Wira langsung menyahut, "Oke, aku akan mendengarnya." Taufik pun menuturkan, "Kalau begitu, aku akan langsung berterus terang. Kita bahas Kerajaan Shoka dulu, kerajaan itu terus berperang dan kondisinya sangat menyedihkan, jadi mereka nggak akan bisa berkembang dalam waktu 10 tahun. Tapi, muncul seorang raja di Kerajaan Shoka, mungkin suatu hari dia bisa memimpin Kerajaan Shoka. Hanya saja, aku nggak terlalu mengkhawatirkannya."Taufik melanjutkan, "Mungkin kamu merasa orang yang sombong pasti akan kalah, tapi Kerajaan Shoka pasti akan terpuruk. Jadi, mereka bukan ancaman besar."Wira sangat setuju dengan ucapan Taufik. Awalnya, Kerajaan Shoka merupakan tempat para budak berkumpul. Setelah para budak dikirim ke tempat itu, lama-kelamaan Kerajaan Shoka pun terbentuk. Namun, sebenarnya Kerajaan Shoka tidak mempunyai tata pemerintahan dan sistem yang sempurna.Ditambah lagi, Kerajaan Shoka merupakan daerah bersalju. Mereka memang tidak mampu merebut kekuasaan negara lain.Sesudah membaha
Wira menghela napas dan tidak berbicara, tetapi dia mendengarkan penuturan Taufik dengan serius.Kemudian, Taufik lanjut berbicara, "Selanjutnya, kita bahas tentang Raja Bakir." Ekspresi Taufik tampak sinis saat mengungkit Raja Bakir.Taufik menjelaskan, "Raja Bakir memang nggak cukup bijak, pemikirannya terlalu picik dan dia juga egois. Meskipun Raja Bakir tahu batasannya dalam memerintah negara dan sekarang Kerajaan Nuala masih bisa berkembang dengan stabil, perkembangannya terlalu lambat. Dia nggak berani membuat gebrakan dan banyak orang yang mengincar kekuasaannya. Jadi, aku paling meremehkan Raja Bakir."Wira juga sependapat dengan Taufik. Raja Bakir memang merupakan seorang penguasa, tetapi dia kurang bijaksana. Kalau dia hanya seorang pangeran, itu tidak masalah. Namun, kemampuan Raja Bakir tidak cukup untuk memimpin Kerajaan Nuala yang begitu besar.Itulah sebabnya, Keluarga Barus dan Juwanto berniat untuk merebut kekuasaan Raja Bakir. Taufik melanjutkan pembahasannya lagi, "A
Taufik melanjutkan, "Pada saat-saat genting seperti ini, Raja Bakir malah sakit. Wira, kamu begitu pintar, sepertinya aku nggak perlu bicara panjang lebar lagi."Wira mengernyit setelah mendengar ucapan Taufik. Apakah akan terjadi kekacauan di Kerajaan Nuala? Wira datang ke Kerajaan Monoma untuk mengajak berdamai supaya situasi bisa menjadi tenang. Namun, kondisi saat ini benar-benar di luar dugaan Wira.Raja Bakir jatuh sakit lagi, takutnya ini bukan perbuatan Keluarga Barus. Ditambah lagi, para pejabat mulai membahas masalah penetapan putra mahkota. Jadi, ini pasti perbuatan Keluarga Juwanto. Mereka berniat membalas siasat Keluarga Barus!Bukankah Keluarga Barus berencana untuk menyelesaikan masalah pada sumbernya dengan membuat Raja Bakir sakit? Jadi, Keluarga Juwanto juga meniru cara Keluarga Barus. Asalkan Raja Bakir jatuh sakit, posisi putra mahkota akan ditetapkan. Selain itu, jika Keluarga Juwanto dan Barus bergantian melancarkan trik seperti ini, Raja Bakir pasti tidak akan be
