Share

7

Hari ini gerimis membungkus kota. Bulir hujan pun turun bagai tetesan air mata di teduhnya senja.

Setelah melerai ketegangan dan kesalahpahaman di antara kami berdua, aku memutuskan untuk tidur sebentar sebelum menyiapkan makan malam.

‘’Sel,’’ panggil Mas Ega, padahal aku sudah tidak kuat membuka mata.

‘’Hm?’’

‘’Tiga puluh menit lagi kita pergi. Kamu siap-siap.’’

Kutemukan Mas Ega tengah berkutat dengan ponsel ketika mata ini ku paksa untuk terbuka.

‘’Kemana? Aku mager, Mas,’’ kataku, malas.

Besar harapan agar Mas Ega memaklumi ketidak inginan ku untuk beranjak dari empuknya pulau kapuk. Namun tampaknya, Mas Ega tidak mau menerima alasan apapun bila melihat dari lirikannya yang setajam belati itu.

Sebenarnya, aku lelah sekali setelah menghabiskan aktivitas suami istri kemarin malam. Remuk badan dan sakit pinggang, baru terasa sekarang.

‘’Pak Abi mengundang kita ke acara ulang tahunnya. Kamu harus dandan yang cantik pokoknya. Aku sudah menyiapkan gaun di lemari. Jadi, kamu tinggal pakai. Dia itu klien penting. Kita jangan sampai menyinggungnya, dengan tidak datang padahal sudah diundang.’’

Bila dicermati, hubungan Mas Ega dan Pak Abi ini terjalin sangat baik. Aku pun tidak mau mengecewakan suamiku.

Walau tubuh begitu berat untuk digerakkan, aku tetap turun dari ranjang. Demi baktiku sebagai istri.

Seketika mencari pakaian yang dimaksud. Namun lagi-lagi dibuat tak mengerti dengan selera busana Mas Ega.

Gaun ungu dengan belahan tinggi mencapai paha, berbelahan dada rendah, langsung menyita perhatian ketika aku membuka lemari untuk memastikan.

Apakah wanita-wanita di dunia model, selalu mengenakan pakaian minim seperti ini?

Aku bergumam dalam hati.

‘’Gimana? Bagus, nggak?’’

Sudah pernah protes terkait gaun untuk menghadapi klien, berujung disalahkan karena memakai pilihan sendiri, aku pun terpaksa mengangguk demi menghindari perdebatan.

Bapak melarangku berpakaian terbuka selama di desa. Tapi orang yang menjadi imamku, secara tidak langsung malah membuatku memperlihatkan aurat yang seharusnya hanya dia yang melihat.

‘’Kamu cepat ganti baju. Aku mau terima telepon dulu.’’ Mas Ega buru-buru keluar dengan telepon di telinga.

Kok seperti ada yang aneh dari gelagatnya. Aku membatin, sebab, Mas Ega sempat melirik ke arahku sebelum keluar dari kamar.

Tanpa Mas Ega tau, aku mengintip dari sela pintu dan menguping pembicaraan yang mana tanpa sepengetahuan Mas Ega, suara penelponnya bisa aku dengar walau samar.

‘’DP nya sudah masuk, Pak. Tapi nanti sebelum check in, tolong langsung dibayar full.’’

‘’Baik, akan segera saya transfer sekarang.’’

‘’Wah, apa tidak buru-buru?’’ ujar Mas Ega dibarengi tawa.

‘’Saya tidak pernah menunda untuk sesuatu yang memang saya inginkan, Ega. Persiapkan saja dia, seperti kemarin.’’

‘’Jangan khawatir, Pak Bos. Semua beres.’’

‘’Saya tidak mau berhubungan dengan patung seperti yang pertama. Saya mau seperti yang kemarin. Setengah sadar.’’

‘’Baik, baik. Akan saya usahakan.’’

‘’Jangan kecewakan saya, Ega. Kalau tidak, uang yang sudah saya berikan, kamu harus kembalikan.’’

Dug.

Jantungku bergemuruh ketika Mas Ega menoleh ke arah kamar. Buru-buru aku melompat, mengambil gaun dan menyibukkan diri berdandan.

‘’Kamu dari tadi di situ?’’

Munculnya Mas Ega dalam pantulan kaca tak kalah membuat diri ini panik bukan kepalang. Namun aku berusaha tenang mati-matian. Bernafas teratur walau sulit.

‘’Memangnya kamu mau aku di mana, Mas? Bukannya tadi kamu nyuruh aku siap-siap?’’

Sangking takutnya, aku berdoa dalam hati agar Mas Ega percaya.

