Share

Chapter 04

Dengan segera Ayla menyelesaikan transaksinya tanpa mengambil uang dari mesin ATM tersebut. Setelah itu Ayla keluar dari ruang ATM dengan begitu banyak pertanyaan. Wajahnya masih terlihat memucat akibat shock dengan apa yang baru saja di lihatnya di layar kaca mesin ATM.

Dengan berjalan terburu-buru Ayla menuju ke restoran tempatnya bekerja. 'Kenapa ada begitu banyak uang di dalam tabunganku? Itu uang darimana?' batin Ayla bertanya-tanya. 'Aku harus ke Bank sekarang juga, pasti ada yang salah dengan rekening tabunganku,' 

Sesampainya di restoran Ayla segera menuju ke ruang ganti baju karyawan, mengambil jaket dan tasnya untuk segera pergi lagi. Karena perasaan panik Ayla lupa untuk berpamitan pada teman atau pun Abram.

'Semoga ini bukan adalah besar, perasaanku jadi tidak tenang seperti ini,' batin Ayla.

Bagaimana kalau uang itu punya orang yang salah kirim, lalu nyasar ke rekeningnya? Pasti orang yang mengirimkan uang tersebut akan sangat kehilangan sekali, begitulah yang ada di benak Ayla saat ini.

Sesampainya di kosan Ayla segera mengambil buku tabungan dan juga identitas diri untuk di bawa ke Bank. Berjaga-jaga siapa tahu itu akan di butuhkan nantinya.

Setelah segala sesuatu sudah di bawanya, Ayla segera berangkat ke Bank terdekat untuk mempertanyakan perihal nominal uang yang ada di rekeningnya.

Perasaan resah dan juga gelisah tergambar jelas di wajah Ayla saat ini. Mungkin sebagian orang akan senang tiba-tiba ada begitu banyak uang di saldo rekeningnya, tapi bagi Ayla itu sangat menakutkan. Terlebih lagi Ayla merasa itu bukan miliknya.

Kini tiba nomor antrian Ayla, dengan segera Ayla maju ke meja customer servis. "Maaf Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya customer servis yang sedang bertugas. 

"Begini mbak, saya ingin tahu siapa yang mengirimkan uang ke nomor rekening saya, apa bisa mbak? Soalnya ada uang masuk ke rekening saya yang jumlahnya di atas 300 juta," jelas Ayla pada customer servis tersebut. "Dan saya tidak tahu itu uang dari siapa?"

"Baiklah Ibu akan kami bantu keluhan ibu, ini dengan Ibu siapa?" 

"Nama saya Ayla, Mbak," jawab Ayla.

"Baik Ibu Ayla, bisa tunjukkan buku tabungan dan juga identitas diri yang masih berlaku?" 

Dengan segera Ayla mengambil buku tabungan dan juga identitas dirinya. "Ini Mbak," ucap Ayla sambil memberikan apa yang tadi di minta customer servis.

"Tunggu sebentar ya Ibu Ayla, saya akan mengecek data-data Ibu terlebih dahulu." 

"Iya mbak." 

Ayla dengan sabar menunggu informasi apa yang akan di dapatnya. Petugas customer service mulai sibuk menggerakkan jari-jemarinya mengetik huruf dan angka di atas keyboard.

Wajah sang petugas customer service terlihat ramah dan tenang. Mungkin karena sudah terbiasa menangani masalah seperti ini. Tapi berbeda dengan Ayla yang masih terlihat gelisah menunggu hasilnya.

Sambil mengerjakan pekerjaannya, sang customer servis juga mengajak Ayla bicara, walaupun itu cuma sekedar basa-basi saja. 

Kurang lebih hampir setengah jam menunggu, Ayla pun mendapatkan apa yang dia mau. Petugas customer servis juga menjelaskan asal muasal uang yang ada di tabungan Ayla.

"Ja-jadi ini bukan uang orang yang salah transfer ya Mbak?" Tanya Ayla yang masih gugup.

Dengan senyum ramah petugas tersebut menjawab. "Bukan Bu, uang itu masuk bertahap ke rekening Ibu Ayla, bahkan itu terjadi di setiap bulan selama 6 bulan terakhir. Dan dapat saya pastikan itu bukan uang nyasar seperti dugaan Ibu Ayla."

Ayla terlihat masih shock dan seakan tak percaya dengan penjelasan dari customer servis tersebut. "Terus siapa nama pengirimnya Mbak?"

"Sepertinya ini dari perusahaan tempat ibu bekerja, karena ini langsung dari nama perusahaan Bu, bukan nama perorangan." Jelas customer service dengan ramah.

