Share

Senjata Makan Tuan

Wisnu benar-benar dibuat pusing oleh Astri, istrinya itu sudah berubah drastis. Mungkinkah ini karma untuk Wisnu, yang telah tega menghianati istrinya sendiri. Tidak sadarkah jika selama ini Wisnu dan keluarganya menumpang hidup enak kepada Astri. Namun, dengan mudahnya mereka berbuat semaunya, bahkan berencana untuk menyingkirkan Astri.

Kali ini Wisnu kembali dibuat tak berkutik lagi oleh Astri, mau tidak mau Wisnu harus menuruti keinginan istrinya itu, yaitu menggunakan jasa pembantu. Sudah dapat dibayangkan berapa banyak uang yang harus dikeluarkan Wisnu untuk membayar mereka. Terlebih Astri tidak segan-segan mengambil empat sekaligus.

waktu berjalan begitu cepat, sore harinya pembantu yang Astri pesan sudah datang. Saat ini wanita berjilbab itu sedang memberitahu apa saja tugas mereka. Sementara itu, Wisnu memilih untuk duduk santai di sofa ruang tengah, dengan leptop di pangkuannya, ada banyak e-mail masuk yang harus Wisnu periksa.

"Ok, apa kalian sudah paham?" tanya Astri.

"Sudah, Nyonya." Mereka menjawab serentak.

"Baik, Bi Minah bisa mulai memasak untuk makan malam nanti. Bahan makanan ada di kulkas," ujar Astri.

"Baik, Nyonya." Bi Minah mengangguk. Setelah itu Astri beranjak dari hadapan mereka.

Astri berjalan menuju ruang tengah, terlihat jika suaminya sedang sibuk dengan laptopnya. Saat Astri hendak naik ke lantai atas, tiba-tiba suara Wisnu menghentikan langkahnya. Dengan terpaksa Astri membalikkan badannya, ia beranjak menghampiri suaminya dan ikut duduk di sofa.

"Astri ada yang ingin aku tanyakan," ujar Wisnu seraya menutup laptopnya.

"Apa, Mas." Astri membenarkan posisi duduknya.

"Apa kamu yang sudah mengambil uang di brangkas?" tanya Wisnu, tatapan matanya tajam seperti singa yang siap menerkam.

Astri terdiam sejenak. "Kalau iya memangnya kenapa? Aku juga berhak kan. Apa kamu lupa, kalau perusahaan yang kamu kelola itu milik aku, Mas."

"Tapi kenapa kamu ambil semuanya, apa tidak cukup uang yang ada di ATM." Dada Wisnu naik turun menahan amarah.

"Jangan emosi seperti itu, tidak baik loh." Astri tersenyum seraya membelai dada bidang Wisnu. Wanita berjilbab itu tahu apa kelemahan suaminya itu.

Wisnu mencekal tangan Astri yang hendak melepas kancing kemejanya. "Kamu pikir dengan cara ini bisa mereda amarahku iya."

Wisnu menatap tajam istrinya, tetapi lagi-lagi Astri hanya tersenyum untuk menanggapinya. "Laki-laki itu sama, aku tunggu di kamar, Mas."

Astri bangkit dan beranjak pergi, Wisnu yang melihat istrinya naik ke lantai atas. Gegas ikut bangkit dan menyusulnya, setibanya di kamar. Terlihat Astri yang sudah duduk di sofa, Wisnu beranjak menghampiri istrinya lalu menjatuhkan bobotnya di sebelah Astri.

"Mas lihat ini." Astri menunjukkan deretan foto di ponselnya. Detik itu juga mata Wisnu melotot saat melihat foto pada ponsel istrinya itu.

"Maksud kamu apa nunjukin foto seperti itu?" tanya Wisnu. Detik itu juga raut wajah Wisnu menjadi tegang.

"Mau tanya, wanita di sebelah kamu itu siapa? Kok bajunya sama kamu bisa .... "

"Dia teman kuliah aku, dan dia sepupu suami Vika." Wisnu memotong ucapan istrinya. Sementara Astri terus menatap wajah suaminya yang sudah pucat pasi.

"Oh, teman kuliah. Eh tunggu, bukannya waktu Vika nikah kamu di luar kota ya, Mas?" tanya Astri. Hal tersebut membuat Wisnu gelagapan harus menjawab apa.

"Oh, itu ... mama yang nelpon dan maksa aku pulang. Makanya aku pulang dan langsung ke rumah mama." Wisnu terus mencari alasan agar Astri tidak merasa curiga.

"Dasar pembohong, memang ya laki-laki kalau sekali berbohong. Ke depannya juga akan terus berbohong, aku kira cukup buat mas Wisnu mati kutu, kalau kelamaan takut jantungan," batin Astri.

"Oh ya sudah lah." Astri bangkit dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Wisnu bernapas lega, lantaran Astri tidak bertanya yang aneh-aneh lagi. Namun, ke depannya ia harus lebih waspada.

***

Hari telah berganti, pukul tujuh pagi Wisnu sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Usai memakai jas, Wisnu beranjak keluar dari kamarnya. Pria berjas hitam itu bergegas turun ke bawah, setibanya di bawah terlihat Astri sudah menunggu di meja makan. Dengan segera Wisnu menghampiri istrinya itu.

