Share

08 | Tabir Rahasia

"Elena An?"

Seorang pemuda berujar lirih bersama halimun tipis berwarna ungu yang perlahan pudar. Halimun itu memudar, menyelinap kembali dalam telapak tangan sang pemuda bersama dengannya yang nampak nyata setelah melebur bersama angin.

Arganta, pemuda keturunan Plum itu menghentikan langkahnya saat akan masuk ke dalam rumah milik Han. Tak sengaja, atensinya menangkap cahaya berwarna ungu yang bersinar.

Awalnya, cahaya ungu itu mengaburkan sosok wanita bersurai panjang yang tampak tidak jelas, dikaburkan gelap malam. Arga kira dia adalah Gwen atau Freya. Namun, saat cahaya ungu kabur yang berkilauan nampak dari seorang gadis berkulit putih, surai keunguan yang jelas, serta tanda bulan sabit di bawah matanya yang kabur, Arga yakin gadis itu Elena An.

Tak berani menampakkan diri, Arga memilih menatap Elena yang berbincang dengan Han dari kejauhan. Ia tak percaya bahwa gadis yang selalu terkurung di istana Purpura paling luar itu akhirnya bisa masuk ke dunia ini. Durango, dunia yang seharusnya tidak pernah ia datangi.

"Elena, gladi kotor kematianmu mungkin akan segera tiba. Juga, masa lalu itu mungkin akan terulang kembali," Arga berujar lirih, masih memusatkan pandangannya pada Elena yang tersenyum bersama Han.

Arganta benar-benar tak bisa memalingkan tatapannya dari Elena. Ia sangat merindukan Elena. Gadis misterius yang pernah ia temui di istana terluar kerajaan Purpura. Gadis misterius yang ternyata merupakan seorang Orchid, takdir yang terikat dengannya di bawah cahaya berwarna keunguan bernama Orchid Trabem.

"Elena dan Dalanseok?" gumam Arga lirih, tatapannya beralih dari Elena kepada Han. Ia dapat melihat dengan jelas cahaya berkilauan dari baju milik Han.

Arga mengepalkan kedua tangannya, menahan emosi yang sudah seratus delapanpuluh di atas kepalanya dan mendesah pelan. Ditatapnya langit Jakarta temaram dengan sedikit cahaya bintang, lalu mengembuskan napasnya panjang. Arga menatap Elena dan Han dengan tatapan tak percaya, lalu kembali menatap langit.

"Hei, Sialan! Siapapun kau yang menciptakan dua dunia ini, kau sungguh keterlaluan!" pekiknya.

Arga kembali menatap kalung Dalanseok yang melingkar di leher Han denan tatapan yang sulit diartikan, lalu memekik frustasi. 

"Di antara jutaan Saram, kenapa harus Han?"

***

Galen berdiri di puncak atap yang tajam, menyeimbangkan tubuh pada jari-jari kakinya yang tanpa alas. 

Tak memiliki kerjaan lain dan larut dalam rasa penasaran, Galen memutuskan untuk berteleportasi menuju rumah milik Gwen. Namun naas, ia justru mendarat di tempat yang salah. Galen mencoba untuk bergerak maju, menuju tepi yang mungkin terlihat sedikit aman dibandingkan puncak rumah Gwen.

"Gwen!" pekik Galen saat ia tak sengaja melihat seorang gadis dengan surai dikepang dua keluar dari rumah tempatnya berada.

Gwen menghentikan langkahnya, lalu mendongakkan kepalanya ke atas dan tertawa. Ia tak percaya bisa melihat seorang raja dari kerajaan Purpura yang menurutnya agung terlihat bodoh, terombang-ambing menyesuaikan dirinya di atas atap rumah.

"Yang Mulia, apa kamu benar-benar bodoh? Kamu bahkan tidak bisa memperkirakan kekuatan teleportasimu itu," Gwen terkekeh. Tawa yang terlukis di wajahnya yang selalu nampak muram, entah kenapa justru membuatnya nampak cantik. Gwen mempesona.

