Share

Medan?

Waktu sudah menunjukkan hampir pukul setengah enam sore. Saat Ryana turun dari pesawat yang ditumpangi. Langit mendung ditambah tiupan angin. Menerbangkan rambut ikal Ryana ke belakang.

Kacamata berbingkai coklat Ryana lepas sambil menyusuri luar bandara. Di mana tempat penjemputan penumpang, yang sudah di tunggu oleh keluarga.

“Ryana!”

Sebuah tangan melambai sambil menyerukan suara. Ryana yang tadi menatap lurus ke depan. Sekarang mengalihkan pandangan ke samping. Seorang wanita cantik berjalan menghampiri Ryana. Menyimpulkan senyumnya. Lantas memeluk Ryana kala mendekat.

“Akhirnya kita ketemu lagi, sayang.” Wanita itu mengusap punggung Ryana. Membelai lembut penuh kasih sayang.

“Tante, Widya.”

Namanya Widya. Adik kandung dari Mariana. Ibu Ryana. Wanita yang terlihat seperti gadis berumur dua puluh lima tahun. Padahal aslinya sudah berumur tiga puluh lima tahun.

Wajah awet mudanya membuat banyak lelaki salah tingkah. Lantas jatuh cinta. Tak peduli dengan usia yang sebenarnya. Tetap saja mereka menginginkan Widya untuk menjadi kekasihnya. Atau bahkan menjadi suaminya?

Rata-rata pria yang menginginka Widya berkisaran di umur dua puluh tujuh sampai tiga puluh. Jauh lebih muda darinya.

Widya adalah seorang janda beranak satu. Suaminya meninggal dalam sebuah kecelakaan dua tahun yang lalu. Namun, sampai sekarang Widya sendiri sama sekali tidak menginginkan untuk memiliki lelaki lain. Masih nyaman sendiri, menikmati harinya mengurusi anak satu-satunya sendiri.

Dari hasil pernikahan dengan almarhum suami. Widya memiliki satu orang putri yang sekarang berumur sepuluh tahun. Isabell namanya. Nama indah yang diberikan almarhum papanya.

Puas merayakan pertemu dengan saling berpelukan. Widya kemudian mengajak Ryana pulang bersama. Barang bawaan Ryana sendiri di angkut oleh orang utusan Widya. Sehingga kini keduanya dapat dengan bebas melenggang bersama. Tanpa harus memikirkan beban apapun.

Pagi tadi saat Ryana baru saja selesai menghapus video tak senonoh yang dikirim oleh orang tak dikenal. Seseorang tiba-tiba saja masuk ke dalam Ryana. Lantas membuatnya terkejut.

Sempat terdengar suara Ryana yang berseru saat bertanya “Siapa?!” namun tidak ada jawaban. Membuat Ryana lantas dengan cepat membalikkan badan dan melihat jika itu ternyata Ibunya.

Mariana masuk ke dalam kamar putrinya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Sehingga wajar saja jika hal itu membuat Ryana terkejut.

Baru saja Ryana dikejutkan oleh kiriman video dari orang tak dikenal. Malah kini harus mendengar suara derapan langkah yang membuat jantungnya hampir saja copot!

Kedatangan Mariana ternyata adalah untuk memberikan tiket pesawat keberangkatannya ke Medan. Membuat Ryana sempat menolak. Namun, tak berselang lama menerima. Setelah mendengar setiap penjelasan dari Ibunya.

Mariana mengatakan jika lebih baik sekarang untuk sementara waktu Ryana tinggal di Medan. Bersama Nenek, dan juga Tantenya. Meneruskan studinya di sana.

Daripada tinggal di sini dan terus larut dalam sakit hati. Lebih baik pergi jauh untuk menenangkan diri. Setidaknya di Medan ia bisa bersama orang yang sangat disayang setelah kedua orangtuanya. Nenek serta Tante yang selalu menyayanginya. Memberikan begitu banyak perhatian padanya. Bahkan, sampai kasur pun setiap malam sebelum tidur Tante Widya selalu datang untuk membersihkan debu yang mungkin menempel di kasurnya.

Benar-benar perhatian yang luar biasa. Bahkan terkadang, Ryana sendiri heran melihatnya. Tantenya adalah tipe wanita yang sangat bersih. Berbeda sekali dengan dirinya yang suka mengorek upil dulu sebelum tidur.

Ryana yang tengah galau pun akhirnya setuju untuk terbang ke Medan hari itu juga. Demi bisa melupakan sakit hatinya. Demi bisa move on dari Daniel dan sahabat pengkhianatnya.

Setibanya di kediaman Nenek. Ryana langsung menghamburkan diri ke dalam rumah. Dia mencari Neneknya yang saat ini sedang membantu memasak di dapur untuk menyambut kedatangan cucunya.

