Share

Bab 9. Tamparan Papa

"Inez!!!" pekik Papa Raimon Akhirnya, menyentakkan hati Inez, segera mengangkat kepalanya cepat beradu pandang.

Dengan matanya yang memerah, menahan tangis yang tak ingin di keluarkannya, berusaha membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Papanya.

Sebuah jawaban yang dia sendiri pun tak mengetahuinya, karena kebohongan yang di buatnya, hanya untuk harapannya agar bisa membatalkan rencana pertunangannya dengan Andre laki-laki yang tak pernah ada di hatinya.

"Buka mulut kamu! jawab pertanyaan Papa!" lanjut Papa Raimon dengan sorot mata tajamnya mengintimidasi putri bungsunya.

"Aku nggak mau bertunangan dengan Andre Pa," jawab Inez akhirnya.

Menciptakan senyum getir di bibir Papa Raimon membuang pandangannya ke sembarang arah.

"Kenapa? karena kamu nggak mencintainya?" tanya Papa Raimon dengan detak jantungnya yang berpacu sangat cepat kembali mengalihkan pandangannya menatap putrinya.

"Iya, sering sudah aku mengatakannya," lirih Inez dengan matanya yang semakin memerah beradu pandang.

"Kamu harus tetap menikah sama Andre! ada cinta ataupun nggak ada cinta jodoh kamu tetap sama Andre!"

"Papa bukan Tuhan yang bisa menentukan jodohku Pa!" debat Inez.

"Tapi Papa orang tua kamu yang bisa menjodohkan kamu dengan siapapun yang Papa anggap baik untuk kamu Inez!" jawab Papa Raimon menekankan, semakin menyakiti hati Inez menitikan air mata putrinya.

Merobohkan pertahanan Inez yang tak ingin menangis, dengan bibirnya yang bergetar menatap Papanya dalam.

"Baik untuk siapa Pa? baik untuk ku apa baik untuk perusahaan Papa?" protes Inez dengan detak jantungnya yang berdetak sangat cepat tak membuang pandangannya dari Papa Raimon yang membulatkan mata menahan amarah.

"Kenapa sih Pa? kenapa harus menjualku? kenapa Papa tega menjual masa depan dan kebahagiaanku Pa? hanya untuk kepentingan perusahaan Papa? kenapa Papa lebih menyayangi perusahaan Papa ketimbang menyayangiku anak kandung Papa sendiri?" ucap Inez, dengan bibirnya yang semakin bergetar menahan rasa sesak yang menyeruak.

Menyakiti perasaannya, karena rasa kecewanya sebagai seorang anak kepada Papanya sendiri, yang terlalu mendikte dan memaksakan kehendak di balik alasan kebahagiaannya, tanpa ingin tahu bahkan tak mau tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya.

"Jangan bicara seperti itu Nez! Papa sangat menyayangi kamu...," timpal Mama Desi yang di sambut dengan gelengan pelan kepala putrinya.

"Nggak Ma! Papa nggak pernah menyayangiku! Papa hanya menyayangi perusahaannya! Papa hanya memikirkan cara untuk mengembangkan perusahaannya agar lebih besar dan semakin besar lagi!"

"Hingga... hingga membuat Papa rela menjual anak gadisnya sendiri dengan perjodohan bisnis yang akan menguntungkan perusahan Papa!"

"Jaga ucapan kamu Nez!" sentak Papa Raimon mengepalkan kedua tangannya menahan amarahnya yang membuncah tak bisa menerima kalimat putrinya.

"Apanya yang harus di jaga Pa? memang seperti itu bukan kenyataannya? karena Andre putra tunggal, calon pewaris Sukmajaya Group? berapa nilai uang yang akan Papa dapatkan untuk satu anak kandung Papa? Satu milyar? dua milyar?  atau sepuluh mil...

PLAKKKKK

"Papa....!" teriak Mama Desi yang tersentak, reflek menyentuh lengan suaminya yang terlanjur melayang bersamaan dengan air matanya yang tumpah menyaksikan kekasaran suaminya kepada putrinya.

Menampar pipi putih Inez, membuat Inez terdiam, dengan deru nafasnya yang memburu memejamkan matanya dalam.

Tak terkecuali Abian yang sedari tadi terdiam, reflek mengayunkan langkahnya cepat mendekati adiknya.

"Jangan main tangan Pa!" ucap Abian, setelah merangkul pundak adiknya yang masih diam, menundukkan kepala menahan denyutan rasa di pipi yang memerah.

