Share

Ketika Aku Membuka Mata 2

Agnes Myosotis merupakan  putri bungsu keluarga Myosotis penguasa wilayah barat Kerajaan Asteraceae. Orang-orang menyebutnya sebagai putri kaca karena keluarganya menjaga Agnes dengan sangat ketat. Dia tidak pernah keluar dari kediamannya atau bertemu dengan orang lain selain keluarga, tunangan dan beberapa pelayan kepercayaan kepala keluarga Myosotis. Dia dikenal memiliki daya tahan tubuh yang lemah sehingga sangat mudah terkena penyakit.

Agnes memejamkan matanya begitu mengingat informasi yang dia ketahui. Yang dia inginkan hanyalah mati dengan tenang. Mengapa itu begitu sulit. 

"Panggil Kai."

"Aku mengerti. Kai sebentar lagi akan da-"

Tok tok tok

"Bin. Kau memanggilku?"

"-itu dia. Iya masuklah."

Agnes membuka matanya dan melirik kearah seseorang yang baru masuk.

Seorang remaja berusia lima belas tahun berjalan ke arah Bin. Tingginya hampir sepantaran dengan Bin, dia berkulit putih dan berambut hitam. Pemuda itu nampak polos dan lembut.

"Oh, astaga dia sadar."

Mata hitam polosnya melirik ke arah Agnes dengan rasa lega. Dia tersenyum dengan lembut.

"Apa dia sudah baik-baik saja?"

Dia bertanya pada Bin.

Agnes memandangi Kai beberapa saat sebelum mulai melihat langit-langit kamarnya. Sekarang dia benar-benar yakin jika dia berada dalam novel. Kai mungkin terlihat seperti remaja lembut dan polos namun, sebagai orang yang telah membaca novel dia tahu bahwa Kai bukan manusia seutuhnya.

'Dia setengah manusia dan setengah malaikat.'

Dalam novel [Orion's Resurrection] Kai adalah sosok manusia yang terlalu baik dan polos. Dia mati di volume 2 dan hal itu membuat Bin hampir menghancurkan satu kota. Lalu orang yang menghentikan amukan Bin adalah Isaac, sang tokoh utama.

Agnes mengabaikan mereka semua dan hanya menatap kosong ke langit-langit diatasnya. 

Bin dan Kai. Dikatakan bahwa mereka adalah pasangan paling lemah sekaligus paling berbahaya di dalam sebuah pertempuran. Salah satu senjata mereka berdua adalah komunikasi jarak jauh. Kai yang merupakan setengah manusia dan malaikat memiliki kemampuan untuk menghubungkan orang-orang yang berada pada jarak yang lumayan jauh. Semakin jauh dan banyak orangnya semakin banyak pula energi yang diperlukan. Di akhir volume 1 mereka berhasil menyelamatkan banyak orang karena kemampuan tersebut. Mereka dikenal sebagai pahlawan bagi masyarakat kerajaan Asteraceae dan para Elf.

Namun, Kai mati di akhir volume 2 karena sihir hitam.

'Masih ada tiga lagi.'

Harusnya ada tiga lagi selain Bin dan Kai. Mereka berlima akan dikenal sebagai pahlawan yang menyelamatkan kuil suci bersamaan dengan Isaac di masa depan. Kelompok lima orang itu dikenal sebagai Lyra.

"Iya dia sadar dan sudah lebih baik."

"Bagus. Tapi kenapa aku dipanggil kesini."

"Aland dan Alex akan beristirahat temani aku berjaga."

"Baiklah. Serahkan saja padaku."

Suaranya dipenuhi oleh keceriaan.

"Aku akan pergi sekarang."

Alex, pria dengan rambut perak dan mata biru laut itu melirik ke arah Agnes yang terbaring lemah ditempat tidur. Sebelum meninggalkan ruangan. Berbeda dengan Alex, Aland justru  berjalan menghampiri Agnes. Dia membelai kepala Agnes dengan pelan.

"Aku akan kembali nanti, istirahatlah."

Wajahnya dingin tanpa ekspresi itu sangat berbeda dengan tatapan dan ucapannya. Perkataan pria itu terdengar hangat dan lembut begitu juga sorot matanya. Agnes berkedip tidak percaya melihat orang yang menjadi penyebab kematiaannya bersikap hangat didepannya.

Berbeda dengan Agnes yang merasa aneh, Aland justru menganggap kedipan itu sebagai tanggapan atas perkataannya. Aland tersenyum kecil. Kemudian dia berbalik tanpa tahu bahwa senyum kecilnya membuat seseorang tersentak tidak percaya.

