Share

Bab 9 : Keanehan

Sang fajar merangkak perahan di angkasa mengudara di atmosfer bumi, selalu menjadi pemandangan yang biasa saja karena telah terbiasa dalam keseharian. Kini waktu sangat terbiasa menginvestasikan detiknya pada perjalanan tanpa lagi memperotes apa yang sedang terjadi. Takdir bergejolak mempermainkan setiap manusia yang berlomba bertahan untuk hidup, sebenarnya kehidupan itu apa?

Saling memakan sebangsa sendiri atau memakan sepantasnya yang telah ditakdirkan? Alur kehidupan semangkin rumit saat jiwa-jiwa liar  mengusai setiap tubuh. Nafsu menggerogoti kebenaran dan menikam setiap yang belum terinfeksi. Mengabiskan setiap sisa kehidupan yang masih terlihat wajar.

Sati masih saja memandang Reno yang diam seperti anak baik penurut, dengan terikat di atas meja penelitian. 

"Hans kenapa dia tidak bangun-bangun ya, padahal sudah jam sepuluh pagi." Merasa sangat heran karena manusia terinfeksi lainnya sudah melakukan aktivitas seperti biasa berjalan tanpa  tujuan dari tadi.

"Entahlah Sati, saya juga bingung kenapa dia belum bangun sampai saat ini." Mengintip dari balik tirai untuk melihat pergerakan manusia terinfeksi di halaman rumah sakit dan membandingkan dengan ada yang di dalam ruang laboratorium.

"Ini masih hidup apa tidak Hans?" Lebih melihat dengan saksama ke wajah Reno.

"Iya masih hiduplah, saya sendiri yang memastikan dan membawa dia dengan susah payah kemari." Hans tersentak berfikir sejenak.

"Tunggu memang mereka masih hidup?" Bertanya dengan perkataan Sati.

"Tidak tahu, tapi kalau mereka mati mana mungkin mereka bisa bergerak dan memiliki aliran darah. Apa lagi terlihat darah segar yang keluar dari tubuh jika terluka." Sati memberikan hipotesa atas setiap pristiwa yang telah dilewati.

"Mungkin patut dibilang setengah hidup." Memandang Sati yang mulai wajahnya terlihat kesal.

"Lalu bagaimana cara kita memulai penelitian? Jika dia tidak bangun, dan terus tertidur. Maka kita tidak akan tahu reaksi yang terjadi saat menyuntikkan uji coba vaksin yang telah kita buat. Sebenarnya apa yang telah kamu lakukan ke dia, Hans?" Sati menunggu penjelasan yang konkrit kepada Hans.

Hans berfikir dengan cermat, memutar kembali tahap demi tahap yang telah dilakukan untuk membawa Reno ke ruang laboratorium. "Tidak ada yang salah." Bergumam dengan diri sendiri dengan suara pelan.

Sekali lagi mencoba memutar kembali ingatan langkah demi langkah yang telah dilakukan. Ingatan terganjal pada satu langkah yang mungkin saja sumber dari permasalahan.

"Apa karena obat bius ya?" Hans bertanya kepada Sati kemungkinan yang sedang terjadi.

"Obat bius?" Sati merespon kembali bertanya dengan cepat pertanyaan Hans.

"Iya obat bius, tadi saya membawa tiga suntik kemudian menyuktikan sekaligus ketiganya ke dia." Menjelaskan penggunaan obat bius kepada Sati.

"What??!! Kalau manusia normal bisa hampir mati Hans." Merasa terkejut dengan sikap Hans yang menyuntikkan obat bius tanpa berfikir terlebih dahulu.

"Dia bukan manusia Sati, jadi wajar saya kefikiran seperti itu. Kalau memang karena efek obat bius yang saya suntikkan, berarti manusia terinfeksi hampir sama seperti manusia biasa. Dan harapan saya terkabul, obat bius mempunyai efek ampuh mengatasinya jadi nyawa saya tidak akan terancam ketika membawanya kemari." Hans merasa sangat bersyukur keinginannya terkabul.

"Hmmm.... Itu berarti mereka tidak mati, Hans." Sati mengambil kesimpulan dengan cepat, karena manusia terinfeksi memiliki efek pada obat bius.