"Turunlah. Sepertinya kamu memiliki banyak pertanyaan juga," kata Gwen.

Galen yang sebenarnya sangat kesal, langsung kembali menghilang. Kali ini, ia berhasil dan muncul tepat di samping Gwen yang duduk di kursi halaman rumahnya. Gwen, gadis itu kemudian memberikan sekaleng bir untuk Galen.

Galen mencoba untuk meneguk minuman yang diberikan Gwen. Sudah lama ia tak merasakan minuman seperti itu sejak menjadi seorang raja di Purpura. Ia terpaksa harus menjaga kesehatannya agar memiliki umur panjang.

"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Gwen.

Menatap ke arah Gwen, Galen memutar matanya malas dan tiba-tiba merasa kesal dengan sikap Gwen. "Hei, kenapa kamu memperlakukanku dengan santai? Kenapa kamu bisa tersenyum kepadaku? Aku lebih menakutkan dari Zayed dan Han. Kenapa kamu seolah tidak takut kepadaku?!" tukasnya.

Gwen yang baru saja meneguk minumannya, mengulas sebuah senyum. "Karena kamu membuatku nyaman, dibandingkan mereka."

Galen tiba-tiba terdiam. Sepasang atensinya menatap Gwen tak percaya. Untuk pertama kalinya, seseorang mengatakan nyaman dekatnya. Padahal, Galen bukan orang sebaik itu. Ia bisa saja berubah menjadi monster yang menyeramkan, jika ingin.

"Lupakan. Ceritakanlah kepadaku semuanya. Aku penasaran. Ceritakanlah semua ramalan yang tidak tertulis di bukit Garis Takdir," kata Galen.

Tak ada jawaban dari gadis di samping Galen. Hanya ada suara tegukan kecil, lalu desahan yang panjang. Galen tak habis pikir dengan Gwen. Baru sekaleng saja bir yang ia teguk, gadis itu sudah terlihat sangat mabuk dan hampr kehilangan kesadarannya.

"Masa lalu yang menyakitkan itu akan segera dimulai," kata Gwen. "Semua akan kembali ke tempat asalnya."

"Apa maksudmu?" Galen bertanya  bingung.

"Yang Mulia, kamu tahu kan jika kita semua hanya mengulang tragedi yang pernah terjadi di masa lalu? Kita adalah reinkarnasi dari para pendahulu kita. Semuanya akan kembali ke tempat asalnya, ini mungkin jadi yang terakhir," ujar Gwen.

"Hei!" Galen yang kesal menjitak kepala Gwen. "Bisakah kamu mengatakannya dengan kata-kata yang bisa aku pahami?!" tukasnya kesal.

Gwen tertawa kecil, manis sekali. "Baiklah, bodoh."

"Laviosa, kamu tahu kan? Dia sebenarnya adalah Saram yang menemukan Purpura. Dia tak sengaja menemukan kalung bulan sabit berwarna ungu, Dalanseok," ujar Gwen.

Galen sedikit terperangah. "Jika Dalanseok yang menemukannya adalah Laviosa dan semua akan kembali ke asalnya, apakah Han adalah Laviosa?" tanyanya.

"Bukan. Dia hanya Saram. Kalung itu memilih Han karena dulu Laviosa memberikannya pada seorang Purpura pilihannya. Purpura itu adalah Han terdahulu," jawab Gwen.

Galen menatap Gwen bingung. Sepertinya, pemuda itu benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Gwen.

"Lalu siapa Laviosa yang kamu maksud?" tanya Galen.

Gwen tersenyum. Kali ini terlihat sangat datar. "Kukira dia adalah Elena."

Galen lagi-lagi tersentak. "Apa maksudmu? Kenapa Elena" tanyanya.

"Karena dia merupakan reinkarnasi dari Yang Mulia Jeslyn. Saram yang menguasai dunia Purpura itu. Dunia yang seharusnya tidak diganggu keberadaannya," ujar Gwen.

"Jeslyn? Lalu kenapa dia harus menjadi Orchid, bukan Saram seperti terdahulunya?" tanya Galen.

