Home / Pendekar / Kembalinya Sang Legenda Perang / Kekuatan Yang Terbangun

Share

Kekuatan Yang Terbangun

Author: F Azzam
last update Last Updated: 2025-01-17 21:28:49

Kendaraan melaju kencang, mengangkut Aryan, Clara, dan Alden jauh dari Elysium yang kelam. Udara malam terasa segar, seolah menghapus jejak kegelapan yang baru mereka tinggalkan. Namun, dalam benak Aryan, suasana tenang itu kontras dengan kegelisahan yang menggelora. Ia merasakan gemuruh kekuatan di dalam dirinya, kekuatan yang tampaknya baru terbangun dari tidur panjang.

“Mari kita berhenti sejenak di lokasi yang aman,” Alden mengusulkan, memutar kemudi menuju jalur yang mengarah ke hutan lebat. “Kita perlu segera meneliti informasi yang kita bawa.”

Setelah memasuki hutan, mereka parkir di area terpencil, terhalang oleh pepohonan tinggi yang memberikan perlindungan dari pandangan luar. Mereka bertiga keluar dari kendaraan, Alden segera mengambil dokumen dan menyimpan ponselnya di saku. “Kita perlu memetakan langkah selanjutnya dan mencari tahu informasi lebih lanjut mengenai jaringan mereka.”

Dalam sekejap, Clara menyebar dokumen di atas dudukan kayu. “Berdasarkan apa yang kita am
Locked Chapter
Continue Reading on GoodNovel
Scan code to download App

Related chapters

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Terungkapnya Kejahatan Organisasi "Dark Immortal"

    Di dalam kendaraan yang melaju cepat menjauhi pabrik, Aryan merenungkan semua informasi yang mereka peroleh. Matahari hampir terbit, menyoroti jalan di depan mereka dengan cahaya kuning keemasan, tetapi bayangan gelap yang mereka bawa bersama masih menghantui pikirannya. Sesampainya di tempat aman di tengah hutan, mereka segera membuka berkas yang berhasil mereka bawa. “Lihat ini!” Clara menyuarakan sambil menggelar berkas yang dipenuhi informasi mengejutkan. “Berdasarkan dokumen ini, jaringan ‘Kegelapan Abadi’ telah membantai lebih dari 1000 orang selama enam bulan terakhir. Ini adalah skala yang sangat besar!” “Apa?!” Alden terkejut, wajahnya memucat saat membaca data di bawah lampu senter. “Ini menjadi lebih buruk dari yang kita sangka!” “Bukan hanya itu,” Clara menambahkan, suaranya bergetar dengan kemarahan. “Ternyata mereka juga terlibat dalam perdagangan manusia—menjual perempuan ke luar negeri untuk dijadikan pekerja paksa dan budak seksual!” Aryan merasakan kemarahan meny

    Last Updated : 2025-01-17
  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Kejar-Mengejar Dalam Kegelapan Hutan

    Aryan mengernyitkan dahi. “Apa itu?!” tanyanya, mengerem kendaraan secara mendadak, matanya mencermati bayang-bayang yang berlarian. “Sepertinya... kendaraan trail?” sahut Alden, melotot ke arah cahaya yang semakin mendekat. “Mereka pasti sudah mengetahui kehadiran kita!” Sebelum Aryan bisa menjawab, suara detakan mesin memekakkan telinga. Motor trail berwarna hitam menyapu keluar dari sisi hutan, siluet pengendara yang mengenakan helm dan pelindung mesin mengarah langsung ke arah mereka. Dalam sekejap, Aryan merasakan adrenaline-nya memuncak. “Ayo pergi!” serunya, menarik gas kendaraan dan membuat mobil meluncur. Kejar-mengejar dimulai ketika para pasukan musuh dengan motor trail itu mengejar mereka dengan kecepatan tinggi. suara mesin melengking bergema saat motor melesat di belakang mereka, mencoba mengejar mobil yang melintas cepat. “Sial!” Clara berteriak, terpaksa berpegangan pada kursi. “Mereka tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja!” “Berhati-hatilah!” teria

