Home / Romansa / Hasrat Liar Hot Duda / Apa Perlu Aku Bercinta di Depan Kalian?

Share

Apa Perlu Aku Bercinta di Depan Kalian?

Author: Rein Azahra
last update Last Updated: 2025-01-24 15:55:12

Suara kicau burung membangunkan Amber dari tidurnya yang nyenyak. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali menghalau silaunya matahari yang menerobos masuk melalui celah gordeng.

Amber memijat kepalanya yang terasa pening. Ia heran kenapa ia bisa berada di tempat tidur. Padahal ingatan terakhir yang berada di otaknya adalah dia sedang berendam di dalam bathtub tadi malam.

"Kenapa aku bisa ada di sini? Dan siapa yang memakaikan pakaian tidur ini?" Amber meraba  gaun tidur berwarna peach yang ia kenakan saat itu.

"Selamat Pagi Nona." Suara Alfred yang baru masuk mengejutkan Amber.

"Pagi Alfred!" Amber bangun dan duduk di tepian tempat tidur.

"Nana apa Anda sudah merasa lebih baik?" tanya Alfred membuat Amber mengerutkan keningnya.

"Memangnya aku kenapa?"

"Anda pingsan Nona. Beruntung Tuan Dave segera mengeluarkan Nona dari bathtub. Dan semalaman Anda demam sampai Tuan Dave merawat Anda dengan telaten," jawab Alfred.

"A—apa benar begitu?" Amber terbengong. Jadi Dave merawatnya?

"Iya Nona. Tuan Dave meminta saya untuk melihat keadaan Nona."

"Aku sudah sembuh," jawab Amber dengan cepat.

"Syukurlah kalau begitu. Sekarang lebih baik Anda bersiap. Tuan Dave menunggu Anda di bawah."

"Baik, aku akan segera ke bawah." Amber mengangguk.

Amber bangun dari tidurnya, setelah mandi, ia keluar dari kamar dan bergegas turun ke lantai bawah. Namun di bawah ia mendengar suara ribut-ribut. Rupanya ada tamu yang datang sepagi ini.

Amber menuruni anak tangga dengan cepat. Ia terkejut saat melihat tamu yang datang ke rumah Dave pagi itu.

"Amberlyn Pierce? Kenapa kamu ada di rumah Dave?" Nyonya Eliza, ibunya Dave terkejut melihat kehadiran Amber di rumah anak lelakinya itu.

"Nyonya, aku—" Lidah Amber kelu, ia tidak menyangka kalau teman ibunya itu adalah ibu kandung Dave.

Dulu sewaktu keluarga Amber masih berjaya, ibunya pernah membawa Amber bertemu dengan Nyonya Eliza dan mereka sempat berbicara akrab waktu itu. Dan kini mereka bertemu lagi saat keluarga Amber sudah bangkrut. Hal itu membuat Amber sedikit tidak percaya diri.

"Dia adalah istriku Mom, jadi wajar kalau dia tinggal di sini." Dave menjawab dengan santai.

"What? Kalian telah menikah? Kapan? Kenapa kalian tidak memberitahu Mommy sebelumnya?" Tentu saja Nyonya Eliza kaget mendengar pengakuan putranya itu.

"Aku sudah dewasa Mom, dan ini pun pernikahan keduaku, jadi aku rasa tidak perlu dibesar-besarkan seperti ini."

"Tapi Dave, biarpun kamu sudah dewasa  tetap saja kamu adalah baby-nya Mommy yang paling tampan." Nyonya Eliza menatap lembut ke arah Dave.

"Stop menganggapku anak kecil Mom!" Dave paling tidak suka dengan perlakuan mamanya yang seperti ini.

Amber menahan tawanya. Melihat Dave diperlakukan seperti seorang anak kecil yang lucu membuat Amber geli. Karena selama ini Dave selalu menanamkan kesan dingin dan tegas di hadapannya.

Ia menghampiri Nyonya Eliza yang datang bersama Tuan Martin Oliver suaminya.

"Selamat pagi semuanya." Amber menyapa kedua orang yang kini resmi menjadi mertuanya dengan sopan.

"Just call me Mom, like Dave." Pinta Nyonya Eliza. Amber hanya mengangguk pelan. Ia masih harus beradaptasi dengan situasi baru ini.