Wira tertegun setelah mendengar perkataan Taufik. Memang benar, semua itu adalah tindakannya. Jadi, apa dia juga termasuk ... pahlawan?Taufik berujar, "Aku tahu siapa Raja Tanuwi, dia pernah bertarung dengan Dirga. Setelah beberapa tahun, Dirga bahkan nggak mampu membunuh Raja Tanuwi, tapi Raja Tanuwi malah mati di tanganmu. Sewaktu kabar ini tersebar ke Kerajaan Monoma, nggak ada seorang pun yang memercayainya. Jangankan ayahku, aku sendiri juga nggak percaya.""Selama bertahun-tahun, Raja Tanuwi dan Dirga itu lawan yang setara. Sudah jelas, Raja Tanuwi punya kemampuan yang hebat. Tapi, dia malah mati di tanganmu. Hal ini benar-benar di luar dugaan," lanjut Taufik.Taufik masih saja merasa kaget saat memikirkan kejadian ini. Dia meneruskan perkataannya, "Setelah itu, aku memang mendengar bahwa pemerintah Kerajaan Nuala menolak untuk mempekerjakanmu selamanya. Ayahku bilang, kabar ini pasti benar, tapi saat itu aku tetap nggak percaya."Taufik berucap lagi, "Bagiku, Dirga itu seperti
Wira menjadi gugup. Dia memang telah mengabaikan poin ini!Taufik berkata, "Kamu mungkin menginginkan kehidupan yang damai, tapi ... berapa banyak orang yang bakal percaya, berapa banyak orang yang bisa sepenuhnya yakin? Saat mereka nggak memiliki kekuatan absolut, mereka mungkin nggak peduli. Tapi, kalau mereka memiliki kekuatan itu, apa menurutmu mereka akan membiarkanmu begitu saja?""Kamu pernah bilang nggak akan ikut memperebutkan kekuasaan dan hanya ingin hidup bebas dan damai di tempatmu sendiri. Aku nggak tahu soal orang lain, tapi aku nggak percaya. Selain itu, aku akan memperingatkanmu satu hal. Wira, kalau suatu hari aku bisa menaklukkan Kerajaan Nuala, orang pertama yang akan kubunuh adalah kamu!" tambah Taufik sambil memandang Wira.Taufik tidak menyembunyikan rencananya, memang itulah yang dia pikirkan soal Wira. Dia tidak akan membiarkan orang sepintar itu menikmati hidup dengan nyaman. Wira membuatnya takut, jadi sumber ketakutannya itu harus dibasmi! Seseorang yang ber
Saat ini, Taufik telah benar-benar menganggap Wira sebagai saingan, lawan yang harus dihadapinya di masa depan.Hal-hal ini tidak pernah terlintas di benak Wira sebelumnya. Namun, setelah mendengar perkataan Taufik, dia merasa harus memikirkannya baik-baik. Tampaknya, kekacauan akan segera terjadi. Keluarga Barus mungkin tidak akan bertindak sekarang, tetapi Keluarga Juwanto tidak akan menunggu!"Biarpun kita mengobrol dengan santai kali ini, kamu tetap harus berhati-hati. Bagaimanapun, pengaruh Keluarga Juwanto masih ada di Kerajaan Monoma. Kalau kamu mati di sini, aku juga nggak berdaya. Tapi, kamu nggak perlu khawatir. Kerajaan Monoma dan Kerajaan Nuala nggak akan berperang!" ujar Taufik sambil tersenyum.Saat ini, fokus Keluarga Juwanto mungkin tidak lagi pada Kerajaan Monoma. Yang harus mereka hadapi adalah Keluarga Barus!Pada saat yang sama, Raja Bakir sedang duduk di ruang kerjanya di ibu kota Kerajaan Nuala. Wajahnya pucat, tubuhnya terasa lemah, dan ekspresinya tampak sangat
Menetapkan posisi putra mahkota bukanlah masalah sepele. Raja Bakir perlu menemukan seorang pangeran yang cocok menjadi pewarisnya. Jadi, dia tidak ingin terburu-buru. Lagi pula, para pangeran belum dewasa. Saat mereka telah berusia 15 atau 16 tahun, Raja baru akan menetapkan posisi putra mahkota. Hal ini pun telah disetujui oleh para menteri.Namun, hanya karena Raja Bakir jatuh sakit, mereka terburu-buru memintanya menetapkan putra mahkota. Dia bahkan tidak menderita penyakit mematikan! Sebenarnya siapa gerangan yang mulai membahas hal ini?Raja Bakir menarik napas dalam-dalam. Setelah beberapa lama, dia baru berkata, "Karena semua orang ingin aku menetapkan posisi putra mahkota, bantu aku tanya pada para menteri, siapa kandidat terbaik di mata mereka!"Mendengar ini, Ardi buru-buru menjawab, "Yang Mulia, pendapat sebagian besar orang tentang posisi putra mahkota terbagi menjadi dua kubu. Yang pertama adalah orang-orang yang menghormati Ratu sebagai ibu negara. Setelah Ratu melahirka
