Share

4. Derap Langkah

"Aku nggak ningalin kamu!" sentak Kaluna tidak terima dengan perkataan Jonathan.

Jonathan tersenyum sinis sambil terus berjalan meninggalkan Kaluna, sampai tangannya ditarik, "Apa?" tanya Jonathan kasar namun detik itu juga ia langsung merasa bersalah karena melihat mata Kaluna yang sedih.

"Apa?" ulang Jonathan dengan nada yang lebih lembut.

"Aku nggak ningalin kamu begitu aja, Jonathan." Kaluna meremas tangan Jonathan.

Jonathan menghela napas sambil menepis tangan Kaluna, "Semua udah berlalu, percuma kita obrolin sekarang."

"Tapi, aku nggak ninggalin kamu, aku nggak mungkin tega ninggalin kamu gitu aja," bisik Kaluna masih merasa tidak enak dengan tuduhan yang Jonathan berikan.

"Mau kamu ninggalin aku atau bukan, waktu udah berjalan dan sekarang kita udah nggak ada hubungan sama sekali. Semua yang terjadi dulu, lebih baik kita lupain aja, kita fokus ke masa saat ini," ucap Jonathan sambil berjalan meninggalkan Kaluna.

"Maksud kamu dilupain?" tanya Kaluna sambil berjalan mengikuti Jonathan ke pintu keluar lalu mengunci pintu restoran, setelahnya ia memberikan kunci ke satpam yang ada di luar setelahnya satpam itu meninggalkan mereka berdua.

"Jojo ... jawab," bisik Kaluna sambil terus menatap Jonathan yang terlihat sibuk mengenakan tas gendong. "Jojo," bisik Kaluna memelas.

Terlihat Jonathan memejamkan matanya dan berbalik menatap Kaluna, mata Jonathan masih terlihat dingin dan menyebalkan tapi, air mukanya sudah mulai melunak hingga membuat Kaluna sadar kalau masih ada "Jojo" miliknya di sana.

"Kaluna ... apa pun yang terjadi di masa lalu udah nggak berarti dan udah lama juga, kita pisah itu mungkin udah 5 atau 7 tahun yang lalu. Waktu jalan terus, Kaluna ... dan tolong," bisik Jonathan sambil mengatupkan kedua tangannya di dada.

"Tolong kita fokus ke masa depan juga hari ini dan lupakan semua kenangan yang ada di belakang," bisik Jonathan sambil berusaha mengalihkan pandangannya dari mata puppy milik Kaluna, "semua kenangan itu kaya sampah."

Deg!?

Jantung Kaluna berdetak seolah menghantam dadanya hingga terasa sangat sakit saat mendengar kalimat Jonathan. "Jo ...."

"Mulai sekarang panggil aku Jonathan atau Chef Jonathan atau Chef atau Pak, terserah. Asal jangan panggil aku Jojo," pinta Jonathan sambil mengambil sepeda lalu menaikinya.

Kaluna mundur perlahan dan menepuk pahanya pelan berusaha menata hatinya yang porak poranda. Rasanya sedih mengetahui pria yang dulu pernah mengisi hatinya dan jujur Kaluna merasa bahagia saat melihat Jonathan juga berharap bisa mengenang kenangan indah mereka atau mungkin melanjutkannya? Ah ... sudahlah semua harapan itu sudah hancur berkeping-keping. Kisah cinta mereka sudah usai, semesta tidak mengizinkan mereka untuk merajutnya kembali.

"Emang kita nggak boleh temenan aja?" tanya Kaluna sambil berjalan mendekati Jonathan.

Jonathan menoleh melewati bahunya, "Pulang kamu, udah malam." Setelahnya Jonathan pergi meninggalkan Kaluna yang berdiri mematung.

••

Dalam kegalauan Kaluna akhirnya memutuskan untuk pergi ke minimarket 24 jam baru setelahnya memesan taksi online. Kaluna berharap dengan udara dinginnya malam ditambah sedikit berjalan kaki bisa membuat pikiran dan perasaannya lebih baik setelah pembicaraannya dengan Jonathan.

"Emang nggak boleh apa kita temenan, doang," bisik Kaluna sambil menghela napasnya dan menengadah ke langit malam, pikirannya dengan cepat menariknya ke masa-masa manis bersama Jonathan. Masa SMA.

"Padahal dulu kamu baik loh, Jo, kamu manis ...." Kaluna memeluk tubuhnya sambil mengingat belaian yang selalu Jonathan lakukan saat ia sedang bersedih atau ada masalah di rumah.

"Kamu juga sering bawain aku makanan, sampai-sampai aku ingin belajar masak, supaya bisa bikinin kamu makanan setiap hari," bisik Kaluna pelan sambil terus berjalan menyusuri jalan setapak yang ternyata sudah sangat sepi karena sudah malam.

