Share

Bab 4. Hamil

Nama itu kembali tercetus di dalam hati Joice. Nama yang sudah satu bulan ini tak ingin dia sebut-sebut lagi. Nama yang sudah Joice hindari ternyata kembali muncul di hadapannya.

Napas Joice memburu. Otaknya sulit berpikir jernih. Melihat Marcel datang bersama dengan seorang wanita cantik membuat hati Joice seakan memiliki luka yang tersiram alkohol. Sangat perih dan menyakitkan.

Joice menyadari bahwa dirinya memang sangat bodoh. Tak pernah berhenti mencintai seorang pria yang tidak pernah sedikit pun melirik dirinya. Berjuang melupakan bayang-bayang cinta pertamanya bukanlah sesuatu hal yang mudah.

“Joice, bukankah itu Marcel De Luca?” tanya Hana memastikan. Sebagai manager Joice sejak lama, tak mungkin Hana tidak tahu tentang Marcel—yang merupakan cinta pertama Joice.

“Ya.” Joice memilih untuk menjawab ini, seakan dirinya bersikap acuh tak peduli akan apa yang dia lihat.

Hana memilih diam di kala melihat ekspresi wajah Joice. Dia mulai mengerti, dan tak berani lagi berucap karena takut menyinggung perasaan Joice.

“Joice? Is that you?” Seorang wanita cantik yang datang bersama dengan Marcel menyapa Joice. Tampak raut wajah Marcel berubah melihat Joice ternyata hadir di acara pelelangan berlian langka.

“Ya.” Joice berusaha tersenyum anggun di hadapan Paige—wanita yang dibawa oleh Marcel. Paige Sevim adalah model sekaligus artis ternama. Joice mengenal karena beberapa kali terlibat project bersama dengan Paige Sevim. Hanya saja, Joice sama sekali tidak mengira bahwa Paige dan Marcel saling mengenal.

Memang Joice kerap mendengar berita tentang Marcel yang kerap gonta-ganti wanita. Tapi tidak pernah terbesit dalam pikiran Joice bahwa Marcel akan mendatangi pelelangan berlian langka bersama dengan seorang wanita.

Marcel De Luca—pria berdarah Italia itu memang tinggal di Milan. Sedangkan Joice menetap tinggal di London. Hubungan keluarga keduanya yang dekat yang membuat awal mula Joice jatuh cinta pada sosok Marcel De Luca.

Akan tetapi, kejadian bulan lalu membuat Joice benar-benar telah membuka mata. Bahwa memang dirinya dan Marcel tidak akan pernah bisa disatukan. Mereka adalah dua orang yang tak mungkin bisa bersama.

“Joice, aku tidak sangka kau akan hadir di acara seperti ini. Aku pikir kau akan meminta manager-mu mewakilimu,” kata Paige anggun. 

Joice menatap Paige. “Aku di sini bukan hanya sekedar datang saja, tapi juga aku bekerja. Aku akan menjadi model yang memakai berlian langkah di penghujung acaral.” Wanita itu menjawab dengan nada tenang, tanpa mau melihat Marcel.

Kata-kata Marcel terakhir padanya terngiang di dalam benak Joice. Yang harus wanita itu ingat adalah Marcel hanya akan selalu memandang rendah dirinya. Tidak akan pernah berubah sama sekali. Itu yang terus tertanam di pikiran Joice.

“Ah, really? Bagus sekali. Congrats, Joice,” jawab Paige semakin memeluk lengan Marcel.

Joice tersenyum samar. “Baiklah, aku harus permisi. Sebentar lagi giliranku.” Lalu, dia pergi begitu saja meninggalkan Marcel dan Paige. Hana yang sejak tadi ada di samping Joice—segera menyusul Joice.

Marcel terdiam di tempatnya menatap punggung Joice yang mulai lenyap dari pandangannya. Sepasang iris mata cokelat gelap Marcel terus menatap Joice. Sejak tadi Joice tak melihat ke arahnya sama sekali. Baguslah. Itu kata yang Marcel ucap dalam hatinya. Dia pun tak ingin Joice kembali dekat-dekat dengannya.

“Marcel, kalau tidak salah keluargamu dekat dengan keluarga Joice, kan? Boleh aku tahu sedekat apa?” tanya Paige seraya menatap Marcel.

“Sepupuku adalah sepupu Joice juga. Bibiku menikah dengan Pamannya Joice,” jawab Marcel datar.