Mendengar Raja Bakir melontarkan pertanyaan ini, Jihan langsung tersentak kaget. Apa maksud Raja menanyakan hal ini padanya?Jihan langsung pucat dan segera berlutut seraya berkata, "Yang Mulia ... kenapa kamu menanyakan hal itu padaku? Yang bisa memutuskan hal itu tentu saja hanya Yang Mulia! Mana bisa aku yang hanya seorang wanita bisa ikut campur?"Jihan tahu Raja Bakir curiga padanya. Jika tidak, tidak mungkin dia menanyakan hal seperti itu padanya. Sejujurnya, Jihan juga tahu asalan Raja mencurigainya. Saat ini, kebanyakan menteri mendukung putranya dan Yahya sebagai putra mahkota. Jadi, Raja Bakir pasti datang untuk menyelidikinya. Namun, Jihan memang tidak pernah ikut campur dalam urusan pemerintahan!Mendengar jawaban Jihan, Raja Bakir langsung mendengus dan berkata, "Benarkah? Ratu juga ahli dalam urusan pemerintahan. Konyol rasanya kalau mengatakan kamu nggak punya pendapat. Jujurlah, aku akan mendengarkan pendapatmu tentang siapa yang lebih cocok untuk posisi putra mahkota!"
Meskipun serangan mereka begitu ganas, pasukan Wira tidak sebodoh itu untuk langsung keluar dari hutan bambu. Dalam pandangan mereka, bertahan di dalam hutan dan menyerang dari posisi tersembunyi adalah taktik yang paling aman dan efektif untuk saat ini.Di barisan depan, pasukan utara telah kehilangan lebih dari setengah kekuatan mereka dalam waktu singkat.Melihat pemandangan itu, Arhan sangat bersemangat. Dia selalu semakin bersemangat ketika melihat darah, terutama darah musuh.Tanpa henti, Arhan terus melancarkan serangan. Setiap kali setelah mempersiapkan tembakan, dia langsung melepaskannya tanpa repot-repot membidik.Kini, pasukan utara sedang kacau dan berdesakan satu sama lain. Sekalipun Arhan memejamkan mata, panahnya tetap bisa mengenai target.Ketika melihat anak buahnya terus berguguran, wajah Zaki semakin suram. Sebelumnya, pasukannya sudah banyak yang terluka terkena jebakan tali kuda. Kini, mereka mengalami penyergapan yang begitu mematikan.Sebagai orang kepercayaan B
Begitu perintah diberikan, pasukan utara langsung menyerbu menuju kota perbatasan dengan gagah berani.Sebelum mereka memasuki Hutan Bambu Mayu, Zaki yang sangat percaya pada laporan para pengintai tidak sedikit pun mengurangi kecepatan. Dia memimpin di garis depan, langsung menerjang masuk ke hutan.Di dalam hutan, Wira dan pasukan yang sudah lama bersembunyi melihat pasukan utara datang. Semua membulatkan tekad dan menahan napas, takut keberadaan mereka terungkap sebelum waktunya.Tanah bergetar seperti disambar petir, suara derap kuda bergema di seluruh hutan. Pasukan Harimau yang berjumlah 3.000 orang segera menarik busur mereka, bersiap untuk menembakkan panah kapan saja. Begitu pasukan utara muncul dalam jangkauan, mereka tidak akan ragu-ragu untuk melepaskan tembakan.Wira mengamati pasukan musuh yang bergerak cepat dan langsung mengenali sosok yang memimpin mereka. Orang itu membawa sebuah trisula besar. Wira tahu bahwa orang itu adalah Zaki, tangan kanan dari Bimala, pemimpin
