Share

BAB 8

'Oh tidak,' batin Austin, ia mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir istrinya.

Austin berusaha mengenyahkan kemarahan yang saat ini melingkupi hati. Ia memejamkan mata, berusaha mengontrol kekuatannya. Tanpa ia inginkan, senyuman Kenny saat di kediaman Nyonya Thomson terlintas dalam ingatannya, sontak ia pun tersenyum saat mengingat itu. Api yang tadi keluar sudah diserap kembali oleh telapak tangannya.

Saat Austin membuka matanya, ternyata Kenny sudah ada di hadapannya. 'Semoga dia tidak melihat api tadi,' harapnya dalam hati.

"Sinar apa tadi?" tanya Kenny lagi karena tidak mendapat jawaban dari Austin.

"Sinar apa?" balas Austin pura-pura tidak tahu sinar apa yang dilihat istrinya.

"Aku melihat sinar merah seperti cahaya api, atau aku salah melihat?" tanya Kenny bingung.

"Mungkin hanya perasaanmu saja, atau kamu sedang bermimpi," balas Austin sambil tersenyum.

"Aku yakin, aku tidak bermimpi, atau memang benar aku bermimpi?" gumam Kenny sambil berjalan lagi ke ranjangnya, tangannya pun tidak tinggal diam, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena kebingungan yang ia rasakan.

Austin melihat punggung Kenny yang menjauh, ia tersenyum melihat istrinya kebingungan. Ia juga merasa lega karena Kenny tidak melihat kekuatan yang dimilikinya.

'Aku tidak boleh terbawa emosi, jika tidak, keluarga ini yang akan menjadi korbannya,' ucapnya dalam hati.

Austin mengikuti langkah istrinya dari belakang, ia berjalan menuju sofa dan merebahkan tubuhnya. Kenny pun sama, ia telah merebahkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut. Austin melihat punggung istrinya sambil tersenyum senang.

'Ternyata senyummu mampu mengalihkan emosiku,' batinnya sambil tersenyum.

Austin mencoba untuk meraih alam mimpi sama seperti yang dilakukan Kenny. Tidak membutuhkan waktu yang lama, ia sudah terlelap.

***

"Mana pria itu?!" tanya Julie dengan berteriak, ia memasuki kamar mereka dengan menghentakkan kaki.

Kenny dan Austin yang masih tertidur terkejut mendengar teriakan Julie, sontak mereka bangun dan menatap wajah Julie.

"Bagus kalau kamu tahu diri tidak tidur dengan putriku! Pria malas! Sudah jam segini masih tidur, bangun kamu!" teriak Julie lagi.

Kenny menggelengkan kepala melihat sikap ibunya pada Austin, tapi ia mengacuhkannya, tidak membela Austin ataupun menegur ibunya. Kenny berjalan dengan gontai menuju kamar mandi. Sedangkan Austin langsung berdiri tegap hingga selimutnya terjatuh ke lantai.

"I-iya Nyonya," balas Austin.

"Bersihkan rumah, jangan menganggap dirimu Tuan di sini. Pembantu di rumah ini sudah aku pecat dan kamu yang menggantikannya," ucap Julie lagi dengan congkak.

Austin menganggukkan kepalanya meski ragu, ia tidak menyangka jika ia dijadikan pembantu di rumah ini. Julie melempar pakaian kotor yang ada di tangannya hingga berhamburan di hadapan Austin. Karena tidak siap, Austin tidak bisa menangkap cucian kotor yang baru saja dilempar Julie.

"Cuci itu sampai bersih!" perintah Julie lalu pergi meninggalkan Austin dengan segala kebingungannya.

Austin memunguti pakaian kotor yang ada di lantai, lalu membawanya ke ruang cuci. Austin melihat beberapa mesin cuci, ia berdiri memandangi mesin yang ada di hadapannya.

"Bagaimana cara menggunakannya?" tanya Austin pada diri sendiri.

Selama ini ia selalu dilayani oleh maid yang ada di kediaman Jacob. Ia sama sekali tidak pernah menyentuh pekerjaan selama hidupnya. Ia diperlakukan spesial layaknya pangeran yang selalu diberikan fasilitas untuk mempermudah hidupnya.

Lama memandangi mesin cuci yang ada di hadapannya, tapi ia masih belum menemukan cara untuk mengoperasikannya. Matanya beralih pada tumpukan datergent dan pelembut yang ada di etalase.

"Ini untuk apa?" gumamnya lagi sambil memegang satu botol detergent.

Austin memutar-mutar botol itu mencari tahu apa kegunaannya. Setelah ia mengetahuinya, ia langsung menuangkan detergent itu ke dalam mesin cuci. Dilihatnya banyak tombol di bagian atas mesin cuci, ia memencet asal beberapa tombol, tapi mesin cuci masih belum menunjukkan kinerjanya.

"Pantas tidak hidup, aku belum menyambungkan listriknya," gumamnya saat melihat sambungan listrik.

Austin menyambungkan listrik dan memasukkan semua pakaian yang ada di tangannya ke dalam mesin cuci.

"Hei! Apa yang kamu lakukan?!"

Komen (2)
goodnovel comment avatar
Kurnia S Kotah
saya suka cerita nya
goodnovel comment avatar
Supriyono Susanto
bagus banget
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status