"Benarkah kalian sudah menikah?" Tuan Martin seakan tak percaya dengan perkataan Dave, ia memicingkan kedua matanya.

Dave tidak menjawab, ia menarik tangan Amber yang berdiri di sampingnya lalu dengan cepat menyambar bibir gadis itu, melumatnya dengan lembut tanpa malu di hadapan kedua orang tuanya serta beberapa pelayan yang ada di sana.

Amber yang tidak menyangka akan dicium secara tiba-tiba oleh Dave hanya bisa membelalakan matanya lebar-lebar. Namun ia membiarkan Dave melakukan itu tanpa perlawanan.

Dave melepaskan tautan bibir mereka dan berpaling pada kedua orang tuanya yang juga terkejut melihat kelakuan Dave.

"Apa perlu kami bercinta di hadapan kalian agar kalian percaya kalau kami sudah menikah?" Kedua rahang Dave mengeras. Ia kesal karena kedua orang tuanya pun tidak percaya kalau ia adalah lelaki normal.

Tuan Martin mengulum senyum. Ia menepuk bahu putranya pelan. "Tidak tahu malu, masa kamu mau bercinta dengan istrimu di depan kami. Aku percaya kalau kalian sudah menikah. Congrats Dave, kamu sudah kembali." Martin memeluk tubuh putranya.

Namun Dave menolak pelukan itu. "Mommy dan Daddy sama saja dengan orang-orang itu." Dave naik ke lantai atas meninggalkan semua orang yang masih terbengong.

"Sayang, cepat tenangkan suamimu, jangan sampai dia marah." Nyonya Eliza terlihat khawatir.

"Kamu sih kenapa bicara seperti itu?" Nyonya Eliza menyikut lengan suaminya.

"Memangnya apa yang salah dengan kata-kataku?" Tuan Martin Oliver mengangkat bahunya.

"Jelas salah Sayang. Itu artinya kamu meragukan anakmu sendiri, sama seperti orang-orang di luaran sana." Nyonya Eliza mengerling gemas.

Tuan Oliver menghembuskan napasnya ke udara. Ada penyesalan di sorot matanya.

"Amber, sana bujuk suamimu agar tidak marah lagi." Nyonya Eliza melirik ke arah Amber yang masih terpaku.

"Baik." Amber dengan wajah bingung segera menyusul Dave ke atas.

Sebenarnya ia tidak tahu harus bicara apa pada Dave. Terlihat lelaki itu masuk ke dalam kamarnya dan membanting semua bantal di atas kasur.

Amber hanya bisa melihat kelakuan Dave dari luar kamar, ia tidak berani masuk karena takut akan semakin membuat pria itu marah.

"Apa yang kamu lihat?" Dave mendelik kesal pada Amber yang berdiri di ambang pintu. Lelaki itu melangkah dengan cepat menghampiri Amber yang mundur ke belakang.

Dave menarik lengan Amber dan mendorongnya ke dinding. Tubuh gadis itu terpojok dan tak bisa bergerak karena tekanan tubuh Dave mengungkungnya.

"Apa kamu juga sama seperti mereka menganggapku pria tidak normal?" Suara bariton Dave terdengar bergetar menahan marah.

Dengan cepat Amber menggeleng. Ia tak ingin membuat Dave makin marah padanya.

"Tidak Dave, aku tahu kamu pria normal." Amber berusaha meredakan amarah Dave.

"Kamu tidak bohong?" tatapan tajam Dave membuat lutut Amber bergetar.

"Ti—tidak Dave, mana mungkin aku berani bohong." Amber menggeleng takut.

Dave terdiam, ia menatap wajah cantik Amber dengan tatapan yang sulit terbaca.

"Bagus, jangan sampai kamu berpikir kalau aku gay!" Dave perlahan melepaskan pegangan tangannya pada lengan Amber.

Amber menarik napas lega saat terlepas dari tangan Dave. Benar-benar mengerikan. Ketampanan Dave seolah terkubur oleh sikap mengerikan lelaki itu.

Tapi baru saja Amber menghela napasnya, Dave kembali menatapnya dengan tajam.

"Tapi aku tidak suka tatapan matamu Amber. Aku tidak suka saat kamu menggigit bibirmu, aku tidak suka saat kamu memelas ketakutan... aaargghh... aku tidak suka semuanya... " Dave mengacak rambutnya sendiri dengan wajah frustasi.