Para pengintai memasuki pedalaman Hutan Bambu Mayu. Sebagaimana yang sudah diketahui sebelumnya, siapa pun yang bersembunyi di dalamnya akan sulit terlihat dari luar. Situasi ini juga dialami oleh para pengintai yang masuk ke hutan bambu.Dari sudut pandang mereka, bagian dalam hutan tampak berkabut, membuat pandangan mereka terbatas.Salah satu pengintai mengernyit dan berkata, "Ada apa dengan tempat ini? Kita nggak bisa melihat apa pun. Seharusnya nggak ada masalah di sini, 'kan?"Pengintai lainnya mengamati sekeliling untuk beberapa saat sebelum mengangguk. "Benar, sepertinya nggak ada yang mencurigakan. Kalau begitu, kita langsung mundur dan laporkan ke Jenderal bahwa nggak ada tanda-tanda penyergapan."Yang lainnya juga mengangguk setuju, lalu segera berbalik dan berkuda kembali ke arah mereka datang.Wira yang memimpin bawahannya bersembunyi di dalam hutan, melihat para pengintai itu pergi begitu saja. Dia pun menghela napas lega.Di sisi lain, Arhan tertawa dan berkata, "Jendera
Setelah mendengar hal itu, Adjie terkekeh-kekeh dan berkata, "Hehe, kalau mereka nggak melakukan ini, sampai malam pun mereka nggak akan bisa melewati Dataran Haloam."Mendengar itu, Agha yang bersembunyi di sampingnya mengangguk pelan. Setelah memastikan laju pasukan utara sudah cukup jauh, dia segera memimpin bawahannya untuk kembali memasang lebih banyak jebakan di belakang mereka.Agha sama sekali tidak peduli dengan strategi yang dipikirkan pasukan utara. Sebelumnya, dia dan Adjie sudah mengetahui bahwa jumlah kawat mereka tidak cukup, jadi kini mereka mengatur ulang dengan tali lain. Jika digunakan dengan baik, tali-tali ini juga bisa berfungsi sebagai jebakan kuda.Setelah beberapa saat, Agha memastikan semua sudah selesai dan berkata dengan pelan, "Semua sudah diatur. Kalau begitu, kita mundur sekarang. Nggak perlu memasang lebih banyak jebakan di belakang."Mendengar perintah itu, para prajurit mengangguk dan segera bergerak menuju posisi Adjie dan yang lainnya.Jebakan yang d
Setelah mendengar perkataan itu, Zaki merenung sejenak. Dia merasa rencana ini cukup masuk akal. Jika terjadi masalah, dia bisa menyalahkan wakil jenderalnya.Jika para prajurit di bawahnya merasa tidak puas, dia pun masih bisa turun tangan untuk meredakan ketegangan. Setelah memikirkan ini, Zaki berkata tanpa ragu, "Baiklah, lakukan sesuai rencanamu. Aku serahkan semuanya kepadamu."Wakil jenderal itu mengangguk pelan, lalu berkata dengan tenang, "Tugas ini sebenarnya cukup sederhana, Jenderal nggak perlu khawatir."Setelah berkata demikian, dia segera menunggang kudanya dan menuju ke depan barisan pasukan untuk menyampaikan perintah.Di kejauhan, Adjie dan Agha yang sedang bersembunyi untuk menyergap, melihat kejadian ini dan termangu.Agha berbisik, "Apa yang terjadi? Kenapa pasukan mereka tiba-tiba berhenti? Apa mereka sudah tahu kita memasang jebakan di depan?"Yang lain juga kebingungan, tidak menyangka situasi akan berkembang seperti ini.Tiba-tiba, Adjie yang memperhatikan deng
Di Hutan Bambu Mayu, Wira dan lainnya sedang menunggu kabar dari pasukan garis depan di dalam perkemahan. Saat ini, seorang mata-mata tiba-tiba berlari masuk dan melapor, "Tuan, kami telah menemukan Hayam dan pasukannya. Mereka telah kembali."Mendengar kabar ini, Wira segera keluar dari perkemahan. Begitu melangkah keluar, dia melihat Hayam dan orang-orangnya turun dari kuda dengan wajah kelelahan.Arhan dan Nafis juga ikut keluar dari perkemahan."Kenapa kalian terlihat berantakan sekali? Apa kalian bertemu bahaya?" tanya Wira langsung.Mendengar pertanyaan Wira yang ternyata lebih mengkhawatirkan keselamatan mereka daripada keberhasilan misi, Hayam merasa sangat terharu.Dia segera memberi hormat dan menyahut, "Tuan, misi telah selesai. Perjalanan kami memang sedikit berbahaya, tapi nggak sampai mengancam nyawa. Saat ini, pasukan musuh seharusnya terjebak dalam jebakan kawat penghalang kuda."Mendengar hal ini, Wira tersenyum. Setelah beberapa saat, dia berucap, "Bagus. Kalau semuan
