Share

4. Memainkan Peran

Danu mendèsah pelan ketika panggilan telepon dan pesan yang di kirim ke ponselnya Risa tidak mendapatkan respon. Biasanya ia akan tertidur pulas setelah percintaan panas yang menguras tenaga bersama kekasihnya.

Namun kepergian Risa yang tanpa pamit membuatnya cukup frustasi. Kemarin malam sepulang kerja, ia sangat terkejut ketika mendapati rumahnya dalam keadaan gelap gulita. Dengan perasaan was-was, Danu menelusuri setiap sudut ruangan di rumah dan hasilnya nihil karena ia tak menemukan koper kecil milik Risa yang biasa ia gunakan untuk mudik ke rumah papanya. Danu menyimpulkan bahwa Risa pergi ke Jakarta.

'Mengapa Risa pergi tanpa pamit, mungkinkah dia sudah tahu tentang perselingkuhanku?' Danu menerka-nerka dalam batinya. 'Tidak-tidak, kalau dia sudah tahu pasti dia tidak akan diam saja. Aku tahu, dia sangat membenci perselingkuhan.'

"Ngkh … kenapa Mas nggak tidur?"

"Iya ini mau tidur." Danu mengelus pipi kekasihnya seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

"Mikirin apa sih, Mas? Sampai nggak bisa tidur. Atau … Mas pengen nambah, ya?"

"Hah?" Danu menoleh ke arah samping, lalu memandang wajah sang kekasih yang berada di sisinya.

"Jangan dulu, ya? Aku masih capek. Mas, sih ngajarnya nggak kira-kira. Punyaku kayaknya lecet, deh."

"Maaf ya, tadi Mas terlalu bersemangat, ayo sekarang tidur aja. Mas juga capek, tadi siang ninjau lapangan yang berada di perkampungan yang jaraknya lumayan jauh dari kantor abis itu jemput kamu, langsung ke mari dan olahraga, hehehe." Danu mencubit hidung mancung kekasihnya.

"Olahraga yang bikin Mas merem melek?"

"Ih, makin gemes deh." Danu menciumi wajah cantik kekasihnya yang tertawa menggodanya. "Udah ah, bobok, yuk?" Danu merapatkan tubuh mereka sambil berpelukan dan melupakan Risa yang ia tidak tahu di mana keberadaanya.

Di sisi lain Risa berdecih membuka serentetan pesan yang dikirimkan Danu ke ponselnya. "Munafik, yang ada kamu malah seneng aku nggak ada di rumah. Puas-puasin tuh ngamar ama pelakor." Risa langsung mematikan ponselnya. Ia tidak peduli dengan apa yang sedang suaminya lakukan dibelakangnya.

Risa bahkan tidak mau tahu siapa orang ketiga yang mengusik rumah tangganya. Risa bisa saja menyewa detektif swasta untuk menyelidikinya. Tapi untuk apa? Baginya sudah lebih dari cukup untuk mengetahui kelakuan suami di belakangnya. Bukankah perselingkuhan terjadi karena kedua belah pihak saling membuka. Kalau suaminya setia, tidak mungkin ada wanita lain yang menempel kepadanya. Fix, suaminya tidak pantas untuk dicintai.

***

Satu minggu kemudian.

"Sayang, Mas ingin bicara." Danu merapatkan tubuhnya ke arah Risa yang sedang berbaring di ranjang memejamkan matanya.

"Heem, bicaralah." Risa enggan membuka matanya.

"Kenapa akhir-akhir ini, Mas ngerasa kamu mulai berubah? Seperti saat ini, kamu nggak mau memandang Mas ketika kita sedang berbicara."

Risa yang tidur terlentang mengubah posisi tidurnya, menghadap ke arah Danu. Sebelum Danu menyadari, Risa mengubah ekspresi wajahnya yang marah menjadi biasa seakan-akan tidak ada kebencian di hatinya." Berubah bagaimana? Aku masih tetap yang sama, Risa istrimu."

"Syukurlah, Mas kira kamu kenapa. Karena sepertinya kamu marah dan menghindariku."Danu merengkuh tubuh Risa ke dalam pelukannya.

Risa menahan napas, ia harus memainkan peran seolah-olah dirinya tidak tahu tentang perselingkuhan suaminya.