Ayla sejenak berpikir, bukankah gajinya selama ini selalu cash. Terus perusahaan mana yang mengirimkan uang segitu banyak untuknya. Kalau di pikir-pikir gaji Ayla tidak mungkin sebanyak itu walaupun selama 6 bulan terakhir bekerja dia kumpulkan.

"Oh begitu ya mbak? Nama perusahaannya apa mbak?" Tanya Ayla semakin penasaran.

"N.H group Bu," 

Mendengar jawaban sang customer service, Ayla semakin bertambah shock. Bagaimana bisa perusahan yang baru tadi malam di bahas sang adik, kini malah mengirimkan uang padanya selama 6 bulan ini.

Ada apa sebenarnya dengan semua ini? Apa hubungan perusahaan itu dengannya? Sehingga dengan sangat baik memberikan uang sebanyak itu pada Ayla. Jasa apa yang telah di berikan Ayla pada perusahaan itu? 

Begitu banyak pertanyaan yang ada di kepala Ayla, akhirnya Ayla memutuskan untuk tidak lagi menanyakan apapun lagi pada sang customer service. Ayla berpamitan pulang dan keluar dari Bank tersebut dengan penuh tanda tanya.

'Apa aku ikut saja dengan Ferdy? aku akan cari tahu kenapa perusahaan itu mengirimkan uang begitu banyak ke rekeningku. Padahal aku tak pernah bekerja di sana sebelumnya.' batin Ayla.

Ayla menaiki angkot menuju ke tempat kosnya. Baru juga turun dari angkot Ayla kembali di kejutkan akan kehadiran Abram yang sudah duduk di depan kosannya.

"Ka-kak Abram," cicit Ayla.

"Akhirnya kamu datang juga, Ay," ucap Abram yang langsung menghampiri Ayla yang kini sedang berjalan menuju kosannya. "Kamu darimana saja? Kenapa di telpon tidak di angkat?" 

"Hah,.. kakak menelponku?" Bukannya menjawab Ayla malah balik bertanya.

Tuukk!!

"Auw... Sakit kak."

Abram menyentil kening Ayla pelan, "Kalau di tanya itu di jawab, bukan balik bertanya Ayla."

Ayla yang cemberut mengelus keningnya sambil berjalan menuju ke arah pintu kosannya. "Tadi Ayla ke Bank kak, ada sedikit masalah dengan rekening Ayla, maaf kalau tadi Ayla lupa berpamitan."

Jawab Ayla sambil membuka pintu tempat kosnya. Dengan di iringi Abram dari belakangnya. "Masalah apa?" Tanya Abram yang mulai terlihat khawatir.

'Tidak mungkin aku cerita ke kak Abram,' batin Ayla.

"Hanya pencocokan data saja, tadi aku salah masukkan PIN ATM kak, jadi kena blokir. Makanya harus ke Bank untuk membuka blokir PINnya," 

Abram seakan paham dengan ucapan Ayla. "Lain kali kalau ada apa-apa bilang, jangan main ngilang gitu aja, Ay."

"Maaf kak, kakak mau minum apa?" Tanya Ayla setelah keduanya kini sudah ada di dalam ruang tamu sederhana yang menjadi tempat tinggal Ayla dan juga Ferdy.

"Apa saja, Ay," jawab Abram yang sudah duduk di kursi ruang tamu.

"Tunggu sebentar kak," jawab Ayla. Kemudian Ayla beranjak ke dapur untuk membuatkan minuman dingin.

Abram melihat-lihat sekeliling ruangan yang menurutnya sangat sempit. 'Setelah kamu resmi bercerai dengan lelaki brengsek itu, aku akan segera membawamu untuk jadi istriku, Ay.' batin Abram.

Setelah selesai membuatkan minuman, Ayla membawa dua gelas minuman dingin untuk di berikan pada Abram. Mereka pun ngobrol sejenak, sampai akhirnya Abram mengajaknya makan siang keluar.

Dan setelah pergi makan siang, Abram membawa Ayla untuk kembali ke restoran tempatnya bekerja untuk melanjutkan pekerjaan Ayla yang tertunda beberapa saat. 

Bersambung....

Comments (4)
goodnovel comment avatar
Jolie Eve
koin itu dari aplikasi yg tentukan bukan penulis, tergantung dari banyaknya jumlah kata. Jadi semakin panjang setiap bab semakin mahal koinnya.
goodnovel comment avatar
Lady Caroline
bener kan dari suaminya uang yg masuk ke rek ayla
goodnovel comment avatar
Agung Muhammad Ismail Hasan
terlalu banyak mengeluarkan koin
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status