Ryana memeluk Neneknya dari belakang. Dengan dagu yang ditempelkan di bahu sang Nenek. Aroma wangi masakan pun tercium. Menusuk ke hidungnya. Begitu menggugah selera. Sampai-sampai Ryana jadi lapar tiba-tiba hanya karenaa mencium aroma masakan sang Nenek.

“Cucuku sudah sampai.” Nenek mengelus lembut pipi Ryana sambil menyunggingkan senyuman. Senyum yang begitu tulus dari wajah keriputnya.

“Ryana, laper, Nek.” Ryana mengelus perutnya yang rata. Nenek semakin mengembangkan senyumnya.

Meskipun sekarang Ryana sudah besar. Tetap saja dia terlihat seperti seorang anak kecil jika sedang berhadapan dengan Neneknya. Terlebih jika sudah mencium aroma masakan yang dibuat oleh sang Nenek. Maka keluarlah sudah sosok kecil Ryana di depannya.

Widya mengantarkan Ryana ke kamarnya. Ikut masuk ke dalam untuk memastikan kebersihan kamar. Padahal tadi sebelum berangkat untuk menjemput Ryana. Widya sudah terlebih dulu memerintahkan asisten rumah tangga untuk membersihkan kamar yang akan ditempati Ryana.

Namun, meskipun begitu tetap saja Widya mengeceknya. Memastikan dengan detail setiap debu yang mungkin masih tersisa. Menempel di meja.

“Hmm … akhirnya.” Ryana yang merasa pegal diseluruh badan itu lantas segera menghamburkan tubuhnya ke ranjang. Merasakan kenyamanan yang tak terhingga. Sampai-sampai Ryana mengusap-usap kain seprey yang membungkus kasur.

Hampir setengah hari ini Ryana terus-terusan duduk. Berkutat di bandar. Karena ada beberapa kendala. Jadwal terbang yang harusnya lebih cepat dari sebelumnya. Malah di tunda sampai dua jam lamanya.

Belum lagi duduk di pesawat. Lalu duduk di mobil dalam perjalanan pulang. Rasanya tulang-tulang Ryana seperti remuk redam. Seakan-akan tulang belakangnya ingin bengkok karena duduk terlalu lama.

“Ryana!” Widya menarik tangan Ryana. Menjauhkannya dari ranjang. Sikap overprotektifnya mulai keluar. Membuat Ryana mendengus kesal karenanya.

“Huuhh … Tante, ranjang ini bersih nggak berdebu. Jadi tolong biarkan Ryana sekarang rebahan sebentar, oke?”

“Nggak! Sebelum, Tante, pastiin sendiri kebersihannya.”

Widya lantas mengambil penyedot debu yang memang sudah ada di sana. Membersihkan kasur Ryana agar bisa segera ditempati olehnya. Tapi sebelum itu, “Sambil nunggui, Tante, selesai bersihin kasur kamu. Lebih baik sekarang kamu masuk ke kamar mandi. Bersihin diri. Baru habis itu rebahan. Pakaian kamu itu bawa debu loh. Jadi cepetan ganti,” titah Widya.

Ryana berpaling dengan wajah kesal. Masuk ke kamar mandi sambil memanyunkan mulutnya. Satu-satunya hal yang tidak disukai Ryana adalah. Widya lebih cerewet dari Ibunya. Bahkan tingkat kelevelan cerewet mencapai 10xlipat dari Ibunya.

Ahhh … sebal!

Usai mengisi perut bersama Nenek, Tante, dan juga Isabell. Ryana bergegas masuk ke dalam kamar untuk merebahkan tubuhnya. Namun, sebelum berhasil memejamkan mata. Tiba-tiba saja Widya kembali masuk ke kamar.

“Tante,” lirih Ryana.

“Kamu udah sholat?” tanya Widya. Ryana menggeleng pertanda tidak. Lalu Widya menyerahkan seperangkat mukena lengkap dengan sarung dan juga sajadah kepada Ryana.

“Ini pakai buat sholat. Kita nggak tau akan sampai kapan umur kita. Jadi, perbanyaklah ibadah. Lagipula setelah sholat akan membuat hati kita lebih tenang. Cocok untuk ngusir kegalauan dengan cara lebih mendekatkan diri kepada, Tuhan.” Setelah menyerahkan seperangkat mukena kepada Ryana. Widya pun lantas melenggang keluar kamar.

Ryana hanya tersenyum. Tipis. Memperhatikan punggung Widya yang menghilang di balik pintu.

Tantenya sudah berubah? Sejak kapan? Apa jangan-jangan sejak dua tahun yang lalu?

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status