"Kamu juga suka nolongin aku, senyum sama aku, meluk aku, kamu hangat ...." Kaluna menghentikan langkahnya sambil menghela napas, sesekali dia membenarkan posisi tasnya di bahu.

"Tapi, sekarang kamu dingin dan nyebelin!" seru Kaluna mengingat kelakuan Jonathan yang sangat menyebalkan. "SP1! Ish ... kesal aku kalau inget kamu pas bilang aku dapet SP1!" Lagi Kaluna terus berkomat-kamit mengeluarkan segala isi pikirannya di dalam hati.

Andai kata dirinya sedang berada di lereng gunung mungkin saat ini dia sedang berteriak-teriak meluapkan emosinya. "Mana dia bilang aku yang ninggalin dia lagi! Apa coba maksudnya?"

"Aku nggak ninggalin dia, aku juga kepaksa pergi," bisik Kaluna pelan sambil mengingat apa yang sebenarnya terjadi, rasanya ia ingin kembali ke masa lampau dan meluruskan masalah yang ada. Andai kata pun dia harus berpisah dengan Jonathan dia ingin berpisah secara baik-baik, hingga saat mereka bertemu tidak perlu ada kekesalan seperti yang terjadi hari ini.

"Jelas-jelas aku nitip surat ke ...." Kaluma terdiam beberapa saat karena pendengarannya mulai mendengar suara-suara aneh. "Kok ...."

Kaluna baru menyadari kalau dia diikuti oleh seseorang atau sesuatu di belakangnya, bukan suara telapak kaki tapi ....

"Duh ... Gusti, apa lagi ini," bisik Kaluna yang tiba-tiba saja merasakan bulu kuduknya berdiri. Dengan cepat dia langsung berdoa di dalam hatinya, mencoba menenangkan diri dan mengenyahkan semua pikiran buruk di kepalanya.

"Kalau setan gimana?" batin Kaluna sambil mencoba melangkahkan kakinya lagi, Kaluna menajamkan indera pendengarannya berusaha mendengar dengan jelas. Lagi ... suara aneh itu terdengar seiiringan dengan langkah kakinya.

Kaluna mencoba menghentikan langkahnya lalu pura-pura mencari sesuatu di dalam tasnya, berharap suara itu terus berjalan melewati dirinya, bukan berhenti seperti saat ini.

"Mampus, siapa sih?" bisik Kaluna dengan suara bergetar, entah bagaimana rasanya tubuhnya saat ini mengeluarkan keringat padahal udara malam itu lumayan dingin dan Kaluna tidak mengenakan jaketnya. Jaketnya tertinggal di ruangan Jonathan.

"Ah ... sial." Kaluna merasa kalau hidupnya hari ini sangat sial semenjak bertemu dengan Jonathan. Dengan pelan Kaluna kembali berjalan sambil mencari sesuatu di dalam tasnya.

Lagi ... suara itu kembali terdengar seolah mengikuti dirinya di setiap langkah kaki Kaluna. Rasa takut dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh Kaluna, jantungnya berdetak sangat cepat sangking takutnya.

"Di mana lagi ... ya ampun, kenapa  sih kalau lagi dibutuhi susah banget buat ditemui!" maki Kaluna dengan bibir yang terlihat berkomat-kamit seperti membaca mantra.

Jantung Kaluna makin keras berdetak saat merasakan seseorang berdiri di belakang tubuhnya, badannya bergetar dan di dalam hatinya dia memaki karena belum juga menemukan benda sialan yang selalu ia bawa untuk berjaga-jaga.

Ujung jemari Kaluna menyentuh sesuatu yang dingin berbentuk tabung, seketika itu juga Kaluna ingin menjerit bahagia karena menemukan semprotan merica racikannya, dengan mantap ia genggam seerat mungkin.

Kaluna memejamkan matanya saat merasakan sesuatu menepuk bahunya, tanpa perlu melihat apa atau siapa yang melakukannya Kaluna memutar tubuhnya dan menyemprot semprotan merica racikannya sambil berteriak keras.

Saat sudah merasa aman, Kaluna menurunkan kedua tangannya hingga bisa melihat apa atau siapa yang disemprotnya dan seketika itu juga dia mendengar teriakkan ....

"Dasar perempuan gila!!!"

••

Comments (8)
goodnovel comment avatar
Claresta Ayu
haha...siapa yg di semprot Kaluna, Jonathan ya?
goodnovel comment avatar
Christina Natalia
hahahaha aku ikutan dag Dig dug bacanya beneran diikutin setan ..
goodnovel comment avatar
aniek mardiana
ini pasti salah paham
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status