    Last Updated : 2025-01-17
  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Diremehkan Oleh Keluarga Clara Berujung Perjodohan

    Setelah berhasil meloloskan diri dari kejaran musuh dan melumpuhkan lawannya satu persatu. Aryan merasa bernafas lega. Kemudian Clara mengajak Aryan untuk berkunjung ke rumahnya. Sedang Alden telah pergi untuk merencanakan sesuatu. Mereka telah mendapatkan informasi penting dari para musuh yang mereka hadapi. Daftar lokasi operasi dan bahkan nama orang-orang yang terlibat. Ini adalah langkah signifikan menuju pembongkaran jaringan gelap tersebut. Setiba di rumah Clara, Aryan sedikit terkejut. Rumah megah itu berdiri angkuh di tengah pekarangan yang hijau, memperlihatkan kemewahan dan keanggunan. Clara membuka pintu dan mengundang Aryan masuk. “Selamat datang di rumahku,” katanya, senyumnya tampak tenang meskipun mereka masih merasakan ketegangan dari kejadian sebelumnya. Aryan melangkah masuk, merasa sedikit canggung. Dinding-dinding rumah itu didekorasi dengan lukisan indah, lampu-lampu kristal menjuntai menambah suasana glamor. Clara menuntun Aryan menuju ruang tamu di man

    Last Updated : 2025-01-17
  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Pertarungan Antara Cinta Dan Status Sosial

    Suasana yang manis tersebut seketika berubah arah saat Ibu Clara masuk ke dalam pembicaraan dengan ekspresi serius. “Apa kalian tidak bisa berfikir sehat?” tanyanya, menatap tatapan bingung antara suami dan putrinya. “Bu, tapi Ayah setuju dengan ide Aryan untuk perusahaan ini!” Clara menjawab dengan penuh semangat, berusaha untuk menyebarkan kebahagiaan yang baru ditemukan. “Oh, jadi sekarang kuli bangunan ini dianggap sebagai penasihat bisnis?” Ibu Clara masih tidak bisa menyembunyikan nada skeptisnya. “Saya rasa kalian tidak melihat betapa bodohnya hal ini!” “Ada banyak potensi dalam diri Aryan, Bu,” Clara berusaha membela. “Mungkin bukan dari latar belakang yang ibu inginkan, namun pandangannya yang brilian bisa menyelamatkan perusahaan ini.” Ibu Clara menatap bercampur antara bingung dan sinis, tetapi saat itu juga, Ayah Clara mengambil langkah maju. “Terima saja, mengapa tidak. Mari kita coba menerima dia dengan idenya. Lihat ke mana arah perusahaan kita selanjutnya.”

    Last Updated : 2025-01-17
  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Kebingungan Di Antara Mereka

    Di pagi yang cerah, percakapan di antara Ibu Clara dan Jendral Widodo berlangsung dengan semangat. Di tengah ketegangan itu, Ibu Clara menghubungi Widodo dengan harapan bisa menunjukkan betapa seriusnya niat lelaki pilihannya dan mengambil langkah di luar batas yang bisa menyelamatkan putrinya. “Widodo, apa kabar?” Ibu Clara membuka percakapan dengan nada ramah, meskipun di dalam hatinya, rasa ketidakpastian dan harapan berbaur. “Baik, Ibu Clara. Selalu senang mendengar suara Anda,” jawab Jendral Widodo dengan suara berat dan menggoda, seolah menggambarkan kepastian yang mengarah kepada keinginannya. “Dan bagaimana putri Anda? Masih cantik seperti yang saya ingat?” Ibu Clara merasakan dadanya berdegup kencang. “Clara paduan antara kecantikan dan kecerdasan, Widodo. Dia sangat berbakat dalam apa yang dilakukannya sebagai agen rahasia. Namun, saya merasa saat ini kita harus mendiskusikan langkah yang penting dalam hidupnya.” “Oh, saya paham. Saya percaya bahwa posisi saya bi

