Sudut pandang Mark:"Pak, Nona Bella datang untuk menemuimu. Dia sedang menunggu di bawah saat ini." Suara itu terdengar melalui telepon, menarik perhatianku dari tumpukan berkas di atas meja.Aku menyandar pada kursi dan merenung, bertanya-tanya mengapa dia datang kali ini. Apa dia datang dengan kebohongan baru yang begitu meyakinkan hingga bakal membuatku memercayainya? Aku tidak akan terkejut kalau kali ini dia mengklaim dirinya mengidap leukemia.Aku mencondongkan tubuhku ke depan dan menekan tombol panggilan. "Biarkan dia masuk!"Mari kita lihat apa yang dia rencanakan kali ini."Baik, Pak," jawab orang dari seberang telepon dengan cepat.Beberapa detik kemudian, aku melihat pintu perlahan menderit terbuka, lalu Bella memasuki ruangan.Mataku langsung memindai tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala. Dia mengenakan gaun turtleneck hitam yang sangat ketat hingga memperlihatkan tubuh rampingnya yang anggun. Bibirnya dilapisi lipstik warna merah menyala dan sepasang kacamata hitam bes
Aku membuka laci bawah di sebelah kananku dan mengeluarkan salah satu kartu bankku. Kemudian, aku menaruhnya di atas meja dan mendorongnya ke sisi lain meja agar Bella bisa meraihnya.Aku menarik tanganku kembali dan menunjuk kartu itu dengan daguku. "Ada 15 miliar di kartu itu. Mungkin lebih. Ambil saja semuanya. Itu cukup untuk memulai hidup baru yang mewah."Aku menyaksikan kecepatannya menyambar kartu bank itu dari meja. Dia menghindari tatapanku saat dia menyelipkannya ke dalam tasnya. Kemudian, dia mendongak. "Ini nggak cukup. Kamu berjanji akan membelikanku Luxe Vogue dan kamu belum melakukannya."Aku mencibir saat mengingat janji yang kukatakan kepadanya saat aku menidurinya. Betapa bodohnya gadis itu. "Kamu percaya ucapan pria di ranjang?" Aku mengejek lagi, "Jangan konyol, Bella."Dia langsung menjawab, "Aku akan bersikap konyol kalau itu bisa membuatmu memenuhi janjimu. Kamu menjanjikanku Luxe Vogue dan sekarang aku menginginkannya."Aku menatapnya, menelusuri raut wajahnya.
Sudut pandang Sydney:Aku ternganga menatap pria yang memasok katun kepada kami itu. Mulutnya terkatup rapat dan matanya menghindari tatapanku saat dia tetap bungkam."Kenapa?" ulangku. Aku telah menanyakan pertanyaan ini ribuan kali, tetapi pria itu terus mengatakan kepadaku bahwa dia tidak ingin berbisnis dengan Luxe Vogue lagi.Pemasok berhenti memasok bahan baku lagi bukanlah masalah bagi kami. Maksudku, kami bisa dengan mudah mencari pemasok lain dengan kualitas yang sama. Ya, proses mendapatkan pemasok resmi dengan kualitas tinggi yang sama akan merepotkan, tetapi kami pasti bisa mendapatkannya.Masalahnya di sini adalah bahwa selama berminggu-minggu ini, semua pemasok Luxe Vogue telah menarik diri.Beberapa pemasok, seperti yang duduk di depanku ini, cukup sopan untuk datang menemui kami secara langsung dan menarik layanan mereka. Sementara itu, beberapa pemasok lain bahkan tidak peduli dan hanya mengirim surel, 'Selamat siang, kami tidak akan memberikan layanan kami kepada peru