Terlebih denyutan di hati Inez yang semakin sakit, melebihi rasa sakit di bekas tamparan Papanya.

"Inez...lihat Kakak Nez...." Ucap Abian, mencakup kedua pipi adiknya yang menunduk,.

Tak membuat Inez bergerak, hanya bergeming dengan kepalanya yang menunduk tak ingin mengalihkan pandangannya.

Karena tangisannya yang semakin pecah, membuatnya terisak dengan air matanya yang terjatuh membasahi lantai.

Tempat kakinya yang gemetar berdiri, karena rasa sakit di hatinya yang telah membumbung tinggi menguasainya.

"Lihat Kakak Nez...," lirih Abian lagi, sebelum beradu pandang dengan sorot pilu mata adiknya, dengan bibirnya yang semakin bergetar menatapnya dalam.

"Apa aku harus menikah sama Andre Kak? tolong katakan... jika kamu bilang Andre itu baik buat aku, aku akan melakukan apapun yang kamu katakan Kak...," ucap Inez, semakin memecahkan tangisannya beradu pandang.

Semakin menyakiti perasaan Abian yang sangat menyayangi adik perempuannya, menjadikan Inez ratu ke dua di hatinya setelah Mamanya segera mendekap tubuh Inez untuk di bawanya ke dalam pelukan.

"Bilang sama aku Kak..., apa yang harus aku lakukan sekarang Kak?" lirih Inez, membenamkan wajah cantiknya ke dalam dada Abian semakin mengeratkan pelukannya.

"Sudah dua tahun bukan kamu mengetahui rencana perjodohan Ini? kenapa selama itu juga kamu belum bisa mencintai Andre Nez?" tanya Abian, dengan suara lembutnya mengalihkan pandangannya dari Papanya yang terdiam membuang pandangan tak menatapnya.

"Karena aku nggak bisa melihat sosok kamu di diri Andre Kak! aku hanya ingin menikah sama laki-laki yang sama seperti kamu! bukan laki-laki yang seperti Papa...," tangis Inez, mengalihkan pandangan Papa Raimon menatapnya.

Berbarengan dengan Mama Desi yang semakin menangis, menyandarkan punggungnya Kedinding tak mengalihkan pandangannya dari Inez.

"Karena kamu cinta pertamaku Kak! kamu satu-satunya laki-laki di dunia ini yang selalu berusaha untuk membahagiakanku, yang selalu ada di setiap tangis dan tawaku! yang selalu setia  mendengarkan ceritaku..., yang selalu memelukku dan tak pernah menamparku...." lanjut Inez, menyakiti hati Papa Raimon yang terdiam menatapnya dalam.

Hanya berdiri tegak, masih bergeming di tempatnya meremas tangan kanannya menyesali tamparannya.

Karena dirinya yang  terlalu emosional, hingga membuatnya hilang kendali tak mampu mengontrol amarahnya yang menguasai.

"Papa menyayangimu..., dari Papa membuka mata hingga sampai Papa menutup mata kembali, Papa tak pernah berhenti memikirkan kebahagiaan kamu, Kakak kamu dan Mama kamu," lirih Papa Raimon, menatap dalam Inez yang masih bergeming di pelukan Abian.

Masih dengan perasan menyesalnya menatap sendu putri bungsunya yang tak pernah menangis di pelukannya.

Karena sikap kakunya, karakternya yang tak bisa bersikap lembut untuk menunjukkan rasa cintanya.

Segera mengalihkan pandangannya, beradu pandang dengan Mama Desi yang menangis menatapnya kesal.

Sebelum membalikkan badannya, mengayunkan langkahnya masuk ke dalam rumah meninggalkan kedua anak dan istrinya yang menangis.

Mengacuhkan  Abian dan Mama Desi yang terdiam menatapnya dalam.

***

Sang Surya telah kembali, dengan sinarnya yang belum begitu terang tampak cerah tanpa mendung yang menggantung.

Terlihat Inez, baru membuka matanya yang terlihat sedikit bengkak masih berbaring malas di atas ranjang.

Hanya terdiam, menyentuh pipinya kembali mengingat tamparan Papanya.

Sebelum memejamkan matanya dalam berusaha melupakan semuanya, karena dirinya yang tak ingin di kuasai oleh amarah, terlebih rasa sakit hati dan rasa sedihnya yang akan menggangu segala aktifitasnya.

Sebelum mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamarnya yang terketuk segera bangun dari tidurnya.