"A—apa maksudmu Dave?" Amber tertegun. Apa benar Dave tidak suka sama sekali padanya?

Related chapters

  • Hasrat Liar Hot Duda   Aku Bukan Pelacur

    "Dave apa benar ka—kamu tidak suka perempuan?" Dengan sangat hati-hati Amber bertanya. "Itu lagi yang kamu tanyakan? Apa kamu masih meragukanku Amber?" Kemarahan makin terlihat di wajah tampan Dave. "Bu—bukan maksudku begitu." Tubuh Amber gemetar ketakutan saat Dave kembali mendekat. Cup. Satu kecupan kasar Amber rasakan di bibirnya. Dave menjarah bibirnya dengan rakus. Tak ada kelembutan di sana. Amber terpaku. Tak berani melawan. Hanya kedua tangannya yang berusaha menahan dada bidang Dave. Bibir Amber sudah terasa kebas dan bengkak saat akhirnya Dave melepaskan tautannya. Amber tertunduk. Dave begitu mengerikan. Apakah ia akan sanggup bertahan hidup dengan pria seperti dia? "Apa itu masih membuatmu ragu, Amber? Kalau memang kamu masih ragu, aku akan melakukan hal yang lebih gila lagi padamu." Dave menyeringai tipis tapi begitu mengerikan di mata Amber. "Tidak... tidak... aku percaya Dave." Amber menggeleng dengan cepat. Raut ketakutan masih tergambar jelas di ma

    Last Updated : 2025-01-30
  • Hasrat Liar Hot Duda   Terkurung dalam Sangkar Emas

    Amber terbelalak saat mendengar ancaman dari Dave. Lagi-lagi pria itu mengancamnya dengan alasan uang yang membuat Amber tidak bisa berkutik lagi. Amber menghela napas berat. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika ia harus menikah dengan pria seperti Dave yang dingin dan penuh misteri. Mobil mewah itu berjalan menuju rumah megah Dave. Setibanya di sana, seperti biasa para pelayan akan menyambut kedatangan mereka. "Masuk ke dalam kamarmu Amber dan jangan pernah berani untuk keluar lagi tanpa seizin dariku, " titah Dave dengan tegas. Amber hanya mengangguk. Ia segera naik ke lantai atas menuju kamarnya. "Alfred!" Pandangan Dave beralih pada kepala pelayannya. "Ya Tuan." Alfred maju selangkah. "Mulai sekarang, awasi perempuan itu, jangan sampai dia keluyuran tidak jelas." "Baik Tuan." Alfred mengangguk. Sejujurnya, dia merasa kasihan pada Amber yang pastinya akan sangat merasa tertekan dengan sikap aneh Dave ini. Tapi mau bagaimana lagi, perintah Dave memang tidak

    Last Updated : 2025-02-01
  • Hasrat Liar Hot Duda   Sikap misterius Dave

    "Bella!" Sebuah panggilan mengejutkan Amber saat itu. Ada seseorang yang memanggilnya dengan sebutan nama wanita lain. Amber sontak menoleh ke arah belakang, terlihat Dave sedang berdiri di ambang pintu. Pria itu terlihat kaget saat melihat kalau ternyata yang memakai gaun tersebut adalah Amber. Raut wajah Dave seketika menampakan kemarahannya. Membuat Amber menggigil ketakutan. "Siapa yang menyuruhmu memakai gaun itu?!" teriakan menggelegar menciptakan atmosfer mencekam di tempat itu. Amber menyadari kalau dirinya telah melakukan kesalahan besar dengan memakai gaun ini. Dave melangkah menghampiri Amber. Dia meraih pergelangan tangan gadis itu menariknya dengan kasar menuju kamar. Lalu melemparkan tubuh gadis itu ke atas tempat tidur. Semuanya terjadi begitu cepat, hingga Amber tidak bisa lagi berpikir. Ia hanya menerima semua perlakuan kasar Dave tanpa perlawanan. Ia begitu ketakutan saat melihat kemarahan yang begitu di dalam sorot mata Dave. "Dave aku mohon maafkan aku." Amb

    Last Updated : 2025-02-01
  • Hasrat Liar Hot Duda   Apa Kamu Mulai Mencintaiku?