Gwen terdiam sebentar. Gadis itu lalu menangkum wajahnya dengan kedua tangannya. Kemudian, ia menatap langit Jakarta yang begitu temaram.

"Apakah itu hukuman atau justru takdir untuknya. Aku tidak tahu. Satu yang pasti, Jeslyn dahulu menguasai Purpura dan menghancurkan bangsa yang paling berkuasa, Violeta. Jeslyn menjadikan Violeta kasta terendah di sana. Setelah itu, Violeta menjadi pendendam dan darah pembunuh mengalir dalam tubuhnya. Violeta berniat untuk memburu dan membunuh seluruh keturunan Laviosa, yaitu Lavender. Juga yang terakhir adalah Orchid yang seharusnya tidak pernah dilahirkan," kata Gwen.

"Lalu, apa yang terjadi pada Yang Mulia Jeslyn?" tanya Galen.

Gwen menatap Galen dengan raut wajah yang sulit untuk ditebak. Lalu, ia mengembuskan napasnya panjang. "Kematian. Karena keserakahannya, dia mati dengan mengenaskan di tangan Violeta. Ia mati dalam ketidakbahagiaan dan dalam keadaan sedang mengandung anak dari Han terdahulu."

"Anak itu adalah Orchid," kata Gwen, lalu kembali meneguk minumannya.

"Apakah Elena akan berakhir tragis? Apakah ada cara untuk menghentikan kematiannya yang sudah tertulis di Bukit Garis Takdir?" tanya Galen.

Gwen tersenyum, lalu menangkup wajah Galen Byakta. Galen menatapnya heran. Sementara, perlahan gadis itu mulai kehilangan fokusnya dan terlihat sangat mabuk.

"Sebaiknya kamu masuk. Kamu mabuk!" tukas Galen.

"Benarkah?" Gwen terkekeh. "Kalau begitu biar kuberitahu dulu cara untuk menyelematkan Yang Mulia Orchid," Gwen berbisik.

Gwen kemudian mengerutkan dahinya, lalu meneteskan air mata dari kedua sudut matanya. Gadis itu menatap datar ke arah pepohonan rimbun di sekitar rumahnya. Perasannya tiba-tiba berkecamuk. Gwen merasa sedih.

"Hanya dia yang bisa menyelematkannya. Namun, perasaan mereka yang salah justru mengantarkannya pada kematian," Gwen bergumam lirih.

"Dia? Dia siapa? tanya Galen bingung.

Gwen kembali menatap Galen. Gadis aneh itu tiba-tiba tersenyum. Namun, bukannya mengucap sepatah kata, ia justru tak sadarkan diri tepat di hadapan Galen.

Galen menatapnya dengan tatapan kesal, namun ada kehangatan  di antara binar mata yang biasa nampak kejam dan dingin.

"Aku tahu hidupmu sulit, tapi alkohol bukanlah jalan keluarnya, Gwen," lirih Galen seraya mengusap surai hitam gadis itu.

***

Liliana berdiri menatap kota Jakarta masih dari ketinggian dengan wajah muramnya.

Ia berada di perpustakaan pribadi miliknya. Beberapa kali ia nampak menghela napasnya. Gadis Violeta itu terlihat sedang memikirkan banyak hal di kepalanya, termasuk pembunuhan yang akan ia lakukan pada gadis Orchid keturunan terakhir keluarga Lavender dan Laviosa.

Namun, pikirannya tiba-tiba buyar. Liliana menoleh saat ia mendengar langkah berat di ruang perpustakaannya. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Gadis Violeta itu kemudian mengeluarkan sebilah pisau dari telapak tangannya. Perasaannya tidak enak. Entah kenapa ia merasakan bahaya sedang menatapnya dalam hening.

"Siapa kau?" tanya Liliana tanpa menoleh ke belakang. Itu bukan Arganta, kekasihnya. Juga, bukan Freya.

Meskipun memiliki kekuatan luar biasa dan darah pembunuh mengalir di tubuhnya, Liliana masih menjadi gadis penakut. Hal yang paling ia takuti adalah pembunuh tak kasat mata dan juga bangsa Plum.