Napas akuntan itu terengah-engah saat dia berbicara, "Syukurlah. Kupikir Ibu nggak akan datang.""Apa lagi kali ini?" tanyaku dengan nada datar. Aku bahkan tidak bisa berpikir jernih lagi."Mitra logistik dan pergudangan Luxe Vogue menelepon," katanya sambil membentangkan kertas-kertas di mejaku. "Mereka sudah menaikkan harga dan menuntut uang muka setahun. Kalau ditolak, mereka nggak mau bermitra lagi."Grace dan aku saling pandang. Grace tiba-tiba berdiri. "Aku nggak bisa melakukan ini sekarang. Aku nggak bisa! Kita ketemu di ruang konferensi," gerutunya sambil bergegas keluar pintu.Aku melihatnya pergi. Semua hal yang terjadi ini benar-benar gila. Semuanya terjadi begitu cepat sehingga sulit dilacak."Katakan kepada mereka kita akan membayarnya," kataku kepada akuntan itu. "Mereka seharusnya memberi kita waktu beberapa hari."Kemudian, aku bergumam pelan, "Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mulai mencari rekanan baru. Luxe Vogue benar-benar hancur."Aku menyeret kakiku ke ruang
"Bagaimana kalau kita jual perusahaan kepada mereka saja? Kita jual saja selagi masih bisa. Aku benar-benar nggak ingin berakhir dengan tangan kosong," ucap Grace.Suaranya mulai bergetar saat berbicara, "Maaf, tapi aku benar-benar takut menjadi miskin lagi. Aku bahkan nggak mau membayangkan mengalami masa-masa sulit itu lagi. Aku nggak bisa."Dia menggelengkan kepalanya dengan lemah dan cengkeramannya di sisi gaunku mengencang. "Aku nggak bisa kembali ke masa-masa itu."Dia mulai menangis lagi dan aku menghiburnya, "Jangan takut, ada aku. Kita hadapi bersama-sama. Mari kita terus bertahan. Dalang di balik semua ini pasti akan menunjukkan diri. Saat itulah kita akan tahu apa yang harus dilakukan."Aku memutarnya menghadapku dan menatap tajam ke arahnya. "Tenanglah. Ini bukan saatnya untuk panik. Ini saatnya untuk tetap kuat dan menjaga harapan kita tetap hidup."Grace mendengus dan mengangguk sambil terisak."Baiklah."….Setelah berhari-hari menerima berita buruk, kekhawatiran dan ket
Sudut pandang Mark:Aku menoleh kaget saat pintu kantorku terbuka lebar. Asistenku melangkah masuk, alisnya berkerut dan matanya melebar karena takut dan khawatir."Kenapa kamu menerobos masuk seperti itu?" Aku berdiri dengan marah.Dia mencoba menenangkan napasnya yang tidak teratur sebelum berbicara. Aku bertanya-tanya apakah dia berlari ke sini. "Sydney datang kemari. Melihat ekspresi di wajah dan langkahnya, nggak ada yang berani menghentikannya. Bahkan petugas keamanan. Aku bisa …."Pandanganku dengan cepat beralih ke pintu saat pintu itu didorong terbuka lagi dengan kasar. Asistenku melompat menjauh dari pintu saat Sydney menerobos masuk.Sydney langsung menuju ke mejaku dan membanting tasnya ke mejaku. Dia mengarahkan tatapan matanya yang menggelegar ke arahku dan berteriak, "Mark, apa sebenarnya yang kamu lakukan? Kenapa kamu mempersulitku?"Aku mengangkat alis dan melirik dengan terkejut ke retakan kecil yang baru saja dibuatnya di mejaku. Aku bertanya-tanya apa penyebab kemar
Aku mengangguk perlahan ketika menerima informasi ini. "Kenapa kamu nggak memperbarui informasi profilmu? Itu bakal mencegah kesalahpahaman besar ini terjadi."Dia mengerling dan berkata, "Aku terlalu sibuk sekolah dan mencari orang tuaku, lalu duar, aku menjadi istrimu kembali. Mana sempat aku mengurus hal semacam itu, Mark?"Aku menatapnya selama beberapa saat. "Kamu benar. Sepertinya, memperbarui profil bisnis nggak begitu penting bagimu." Kemudian, aku berdiri dan berjalan ke mesin pembuat kopi yang terletak di sudut ruangan. Aku kembali memikirkan semuanya saat membuat dua cangkir kopi. Saat berdiri di sana pun aku bisa merasakan dia menatap tajam ke arahku dari belakang.Aku meletakkan secangkir kopi secara perlahan untuknya. "Duduk dan tenanglah. Aku jamin kalau semua ini cuma salah paham. Mari kita tenangkan diri dan selesaikan masalah ini bersama-sama."Dia mengambil cangkir kopi itu dan langsung meneguk semuanya sampai habis. Kemudian, dia menatapku tajam dan membalas, "Ayo,