    Last Updated : 2025-01-17
  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Kemarahan Ibu Clara

    Clara berdiri dengan tatapan bingung, menatap Aryan yang terlihat tenang meskipun peristiwa baru saja berlalu. Jendral Widodo yang tiba-tiba menghormatinya begitu membuat rasa ingin tahunya meningkat. “Aryan,” ujar Clara, suaranya bergetar. “Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian? Kenapa Jendral Widodo tiba-tiba menghormatimu seperti itu?” Aryan, yang terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaan Clara, mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Wajahnya tampak memikirkan sesuatu yang lebih dalam. “Saya… saya tidak begitu yakin, Clara. Rasanya seperti ada kenangan yang lebih dalam yang terpendam, tapi tidak bisa saya ingat dengan jelas.” Clara mengerutkan kening, melihat keraguan di dalam mata Aryan. “Bagaimana bisa seorang Jendral menghormati seseorang yang dia anggap biasa’? Ini sangat aneh. Apakah kamu menyembunyikan sesuatu? Apakah ada yang tidak saya ketahui tentang dirimu?” “Ada banyak hal yang mungkin tidak kamu ketahui tentang saya, tetapi yang jelas, saya tidak me

    Last Updated : 2025-01-17
  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Ada Ambisi Di Balik Penjembutan Sang Jendral

    "Persilahkan dia masuk," perintah Ibu Clara kepada seorang penjaga. "Baik Nyonya," Jawab sang penjaga. Lalu ia keluar dari ruangan. Tak berselang lama, pintu terbuka dengan lembut. Seorang pria berpakaian seragam militer memasuki ruangan. Dia memiliki postur tegap dan tatapan tajam. Di bahunya tersandang emblem negeri Arkhadea, yang menggambarkan seekor elang dengan sayap melambai. Di sampingnya, dua penjaga berjas hitam dengan senjata yang terselip di pinggangnya, berdiri tegak. "Maaf mengganggu, saya ke sini atas perintah dari Negeri Arkhadea untuk menjemput seseorang yang penting bagi negeri kami, yaitu Aryan," ucap Pria gagah tersebut di hadapan Ibu Clara. "Aryan? Kalian pasti salah orang? dia itu hanya kuli bangunan!" Ucap Ibu Clara, tegas. "Kami tidak mungkin salah orang. Biarkan kami berbicara kepada beliau," ucap Pria tegap tersebut lalu pandangannya beralih kepada Aryan. “Saudara Aryan?” pria tersebut bertanya, suaranya berwibawa dan terisi kekuatan. Clara merasa kete

    Last Updated : 2025-01-17
  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Kembalinya Aryan Ke Arkadea

    Rasa kesedihan menyelimuti diri Aryan. Akan tetapi ada sesuatu hal yang terpenting. Yaitu rasa tanggung jawab untuk kembali ke Arkhadea dan melindungi negeri yang pernah menjadi bagian dari hidupnya. Setelah beberapa jam perjalanan, mobil yang membawa Aryan tiba di bandara. Aryan turun dari mobil dan menuju ke hanggar pesawat jet pribadi. Setelah beberapa jam, pesawat jet pribadi itu tiba di bandara Arkhadea. Aryan melihat ke luar jendela dan melihat suasana yang berbeda dari yang ia lihat sebelumnya. Setelah pesawat itu mendarat, Aryan memasuki bandara. Dan setidaknya 30 pasukan militer menjemputnya dengan pengawalan ketat. Siap untuk membawanya ke markas besar. Di luar bandara, 20 mobil lapis baja telah berjejer rapih. Mereka lantas berjalan beriringan menuju ke sebuah markas besar di Kota Arkhadea City, di mana ia akan dihadapkan dengan Menteri Pertahanan Negeri Arkhadea. Sesampainya di Markas Besar. Para pasukan menyambutnya. Bendera raksasa Arkhadea telah membentang

