Share

Enam - Hinaan Arman

Di sebuah gedung bernuansa serba putih, di sinilah Kia berada sekarang ini. Langkah kakinya yang dipercepat membawanya ke bagian administrasi rumah sakit. 

“Selamat pagi, Sus.”

“Iya, selamat pagi, Dek. Ada yang bisa saya bantu?”

Kia mengangguk. “Iya, Sus. Saya baru dapat kabar, kalau teman saya mengalami kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit ini.”

“Maaf, kalau boleh tahu, nama temannya siapa ya? Biar saya bisa mengeceknya.”

“Nama teman saya Karenina, Sus. Lengkapnya Karenina Agastya.”

“Baik, tunggu sebentar ya, Dek. Saya cek dulu namanya.” Suster dengan name tag bertuliskan Linda itu segera mengetikkan nama yang disebutkan Kia di kolom pencarian pasien. “Mohon maaf, Dek. Tidak ada pasien bernama Karenina Agastya di sini.”

Kia mengernyitkan dahinya. “Oh, tidak ada ya, Sus. Kalau nama Karenina?”

Suster Linda menggeleng. “Tidak ada juga, Dek.”

“Kalau begitu, terima kasih ya, Sus. Saya permisi.” 

Kia berjalan keluar dari rumah sakit dengan perlahan. Yang ada di pikirannya sekarang ialah mengapa tidak ada nama Karen yang terdata di nama pasien? Apa si penelepon tadi salah mengirim lokasi? Atau, jangan-jangan si penelepon tadi hanya menipunya? Seharusnya tadi Kia mengikuti firasatnya yang berkata bahwa ini hanya sekadar modus penipuan. 

Kia menghela napasnya. Jika begini caranya, ia menyesal sudah menyia-nyiakan beberapa lembar rupiahnya untuk mengikuti perkataan si penelepon. 

“Emang benar ya, penyesalan itu selalu datang di akhir,” ucap Kia dengan nada pasrahnya. Gadis itu melirik jam yang melingkar manis di tangan kirinya. Jarum pendek kini sudah menunjuk ke arah angka 7 dan juga jarum panjang yang mengarah ke angka 6.

Tunggu sebentar. Apa? Jam 7 lewat 30 menit? 

“Astaga, aku telat sekolah!” pekik Kia yang sontak membuat gadis itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang lalu lalang di sekitar rumah sakit. 

Kia tidak mempedulikan semua tatapan itu. Tangannya dengan cepat mengambil ponsel yang berada di tasnya, kemudian memesan ojek online untuk kedua kalinya. Biarlah kali ini ia harus mengeluarkan uang lagi untuk naik ojek, yang jelas sekarang ia harus cepat tiba di sekolah. 

***

Di sepanjang perjalanan menuju sekolah, seorang gadis dengan rambut tergerai itu selalu merapalkan doa di dalam hatinya. Gadis itu berharap jika ia tidak akan dimarahi oleh guru, mengingat jadwal upacara bendera hari ini. 

“Ini, Pak, uangnya. Kembaliannya ambil aja.” Setelah turun dari motor, gadis itu dengan secepat mungkin berjalan menuju gerbang sekolah. 

Dilihatnya lapangan sekolah yang telah kosong melompong, membuatnya semakin yakin bila upacara telah selesai dilaksanakan. 

“Loh, neng Kia, kenapa baru datang?” tanya Pak Muhardi—sang satpam di Bayanaka High School.

“Ini, Pak. Tadi saya ada sedikit masalah sebelum ke sekolah, jadinya saya agak telat.” Pak Muhardi hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Kia. Pak Muhardi sudah bekerja cukup lama di Bayanaka, sehingga untuk model-model murid yang suka berbohong, Pak Muhardi dengan sekejap dapat mengetahuinya. Sementara, Kia bukanlah salah satu dari model murid yang suka berbohong itu. 

“Ya sudah, kamu boleh masuk. Saya percaya kamu tidak berbohong. Tetapi, kamu tidak boleh langsung masuk kelas, temui guru piket terlebih dahulu untuk mendapat surat izin masuk.” Kia tersenyum mendengar ucapan Pak Muhardi. Sempat terlintas di pikiran Kia jika ia tidak akan diizinkan masuk oleh Pak Muhardi. Namun, ternyata dewi keberuntungan masih berpihak kepada dirinya.

“Terima kasih banyak, Pak. Kalau begitu, saya mau menemui guru piket terlebih dahulu. Sekali lagi, terima kasih, Pak.” 

“Sama-sama, neng.”

***

“Apa? Ada yang telepon kamu trus bilang aku kecelakaan?” 