    "Pakai ini!" Dave memberikan sebuah paper bag berisi gaun lengkap dengan sepatu yang harus Amber kenakan untuk menghadiri pesta malam ini.Amber tertegun. Ia yang sedang duduk di tepi ranjang pun memeriksa isi paper bag itu dan mendapati sebuah dress cantik berwarna abu terang yang mewah. "Kita akan pergi kemana?" tanya Amber dengan bingung."Temani aku ke pesta malam ini." Dave berdiri di depan Amber dengan kedua tangan yang bersemayam di dalam saku celananya.Gadis cantik itu mendongak. "Apa ini tugas pertamaku?""Anggap saja begitu." Dave menjawab singkat.Amber manggut-manggut."Aku tunggu di bawah. Tiga puluh menit lagi kamu harus siap." Dave membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari kamar Amber.Amber mengeluarkan dress dan sepatu dari dalam paper bag. Ia segera mengganti bajunya dengan gaun tersebut.Busana yang kini melekat di tubuhnya itu menampakkan bentuk tubuhnya yang seksi seperti gitar Spanyol. Amber menatap puas bayangan dirinya di cermin. Ternyata pilihan Dave san

    Last Updated : 2025-02-02
  • Hasrat Liar Hot Duda   Jangan Sentuh Wanitaku

    "Jangan mimpi Amber. Bangun sekarang juga kalau kamu masih bermimpi." Dave berkata dengan wajah kesal. Sudah Amber duga kalau jawaban Dave pasti akan membuatnya sakit hati. Amber tersenyum getir. ini adalah kesalahannya yang terlalu percaya diri kalau Dave sudah mulai mencintainya. Dave mendengkus dingin. Ia menatap Amber dengan tatapan mencemooh. Namun tiba-tiba tangannya menarik pinggang ramping Amber dan mengangkat dagu gadis itu dengan tatapan tajam. "Jangan terlalu percaya diri Amber. Mana mungkin aku menyukai wanita sepertimu. Lihat dirimu Amber, kamu begitu menyedihkan." Dave memindai tubuh Amber, tentu saja dengan tatapan yang membuat hati Amber mencelos. Kata-kata Dave memang selalu pedas bahkan pedasnya melebihi cabe terpedas di dunia. Namun Amber tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya di depan Dave. Amber menyunggingkan senyum tipisnya. "Bagus kalau kamu tidak menyukaiku. Karena aku juga tidak akan pernah menyukai pria menyebalkan sepertimu." "Apa katamu?" Dave

    Last Updated : 2025-02-03
  • Hasrat Liar Hot Duda   Lepaskan Aku Dave

    Tangan Amber terasa sakit saat harus mengikuti langkah Dave yang tergesa. Entah apa yang akan dilakukannya, yang jelas gadis bermanik cokelat terang itu sangat ketakutan melihat raut wajah Dave yang menyeramkan itu. "Dave, lepaskan aku! Kamu menyakitiku Dave!" Amber berusaha melepaskan tangan lelaki itu. Namun tenaga Dave bukan tandingannya. Pria tampan yang merasa harga dirinya dihancurkan oleh Amber terus berjalan menuju kamarnya. Dia menyeret tubuh Amber dan melemparkannya ke atas kasur. BRUGH! Meski tidak sakit tapi Amber dibuat cukup terkejut oleh sikap kalap Dave. Lelaki itu terlihat sangat marah. Ia kesal karena Amber pun masih saja menuduhnya sebagai lelaki tidak normal seperti orang lain di luar sana. "Dengar Amber, aku menyewamu bukan untuk menghakimiku atau meragukan kejantananku. Tapi kenapa sekarang kamu malah sama seperti orang-orang itu, hah?" Dave mencengkram leher Amber hingga gadis itu merasakan kesulitan untuk bernapas. "Dave, kamu bisa membunuhku kalau