Ingatan Hans berputar kembali ke belakang, saat di ruang ICU yang mencoba menyelamatkan Sati. Satu demi satu Hans memecahkan  kepala manusia terinfeksi dengan besi satatif infus untuk membunuh mereka. "Kalau begitu mereka?" Hans menutup mata, ada perasaan bersalah luar biasa yang menyerang fikiran beserta hatinya jika terbukti manusia terinfeksi memang benar masih hidup.

"Hans, kamu tidak kenapa-kenapa?" Merasa khawatir dengan sikap yang tidak biasa ditampilkan oleh  Hans.

"Tidak Sati, saya hanya teringat dengan kejadian di ICU yang menolong kamu dari serangan manusia terinfeksi." Dengan nada menyesal atas perbuatan yang dilakukan, dan masih menutup mata.

"Tindakan kamu sudah benar Hans, kita hanya melindungi diri dari ancaman mereka yang berbahaya. Selepas mereka masih hidup atau tidak, kita sama-sama belum tahu pasti kebenarannya." Menyemangati Hans bahwa tindakan yang telah dilakukan sama sekali tidak salah.

Hans memandang kembali ke luar dengan mengintip di balik tirai. Sati yang sangat penasaran apakah mereka masih hidup, perlahan berdiri dengan tumpuan meja. Sati mengamati nafas manusia terinfeksi yaitu Reno, dengan menggunakan telapak tangan Sati berada di hidung Reno untuk merasakan nafas. Sati merasakan ada hembusan nafas yang sangat-sangat kecil, hampir tidak ada tapi ada. 

"Eh.... Apa aku yang salah." Hati berbicara merasa tidak yakin dengan apa yang terjadi. 

Sati meletakkan jari telunjuk tangan di hidung Reno lebih lama, merasakan dengan cermat bahwa memang ada hembusan nafas yang sangat kecil.

"Ini benar, dia hampir bernafas atau memang bernafas." Sati bergumam dengan nada rendah, merasa bingung dengan hembusan nafas yang dirasakannya.

Sati kini menempelkan telinga kirinya tepat di dada Reno, untuk mendengar detak jantung Reno jika benar memang hidup dan bernafas. Mendengarkan dengan cermat dan lebih teliti dengan tingkat fokus yang tinggi.

"Tidak ada detak jantung." Sati memandang wajah Reno dengan penuh tanya, berharap Reno bisa menjawab pertanyaan yang ada di dalam fikiran.

"Tidak mungkin ada nafas yang keluar jika tidak ada detak jantung." Sati merasa tidak puas dengan hasil yang di dapat, dan kembali lagi menempelkan telinga, kali ini menggunakan telinga kanan yang berada tepat di dada posisi jantung. Samar-samar mendegar detak jantung yang sangat kecil, karena kurang yakin dengan yang di dengar maka lebih teliti dan dengan cermat lebih fokus mendengarkan kembali. Tiba-tiba Sati dikagetkan dengan suara geraman yang memarah dan tubuh Reno merontah-rontah minta di bebaskan dari ikatan yang ada di kedua tangan dan kaki. Sati terkejut berteriak jatuh ke lantai.

"Akkkkhhh.....!!!" 

Bughhh! Terdengar suara jatuh ke lantai.

Hans terkejut mendengar teriakan Sati dan langsung menghampiri untuk membantu. Reno terus memberontak berusaha keras untuk lepas dari tali yang mengikat tangan dan kaki. Hans merasa panik dengan situasi yang ada, mengambil besi statif infus yang ditemukan sebagai senjata. Dengan mengambil kuda-kuda tepat berada di atas kepala Reno dengan siap siaga ingin memukul kepala Reno.

"Jangan...!" Teriak Sati untuk menghentikan tindakan ceroboh yang hampir saja dilakukan.

"Tapi Sati dia telah melukai kamu, dia berbahaya!" Berteriak tidak terkontrol karena emosi bercampur dengan ketakutan.

"Tenangkan emosi kamu, kamu sudah mengikatnya bukan? Sudah berulang kali kamu memastikan sendiri bahwa ikatan tidak akan terlepas, jadi kenapa kamu ragu dengan apa yang telah dilakukan diri sendiri? Jika kamu memukulnya kita akan kehilangan bahan uji coba." Berusaha keras mempertahankan Reno agar tidak dibunuh.

