Share

Part 03

—03—

Beberapa hari kemudian...

Dalam beberapa hari yang lalu kegiatan Aleandra terasa biasa saja. Karena sosok yang membuat Aleandra semangat bekerja, tak lagi berkunjung ke tempatnya. Membuat Aleandra bertanya-tanya apakah seorang Marvin akan marah karena gurauannya kemarin, yang mungkin berlebihan untuk pria itu.

Aleandra sendiri merasa seperti orang bodoh, setelah mengucapkan sebuah kebenaran. Dia malah menutupinya dengan tawa yang membuatnya benar-benar terlihat bodoh.

Aleandra melamun saat dia hendak mengambilkan ice pesanan pelanggan. Hingga bosnya menegur dan melihat Aleandra seperti kurang sehat. Jadi menyuruh Aleandra untuk beristirahat sejenak di belakang. Kebetulan hari itu kedai sedang sepi, jadi Aleandra menurut dan duduk di dekat tong-tong kosong bekas penyimpanan ice.

Namun tiba-tiba Marvin datang dan duduk di sampingnya, tanpa disadari oleh Aleandra yang asik melamunkan sesuatu.

"Apa aku begitu dirindukan hingga kau tak konsen bekerja?" tanya Marvin, dan Aleandra mengangguk tanpa sadar bahwa yang berbicara itu adalah Marvin. Gadis itu sungguh seperti raga tanpa jiwa.

Marvin tertawa geli melihat tingkah lucu Aleandra. Dia juga sungguh tak menyangka bahwa pesonanya mampu membuat gadis itu melamun tak karuan.

Aleandra tersadar saat tawa Marvin terdengar sangat mengganggu lamunannya. Dia menatap Marvin dengan tatapan bingung bercampur malu.

"Sejak kapan kau di sini? Dan apa yang kau lakukan? Apa tadi kau yang...." Aleandra nenutup mulut dengan telapak tangannya, lalu menunduk malu.

"Astaga Al... Kau pasti terlihat bodoh di depannya," batin Aleandra.

"Kau tak terlihat bodoh sama sekali Al. Kau cantik," puji Marvin membuat Aleandra tersipu dan tak dapat menyembunyikan rona wajahnya.

"Kau menggodaku! Sedang apa kau di sini?"

"Itu yang ingin kutanyakan padamu? Apa yang kau lakukan di sini? Hingga bosmu menyuruhku melihatmu," ujar Marvin bergerak tak nyaman karena tempat itu berada di bawah dan atapnya sangat rendah.

"Aku...."

"Apa kau sakit?" tanya Marvin memegang kening Aleandra dengan punggung tangannya.

"Astaga... Ada apa dengan jantungku?" batin Aleandra. Dia merasakan detak jantungnya berdetak menjadi lebih cepat, saat Marvin memeriksa suhu tubuhnya.

"Kau tak demam, lalu apa yang membuatmu melamun sepanjang hari ini?"

"Kau," guman Aleandra.

"Apa?" tanya Marvin walau dia belum tuli, hanya untuk memastikan pendengarannya.

"Hah? Ah kakakku. D-dia...." Marvin tertawa melihat kegugupan Aleandra, membuatnya gemas, dan mungkin tak akan tahan untuk mencium gadis itu. Jika dia tak mengakhiri kegugupan gadis itu sekarang juga.

"Aku senang kau merindukanku, dan menjadikanku lamunanmu. Tapi ada hal penting lain yang ingin kubicarakan, bagaimana?"

"Astaga... Aku tak tau bahwa kau mempunyai tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Walau semua itu memang benar," ujar Aleandra sedikit bergumam diakhir kalimatnya. Membuat Marvin kembali tertawa.

"Sudahlah. Ayo keluar, aku akan meminta ijin bosmu agar kau bisa pulang sekarang," ujar Marvin beranjak lebih dulu, membiarkan Aleandra menormalkan detak jantungnya.

"Aku yakin, lima menit lagi aku berada di sana dengannya, aku pastikan akan merasai bibirnya. Oh ini seperti ujian berjalan di atas benang, jika terjatuh aku akan mendapat masalah," batin Marvin.

Lalu Marvin menemui bos Aleandra dan meminta ijin untuk Aleandra bisa pulang. Karena melihat kondisi Aleandra jadi pemilik kedai itu mengijinkannya untuk pulang.

***

 

Dan disinilah sekarang Aleandra dan Marvin, di hotel tempat Marvin menginap. Hotel mewah dengan fasilitas megah untuk sebuah kamar yang memiliki ruang kerja lengkap dengan fasilitasnya, dan ruang santai dengan televisi yang besar. Serta kamar mandi yang tak kalah besar dan pembatas ruang tidur dengan ruang kerja dan santai, semua tertata dengan teratur.