"Sayang, Mas, kangen." Danu mulai mengendus leher jenjang Risa, tanganya mulai meraba-raba area sensitif di tubuh wanita mungil itu..

"Jangan." Tubuh Risa menegang dan reflek mendorong tubuh Danu ke belakang hingga terjerembab jatuh dari atas ranjang.

"Aow …." Danu mengaduh kesakitan ketika punggungnya terantuk meja nakas.

Risa yang sadar karena melakukan kesalahan, segera bangun dan membantu Danu untuk berdiri. Ternyata hati dan tubuhnya menolak untuk memainkan peran melakukan kewajiban seorang istri untuk melayani suaminya di atas ranjang.

"Maaf Mas, aku nggak sengaja."

"Nggak pa pa, cuma nyeri sedikit punggungku. Kamu kenapa nolak, padahal kita sudah lama nggak pernah begituan?" Danu duduk di pinggir ranjang dengan bantuan Risa.

Seketika Risa bingung ingin memberikan alasan apa supaya masuk akal, alasan PMS tidak mungkin ia gunakan lagi karena minggu lalu ia sudah menggunakan alasan itu untuk menolak keinginan suaminya.

'Baiklah, tidak ada jalan lain. Lambat laun juga dia akan tahu setelah perutku semakin membesar.' Batin Risa.

"Emm … dokter melarangnya."

"Dokter? Emang kamu sakit apa?" Danu menangkup wajah Risa dan menelitinya.

"Bukan sakit, tapi aku hamil."

Mata Danu membola, entah rasa apa yang sedang menguasai pikiranya. Di satu sisi ia senang karena akan segera mempunyai keturunan. Satu sisi lainya, jujur sebenarnya ia tidak ingin mempunyai anak yang lahir dari rahimnya Risa yang akan membuat ribet ke depannya.

"Kenapa Mas diam, Mas nggak suka aku hamil?"

"Tentu saja Mas suka, Sayang, setelah sekian lama penantian kita." Danu menutupi kegelisahan hatinya dengan mengelus perut Risa yang masih rata.

"Kirain, soalnya ekspresi Mas kok kayak nggak antusias gitu."

"Jangan mikir yang macem-macem. Mas sangat bahagia, Mas cuma mikir perubahan sikap kamu apa mungkin ada hubunganya dengan hormon kehamilanmu."

"Mungkin saja, jadi Mas harap maklum kalau aku tiba-tiba marah, judes, sewot dan aneh menurut Mas."

"Iya iya, siap Sayang. Jadi bener nih, Mas nggak boleh minta jatah malam ini?"

"Maaf Mas, dokter Mona bilang kandunganku lemah. Jadi kita disarankan untuk tidak melakukan hubungan suami istri dulu." dusta Risa.

"Jadi, kamu tahu hamil saat kamu sedang berada di Jakarta?"

"He em, waktu itu aku pingsan dan Papa telpon Dokter Mona untuk datang memeriksaku. Prediksi dokter Mona benar, setelah Papa mengantarku periksa ke rumah sakit, dokter obgyn menyatakan aku positif hamil." kembali Risa berdusta.

"Jadi Papa sudah tahu?"

"He em, Papa sangat antusias karena akan segera punya cucu. Jadi kamu sabar dulu ya, Mas? Selama tiga bulan mendatang. Kamu bisa tahan kan, kalau aku nggak ngasih jatah?"

"Ehehehe, emangnya Mas laki apaan, pasti tahan lah. Kalau nggak sama kamu aku nggak napsu."

'Halah buaya, tiap hari pasti udah nglakuin sama simpananmu.' teriak Risa dalam batinnya.

"Anak Papa, baik-baik ya di dalam sana? Papa sama Mama akan sabar menunggu sampai kelahiranmu ke dunia ini." Danu mengecup perut Risa setelah mengatakan kata-kata manis yang tulus atau pura-pura, Risa sendiri tidak tahu.

'Bertahanlah Nak, apapun yang terjadi kedepannya. Mama akan selalu menjaga dan mencintaimu dengan segenap jiwa dan raga Mama.'

Hani ^^

Comments (1)
goodnovel comment avatar
sasa
jngan berat² konfliknya
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status