Kia sontak menutup telinganya mendengar pertanyaan Karen atau lebih tepatnya pekikan Karen. Kia baru saja menceritakan perihal si penelepon yang menipunya tadi pagi, dimulai dari Kia yang awalnya tidak percaya, hingga Kia yang akhirnya pergi ke rumah sakit dan telat tiba di sekolah. Hal itu tentunya membuat Karen begitu terkejut. 

“Iya, Ren. Makanya tadi aku datang ke sekolahnya telat. Soalnya aku ke rumah sakit dulu, untuk memastikan kamu baik-baik aja. Aku khawatir sama kamu.”

“Aaa, aku terharu banget. Kia sebegitu khawatirnya sama aku.” Karen memeluk tubuh Kia yang lebih mungil dari dirinya. 

“Ya, namanya juga sahabat. Pasti khawatirlah pas dengar kabar sahabatnya seperti itu. Oh iya, Ren, yuk kita ke lapangan, nanti kena marah Pak Doddy kalau telat.” 

Karen mengangguk. Dua gadis itu berjalan beriringan keluar dari ruang ganti baju, menuju lapangan. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, seorang laki-laki berlari dengan kecepatan penuh hingga dengan tak sengaja menabrak Kia. 

“Aww,” ringis Kia yang terjatuh. 

“Astaga, Kia!” pekik Karen yang langsung menolong Kia untuk bangkit. Sementara, laki-laki yang menabrak Kia tadi hendak berjalan pergi tanpa meminta maaf. 

“Eits, Arman, minta maaf dulu dong sama Kia.” Karen menahan lengan Arman, membuat laki-laki itu berdecak. 

“Ngapain gue harus minta maaf sama dia?” ketus Arman. 

“Elah, pakai tanya segala lagi. Kamu kan tadi nabrak Kia, sampai Kianya jatuh lagi. Ya, kamu harus minta maaf lah.”

“Gue? Minta maaf sama nih anak pembantu? Ogah!”

“Arman, jaga ucapan kamu ya!” bentak Karen dengan intonasi tinggi. 

“Loh, apanya yang perlu gue jaga? Memang benar, kan? Dia itu anak pembantu, sekali lagi cuma anak pembantu.” Ucapan Arman membuat Karen semakin emosi. 

“Eh, Man. Kamu gak pernah diajarin sopan santun ya sama kedua orang tua kamu? Omongannya main ceplas-ceplos aja. Kia bisa sakit hati dengar ucapan kamu.”

“Udah ya, Karen. Gue mau lanjutin main basket, jadi tolong jangan tahan gue cuma untuk minta maaf sama nih anak pembantu. Lagian, tadi gue gak sengaja, gue lari buat kerja bola basket. Kalau gue nabrak nih cewek, ya salah dia kenapa jalannya di lapangan tempat orang main basket? Udah ya, teman-teman gue udah nyariin.” Arman mengakhiri ucapannya, kemudian berlari kembali ke tengah lapangan. 

“Eh Arman! Udah salah, gak mau ngaku lagi. Kalau salah, ya salah!” teriak Karen yang tentunya masih bisa didengar oleh Arman. Lelaki itu hanya mengedikkan bahunya, pertanda bila ia tidak peduli dengan ucapan Karen. 

“Udah, Ren. Jangan teriak-teriak gitu, nanti Pak Doddy dengar, gak enak. Lagian, yang Arman ucapin tadi itu benar, kita itu salah milih jalan. Ini kan lapangan tempat main basket, seharusnya tadi kita lewat sana aja jalannya.” 

Karen merasa jengah dengan ucapan Kia. “Kia, sampai kapan sih kamu itu mau begini? Terlalu baik banget sama orang. Kalau dengan kamu baik, mereka bisa ngehargai kamu, ya itu gak masalah. Lah ini? Bukannya ngehargai, mereka malah makin semena-mena sama kamu.” 

“Udah, Ren. Aku gak apa-apa kok.”

“Kia, jangan bohong, aku tahu kok kamu gak baik-baik aja. Pasti kamu merasa sakit hati ketika mendengar ucapan Arman tadi. Iya, kan?” 

Kia terdiam. Karen memang selalu bisa memahami isi hatinya. Kia memang tidak dapat mengelak, bila ia juga merasa sakit hati ketika mendengar ucapan Arman mengenai dirinya tadi. 

“Udah, aku gak apa-apa kok. Percaya sama aku.” Kia tersenyum miris mengakhiri ucapannya.  

***

Menghinaku tidak berarti kamu lebih tinggi derajatnya daripadaku. Menghinaku justru memberikan bukti, betapa derajatku lebih tinggi daripada kamu.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status