Sudut Pandang Sydney:Seperti yang kuduga dari perusahaan sebesar GT Group, kantor eksekutif mereka segera menyiapkan kontrak dan proposal, lalu menyerahkannya kepada Mark untuk ditinjau. Aku melihat pria yang membawakan dokumen itu berdiri di samping Mark dan menjelaskan beberapa hal kepadanya. "Ini terminasi dari proposal akuisisi. Kami perlu tanda tangan Bapak di sini dan di sini," ujar pria itu sambil menunjukkan beberapa bagian di atas dokumen itu. Mark mengangguk dan memeriksanya terlebih dahulu. Sesekali, dia akan menyipitkan mata, lalu meminta pria itu menjelaskan beberapa hal dan bagaimana hal itu dilakukan dengan cara tertentu. Pria itu akan menjelaskan semuanya kepada Mark, lalu Mark mengangguk dan tampak terkesan. Aku cukup terkejut saat dia mengaku tidak tahu kalau aku salah satu pemilik Luxe Vogue dan Atelier Studios bersama Grace. Kalau aku tidak sedang marah besar, aku akan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajahnya saat dia berusaha memahami semuanya.Aku awaln
Sudut pandang Dennis:"Oh!" seru Clara, matanya melebar sebesar cawan. "Kamu kembali."Aku menatapnya tanpa berkedip, dengan sengaja menahan diri untuk tidak merespons kekagetannya seperti yang mungkin dia harapkan. Kami tetap terkunci dalam tatapan yang tidak tergoyahkan selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya, dan meskipun aku berusaha sekuat tenaga, aku tidak bisa menahan pikiran yang berlarian dengan kecepatan luar biasa dalam pikiranku.Meskipun Clara terus menatapku, sikapnya memancarkan kecemasan yang nyata. Telapak tangannya menggenggam erat halaman yang dirobeknya dari buku gambar Amie.Aku menatapnya dengan tatapan bertanya, mataku berpindah-pindah antara wajahnya yang terlihat penuh kecemasan yang sulit disembunyikan dan kepalan tangannya yang sedikit gemetar di bawah pengamatanku.Clara sepertinya menyadari pertanyaan tidak terucap dalam tatapanku karena dia tiba-tiba mengeluarkan tawa canggung yang terdengar seperti cegukan tertahan. Mengangkat kedua kepalan ta
Sudut pandang Anastasia:Saat percakapan mengalir, Aiden bertanya, "Pak Jenkins, bagaimana Bapak bisa menjaga tempat ini berjalan dengan lancar? Maksudku, ada hektaran tanah perkebunan dan juga pondok ini. Bagaimana Bapak mengelolanya tanpa kehilangan fokus pada fungsi utama tempat ini?"Aku sadar bahwa aku sudah terlalu lama menatap sisi wajah Aiden. Aku cepat-cepat mengalihkan pandanganku tepat pada saat Pak Jenkins menjawab pertanyaan itu.Pak Jenkins tertawa pelan. "Ini kerja tim, tapi putraku, Alex, sangat membantu. Dia sedang pergi beberapa hari, tapi biasanya dia ikut membantu dengan tugas-tugas di sekitar pondok."Aiden melanjutkan, "Aku ingin sekali bertemu dengannya. Sekarang dia sedang apa?"Wajah Pak Jenkins berseri dengan kebanggaan, matanya berkeriput sebagai tanda tahun-tahun petualangannya. "Dia sedang dalam perjalanan berkemah bersama beberapa teman. Dia anak yang hebat, selalu siap membantu."Saat percakapan makin ramai dengan tawa dan candaan, aku melirik jam tangank