"Sati kamu terluka karena dia. Jika berhubungan dengan bahan uji coba, kita bisa pilih yang lainnya di luar. Karena di luar sana banyak yang bisa jadi bahan uji cobapenelitian." Jari Hans menunjuk Reno yang terus memberontak untuk dilepaskan.

"Tidak, saya terjatuh sendiri karena terkejut tiba-tiba dia bergerak terbangun. Tadi saya mendengar detak jantung di dadanya, suara detak yang sangat pelan dan sangat lambat dan hampir tidak ada jika tidak di dengar teliti dan tenang." Sati mencoba menjelaskan kepada Hans agar emosinya meredam.

"Kamu bercanda Sati?" Tidak percaya dengan perkatan Sati.

"Demi nama Tuhan, saya tidak sedang bercanda." Meyakinkan tanpa keraguan,

"Saya sudah pastikan sendiri kemarin, mereka tidak memiliki detak nadi maupun jantung." Menjamin pemeriksaannya lebih benar dari pada Sati. Saat mengambil sampel yang akan diamati, Hans mengamati tubuh sampel dengan cermat.

"Mungkin kamu memeriksanya dengan terburu-buru jadi tidak mendengar dengan saksama." Tetap yakin dengan suara detak jantung Reno yang di dengarnya. 

Hans masih tidak percaya dengan kata-kata Sati, mustahil semua itu terjadi. Jelas-jelas dia sudah memeriksa dengan hati-hati tanpa kesalahan.

"Bisakah bantu saya berdiri." Sati meminta pertolongan Hans yang masih berdiri diam dengan fikiran ketidak percayaan.

Hans membantu berdiri Sati. "Nanti saya akan carikan tongkat atau alat membantu untuk berjalan."

"Terima kasih Hans." Memberi senyuman tulus dari hati

"Tidak Hans bukan di kursi roda." Hans membantu sati untuk kembali duduk di kursi roda.

"Saya ingin bertumpu di meja." Menunjuk meja tempat Reno terikat.

"Tidak Sati, sangat berbahaya jika kamu dekat-dekat dengan dia dalam kondisi seperti ini." Rasa kawatir Hans kembali memuncak.

"Dia tidak berbahaya, percayalah. Lihat saja kamu sudah mengamankan dia dengan benar-benar terkendali. Saya percaya kepada kamu Hans." Memandang Hans dan kedua mata ebrtemu pada tatapan yang sama dengan rasa percaya seutuhnya.

"Sati...." Menahan amarah atas sikap Sati, tidak mampu meluapkan kekesalan yang ada dalam hati kerena Sati merupakan satu-satunya teman yang ada di sampingnya saat ini.

Hans menuntun Sati mendekat ke Reno yang terus-terusan memberontak tanpa mengenal lelah. Sati meletakkan tangannya di atas dada Reno tepat di posisi jantung. Awalnya sangat ragu dengan yang akan dilakukan, tapi Reno harus tetap ditenangkan agar tidak menimbulkan masalah.

"Aaarrgghhhh!!!!!!!! Arggghhh!!!!" Suara geraman yang tidak asing lagi di dengar oleh telinga.

"Tenanglah, kami tidak akan menyakiti kamu. Kami hanya berusaha untuk membantu. Maafkan kami dengan kekerasan karena ini satu-satunya jalan untuk mengatasi nafsu liar kamu. Maaf.... Maafkan kami." Sati berkaca-kaca mengucapkan kata maaf, hati nurani tidak bisa berbohong pasti sangat menderita dalam keadaan terikat.  Tapi ini cara yang aman diantara kedua belah pihak dalam menjaga keselamatan.

Mendengar perkataan Sati, Reno menjadi tenang dan berhenti memberontak tapi masih tetap menggeram tanpa henti. Seakan Reno mengerti dengan perkataan yang diucapkan Sati. Hans yang melihat sangat heran kenapa bisa diajak komunikasi, sedangkan yang lainnya pasti sebelum diajak komunikasi akan langsung menerjang tanpa belas kasihan.

"Sati, dia kenapa bisa seolah mendengarkan kata-kata kamu. Dia seperti memiliki perasaan, dia bukannya sudah mati?" Masih tetap tidak percaya dengan yang disaksikan.

"Saya tidak tahu Hans." Terus memandang wajah Reno.

"Sekarang kita harus melakukan apa?" 