Deg Deg Deg

Jantung Agnes berketak lebih cepat dari sebelumnya.

'Kenapa?'

Kenapa senyum itu terasa familiar. Untuk sesaat Agnes merasa pernah melihat seseorang yang tersenyum seperti Aland tetapi dia tidak tahu siapa atau dimana dia melihatnya.

'Apanyang sebenarnya terjadi?'

Dia adalah seseorang yang dapat mengingat lebih baik dari siapapun. Dia tidak pernah melupakan apapun bahkan meski kenangan itu menyakitkan baginya. Jika dia mengenal Aland bagaimana mungkin dia melupakannya.

'Tidak masuk akal. Dia adalah seseorang yang hidup dalam novel bagaiman mungkin aku pernah melihatnya? Ini pasti karena aku terlalu panik.'

Jantungnya berdetak cepat mungkin karena dia terkejut melihat tokoh favoritnya yang berada begitu dekat dengannya.

'Pasti hal itu.'

Begitu pintu ditutup terdengar helaan nafas lega dari Kai dan Bin.

"Sekarang semuanya akan membaikkan."

Kai bertanya dengan pelan ke arah Bin.

"Tentu." Bin menjawab dengan yakin sambil melirik Agnes.

Bin mengeluarkan sesuatu dari saku ajaibnya. Sebuah botol kecil berisikan cairan berwarna violet. Agnes yang melihat botol itu tiba-tiba memiliki firasat buruk. Dia bisa melihat wajah kaku Kai ketika Bin mengeluarkan obat itu.

"Kai bantu aku sebentar, kita harus meminumkan ramuan ini padanya agar dia lebih cepat sembuh."

Kai hanya mengangguk dan berjalan ke arah tempat tidur.

Melihat mereka berdua mendekat membuat Agnes sedikit risih.

"Permisi sebentar."

Kai membantu Agnes duduk.

"Rasanya memang sedikit pahit dan menyakitkan tetapi tahanlah karena itu akan membantumu."

Bin berkata dengan senyum canggung mendekatkan ramuan obat itu ke bibir Agnes.

Kai yang mendengarnya meringis.

'Itu tidak akan hanya sedikit,' katanya dalam hati.

Agnes bisa mencium bau yang tidak enak begitu cairan itu mendekat kearah bibirnya. Bau itu membuat dia mual. Siapa sangka cairan berwarna violet yang terlihat cantik itu mengeluarkan bau seperti ini. Agnes tidak ingin meminumnya.

Glek

Namun, dia harus meminumnya agar bisa cepat sembuh. Dia harus sembuh dan menghindar dari kematian yang menyakitkan.

Light Elf Bin adalah calon pemimpin Light Elf selanjutnya. Dia keluar dari desa untuk menemukan tanaman obat yang bisa menyempurnakan ramuannya. Dia pergi begitu jauh hingga sampai di ujung utara benua Spinca. Disanalah dia menyelamatkan Kai. Bin terkenal sebagai Elf penyembuh, dia tidak terlalu pandai bertarung namun dia sangat ahli dalam bidang penyembuhan. Informasi itu cukup untuk Sanna meminum obat dari Bin tanpa rasa ragu.

"Wow. Kau menelannya dalam sekali tegukan. Hebat. Hebat sekali."

Kai berkata dengan penuh semangat. Matanya berkedip tidak percaya. Dia telah meminum beberapa obat pemberian Bin di masa lalu dan semua obat itu adalah ramuan obat berkualitas tinggi. Hanya saja, masalahnya ada pada bau dan rasa obat itu yang begitu buruk. Kai belum pernah melihat seseorang meminum ramuan obat yang dibuat oleh Bin dalam sekali teguk.

'Dia pasti ingin sekali sembuh. orang-orang yang menyakiti orang lain tidak pantas disebut sebagai manusia.'

Mereka monster. Bagaimana bisa mereka menyakiti makhluk hidup lain hanya untuk kepuasan diri. Kai yang pernah menjadi sasaran keserakahan mereka tidak bisa untuk tidak marah atas apa yang monster-monster itu lakukan pada wanita lemah seperti Agnes.

Agnes memejamkan matanya. Dia sedikit terkejut karena ternyata ramuan yang diberikan Bin lebih buruk dari yang dia bayangkan. Dia merasa pahit di lidahnya dan bagian dalam mulutnya dipenuhi aroma yang tidak sedap.