"Masuk!" ucap Inez mempersilahkan

"Selamat Pagi Inez...," sapa Abian dengan senyum mengembangnya, sesaat setelah membuka pintu kamar adiknya, beradu pandang dengan Inez yang  mengulaskan senyum tipis menyambut sapaannya

"Selamat pagi Kak...,apa itu?" tanya Inez mengedikkan dagunya ke arah nampan yang dibawa kakaknya.

"Sarapan spesial buatan cinta pertama kamu...," jawab Abian terkekeh, mengayunkan langkahnya mendekati adiknya.

"Astaga..., hahaha,"  ucap Inez  Tertawa, sesaat setelah melihat penampakan roti yang di bawa kakaknya.

Dua lapis roti bakar isi selai coklat kesukaannya, dengan tambahan emoticon smile di atasnya.

"Apapun yang terjadi harus selalu tersenyum, oke?" ucap Abian, sudah duduk di depan adiknya, mengalihkan pandangan Inez yang mengangguk pelan menatapnya dalam.

"Ayo makan," titah Abian, beradu pandangan dengan Inez yang tersenyum segera mengambil alih roti yang di bawanya.

"Terimakasih Kak...," ucap Inez, masih dengan senyum di bibirnya segera melahap roti buatan kakaknya yang terasa sangat nikmat.

"Untuk masalah pacar kamu..., apa bisa kamu cerita ke Kakak sekarang Nez?" tanya Abian hati-hati, mengalihkan pandangan Inez, masih mengunyah makanan di mulut beradu pandang.

"Apa kamu ingin aku menikah sama Andre Kak?" tanya balik Inez setelah menghela nafasnya kasar tak membuang pandangannya..

Tak membuat Abian bersuara, hanya meletakkan piring kosong yang di bawanya di atas nakas sebelum menggaruk pelan dahinya yang tak gatal kembali menatap adik perempuannya.

"Bagaimana ya..., Kakak juga bingung..., tapi bagi Kakak..., terlepas dengan siapapun kamu menikah nanti, Kakak hanya ingin kamu bahagia," jawab Abian beradu pandang.

Menundukkan kepala Inez kembali menggigit roti yang di bawanya tak menatap Kakaknya.

"Aku nggak akan bisa bahagia jika dipaksa hidup dengan Andre Kak," lirih Inez.

"Kenapa kamu seyakin itu?" tanya Abian, menegakkan kepala Inez kembali beradu pandang.

"Setau Kakak dia laki-laki baik, kasih kesempatan dia dulu untuk bisa dekat sama kamu, bagaimana bisa kamu mengenal dia kalau kamu terus saja menghindarinya, tak mau menerima telepon dari dia?"

"Aku pernah melihat dia membentak Mamanya sendiri, dan dari situ aku sudah bisa memastikan kalau dia bukan laki-laki yang aku cari," jawab Inez sebalum mengalihkan pandangannya ke arah ponselnya yang berdering.

"Sebentar ya Kak," ucap Inez segera meraih ponselnya di atas nakas.

"Siapa?" tanya Abian yang di jawab dengan mengediknya bahu Inez beradu pandang.

"Nomor baru Kak," jawab Inez, sesaat sebelum menggeser layar ponselnya untuk menjawab panggilan teleponnya.

"Halo...,"

"Halo Nez, ini Tante Ratih, maaf ya menganggu, Tante hanya memastikan aja apa kamu sudah ada di kantor Abian?" ucap Tante Ratih, menyentakkan hati Inez, menepuk dahinya pelan melupakan kesepakatannya.

"Mati aku!" gumamnya lirih, segera mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding yang menggantung di dalam kamarnya.

"Sudah jam delapan!!!" batin Inez.

"Ah.. iya iya Tante, ini sudah persiapan mau berangkat kesana," jawab Inez cepat, mengerutkan kening kakaknya yang masih duduk manis di depannya.

"Siapa?" selidik Abian sesaat setelah Inez menyelesaikan panggilan telepon, mengalihkan kembali pandangan Inez menatapnya.

"Aku harus penelitian Kak..., aku kesiangan," jawab Inez cepat, segera turun dari ranjangnya, sebelum mengayunkan langkahnya cepat hendak masuk ke dalam kamar mandi.

"Untuk skripsi? bukannya kemarin sudah?" tanya Abian setengah berteriak, karena Inez yang telah berlari menjauhinya.

"Belum selesai Kak!" jawab Inez ikut berteriak sesaat sebelum masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.

Bersambung.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status