"Kita bisa langsung menelitinya bukan, atau menyuntikkan vaksin secara berkala." Sati tidak sabar melakukan uji coba.

"Baiklah, kita akan memulai sekarang. Tapi bukankah lebih baik kita ambil sampel darah untuk mengecek awal situasinya. Karena saya melihat dia berbeda dengan yang lainnya." Memberikan pendapat untuk melihat perkembangan yang terjadi dari awal.

"Ide yang bagus." Sati kembali ke kursi rodanya dengan dibantu Hans.

Hans dan Sati memakai pakaian laboratorium dan mensterilkan diri. Tanpa diperintah Sati dan Hans sudah mengetahui tugas masing-masing yang harus dikerjakan. Hans mengambil sampel dari DNA Reno sedangkan Sati mengaktifkan dan mensteriskan semua peralatan yang akan digunakan. 

Hans meneteskan sampel ke kaca preparat, dan meneteskan cairan berwarna untuk memperjelas hasil proyeksi gambar yang akan dilihat. Sati melakukan pembesaran hingga terlihat hasil yang memuaskan di layar proyeksi. 

"Tetap sama Sati, hasilnya sama seperti yang lainnya." Melihat tidak ada kejanggalan dalam DNA Reno.

"Benar Hans, tidak ada yang berbeda." Melihat dengan lebih cermat mana tahu ada yang berbeda.

"Apa yang menyebabkan dia bisa seperti tadi ya, mengerti bahasa kita? Mereka tidak punya logika bukan? Apalagi hati." Hans menggerutkan dahi berfikir dengan serius.

"Entahlah, andai Reno bisa berbicara pasti kita akan menemukan jawabannya." Sati kembali menatap Reno yang tidak berdaya di atas meja penelitian.

"Dia hanya bisa menggeram." Hans tertawa kecil seakan mengejek Reno.

Tiba-tiba Reno memberontak kembali yang membuat susana sunyi menjadi sangat mencemaskan.

"Aaaargghhhh!!!!! Arrrrrgghhhhh!!!!! Arrrrgghhh!!!!"

"Dia kenapa Sati?" Hans merasa harus tetap waspada dengan kemungkinan yang bisa saja terjadi.

"Saya tidak paham, apa yang sedang terjadi pada Reno." Merasa sangat miris, seperti ada empati rasa sakit yang sampai ke hati Sati. 

"Kenapa tiba-tiba memberontak lagi, dan suara geramannya jauh lebih keras."

"Lihat Hans, Reno menggigit penyumpal di mulutnya dengan sangat keras." Sati merasa sangat iba melihatnya, benar seperti ada rasa sakit yang ditahannya atau ada emosi marah luar biasa yang dicoba untuk diluapkan.

Hans berjalan mengambil tongkat besinya, berjaga-jaga di dekat Reno jika dia berhasil lepas dari ikatan.

"Kamu ingin apa Hans." Merasa sangat kawatir Hans melanjutkan niat yang tertundanya tadi.

"Berjaga-jaga Sati, kita tidak tahu seberapa berbahayanya makhluk ini." Telah siap dengan posisi yang sama.

Sati hanya bisa terdiam melihat keadaan yang terjadi. Reno terus menggeram kuat yang menyebabkan suaranya menggema ke luar ruangan dan mengisi lorong koridor. Sati dan Hans hanya menyaksikam tingkah laku Reno dengan hati terus waspada. Seperti memelihara harimau di dalam rumah sendiri, hewan peliharaan yang setiap saat bisa menerkam tuannya.

Dua puluh menit berlalu, Reno kembali tenang tidak memberontak lagi dan suara geramannya menjadi pelan seperti biasanya. Sati dan Hans mulai bernafas legah, Hans meletakkan senjata besinya.

"Apakah itu tadi?" Hans berfikir seperti ada yang aneh. Berfikir apa yang selanjutnya akan dilakukan, rasanya fikiran telah kosong karena ketegangan yang barusan saja dirasakan. Hans melangkah dengan terburu-buru menuju ke lemari pendingin penyimpanan, mengambil satu suntik vaksin dan menyuntikkan kepada Reno. Sati hanya bisa melihat, terdiam dengan tindakan yang dilakukan teman seperjuangan hidup.