Aleandra bahkan merasa kamar itu lebih besar dari rumah yang dia sewa.

Seorang asisten yang terlihat kaku dan serius memberikan map coklat pada Marvin lalu pergi.

"Kemari Al," pinta Marvin duduk di sofa, Aleandra masih betah melihat-lihat keadaan kamar yang cukup besar karena Marvin menyewa kamar paling mahal di situ.

Aleandra duduk di sofa walau matanya masih melihat sekeliling  bahkan ruang santainya saja lebih besar dari kamar tidurnya dirumah.

"Kau ingin tinggal di sini?" tanya Marvin jahil.

"Hah? Di sini? Denganmu? Hanya berdua?" tanya balik Aleandra dengan polosnya dan Marvin hanya mengangguk sebagai jawabannya.

"A...ku akan pikirkan," ujar Aleandra tampak ragu. Dan Marvin tertawa.

"Apa ada yang lucu?" tanya Aleandra bingung, dia masih tak mengerti bahwa dirinya sedang dikerjai.

"Sudahlah... Jangan terlalu banyak berpikir, apalagi berpikiran kotor bersamaku. Tapi, jika kau ingin aku akan kabulkan," gurau Marvin dan Aleandra baru mengerti arah pembicaraan Marvin, dia tergelak dan memukul bahu Marvin.

"Oh ya ampun... Kau sungguh mesum! Aku tak berpikir sampai ke sana! Astaga...." Aleandra berujar sambil memukul ringan bahu Marvin.

"Baiklah, aku hanya ingin kau kembali ke dunia nyata, karena sejak tadi kau sungguh tak nyambung saat menjawabku," ujar Marvin menghentikan pukulan Aleandra. Dia memegang tangan gadis itu, lalu mereka saling bertatapan selama beberapa detik.

"Astaga... Gadis ini sungguh berbahaya, dia ini seperti dewi penguji iman," batin Marvin.

"Oh apa mungkin saat ini jantungku sakit? detaknya sudah tak normal sejak tadi!" batin Aleandra.

"Hm..., baiklah... Begini Al, aku mengajakmu ke sini untuk menawarkanmu sesuatu," ujar Marvin melepas genggamannya lebih dulu, sebelum dirinya terbawa suasana dan mencium gadis itu.

"Sialan! Ada apa denganku? Kenapa menjadi gugup?!" batin Marvin.

"Ah ya... Apa yang ingin kau tawarkan?" tanya Aleandra terlihat salah tingkah.

Marvin membuka map yang diberikan asistennya barusan.

"Ini, aku sudah menyiapkan semua ini untukmu, bagaimana menurutmu?" Marvin menunjukkan map itu kepada Aleandra.

Aleandra melihatnya sekilas dan mengerti apa yang ada di map itu.

"Maaf, aku tak bisa. Ini...." Aleandra menggeleng menolak pemberian Marvin.

"Kenapa Al? aku sungguh ingin membantu, aku tak akan meminta apapun."

"Tidak Marvin, kita baru kenal beberapa hari. Aku tak bisa, ini terlalu besar. Lagipula kakakku tak ada yang menjaganya nanti," ujar Aleandra kembali menolak secara halus.

"Ayolah Al... Kau membutuhkan ini, aku merasa sangat menyayangkan jika kau tak melanjutkan studymu," ujar lagi Marvin memaksa.

"Tidak Marvin, sungguh aku tak bisa. Sudahlah... Aku ingin pulang saja. Maaf sekali, aku tau niatmu baik. Dan aku berterima kasih untuk itu. Tapi... Aku tak bisa menerimanya Marvin." Aleandra hendak beranjak namun Marvin menahannya.

"Baiklah... Tapi, bisakah kau pikirkan dulu? Aku akan mengantarmu pulang dan kau bisa membicarakannya pada kakakmu, tolong pikirkan lagi Al?" Marvin ikut berdiri, dan menyodorkan map itu ke hadapan Aleandra yang nenatap map itu kembali.

"Simpan saja padamu, aku akan bicarakan pada kakakku nanti." Aleandra mendorong map yang disodorkan kepadanya.

"Baiklah... Ayo, ku antar kau pulang." lalu mereka pulang ke rumah Aleandra.

***

Keadaan rumah yang sepi menandakan bahwa tak banyak penghuni di rumah sederhana tersebut.

Rumah bercat putih dan hanya memiliki dua kamar tidur yang kecil, serta ruangan makan dan dapur yang minim peralatan. Tapi di sanalah Aleandra tinggal dengan kakaknya untuk sementara ini.