"Sarapan dulu, Mas." Astri menarik kursi untuk duduk suaminya. Dengan segera Wisnu menjatuhkan bobotnya di kursi tersebut.

"Mas mau sarapan pakai apa?" tanya Astri.

"Roti saja biar cepet," jawab Wisnu. Dengan segera Astri mengambil dua lembar roti, lalu diolesi  dengan selai.

Usai sarapan Wisnu bergegas untuk pergi, hari ini ia ada meeting dan juga pertemuan dengan kliennya. Setelah suaminya pergi, Astri beranjak masuk ke dalam kamar, tetapi tiba-tiba perutnya terasa mual. Gegas Astri berlari masuk ke dalam kamar mandi, wanita berjilbab itu memuntahkan semua isi perutnya, bahkan sarapan yang ia makan ikut keluar.

"Aku kenapa, tiba-tiba perut aku mual banget," gumamnya. Astri membasuh mulutnya dengan air.

"Astaghfirullah, biasanya kan tanggal sepuluh aku datang bulan. Dan sekarang sudah tanggal .... " Ucapan Astri terhenti saat mendengar ponselnya berdering. Takut ada yang penting Astri bergegas keluar dari kamar mandi.

[Assalamu'alaikum, Astri bagaimana apa kamu sudah mengurus semuanya]

[Wa'alaikumsalam, alhamdulillah semuanya sudah beres, Kak. Semuanya sudah kembali menjadi atas namaku]

[Syukurlah, kakak senang mendengarnya. Oya, kapan kamu mau operasi, untuk mengembalikan wajahmu seperti dulu]

[Nanti, Kak. Setelah aku dan, mas Wisnu resmi bercerai. Kalau aku melakukan itu sekarang, percuma nanti, mas Wisnu malah nggak mau dicerai]

[Haha, kamu memang cerdik, ya sudah kakak lanjut kerja dulu ya. Kalau ada apa-apa hubungi kakak]

[Iya, Kak. Titip salam untuk, kak Nadia sama Afika]

[Iya, nanti aku sampaikan. Assalamu'alaikum]

[Wa'alaikumsalam]

Baru saja sambungan telepon terputus, tiba-tiba terdengar suara teriakan ibu mertuanya. Astri menghela napas, setelah itu ia memutuskan untuk turun ke bawah. Setibanya di bawah, terlihat ibu mertuanya serta seorang perempuan yang tak lain adalah istri muda Wisnu sudah berdiri di ruang tengah.

"Ada apa, Ma?" tanya Astri.

"Mama disuruh Wisnu untuk minta uang sama kamu. Soalnya mama mau belanja untuk makan malam nanti," jawab Astri.

"Aku nggak salah denger, aku kerjain baru tahu rasa," batin Astri.

"Aku nggak ada uang cash, Ma. Adanya di ATM," sahut Astri.

"Ya sudah sini ATM-nya, biar mama bawa aja," pinta Ratna.

"Aku temenin ya, Ma. Aku juga mau beli beberapa barang," ucap Astri. Sontak Ratna terkesiap, mendengar jika Astri akan pergi bersamanya.

"Kalau, Mama nggak mau ya nggak apa-apa. Mama bisa belanja sendiri, dan bayar sendiri," lanjutnya. Astri tahu apa yang sedang ibu mertuanya itu pikirkan.

Ratna terdiam sejenak. "Ya sudah, ayo. Tapi awas kalau kamu deket-deket sama mama. Dan satu lagi, jangan pernah kamu mengaku sebagai menantuku."

Astri hanya mengangguk, setelah itu mereka bergegas pergi tentunya menggunakan mobil Astri. Tidak butuh waktu lama, mereka tiba di supermarket, setelah di dalam Astri langsung menyuruh ibu mertuanya untuk mengambil barang yang dibutuhkan. Sementara dirinya memilih untuk menunggu.

Satu jam telah berlalu, Ratna dan menantu barunya itu sudah selesai memilih barang. Keduanya bergegas menuju kasir untuk dihitung berapa total semuanya. Ratna tersenyum, ia sengaja membeli barang banyak, dengan tujuan untuk menguras uang Astri.

"Berapa semuanya, Mbak?" tanya Ratna.

"Semuanya menjadi dua juta lima ratus ribu rupiah, Bu." Kasir itu menjawab dengan sopan.

"Sebentar ya, Mbak." Ratna menoleh ke arah di mana Astri duduk. Namun, menantunya itu sudah tidak ada.

"Lirna, kamu lihat Astri nggak?" tanya Ratna.

"Nggak, Ma. Tadi kan duduk di sana." Lirna menunjuk kursi yang di duduki Astri tadi.

Tiba-tiba ponsel Ratna berdering, dengan segera perempuan setengah abad itu mengambil benda pipihnya. Mata Ratna menyipit saat nana Astri tertera pada layar ponselnya. Takut ada yang penting Ratna langsung mengangkatnya.

[Assalamu'alaikum, Ma. Maaf ya, aku pulang duluan. Soalnya perut aku mules banget, kebanyakan makan sambel kemarin. Nanti mama bayar sendiri ya, atau minta uang sama, mas Wisnu. Assalamu'alaikum]

Ratna terkejut mendengar hal itu, niat hati ingin memoroti uang menantunya. Justru ia sendiri yang terkena imbasnya, senjata makan tuan.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status