    Last Updated : 2025-01-17

Latest chapter

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Yoshua Tertinggal

    Dengan napas yang masih terengah-engah dan jantung berdebar, Aryan mengarahkan pandangnya ke Clara. “Kita tidak bisa terus melarikan diri selamanya,” ujarnya, otaknya bekerja cepat. “Kita harus menemukan Yoshua, dan kita harus melakukannya sekarang. Jika Zareth berhasil menemukan kita lagi, maka kita tidak akan memiliki kesempatan untuk melawan.”Clara mengangguk, mengerti akan kepanikan yang mendasari keputusan Aryan. Mereka berdua baru saja keluar dari kegelapan, dan kembali terjerumus dalam rasa takut yang membayangi akan takdir orang yang mereka cintai. “Tapi, Aryan, kita tidak tahu di mana dia berada. Kita mungkin hanya akan lebih dekat ke Jari Zareth.”“Justru itu, Clara,” jawab Aryan tegas. “Semakin cepat kita bergerak, semakin cepat kita bisa menemukan dia. Dan jika kita menemukan Yoshua, dia akan membawa banyak pengetahuan dan pengalaman yang bisa membantu kita menghentikan Zareth.”Clara merasa ada kebenaran dalam kata-kata Aryan, tetapi rasa takut akan keselamatan mereka te

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Cahaya di Ujung kegelapan

    Cahaya yang berkedip di kejauhan semakin jelas seiring langkah Clara dan Yoshua yang semakin mendekat, menciptakan harapan dalam kegelapan yang mencekam. Setiap langkah bergetar penuh ketegangan, diiringi dengan detakan jantung yang terengah-engah. Clara merasakan keberanian mengalir di dalam dirinya, meskipun ketakutan akan nasib Aryan terus menghantuinya. “Cahaya itu tampaknya berasal dari tengah laut,” kata Yoshua sambil melangkah perlahan, mengamati ombak yang bergejolak. “Apakah kau yakin kita harus pergi ke sana, Clara?” “Aku harus tahu. Jika Aryan ada di sana…” Clara menggigit bibirnya, menahan emosi yang menghantui. “Kita tidak bisa membiarkannya sendirian.” Mereka berdua akhirnya tiba di tepi air. Cahaya itu tampak bergerak, menari di atas permukaan laut yang gelap. Clara merasakan denyut kesadaran di dalamnya, seolah cahaya itu menyampaikan pesan, sesuatu yang mendesak untuk ditangkap. Mereka menatap ke laut, berharap untuk melihat lebih dekat. Hampir tidak ada suara

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Terjatuh Ke Laut

    Dunia berputar liar, seolah alam semesta sedang bergejolak dalam pusaran emosi Aryan yang tak terkendali. Di saat ia berusaha mencengkram. Seorang anak buah Zareth' tiba-tiba melepaskan tembakan, membuat cengkeramannya pada helikopter terlepas. Zareth' tersenyum puas menyaksikan. Aryan merasakan sensasi jatuh bebas yang memilukan, sensasi yang mengancam untuk merenggut nafasnya. Tawa Zareth yang terbahak-bahak. Kini hanya menjadi gema samar, hilang tertelan deru angin dan hempasan ombak. Tubuh Aryan menghantam permukaan air, dingin dan gelap, sebuah benturan keras yang merenggut kesadarannya. Air laut yang dingin menerjang, memaksa paru-parunya untuk berkontraksi. Dunia di sekelilingnya berubah menjadi kegelapan pekat, terisi oleh suara gemuruh air dan detak jantungnya yang menggila. Ia berjuang, berupaya untuk membuka mata, tetapi kegelapan terus memburunya, seperti bayang-bayang yang enggan melepaskannya. Otot-ototnya menegang, tubuhnya meronta dalam usaha sia-sia untuk naik ke