“Ah, begitu.” Paige menyandarkan kepalanya di lengan kekar Marcel. “Aku dulu sempat takut kalau kau jatuh cinta pada Joice.”

“Jangan berbicara konyol,” tukas Marcel dingin.

Paige tersenyum sambil mendongakkan kepalanya. “Iya, aku kan hanya menduga saja. Kalau itu tidak benar, aku senang mendengarnya.”

Marcel memilih untuk diam tak berkata apa pun di kala mendengar ucapan Paige.

Tak selang lama, Joice muncul di panggung berjalan sempurna layaknya model ternama. Kalung berlian langka yang dia pakai nampak memukau. Penampilan Joice malam itu layaknya seorang Dewi.

Para pria yang ada di acara pelelangan itu tak henti-hentinya menatap kagum Joice. Sedangkan para wanita fokus pada berlian yang dipakai Joice. Para wanita sudah menyiapkan angka nominal terbaik demi bisa mendapatkan kalung berlian yang dipakai oleh Joice.

Joice yang tengah berjalan di atas panggung—tiba-tiba merasakan sakit luar biasa di perut bagian bawahnya. Rasanya seakan dililit. Peluh bermunculan di keningnya. Pandangannya pun mulai buram bahkan Joice sudah tak mampu berdiri. 

Dada Joice terasa begitu sesak luar biasa. Napasnya tercekat. Lalu dalam hitungan detik tubuh wanita itu terjatuh di atas panggung—hingga membuat semua orang di sana terkejut—termasuk Marcel.

“Joice?!” seru Hana panik melihat Joice jatuh pingsan. Dia langsung naik ke atas panggung, berusaha membangunkan, tapi hasilnya nihil. Joice tak kunjung membuka mata.

Para keamanan berhamburan datang di kala melihat Joice jatuh pingsan. Salah satu pihak keamanan mencoba menggendong Joice, namun Marcel yang tadinya hanya diam—malah bergerak maju dan meminta keamanan untuk menyingkir.

Tanpa banyak bicara, Marcel menggendong Joice gaya bridal—dan melangkah pergi meninggalkan pesta itu. Tampak Paige terkejut akan tindakan Marcel yang pergi meninggalkannya.

“Marcel, tunggu!” seru Paige berusaha memanggil Marcel, tapi sayangnya tidak didengar sama sekali oleh pria itu.

***

Marcel berdiri di depan UGD dengan sorot mata tajam. Dalam hati pria itu mengumpati dirinya yang malah membawa Joice ke rumah sakit. Harusnya dia membiarkan Joice dibawa oleh pihak keamanan. Shit! Marcel tak henti-hentinya mengumpat.

Hana mondar-mandir tidak jelas di depan ruang UGD. Raut wajah Hana begitu panik dan khawatir. Dia sampai menggigit kukunya demi mengurangi rasa cemas dan khawatir.

“Marcel, apa aku harus menghubungi kedua orang tua Joice sekarang?” tanya Hana meminta pendapat Marcel. Dia tahu bahwa keluarga Joice dekat dengan keluarga Marcel, jadi tidak ada salahnya meminta pendapat Marcel.

“Nanti saja. Tunggu dokter memberi tahu sakitnya,” ucap Marcel dingin dan tegas.

Hana mengangguk-anggukan kepalanya. “Kau benar juga. Tunggu sampai dokter memberi tahu kita saja.” Dia memutuskan untuk mengikuti saran Marcel—yang tak langsung memberi tahu kedua orang tua Joice.

Ceklek!

Dokter keluar dari UGD. Marcel dan Hana melangkah mendekat ke arah dokter yang sudah berdiri di ambang pintu.

“Dokter, bagaimana keadaan Joice?” tanya Hana cepat.

Dokter menurunkan masker di wajahnya. “Siapa suami dari Nyonya Joice Osbert?”

“Joice belum menikah. Ada apa, Dok?” tanya Hana lagi bingung.

“Maaf, apa kekasihnya ada di sini?” tanya sang dokter lagi.

“Katakan padaku, ada apa dengannya?” Marcel sudah tidak tahan di kala sang dokter tidak langsung menjawab pertanyaan Hana.

“Tuan, kandungan Nona Joice Osbert sangat lemah,” jawab sang dokter yang sontak membuat raut wajah Marcel menegang terkejut.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status