Tak ada jawaban. Namun, Liliana dapat merasakan sosok itu bergerak menuju kepadanya. Tetes air tiba-tiba berceceran bercampur dengan kentalnya darah berwarna ungu yang memudar.

"Yah! Mati kau!"

Liliana berbalik dan melemparkan pisau miliknya seraya meniupkan angin kencang di sekitarnya yang membuat sosok tersebut tersungkur ke belakang. Tubuhnya condong ke depan, mendarat dengan wajah di atas lantai sambil menyeringai kejam. Darah berwarna ungu gelap tiba-tiba mengalir deras. Tudung jubahnya tersibak ke samping, menunjukkan wajah sosok yang tak asing, namun matanya mengeluarkan sinar berwarna putih. Sosok itu adalah pembunuh tak kasat mata.

Liliana dengan sigap mengambil kembali pisau yang sudah ia lemparkan dan menodongkannya pada sosok tak asing itu.

"Selama ini kamu adalah pembunuh tak kasat mata?" tanya Liliana tak percaya.

Sosok itu berdiri dan menyunggingkan sebuah senyuman menyebalkan pada Liliana seraya mengusap darah ungu yang terus keluar dari mulutnya. "Tenang saja. Aku tidak menyukai darah gadis Violeta sepertimu,"

"Lalu kenapa kamu berada di sampingku selama ini?" tanya Liliana.

Pria itu tersenyum kemudian menghampiri Liliana. Namun gadis itu terus melangkah mundur dan terlihat sangat ketakutan.

"Bukankah pembunuh tak kasat mata adalah seorang perempuan?" tanya Liliana.

"Betul, Liliana Moon," Katanya. Pria bernama Adias Kalandra itu tiba-tiba berubah menjadi seorang gadis muda, membuat Liliana semakin terkejut.

"A-Alin?" Liliana menatap tak percaya melihat Adias tiba-tiba berubah menjadi seorang gadis bernama Alin Kanaya. Saram yang sudah lama meninggal karena kesalahan Liliana di masa lalu.

"Ya, ini aku Alin Kanaya yang telah lama mati di tanganmu," ujarnya seraya menampilkan senyuman mengerikan di wajahnya.

"Liliana, kamu pasti terkejut," Alin tiba-tiba berubah kembali menjadi Adias, pemuda yang sangat ia kenal.

Liliana menatap tak percaya dan terus melangkah mundur dengan pisau yang terus ia todongkan pada Adias. "Apa yang kamu inginkan dariku, Adias?"

"Nyawa Orchid. Jangan sakiti apalagi membunuhnya, gadis Orchid terakhir itu adalah milikku. Aku tahu dia buruanmu, tapi dia adalah makanan terakhirku sebelum aku pergi," kata Adias diselingi suara tawa kecil yang cukup memekik telinga.

"Tapi aku harus membunuhnya!" tukas Liliana.

Adias menyeringai. "Kamu tidak bisa membunuhnya jika manusia Lavender, Plum, Thistle, kalung Dalanseok dan dua Orchid bintang berada d isisinya, Liliana Moon," tukas Adias.

"Aku akan membunuh mereka terlebih dahulu sebelum aku membunuh Orchid!" yukas Liliana.

"Kamu sangat berambisi, Liliana. Um... aku akan membiarkanmu kalau begitu. Bunuhlah Orchid sesukamu," katanya.

Adias, pembunuh tak kasat mata itu kemudian duduk di kursi milik Liliana dan mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Bertingkah angkuh seperti biasa. Adias lalu menatap Liliana yang masih setia menodongkan pisau miliknya kepadanya. 

"Jika kamu berniat membunuh Orchid, apakah kamu tahu di mana dia sekarang? Dan bagaimana cara membunuhnya dengan benar agar pengulangan kisah masa lalu tidak terjadi kembali pada anak cucu kita?" tanya Adias.

"Aku memiliki Shadows di sampingku!" tukas Liliana.