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Pertemuan di Tengah Lautan Gelap

    Udara malam yang begitu pekat, sarat dengan aroma garam dan misteri. Di bawah langit yang bertabur bintang, di antara gemuruh ombak yang tak pernah lelah, Aryan dan Clara tiba di pantai terpencil yang telah menjadi lokasi pertemuan mereka. Malam tanpa bulan, hanya sedikit cahaya dari bintang yang menembus kegelapan, menciptakan suasana yang mencekam. "Ini pasti jebakan," gumam Clara, suaranya hampir tak terdengar di tengah deru ombak. Ia memandang sekeliling dengan waspada, matanya menelusuri kegelapan, mencari tanda-tanda kehadiran musuh. Aryan mengangguk, meskipun hatinya juga diliputi keraguan. Namun, ia harus mengambil risiko ini. Yoshua, ayahnya, berada dalam bahaya. Ia tidak punya pilihan lain. "Mungkin memang jebakan," jawab Aryan. "Tapi kita harus tetap waspada." Mereka berdiri di tepi pantai, menunggu dengan sabar. Jantung mereka berdebar-debar, dipenuhi campuran harapan dan ketakutan. Waktu terasa berjalan sangat lambat, setiap detik terasa seperti menit. Tiba-tiba, di

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Upaya Pencarian Zareth'

    "Tidak mungkin! Mereka melarikan diri!" teriak Aryan, matanya menyapu sekeliling dengan marah. Udara dipenuhi dengan asap dan debu, sisa-sisa kehancuran yang ditinggalkan oleh kemarahannya. Clara, yang masih dalam pelukan Aryan, melepaskan dirinya. Ia menatap Aryan dengan tatapan khawatir. "Tenang, Aryan. Mereka akan mendapatkan balasan." Aryan mengangguk, mencoba menenangkan diri. Namun, rasa amarah dan frustrasi masih membara di dalam dirinya. Ia tidak akan membiarkan Zareth dan Liana lolos begitu saja. Desir angin menerpa wajah Aryan dan Clara, membelai rambut mereka saat mereka berdiri di dermaga yang hancur. Matahari senja mewarnai langit dengan warna jingga dan ungu, menciptakan pemandangan yang indah namun menyimpan rasa getir. Zareth dan Liana, bersama sisa-sisa pasukannya, telah lenyap. Jejak mereka hilang seperti buih di lautan. "Sialan," gumam Aryan, suaranya sarat kekecewaan. Ia mengepalkan tangannya, merasakan kemarahan yang baru saja ia kendalikan mulai merayap k

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Api Pembalasan (Kekuatan Mutant Dalam Diri Aryan)

    Ancaman Liana bagaikan bara api yang membakar amarah Aryan. Mendengar kata-kata pengkhianatan itu, hatinya hancur berkeping-keping. Seluruh tubuhnya bergetar, bukan hanya karena luka fisik, tetapi karena luka batin yang lebih dalam. Pengkhianatan Liana adalah pukulan yang tak terduga, menikam lebih dalam daripada pedang. "Kau… kau akan menyesal!" teriak Aryan, suaranya dipenuhi kemarahan yang meledak. Matanya berkilat, dan di saat itu, sesuatu dalam dirinya berubah. Sesuatu yang telah lama terpendam, kekuatan yang selama ini hanya ia gunakan untuk membela diri, kini bangkit dengan dahsyat. Ia bukan lagi hanya seorang pemuda dengan perisai energi. Ia adalah seorang prajurit, seorang pejuang yang telah memenangkan ribuan pertempuran, seorang mesin pembunuh yang dilatih untuk menghancurkan. Kemarahan Aryan mengamuk seperti badai. Ia melupakan luka-lukanya, melupakan rasa sakitnya. Ia melupakan segalanya kecuali satu tujuan, membalas dendam atas kebiadaban terhadap manusia yang tak