    Last Updated : 2025-02-03
  • Hasrat Liar Hot Duda   Godaan Amber

    Dave menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia seharusnya langsung menutup laptopnya, tapi, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasakan sesuatu yang sulit ia kendalikan, keinginan untuk lebih dekat, untuk menyentuh, untuk memiliki Amber seutuhnya. "Sial!" Ia menggenggam erat ponselnya, berusaha mengendalikan diri. Amber hanya istri bohongannya, dan hubungan mereka tidak seharusnya melibatkan perasaan. Tapi mengapa sekarang ia merasa seperti ini? Dengan gerakan cepat Dave menutup laptopnya. Ia memilih pergi sebelum pikirannya semakin jauh tenggelam dalam godaan yang berbahaya ini. *** Di sebuah bar eksklusif di pusat kota Kensington, suasana malam terasa ramai dengan suara dentingan gelas dan percakapan para pengunjung. Namun, bagi Dave Oliver, dunia terasa lebih sempit dari biasanya. Ia duduk di sudut ruangan dengan ekspresi kusut, mengaduk whiskey di gelasnya tanpa benar-benar berminat meminumnya. Di seberangnya, Julian menyesap minuman

    Last Updated : 2025-02-04
  • Hasrat Liar Hot Duda   Konfrensi Pers

    Suara dering ponsel berulang kali menggema di kamar yang masih gelap. Di atas ranjang besar dengan seprai berantakan, Dave Oliver bergeming. Ponselnya yang bergetar di atas nakas hanya membuatnya mengerang kesal. Ia mengulurkan tangan, meraba-raba ponsel tanpa membuka mata, lalu menjawab panggilan itu dengan suara serak, “Apa?” Suara Julian langsung terdengar di seberang, penuh semangat seperti biasanya. “Selamat pagi, Tuan Oliver! Maaf mengganggu tidur malammu yang berharga, tapi kau harus bangun sekarang. Masalah besar sedang menunggumu.” Dave mendesah, lalu membuka matanya sedikit. “Masalah apa?” "Sepertinya para wartawan mulai tertarik dengan hubunganmu dan Amber. Mereka mulai menggali informasi tentang hal itu, dan kau tahu apa yang mereka temukan?” “Berhenti bertele-tele, Julian.” Dave memijat pelipisnya. “Baiklah, dengarkan ini. Beberapa media sekarang berspekulasi bahwa hubunganmu dengan Amber hanyalah rekayasa belaka untuk menutupi fakta bahwa kau sebenarnya adalah

    Last Updated : 2025-02-05

Latest chapter

  • Hasrat Liar Hot Duda   Bab 40

    "Perempuan jalang, sebaiknya kau tinggalkan Dave sebelum aku tendang kau dari rumah ini." Tiba-tiba Bella berkata seperti itu saat Amber keluar dari kamarnya.Amber mengerutkan keningnya. Ia membalas tatapan nyalang dengan berani. "Apa hakmu berkata seperti itu padaku. Bukankah sebaiknya kau yang pergi dari rumah ini?" Amber tersenyum tipis. "Jangan terlalu percaya diri Amber. Dave tidak benar-benar mencintaimu. Akulah wanita yang sejak dulu Dave cintai," ujar Bella begitu percaya diri.Amber mengepalkan kedua tangannya menahan emosi yang hampir meledak. Namun ia tahu melawan Bella tidak akan berguna sama sekali. "Dave yang mengundangku ke sini. Dan hanya dia yang bisa mengusirku dari rumah ini, " tegas Amber dengan wajah ketus. Dia berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan untuk makan siang. Alfred sudah memberitahu kalau makan siang sudah siap tadi. "Siapa yang mengizinkanmu untuk makan siang di sini, hah?" Bella ingin merengkuh baju yang dikenakan oleh Amber tetapi peremp

  • Hasrat Liar Hot Duda   39

    "Amber!" Dave mencoba memanggil Amber yang keluar dengan tergesa-gesa dari ruangan kerjanya saat itu. Ia ingin bangun tetapi Bella menekan bahunya dan kembali mencium bibirnya dengan buas.Sementara itu Amber masuk ke dalam kamarnya dengan wajah sedih. Ia berdiri di depan jendela kamar dan memegangi dadanya yang terasa sangat sesak. Seperti ada batu besar yang menimpanya."Kenapa rasanya sakit sekali?" Amber memejamkan matanya sembari sesekali memukul pelan dadanya, berharap rasa sesak itu berkurang. Terbayang kembali adegan dimana Bella mencium Dave dengan begitu bergairah tadi. Rasanya ada ketidak relaan dalam dirinya. Ia tidak mau Dave melakukan hal seperti itu dengan perempuan lain.Amber terisak. Ia tersiksa dengan perasaannya sendiri. Ia cemburu pada Dave dan Bella. Ia juga tidak tahu sejak kapan ia mulai memiliki perasaan ini terhadap Dave."Mungkin benar Dave dan Bella mau kembali bersatu. Sadar Amber kau hanyalah orang baru dalam hidup Dave. Sementara Bella, dia sudah mempuny

