."

Aku hanya mampu mengangguk, tak ada sepatah kata pun keluar dari bibir ku. Ibu memeluk erat, terasa pelukan terakhir yang bisa aku rasakan sebelum aku benar-benar meninggalkan rumah ini bersama Pak Bagas yang akan menjadi suamiku sebentar lagi.

"Mari Cah Ayu, calon suami mu sudah datang. Kita lihat Nak Bagas mengucapkan ijab kabul dengan Bapak mu."

Ibu menuntunku perlahan. Aku bangkit dari kursi rias yang berada di kamar ku. Langkah demi langkah aku berjalan, Ibu meminta ku untuk duduk di hadapan televisi yang menyiarkan secara langsung kondisi ruang keluarga, tepatnya acara ijab kabul berlangsung.

Disana, aku terpaku pada sosok gagah berkemeja putih. Memakai jas hitam serta dasi hitam mengkilap. Tak lupa peci hitam berludru tersemat di kepalanya. Menambah aura wibawa yang menguar semakin terpancar.

Di belakangnya, sepasang suami istri paruh baya duduk menyaksikan acara ijab kabul yang akan dimulai. Tak lupa, seorang gadis kecil dengan rambut di kuncir dua duduk manis di pangkuan wanita paruh baya. Aku yakin sekali, mereka adalah kedua orang tua Pak Bagas bersama Lily.

Sekilas aku baru mengenal mereka ketika acara lamaran secara resmi kemarin. Meski Ibu dari Pak Bagas terlihat diam saat acara lamaran, aku berharap bisa akrab bersama kedua orang tua Pak Bagas juga kerabat Pak Bagas yang lain.

Hingga suara lantang dari Bapak membuat lamunan ku buyar.

"Saya nikahkan dan saya kawainkan engkau saudara Bagas Anugraha bin Graha dengan anak saya yang bernama Melaleuca binti Agung dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat, emas lima puluh gram dan uang tunai sebesar lima juta lima ratus lima puluh lima ribu rupiah dibayar tunai!"

"Saya terima nikah dan kawinnya Melaleuca binti Agung dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!"

"Bagaimana para saksi? Sah?"

"Sah!"

"Sah!"

"Alhamdulillah..."

Air mata tak mampu ku bendung lagi. Bapak sudah menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya atas diriku pada Pak Bagas. Sekilas, kenangan masa lalu membuat ku teringat.

Bapak, adalah sosok pahlawan untukku. Bapak adalah sosok yang menjaga ku saat aku merasa ketakutan dengan hal baru. Bapak, adalah sosok yang mengajariku sepenuh hati ketika aku tidak mengetahui apapun. Dan Bapak, adalah sosok pelindung dari Ibu saat aku melakukan kesalahan.

Bapak, adalah sosok saat selama ini menjadi tameng untukku, kini telah menyerahkan anaknya pada sosok asing yang baru beberapa hari Bapak temui.

"Selamat ya, Cah Ayu. Sekarang tanggung jawab Bapak terhadap mu, sudah Bapak serahkan pada Nak Bagas. Baik-baik sama Nak Bagas, apapun masalahnya jaga komunikasi diantara kalian. Bicarakan semuanya dengan kepala dingin, jangan sampai terbawa emosi."

"Sesekali, jangan lupa untuk jengukin Bapak dan Ibu di sini."

Aku semakin menahan isak tangis yang ingin terlepas. Seperti inikah, perasaannya menjadi anak perempuan yang harus siap kapan pun ikut suaminya pergi?

"Ibu, jangan ngomong begitu. Mbak Lulu makin nangis tuh!" Wahyu datang dengan memeluk tubuh Ibu singkat.

Menampilkan senyum untukku, Wahyu berkata, "Selamat ya Mbak, atas pernikahannya. Sering-sering main ke rumah sama Mas Bagas, kalo ada apa-apa jangan lupa hubungi Wahyu."

Aku mengangguk, "Iya Yu. Makasih."

"Bu, ayo ajak Mbak Lulu keluar kamar. Mas Bagas dan yang lain udah nungguin." Ajak Wahyu sebelum keluar dari kamar.

"Ayo Cah Ayu, kita ketemu sama suami kamu." Bisik Ibu di telingaku. Aku mengangguk patuh. Di tuntun Ibu menuju suamiku yang saat ini tengah menunggu.

Di ruang keluarga, beralas karpet. Aku meminta acara pernikahan ku dilakukan secara sederhana, tanpa perayaan besar-besaran. Dekorasi ruangan di dominasi warna putih serta bunga segar untuk melengkapi suasana pagi ini. Tak banyak tamu diundang, hanya tetangga, kerabat dekat dan keluarga dari Pak Bagas. Itu pun tidak semua yang datang.

Sesaat aku terdiam melihat semua orang memandangku. Pandangan ku tertuju pada satu sosok yang menunggu dengan senyuman hangat terpatri di bibirnya. Kemudian Ibu kembali menuntunku pada Pak Bagas, yang sekarang sudah sah menjadi suamiku.

Ibu setia menuntun ku untuk duduk disamping Pak Bagas, mencium tangannya lalu memasang cincin pernikahan kami. Saat Ibu melepas tangannya dari tubuh ku, Pak Bagas mencondongkan tubuhnya di depan ku, mencium keningku dan berbisik sesuatu yang membuat hatiku bergetar.

"Perjuangan saya membahagiakan kamu baru saja di mulai, Lulu. Saya mohon, dampingi saya agar saya mampu menjadi imam yang baik untuk kamu juga keluarga kecil kita nanti. Dan menuntun kamu menuju kebahagiaan dunia dan akhirat."

Tanpa mampu ku berkata, aku mengangguk diiringi air mata yang lagi-lagi menetes tanpa ku minta. Aku begitu terharu mendengar kalimat dari Pak Bagas yang menyentuh hati.

Pak Bagas, sosok pria asing yang baru ku kenal secara formal selama satu tahun ini, tak akan ku sangka menjadi suamiku. Pria yang memendam perasaan sejak pertama kali melihat ku, bahkan memperhatikan ku secara diam-diam, begitu lembut dan penuh kasih terhadapku.

Meski aku sendiri tidak tau bagaimana perasaan ku pada Pak Bagas. Namun, di cintai oleh sosok yang begitu mencintai ku dengan penuh perjuangan mendapat restu dari Bapak dan Ibu mampu membuat ku menjadi perempuan beruntung di dunia ini.

"Lulu juga minta sama Pak Bagas, untuk selalu bimbing dan nasehatin Lulu ketika Lulu salah. Lulu perlu belajar untuk menjadi istri yang baik untuk Pak Bagas sekaligus ibu sambung untuk Lily."

"Pasti Lulu, itu sudah menjadi tugas saya sebagai suami kamu." Ucap Pak Bagas di iringi kecupan manis di keningku.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status