Share

Part 2

"Aru kembali ke Indonesia," lapor Denis, menunjukkan foto perempuan cantik yang sedang bersama seorang anak perempuan.

Tian mengamati dengan lekat foto anak perempuan yang sangat mirip dengannya. Kata orang, anak perempuan cenderung lebih mirip dengan sang ayah, apakah itu benar.

"Aru membohongiku, dia bilang sudah menggugurkan anak itu. Tapi kenapa anak gadis ini sangat mirip denganku, apa tujuannya kembali kesini?"

Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Tian, di tengah resah hatinya. Ia takut Ressa mengetahui semua tentang masa lalu yang selama ini ditutupnya rapat. Hanya Denis yang tahu dengan semua rahasianya.

"Entahlah, aku akan mengirim orang untuk mengawasi mereka."

"Jangan sampai dia tahu keberadaanku, apalagi bertemu dengan Ressa. Aku takut semua yang baru kumulai ini akan berakhir lagi, Denis." Tian mendesah frustasi.

Segala yang terjadi di masa lalu itu sangat menggores hatinya, hingga membekas sampai sekarang. Luka itu belumlah sembuh, hanya kering di bagian luarnya saja. Sulit untuk Tian melupakan segala luka yang pernah digoreskan oleh cinta pertamanya.

Denis menganggukkan kepala. "Baik, kamu tidak ingin bertemu dengan anakmu?" tanyanya.

Tian berdiri menatap ke luar jendela, dengan tatapan kosong. "Sangat ingin, bahkan dulu aku sangat mencintai Aru, dia yang membuatku jadi bajingan seperti sekarang ini. Ressa akan pergi meninggalkanku jika tahu aku memiliki anak dari perempuan lain."

Asisten sekaligus sahabat Tian itu tidak tahu harus mengatakan apa, dia ikut bingung memikirkannya. "Apa perlu kita melakukan tes DNA?"

"Tidak perlu," Tian menggeleng lemas. "Sudah pasti dia anakku Denis, dilihat dari wajahnya pun sudah ketahuan. Umurnya pasti sekarang sudah menginjak dua belas tahun. Selama itu juga dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah."

Laki-laki itu tersenyum miris, mengejek dirinya sendiri. Memikirkan Ressa akan murka dan pergi meninggalkannya saat tahu dia memiliki seorang anak, itu membuatnya semakin frustasi. Tian dilema.

"Kalau begitu kita tutup rapat semua ini," putus Denis.

"Berikan apa yang Aru dan anaknya butuhkan. Jangan biarkan mereka kekurangan apapun, semoga suatu saat nanti aku bisa memeluk anakku dan menyampaikan maaf padanya. Dan semoga saat itu terjadi, Ressa mau menerima masa laluku dengan berbesar hati. Atau aku akan kehilangan semuanya," gumamnya lirih dengan mata terpejam. Semua kejadian di masa lalu sekarang sedang berputar di kepalanya.

***

Netra perempuan hamil itu menerawang kosong ke arah langit-langit sambil mengelus perut datarnya. Apa yang dilihatnya tadi siang membuatnya banyak berpikir. Ia terjebak pada pernikahan yang rumit. Baru satu minggu menikah sudah mendapatkan cobaan seperti ini.

Mungkin ini karma untuknya yang membangkang pada orang tua. Kalau ia menurut untuk dijodohkan, tidak akan hamil diluar nikah dan menjadi istri dari pria yang memiliki banyak wanita.

Namun ini adalah pilihannya sendiri. Ia yang memutuskan untuk memilih hidup dengan neraka pernikahannya sendiri, dibanding menikah dengan pria yang sama sekali tidak dikenalnya.

Ceklek

Ressa melirik sekilas saat suara pintu berderit didorong dari luar, suaminya telah pulang dari kantor.

"Miss you, Honey." Sapa Tian, mengecup pipi istrinya dari belakang sofa lalu mengambil posisi duduk di samping kepala Ressa dan memindahkannya ke pangkuan.

"Lesu banget, tadi gak makan siang?" Ressa mengangkat sedikit kepalanya, mengecup balik pipi Tian. Lelaki itu tersenyum simpul padanya. Untuk sementara ia akan menyembunyikan apa yang diketahuinya.

"Makan, cuma lagi banyak kerjaan aja. Baby ngidam apa hari ini?" Tanya Tian seraya mengusap perut istrinya, meskipun pikirannya saat ini sedang bercabang.

Ressa mengangguk kecil, bangun dari pangkuan suaminya. Ternyata sesulit itu mengkondisikan perasaan. Ia marah, benci, kecewa dan rasanya ingin mengamuk saat ini juga. Ingin sekali mencecar Tian dengan berbagai pertanyaan.

"Aku mandi dulu ya," Tian menyempatkan mengecup kening istrinya sebelum beranjak ke kamar. Berharap setelah diguyur air pikirannya tidak berserabut lagi.

"Iya," jawab perempuan hamil itu seadanya, beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan malam.

***

"Makan dulu yuk, baru lanjut istirahatnya." Ajak Ressa, membangunkan suaminya yang sedang tiduran.

"Kamu aja makan duluan Sa, aku masih kenyang." Jawab Tian, memiringkan tubuhnya dan memeluk guling membelakangi Ressa. Melihat wajah istrinya itu membuat kepalanya bertambah sakit karena merasa bersalah.

"Capek sama kerjaan gak gitu juga nyuekin aku. Aku udah capek-capek masak buat kamu tahu," kesal Ressa lalu keluar dari kamar.

Harusnya dia yang mengabaikan tapi kenapa malah sebaliknya. Apa sebenarnya Tian sudah tahu kalau Aru kembali dan sedang berencana menikahinya karena permintaan Dea. Memikirkan itu membuat perutnya langsung kenyang dan tidak berselera makan lagi. Namun ia harus tetap makan untuk kebutuhan bayi dalam kandungannya.

"Maaf," Tian memeluk istrinya dari belakang. Memberikan kecupan di pipi kanan dan kiri, karena Aruna pikirannya jadi kacau dan tidak fokus begini. Ressa bisa curiga kalau dia bersikap cuek seperti ini.

"No problem, udah biasa makan sendiri." Sahut perempuan hamil itu ketus, menyelesaikan makannya dengan cepat.

"Makannya pelan-pelan, Honey." Tian tersenyum melihat cara makan istrinya yang berantakan karena kesal. Membersihkan sudut bibirnya dengan jempol. "Nasinya gak lari kalau kamu makannya pelan, gak ikhlas banget lihat aku disini," godanya dengan kekehan.

"Nasinya emang gak lari, tapi hati aku yang terlanjur lari," sahut Ressa asal saja.

Tian menghela napas. Belum juga mengetahui semua tentangnya, istrinya ini sudah mengamuk. Apalagi kalau tahu, apa yang harus dilakukannya agar semua tetap baik-baik saja.

"Ya sudah, aku saja yang pergi, kamu selesaikan makannya pelan-pelan ya." Ujar Tian menepuk kepala istrinya beberapa kali kemudian beranjak ke ruang tengah.

Tarikan napas Ressa terdengar berat, menatap suaminya yang meninggalkan ruang makan dengan perasaan gundah gulana. Biasanya Tian dengan suka cita menggodanya agar berhenti marah, namun hari ini tidak lagi.

Apakah semua ini karena kembalinya Aruna dan putrinya? Sehingga Tian mengabaikannya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status