  • Hasrat Liar Hot Duda   38

    "Lihat, dia sangat mirip denganmu Dave... " ujar Bella dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. Dave menatap anak kecil di pelukannya dengan ekspresi sulit ditebak. Stevan, dengan abu tajam dan rambut gelapnya, mengingatkan Dave pada dirinya sendiri di masa kecil. Anak itu tertawa kecil, jemarinya yang mungil menyentuh wajah Dave dengan polosnya.Amber yang duduk di seberang meja menggigit bibirnya. Dadanya terasa sesak melihat bagaimana Dave tampak terpikat oleh anak itu.Bella tersenyum puas. “Dia menyukaimu, Dave,” katanya dengan nada lembut. “Sepertinya dia tahu kalau kau adalah ayah kandungnya."Dave mengalihkan pandangannya pada Bella, suaranya lebih tenang dari yang dia rasakan. "Apa Stevan benar-benar anakku?"Bella menatap Dave dalam-dalam sebelum tersenyum samar. “Kenapa kau bertanya, Dave? Apa kau tidak percaya padaku?"Amber merasakan jantungnya mencelos. Tatapan Bella begitu licik, penuh dengan kesengajaan.Dave menatap Stevan lagi, lalu menarik napas panjang. Ia ma

  • Hasrat Liar Hot Duda   Bab 37

    Bella baru saja keluar dari dalam kamarnya. Hari sudah beranjak siang saat itu. Kebetulan sekarang adalah weekend dan mungkin Dave masih tertidur di dalam kamarnya. Bella pun melangkahkan kakinya ke arah kamar Dave. Ia rindu sekali dengan pria itu.Kriet!Pintu kamar dibuka perlahan. Kepala Bella melongok ke dalam kamar. Sesaat ia melihat situasi di dalam sana. Tampak Dave masih tertidur lelap dengan menampakkan dadanya yang telanjang. Bibir Bella tersenyum melihatnya. Ia sudah lama tidak menyentuh dada bidang Dave dan mungkin akan sangat mengasyikkan jika ia melakukannya saat ini.Tidak ada Amber di sana. Mungkin perempuan itu sudah bangun lebih dulu. "Ini kesempatanku." Bella menyeringai tipis. Bella pun melangkah dengan perlahan menuju tempat tidur. Lalu ia berbaring di samping Dave dengan gerakan yang pelan agar tidak membangunkan pria itu.Bella merasa senang karena ia bisa tidur lagi di dekat pria itu. Ia menatap wajah Dave yang sekarang terlihat lebih tampan dan mature. Dala

  • Hasrat Liar Hot Duda   Bab 36

    Mereka segera kembali ke London dengan jet pribadi. Begitu tiba di mansion, suasana tegang menyelimuti ruangan. Bella berdiri di dekat perapian, mengenakan gaun hitam elegan. Senyumnya tipis saat melihat kedatangan mereka. "Dave," sapanya lembut, seolah mereka bukan mantan suami-istri yang hubungannya berakhir tragis. Dave menggenggam tangan Amber erat, menegaskan posisinya. "Untuk apa kau datang ke sini Bella? Hubungan kita sudah benar-benar berakhir dan aku tidak suka jika kau terus menerus mencari alasan untuk mendekatiku." Dave mendengkus pelan. Bella menatap Amber sekilas sebelum kembali ke Dave. "Aku ingin menjelaskan semuanya. Kenapa aku pergi, kenapa aku tidak pernah kembali. Aku... tidak pernah mengkhianatimu, Dave." Amber mencengkeram lengan suaminya lebih kuat. Sesuatu dalam kata-kata Bella terasa janggal. Dave menatap wanita itu tajam. "Aku tidak peduli lagi tentang hal itu Bella. Apapun alasanmu sekarang tidak akan bisa mempengaruhiku lagi. "Kau yakin tida