Vaksin menjalar mengikuti aliran darah yang berjalan lambat hingga sampai ke seluruh organ. Reno menegang dan kejang-kejang menerima vaksin. Membanting-banting tubuhnya di meja penelitian, seolah menahan rasa sakit yang luar biasa. Hans kembali mengambil senjata besi, dia siap dengan kemungkinan terburuk yang terjadi. Sedangkan Sati terbelalak melihat reaksi Reno yang menerima vaksin. Sepuluh menit kemudian Reno kembali tenang. Reno tertidur lelap tanpa suara yang biasanya dikeluarkannya.

"Mungkin ini reaksi bagi penerima vaksin." Hans menyimpulkan dengan yang dilihatnya.

"Iya" Sati tidak mampu berkata-kata lagi dengan semua hal yang dialami dalam waktu sekejap.

"Kita akan menggunakan lima kali vaksin berkala untuk tahap satu." Hans menjelaskan yang direncanakan kepada Sati.

"Iya Hans, kita akan coba seperti yang kamu rencanakan." Sati mengikuti yang direncanakan, tidak dapat lagi berfikir jernih karena efek dari yang terjadi. 

Hans kembali ke jendela, membuka tirai yang menutupi kaca. Dia duduk di sana mengamati manusia terinfeksi di luar dengan besi di sampingnya untuk berjaga-jaga. Sati yang melihat ada keanehan pada Hans mencoba menghampiri dan mencoba bertanya.

"Ada apa Hans?" Menatap jauh ke luar.

Terlihat wajah Hans yang tidak enak untuk dipandang, ada emosi besar yang sedang disembunyikannya.

"Tidak ada apa-apa Sati." Hans menconba menutupi yang dirasakannya kepada Sati.

"Tapi wajah kamu tidak mencerminkan dengan kata-kata kamu?" Tetap berusaha mencari informasi.

"Saya benar tidak apa-apa."

"Yakin?"

"Iya yakin."

Sati hanya terdiam mendengar jawaban Hans, tidak bisa menuntut banyak kepada Hans.

"Mungkin belum saatnya saya mengetahui akan kegelisahan hatinya, saya harus menghargai sikapnya. Setiap orang punya privasi, saya harus mengingat hal ini" Hati Sati bergumam sendiri dengan fikirannya. 

Sati menatap Hans yang dengan serius memandang ke arah luar. Sati mengikuti jejak pandangan mata Hans ke arah luar. Manusia terinfesksi yang menjalankan aktivitas seperti hanya berjalan tanpa tujuan yang tidak jelas. Tidak makan, tidak minum, tidak berbicara, hanya bisa tidur sambil berdiri. Sebenarnya manusia seperti apa mereka, apakah ini virus baru yang merupakan senjata biologis buatan negara lain untuk melumpuhkan suatu wilayah? Atau memang uji coba resmi yang melibatkan jutaan manusia untuk menciptakan manusia varian baru? Rasanya semangkin diingat semangkin menyesakkan dada.

Hidup yang biasanya dilakukan menjadi hidup yang seperti di neraka dalam hitungan jam. Lagi-lagi langit berwarma merah seperti senja. 

"Saya sangat penasaran kenapa langit selalu berwarna merah seperti senja, sebenarnya apa yang sedang terjadi?"

Hans ikut menatap langit berwarna kemerahan.

"Jika difikir-fikir, kita sudah seminggu lebih disini. Tapi kenapa saya belum pernah lihat ada bantuan yang datang untuk menyelamatkan?"

Fikiran Hans terketuk dengan kebenaran yang dikatakan Sati.

"Benar Sati, biasanya jika terjadi bencana akan cepat diberikan bantuan. Dari awal hingga saat ini saya belum ada melihat helikopter penyelamat jika memang jalan darat tidak memungkinkan untuk di lewati."

Hans dan Sati bergelut dengan fikirannya sendiri, merasa ada yang aneh dengan yang terjadi. Seperti ada hal yang sedang dilakukan oleh seseorang yang tidak tahu apa yang sedang dilakukan. Berusaha memecahkan misteri yang terjadi walau tidak ada petunjuk yang dapat digunakan. Tantangan hidup yang benar-benar seperti di game. Yang kuat dan cerdas dialah yang bertahan hidup bahkan bisa mengusai dunia. Game yang harus dimenangkan untuk mendapat hidup yang lebih baik dengan penuh kedamaian.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status