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Datangnya Pengkhianat "Liana"

    Saat tangan Aryan terangkat, bersiap untuk menghukum Zareth, suara yang begitu dikenalnya memecah keheningan yang mencekam."Hentikan!"Semua mata tertuju pada sosok yang berdiri di ambang lorong. Liana. Wanita yang pernah menjadi sekutu mereka, yang pernah berbagi senyum dan harapan, kini berdiri di sana, dengan mata yang dingin dan benci. Ia mengenakan seragam hitam para pengawal Zareth, sebuah pengkhianatan yang menikam Aryan lebih tajam daripada pedang.Wajah Aryan membeku. "Liana?"Liana melangkah maju, dengan gerakan yang anggun namun penuh ancaman. "Kau tidak bisa mengalahkannya, Aryan. Kau tidak mengerti kekuatan yang ia miliki.""Kekuatan yang telah menghancurkan begitu banyak kebahagiaan?" balas Aryan, matanya tak lepas dari Liana. Liana menggelengkan kepalanya. "Kau terlalu naif. Zareth menawarkan kedamaian. Ia menawarkan stabilitas. Kau hanya melihat kekacauan.""Kedamaian?" Aryan tertawa getir. "Ia menawarkan kekuasaan atas mayat-mayat korbannya!"Liana menghela napas, t

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Bahaya Kekuatan Perisai Aryan

    Saat suara Zareth menggema di lorong, getaran amarah dan tekad mengeras di jiwa Aryan. Ia memandang ayahnya, Yoshua, yang tampak lemah namun matanya memancarkan keberanian. "Ayah, jaga dirimu," kata Aryan, suaranya tenang namun tegas. Yoshua mengangguk, lalu mundur selangkah, mencari perlindungan di balik bayangan. Zareth tersenyum sinis, matanya menyiratkan arogansi. "Kau pikir kau bisa mengalahkanku, anak bodoh?" "Aku akan menghentikanmu," balas Aryan, merentangkan tangannya. Perisai energi berwarna perak mulai terbentuk di sekelilingnya, memancarkan cahaya yang menyilaukan. Zareth tertawa. "Mari kita lihat seberapa kuat perisaimu itu." Pertarungan dimulai dengan cepat dan brutal. Para pengawal Zareth menyerbu dengan senjata mereka, namun Aryan dengan lincah bergerak, memanfaatkan perisai energinya untuk menangkis serangan. Ledakan energi menghantam para pengawal, melontarkan mereka ke belakang. Di tengah kekacauan itu, Zareth melangkah maju. Ia bergerak secepat kilat, berusa

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Terungkapnya Sebuah Tabir

    Udara dingin dan lembap di lorong rahasia menusuk hingga ke tulang. Langkah Aryan dan Clara terhenti saat mereka melihat ruangan di ujung lorong, sebuah sel rahasia. Di dalam, seorang pria meringkuk, terikat rantai besi. Cahaya redup dari obor yang dipasang di dinding hanya mampu menerangi sebagian ruangan, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari."Siapa... siapa dia?" gumam Clara, suaranya berbisik.Aryan terdiam, jantungnya berdebar tak karuan. Ada sesuatu yang familiar dari sosok pria itu, sebuah bayangan ingatan yang samar namun kuat. Perlahan, ia mendekat, matanya berusaha menembus kegelapan.Saat ia semakin dekat, keraguan itu sirna. Wajah yang dulu ia kenal, kini dipenuhi luka dan bekas siksaan, namun tetap tak dapat disangkal."Ayah...?" gumam Aryan, suaranya bergetar.Pria itu mengangkat kepalanya, matanya yang sayu menatap ke arahnya. Sebersit harapan muncul di matanya, lalu berubah menjadi rasa bersalah yang mendalam."Aryan...?" Yoshua, ayah Aryan, menjawab dengan s

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status