"Benarkah?" tanya Adias seperti meremehkan. "Dia, Freya Mori Eugenia sungguh tidak berguna. Ada Shadows yang lebih kuat dan mengetahui hampir semua tentang duniamu," ujar Adias.

Liliana menatap Adias bingung. "Apa maksudmu? Bukankah Shadows hanya ada satu keluarga saja?" tanya Liliana.

Adias mengangguk. "Mereka dari keluarga yang sama, namun keturunan yang berbeda. Mereka sama-sama menjadi yang terakhir," ujar Adias.

"Siapa dia?" yanya Liliana.

Adias beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Liliana. "Dia adalah Gw-"

"Lili..."

Liliana dan Adias terkejut kemudian menatap ke arah ambang pintu. Arganta Chand Japa berdiri di sana seraya menatap Liliana dan pria yang sangat asing untuknya. Arga kemudian berjalan menghampiri Liliana dan menatap sedikit sinis kepada Adias yang terus tersenyum.

"Liliana, siapa dia?" tanya Arga.

Liliana terlihat gugup dan ketakutan. Gadis Violeta itu kemudian melingkarkan tangannya pada lengan Arga dan tersenyum canggung. "Dia adalah....di-"

"Liliana, aku akan mengambil buku ini. Nanti aku kembalikan di kampus," kata Adias. Ia kemudian berlalu meninggalkan ruang perpustakaan milik Liliana menyisakan gadis itu bersama sang kekasih, Arga.

"Dia temanku di kelas Mass Communication," Liliana tersenyum. Gadis itu kemudian menyembunyikan pisau miliknya kembali ke dalam telapak tangannya.

Ternyata kau menyembunyikannya di sana, Liliana. Batin Arga saat melihat pisau pembunuh milik Liliana dimasukkan ke dalam tubuh gadis itu melalui telapak tangan, tepat di sela-sela jemarinya.

"Apa yang membawamu kesini, sayang?" tanya Liliana.

Arga tersenyum dan mengusap wajah gadisnya. "Aku baru saja membaca tentang Purpura. Kau tahu kan? Argghh membacanya membuat kepalaku sakit.." kata Arga seraya menyandarkan kepalanya di pundak Liliana, lalu merengkuh tubuh gadis itu.

Liliana terkejut dan tersenyum canggung menanggapi kekasihnya itu. "Untuk apa kamu membacanya?"

"Aku hanya penasaran apakah dunia itu benar-benar ada," ujar Arga.

"Jika dunia itu ada, apa yang akan kamu lakukan, Arganta?" tanya Liliana sedikit ragu.

Arga menoleh ke arah Liliana dan tersenyum. Pria Plum itu kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Liliana. "Jika dunia itu ada, aku tidak akan mempedulikannya. Aku hanya ingin bersamamu, Liliana Moon," bisiknya.

Liliana tersenyum kemudian menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan pria itu. Arga lalu mengangkat tubuh gadis itu menjadi dalam gendongannya. Liliana melingkarkan tangannya pada leher Arga dan mendekatkan wajahnya pada wajah pria itu.

"Liliana, ayo kita lakukan malam ini," Arga berbisik, begitu menggoda Liliana.

Pria Plum itu langsung menyambar bibir berwarna peach yang sebenarnya ungu milik gadis itu. Arga menciumnya dengan lembut, namun menuntut. Ia kemudian membawa gadis itu ke kamar tidurnya dan menidurkannya di atas ranjang berukuran king size milik Liliana.

Arga tersenyum, Liliana juga. Arga yang entah kerasukan apa, langsung melucuti baju milik Liliana. Tubuh indah Liliana nampak jelas terlihat, membuat Arga terus menjelajahinya lebih dalam hingga gadis itu mabuk karena sentuhannya. Mereka larut pada cinta yang sebenarnya tak pernah tumbuh di dalam hati Arga. Hanya Liliana yang merasakannya.

Liliana, aku akan mengambil alih kekuatanmu malam ini. Mari kita lakukan.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Quin Nara Al
WAW Arga dan Lili adegan dewasa
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status