Pada saat itu, pasukan besar di depan tiba-tiba jatuh secara serempak. Sebagian besar prajurit bahkan langsung tewas akibat benturan keras saat terjatuh.Di tengah barisan, Zaki yang sedang menunggang kuda melihat kejadian ini. Ekspresinya langsung berubah drastis. Dia segera berteriak lantang, "Siaga! Semuanya berhenti! Kita sepertinya disergap!"Meskipun Zaki telah memberikan perintah untuk berhenti, barisan pasukan ini terlalu panjang. Pasukan di depan berhenti, tetapi yang di belakang tidak sempat merespons.Akibatnya, pasukan menjadi kacau balau. Wakil jenderal di sisi Zaki hampir saja terjatuh dari kudanya, tetapi tetap berteriak, "Siaga! Lindungi Jenderal!"Situasi menjadi kacau. Setelah susah payah, mereka akhirnya mulai menata kembali barisan. Namun, wajah Zaki sudah dipenuhi amarah. Dengan suara keras, dia memaki, "Berengsek! Berani sekali mereka menyergapku! Cepat, kirim orang ke depan untuk melihat apa yang terjadi!"Tak lama kemudian, dua tim pengintai bergegas ke depan. S
Orang-orang yang sedang berlari di depan adalah pasukan Hayam. Sesudah menyelesaikan urusan mereka, mereka segera bergerak menuju hutan bambu tua. Saat itu, mereka melihat pasukan besar dari utara mengejar mereka.Saat Hayam berlari di depan, dia mendengar suara derap kuda dari belakang yang bergemuruh. Wakil jenderal yang berada di sisinya sedikit mengernyit dan berkata, "Jenderal, musuh hampir menyusul kita!"Namun, Hayam tetap sangat tenang dan berkata dengan suara rendah, "Jangan panik, terus maju. Begitu kita mencapai area jebakan kuda, semuanya akan jauh lebih mudah."Semua orang mengangguk dan terus berlari secepat mungkin.Di belakang mereka, Zaki dan pasukannya yang terus mengejar, awalnya masih ragu dengan identitas kelompok di depan. Namun, setelah melihat mereka terus berlari tanpa berhenti, Zaki menjadi sangat bersemangat.Dia berkata, "Itu pasti orang-orang Wira! Kalau nggak, mana mungkin mereka lari secepat itu? Sampaikan perintah ke pasukan di belakang, nggak perlu memp
Dalam sejarah, para jenderal perang yang menggunakan trisula sangatlah langka. Ini karena satu trisula setidaknya memiliki berat sekitar 90 kilogram. Orang yang mampu mengayunkan senjata semacam ini sudah pasti sangat ganas dan kuat.Di bawah komando Wira, selain Agha yang menggunakan palu berat dengan kedua tangan, tak ada orang lain yang mampu menggunakan senjata berat semacam ini.Dari sini pula bisa dilihat bahwa Zaki, yang disebut sebagai salah satu tangan kanan Bimala, jelas bukan seseorang yang hanya memiliki nama besar tanpa kekuatan nyata.Wakil jenderal yang mengikuti Zaki tersenyum tipis setelah mendengar kabar itu. Dia menangkupkan tangan dan berkata, "Jenderal, aku nggak setuju. Bertempur seperti ini jauh lebih baik daripada yang kita bayangkan sebelumnya. Kita nggak bisa terus bersembunyi di dalam suku sambil bermain intrik dengan mereka yang bermuka dua."Zaki mendengus dingin dan berkata, "Siapa pun yang berani bermain intrik denganku akan langsung kusingkirkan dengan t