‘’Oh.’’

Dan syukurnya doa itu terkabul saat itu juga. Aku menghela napas, begitu lega mendengar dua kata dari bibirnya.

‘’Tadi siapa yang menelepon?’’ Ku alihkan obrolan karena sangat penasaran.

Masih menjadi pertanyaan, tentang dia yang akan dipersiapkan.

Aku tidak tau dia itu siapa atau mungkin benda. Namun obrolan di telepon itu, sudah jelas telah terjadi deal transaksi.

Mas Ega tidak memberitahuku ada jadwal pemotretan yang harus aku lakukan. Itu berarti, Mas Ega punya bisnis lain selain menjadi fotographer. Jika memang ada, tega sekali aku sebagai istrinya tidak diberi tahu pekerjaannya apa.

‘’Klien.’’

‘’Klien? Klien dari produk apa?’’

‘’Kali ini bukan untuk pemotretan. Dan, kamu tidak perlu tahu, Sel. Soalnya, ini urusan laki-laki.’’

Sisi diriku yang merasa tak dihargai, sontak bangkit berdiri. Aku tidak pernah menutup apapun darinya dan teganya dia merahasiakan sesuatu dariku padahal aku ini bukan orang lain baginya.

‘’Aku istri kamu, loh, Mas,’’ ucapku, marah. ‘’Kamu ngapain di luar sana, sama siapa, ngapain saja, masa aku gak boleh tahu? Kita ini sudah menikah.’’

‘’Seandainya aku yang begitu, bagaimana?’’ imbuhku, lagi.

‘’Selin, kamu kok, marah?’’ Dia malah kaget melihat reaksiku.

‘’Bagaimana aku tidak marah. Kamu nggak menganggapku sebagai istrimu. Dengan enteng kamu bilang aku tidak perlu tau. Di mana-mana, suami istri itu harus saling terbuka. Aku jadi curiga, sebenarnya kamu tuh sayang nggak sih, mas, sama aku?’’

Dasarnya wanita ingin dimanja dan dimengerti, Mas Ega langsung menghampiri dan memelukku. Membuat amarah ini luruh dan hatiku langsung luluh.

Tak lupa, kecupan di bibir yang menjadi alasan senyumku kembali merekah.

‘’Tentu saja, Sayang. Kalau tidak, untuk apa aku mempertahankanmu.’’

Aku jadi dibuat bingung dengan kata-katanya. Bukankah seharusnya, untuk apa aku menikahimu? Kenapa malah jadi mempertahankan?

Seperti aku ini dinikahi hanya untuk menjadi kelinci uji coba Mas Ega. Yang akan dibuang jika tidak berguna.

‘’Sekarang jangan marah-marah lagi,’’ ucapnya sambil membelai pipi ini.

‘’Aku nggak marah kalau kamu nggak ngomong kaya tadi. Lagian kamu punya bisnis apa, sih, selain di bidang fotografi?’’

‘’Hm, bagaimana bilangnya, ya?’’

Bukannya menjawab cepat, Mas Ega malah mengabsen setiap inci tubuhku dari bahu turun hingga ke bawah panggul. Membuat bulu kudukku jadi meremang.

‘’Jual beli barang yang indah di pandang mata,’’ bisiknya seraya merapatkan tubuh kami berdua.

Aku tidak munafik. Saat ini, aku jadi ingin sekali mengulang kejadian tadi malam.

‘’Mas…’’

‘’Hm?’’

‘’Aku pengen.’’ Aku berucap manja. Memeluk pinggangnya namun kepalaku menengadah untuk bisa melihatnya.

Senyum miring tercipta di wajah tegas suamiku itu. Mungkin dia tidak menyangka, bila aku akan berkata begitu padahal Mas Ega sedang menjelaskan bisnis yang sempat membuatku berkeras ingin tahu.

‘’Kalau kamu sungguhan mau, nanti saja setelah selesai dari acara Pak Abi, bagaimana? Acaranya di villa dan semua tamu menginap di sana. Ingat, kita tidak boleh terlambat, Sel.’’

Aku tidak keberatan menunggu, asal bisa merasakan kembali momen itu.

Aku pun setuju. Dan wajah Mas Ega langsung terlihat senang, seperti habis mendapat undian besar.

‘’Tapi dengan satu syarat,’’ ujarnya tiba-tiba.

‘’Syarat apa?’’

‘’Kamu harus dalam kondisi kayak kemarin. Mas suka sekali melakukannya ketika kamu mabuk. Persis seperti, kupu-kupu cantik yang sudah tidak berdaya,’’ ucapnya seraya tersenyum miring.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status