Sudut pandang Anastasia:Aku memperhatikan saat perhatian kelompok beralih ke Aiden, matanya menyala dengan sorot protektif yang begitu intens hingga membuat jantungku berdetak lebih cepat."Dia menyuruhmu mundur, Bung," kata Aiden dengan suara tegas namun terkontrol. "Sadari batasmu. Dia nggak tertarik."Karyawan itu, yang bangkit dari tanah sambil mencoba menyelamatkan muka, menyeringai kepadanya. "Jangan ikut campur, Teman."Aiden melangkah maju, matanya menyala dengan kebencian yang cukup untuk membakar pria itu hanya dengan satu tatapan. "Aku bukan temanmu dan ini adalah urusanku sekarang.""Aku bisa menghadapinya sendiri," kataku, mencoba ikut campur, tetapi pandangan Aiden tetap tertuju kepada karyawan itu."Nggak, kamu nggak perlu menghadapinya sendiri," jawab Aiden dengan suara tegas. "Dia perlu belajar untuk menghormati batasan. Kalau aku lihat dia mengganggumu lagi, aku akan melaporkannya."Wajah karyawan itu memerah, tetapi dia tahu dia sudah kalah. Dia mundur menjauh dari
Aku terkejut, merasa terjebak dalam kebimbangan. Aku berhasil tersenyum, memaksa diriku untuk bergerak ke meja Rachel. Rasanya tidak sopan jika aku menolak ajakannya.Pandangan mataku menyapu sekeliling, mencari satu wajah tertentu. Tidak terlihat bayangannya dan aku juga tidak mencium aroma khasnya yang cepat menjadi ciri khasnya."Hai, semuanya. Halo, Rachel." Aku mengambil kursi untuk diriku sendiri dan duduk di antara mereka. Percakapan di sekitar meja kembali berlanjut, dan setelah beberapa saat, aku merasa mulai nyaman, menikmati makanan yang enak dan percakapan yang hidup.Saat itu, aku baru sadar ada musik lembut yang sedang diputar di latar belakang. Catatan jadwal dibagikan dan seseorang membuat lelucon tentang bekerja di tengah kegiatan yang seharusnya merupakan liburan.Rasanya menyenangkan bisa bercampur dengan rekan-rekan kerja, meninggalkan profesionalisme sejenak. Sungguh malam yang indah, dan aku sangat bersyukur terutama karena entah kenapa, Aiden tidak bergabung dala
Sudut pandang Anastasia:Jantungku berdebar saat melihat sosok Aiden yang telanjang di kamar sebelah, gambarnya terpatri di ingatanku, meninggalkan kesan yang mendalam, malu ... dan panas.Ada perbedaan yang mencolok antara pria yang kulihat bertahun-tahun yang lalu dan pria yang ada di depanku sekarang. Setiap pori-porinya memancarkan maskulinitas melalui kontur keras dan tepi kasar yang memotong tajam di paha dan punggungnya.Aku tidak bisa menahan diri untuk membayangkan kembali kekencangan pantatnya dan lebar bahunya yang terbentang seperti tepi-tepi berbahaya dari sebuah tebing, masing-masing melandai ke bawah untuk menampung bisep yang terlatih, yang mengencang saat dia menggerakkan tangannya, tanpa menyadari kehadiranku yang singkat.Aku sudah mencoba menyiapkan diri untuk kemungkinan bertemu Aiden selama perjalanan ini, berusaha keras menghindarinya, tetapi tidak ada yang bisa mempersiapkanku untuk pemandangan ini. Siapa yang mengira kami hanya dipisahkan oleh pintu tipis?Baga
"Aku mulai menyukai temanmu.""Ana? Wah, itu manis sekali. Siapa sangka kamu akan punya perasaan untuk seseorang? Dulu kamu hampir tidak punya hati."Aku tersipu, merasa bersalah dengan kebenaran yang ada dalam kata-katanya, tetapi itu semua adalah gambaran masa lalu tentang diriku."Nggak sekarang. Aku sudah melewati kebiasaan buruk itu dan percayalah, aku sudah berubah," ucapku, lalu menurunkan nada suaraku. "Kamu harus bantu aku memenangkan hatinya."Tawa Clara menarik perhatian banyak orang dari segala penjuru klub, membuatku segera mundur ke bayang-bayang, merasa malu setengah mati."Ana masih jomblo, kok." Clara memberitahuku setelah tawa panjangnya mereda. "Kamu tahu, melihat dari hasil hubungan masa lalunya, kurasa dia nggak ingin membiarkan siapa pun masuk ke hidupnya. Terutama kamu.""Aku sudah berubah dan aku bisa lebih baik. Aku hanya ... aku nggak bisa mengeluarkannya dari pikiranku.""Jadi, kamu terobsesi?""Nggak!" teriakku pelan dengan keabsurdan pikiran itu. Terobsesi?