Bin terlihat yang paling terkejut diantara mereka bertiga. Orang lain biasanya akan langsung menolak ketika mereka mencium bau dari ramuan obat darinya. Lebih buruk lagi terkadang beberapa orang yang ingin dia tolong menganggapnya sebagai seorang penipu karena obat yang dia buat memiliki aroma dan rasa yang buruk. Orang-orang itu hampir membuat dia menyerah.Melihat ada seseorang yang meminum obatnya dalam sekali teguk membuat dia sedikit aneh. Ternyata di dunia ini ada juga orang yang mau minum obatnya tanpa harus dipaksa lebih dulu.

Bin mulai mengingat informasi yang dia dapatkan tentang Agnes Myosotis. Dia adalah kesayangan Keluarga Myosotis. Selain itu dia juga terkenal dengan sebutan Putri Kaca karena dia sama sekali tidak pernah menunjukan dirinya di luar rumah. Tidak ada yang tahu wajah atau kepribadiannya. Yang orang-orang tahu dia adalah bangsawan muda dengan rambut perak dan mata merah yang indah. Dia diketahui memiliki tubuh lemah sehingga keluarganya menjaganya dengan begitu hati-hati. Bin menatap Agnes dalam diam. Wanita muda dan lemah ini mungkin saja akan mati dalam kesakitan jika mereka tidak datang secepatnya.

Bin teringat percakapannya dengan Aland ketika mereka baru pertama kali bertemu. Waktu itu dia sedang berkeliling mencari informasi tentang orang-orang yang menyerang Desa Light Elf. Aland mendatangi dirinya dan mengajaknya untuk melakukan sebuah kesepakatan. Bin awalnya merasa curiga pada Aland Clematis karena meminta dia, seseorang yang belum dia kenal untuk menyembuhkan kekasihnya.

Namun, setelah beberapa hari bersama Aland, rasa kecurigaan Bin perlahan semakin berkurang.

Bin tersenyum semakin lebar. Hal itu sedikit mengganggu Agnes.

'Ada apa dengannya?' Agnes bertanya dalam hati.

'Sekarang, apakah aku harus menagih bayarannya?'

"Ini, minum ini kau akan merasa lebih baik setelah meminumnya."

Bin tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara Kai. Dia bisa melihat Kai memberi Agnes air gula yang berada di nakas untuk mengurangi rasa aneh dan pahit di mulutnya. Mereka telah berencana untuk memberinya ramuan ini ketika Agnes sadar dan air gula itu dibuat untuk untuk meringankan rasa pahit dari obat yang Bin buat. Walaupun Bin merasa itu hanya akan sedikit mengurangi rasa pahit dari obatnya, namun hal itu lebih baik daripada tidak. 

Agnes duduk dengan kepala tertunduk, dia tidak punya tenaga. Jika bukan Kai yang menopang tubuhnya dia pasti hanya akan berbaring. Matanya melihat rambut perak yang jatuh di atas bahunya. Rambut perak itu terlalu nyata dan alami untuk disebut sebagai wig atau rambut yang diwarnai. Itu benar-benar perak. Ini benar-benar Agnes Myosotis. Rambut perak, mata semerah matahari terbenam dan kulit putih pucat adalah apa yang novel itu jelaskan tentang penampilannya.

"Ugh…"

Dia mengerang. Jantungnya berdetak cepat.

Deg Deg Deg

Kepala terasa sakit dan perlahan rasa sakit itu menyebar ke seluruh tubuhnya.

"Aku rasa obatnya sedang bekerja. Baringkan dia."

Kai membaringkan Agnes dan menyelimutinya.

Agnes membuka mulutnya seakan ingin mengatakan sesuatu namun tidak ada kata yang keluar selain erangan kesakitannya.

"Ugh… akh… akh…"

Tubuhnya mengigil kedinginan, dia kesulitan bernafas, dan tenggorokannya terasa seperti terbakar.

'Kenapa sesakit ini. Sedikit. Ini yang mereka katakan sedikit.'

Agnes berteriak tidak terima dalam hati. Dia terus-menerus mengeluarkan kata-kata kasar untuk kedua orang di depannya.

'Kalian berdua bajingan.'

"Untunglah mereka berdua tidak ada di ruangan ini."

Kai bergumam sambil melihat Agnes yang terbaring menahan rasa sakit di tempat tidur.

"Kau benar."

Bin mengangguk setuju. Jika Aland dan Alex tahu obat itu membuat Agnes dalam kesakitan sebelum menyembuhkannya, Bin pasti tidak akan mendapatkan izin untuk memberi Agnes obat buatanya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status