"Kenapa kau sudah pulang Al? Apa kau sakit?" tanya Leanor ketika melihat adiknya pulang ditemani Marvin.

"Tidak ka, aku baik saja." Aleandra memasuki kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Lalu beberapa saat kemudian dia keluar dan melihat Lea dan Marvin sedang membicarakan masalah study lanjutannya.

"Kemari Al," pinta Leanor, lalu Aleandra bergabung dengan Leanor dan Marvin di ruang tamu.

"Aku langsung ke intinya saja Al... Kau yakin tak ingin menerima bantuan Marvin?" tanya Leanor. Aleandra terdiam menatap map itu penuh harap. Dia ingin, namun tak mau menyusahkan orang lain, apalagi orang yang baru dia kenal.

"Tapi ka, bukankah kakak sendiri tak ingin menerima banyak bantuan dari orang lain, aku tak ingin menyusahkan Marvin."

"Kali ini aku mengijinkannya, kau butuh ini Al. Bagaimana? Apa ijinku masih kurang untuk meyakinkanmu?"

Aleandra menatap Marvin yang memainkan alisnya menunjuk ke map tersebut.

Aleandra menarik napasnya dan memejamkan matanya sesaat. Lalu menjawabnya.

"Baiklah ka, karena ijinmu aku menerimanya. Tapi aku akan tetap bekerja di kedai ice itu. Aku akan tetap mencari uang saku."

"Tentu kau boleh melakukannya, tapi jangan sampai kau kelelahan," ujar Leanor.

Lalu Aleandra dan Leanor mengucap terima kasih kepada Marvin.

***

Beberapa hari kemudian...

Aleandra sudah siap untuk masuk perguruan tinggi, melanjutkan studynya yang tertunda.

Dia yang pagi tadi dijemput dan diantarkan langsung oleh Marvin menuju kampus, sekarang sedang menyesuaikan diri dengan para gadis pelajar dan beberapa pria yang senang menggoda beberapa gadis cantik di kampus.

Aleandra yang saat ini menjadi pusat perhatian sebagai mahasiswi baru. Ditambah lagi Aleandra yang tadi terlihat diantarkan oleh Marvin, yang notabenenya digemari banyak gadis pelajar seperti waktu itu. Menjadikan Aleandra trending topic  sejak kedatangannya sampai saat jam pelajarannya sudah selesai.

Dia berniat berjalan ke halte bus untuk menuju ke kedai ice. Namun para pria yang sejak tadi menggodanya, sekarang sedang mengikuti Aleandra dengan berniat menawarkan tumpangan dan kembali menggodanya.

"Hai... Anak baru, butuh tumpangan?" tanya seorang pria yang paling banyak bertingkah. Aleandra terus berjalan dan mengabaikan panggilan tersebut.

Para pria itu kembali memajukan mobilnya berniat menghalangi jalan Aleandra. Namun pergerakkannya sudah di dahului oleh sebuah mobil sedan hitam keluaran terbaru dari audi. Membuat semua mata yang ada di dekat pintu keluar menengok untuk melihat apa yang terjadi.

Marvin keluar dari mobil itu dan menghampiri Aleandra yang masih sedikit terkejut.

"Apa ada yang mengganggumu?" tanya Marvin.

"Hei orang tua! Bisa kau minggir dari sasaran kami? Apa istrimu yang tua tak dapat memuaskanmu?!" teriak pria konyol itu lalu teman-temannya tertawa keras membuat keadaan semakin ramai.

Marvin menatap tajam para pria konyol itu dan berniat memberi pelajaran. Namun Aleandra menahannya dan meminta untuk mengabaikan orang-orang itu. Karena memang dia hanya ingin belajar di sana, tanpa mempunyai masalah dengan yang lain.

Marvin memilih diam dan menuruti kata Aleandra, lalu mengajak Aleandra untuk masuk ke dalam mobilnya.

"Astaga pria tua ini sudah tuli rupanya," teriak lagi pria konyol itu, lalu turun dari mobil dan menghampiri Aleandra dan Marvin. Berniat menarik tangan Aleandra namun belum sempat terlaksana, Marvin menarik tangan pria itu dan berkata.

"Jangan pernah menyentuhnya!" ketus Marvin. Namun mahasiswa itu, masih keras kepala dan menantang Marvin.

"Kau hanya supirnya bukan? Berani sekali kau melarangku!?" Aleandra geram dan menampar pria konyol itu lalu berkata.

"Dia ini calon suamiku!" tukas Aleandra lalu mencium Marvin di depan semuanya. Dan mengajak Marvin masuk ke dalam mobil.

**

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status