"Hai, Dennis, kamu nggak apa-apa?" tanya Clara, saat dia mulai mendekatiku dengan ekspresi khawatir di wajahnya. "Kamu terlihat bengong."Aku hanya mengalihkan fokus pembicaraan menggunakan koper yang dia tarik di belakangnya seperti beban mati. "Kamu mau pergi ke mana?"Clara terpancing. "Sebenarnya baru pulang. Aku melakukan perjalanan singkat, tapi sekarang aku sudah pulang. Aku lihat kamu juga ….""Nggak. Aku baru saja keluar dari rapat. Aku sedang dalam perjalanan pulang sebelum melihatmu."Dia tersenyum lebar. "Itu lebih baik lagi. Bisa antar aku? Tolong?"Aku setuju dan mengangkat kopernya, lalu menyimpannya di bagasi. Selama perjalanan, dia menceritakan perjalanannya dan orang-orang menarik yang dia temui, serta berbagai hal lain yang sebenarnya tidak perlu aku ketahui."Oh, astaga!" Dia berhenti tiba-tiba, tatapannya melirik ke kursi penumpang dengan ekspresi terkejut. Dia menepuk ringan lenganku, sambil memberikan kedipan nakal. "Ini untuk siapa?""Kamu mau membunuh kita? Jag
Aku berbagi ketakutan, impian, dan hasratku dengannya, dan sebagai balasannya, Anastasia memberikan telinga yang sabar mendengar dan membuktikan dirinya sebagai sistem pendukung yang hebat."Ana," kataku suatu hari, akhirnya menemukan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya. "Jadilah milikku."Dia tersenyum lembut, tetapi dengan cara yang sangat ramah dia menepuk pundakku dan berkata, "Aku menghargai semua yang kamu lakukan untukku dan percayalah, aku nggak menganggap ini remeh. Tapi, aku nggak butuh hubungan sekarang. Kurasa aku nggak akan pernah menginginkannya."Apa yang orang katakan tentang menjadi patah tetapi tidak terkalahkan? Itulah aku.Waktu berlalu, putrinya tumbuh dan aku dengan sabar tetap bertahan, menolak untuk mencoba hubungan lain karena perhatianku tetap pada Ana, berharap ada perubahan dalam keputusannya.Aku berharap kepada bintang-bintang di malam hari, berharap kepada langit, dengan penuh keinginan untuk melihat segala sesuatunya selaras mendukungku,
Sudut pandang Dennis:Aku bersandar di kursi dan memandang keluar jendela ke terminal bandara yang sibuk sambil menunggu rapatku berakhir."Baiklah, Rekan-rekan, mari kita tinjau proyeksi penjualan kita untuk kuartal berikutnya. Pak Ben, bisa tolong ringkas poin-poin utamanya?"Seorang pria botak yang duduk di ujung meja berdeham sebelum mulai berbicara. "Kami memperkirakan kenaikan penjualan sebesar 12%, yang terutama didorong oleh peluncuran produk baru kita dan upaya pemasaran yang diperluas.""Itu perkiraan yang konservatif, 'kan?" tanya Ketua menginterupsi. "Aku yakin kita bisa mendorongnya mencapai pertumbuhan 15%."Seorang wanita di sebelahku menambahkan pendapatnya, "Aku setuju dengan Bapak. Apa yang menghambat kita untuk mencapai proyeksi yang lebih tinggi itu?""Kita perlu mempertimbangkan tren pasar, persaingan, dan tingkat adopsi pelanggan. Tapi, aku rasa kita bisa meninjau kembali strategi harga kita dan mengeksplorasi saluran baru untuk menjangkau target audiensi kita," j