  • Hasrat Liar Hot Duda   Bab 35

    Pagi itu, Amber terbangun dengan perasaan tidak nyaman yang sama seperti semalam. Tempat di sampingnya sudah kosong, tapi dia bisa mencium aroma kopi yang menguar dari arah dapur. Setelah mengenakan cardigan hangat, dia turun dan menemukan Dave sedang berbicara serius di telepon. "Aku tidak peduli apa yang dikatakan ayahnya, Bella tidak punya hak untuk tinggal di mansion itu lagi." Suara Dave terdengar frustasi. Amber berhenti di ambang pintu, tidak ingin mengganggu Dave yang sedang menelpon. Tapi Dave sudah melihatnya dan memberi isyarat agar dia mendekat. "Baiklah, Julian. Lakukan apa yang perlu kau lakukan. Tapi pastikan Bella paham bahwa mansion itu sekarang adalah rumah Amber." Dave menutup telepon dan menarik Amber ke dalam pelukannya. "Ada masalah dengan Bella?" Amber bertanya pelan, meski dia sudah tahu jawabannya. Dave menghela napas panjang. "Bella ingin tinggal di mansion untuk beberapa hari ke depan. Aku tidak tahu alasan tepatnya." "Sudah kuduga." Amber menghel

  • Hasrat Liar Hot Duda   Bab 34

    Perjalanan tiga jam dari London ke Lake District terasa begitu menyenangkan bagi Amber. Dave memutuskan untuk menyetir sendiri, menolak tawaran Julian untuk mengirim sopir. Pemandangan pedesaan Inggris yang hijau membentang di sepanjang jalan, memberikan ketenangan yang sangat mereka butuhkan setelah semua drama yang terjadi."Kau tersenyum terus sejak kita berangkat," Dave melirik Amber yang duduk di sampingnya, satu tangan menggenggam kemudi sementara tangan lainnya menggenggam tangan Amber."Aku hanya merasa... bebas," Amber menghirup udara segar yang masuk melalui jendela mobil yang sedikit terbuka. "Rasanya seperti meninggalkan semua masalah di London."Dave tersenyum, mengangkat tangan Amber dan mengecupnya lembut. "Bukankah ini bagus? Kita lupakan sejenak masalah yang ada." Dave tersenyum. Amber mengangguk. Sebenarnya hatinya masih saja resah karena keluarga Dave masih bersitegang mengenai penahanan Jeff. Mereka terbagi menjadi dua kubu. Ada yang mendukung Dave tapi ada jug

  • Hasrat Liar Hot Duda   Bab 33

    Amber menatap keluar jendela kamarnya di mansion Kensington, memperhatikan rintik hujan yang turun membasahi taman mawar yang baru ditanam minggu lalu. Sudah tiga hari berlalu sejak insiden penculikan yang dilakukan Jeff, tapi bayang-bayang ketakutan itu masih menghantuinya. Setiap kali dia memejamkan mata, wajah Jeff yang dipenuhi amarah dan obsesi selalu muncul dalam benaknya. "Kau belum tidur?" Suara Dave mengejutkannya. Amber berbalik, mendapati suaminya berdiri di ambang pintu dengan dua cangkir teh hangat di tangan. "Belum bisa," jawab Amber pelan, menerima cangkir yang disodorkan Dave. Aroma chamomile yang menenangkan menguar ke udara. "Bagaimana kabar Jeff?" Dave menghela napas panjang, duduk di tepi tempat tidur. "Pengacaranya menghubungiku tadi sore. Mereka mengajukan permohonan penangguhan penahanan, tapi aku sudah meminta Julian untuk mengurusnya. Jeff harus mempertanggungjawabkan perbuatannya." "Apa tidak apa-apa? Maksudku... dia tetap keponakanmu, Dave." "Dan kau ad

  • Hasrat Liar Hot Duda   32

    Malam itu, suasana di rumah Dave dipenuhi ketegangan. Nyonya Eliza dan Tuan Martin Oliver duduk di ruang tamu dengan ekspresi tegang. Bersama mereka, kedua orang tua Jeff juga hadir, wajah mereka tampak cemas. Mereka datang dengan satu tujuan yaitu membujuk Dave agar melepaskan Jeff. Namun, Dave tetap dengan pendiriannya."Dave, kami mohon, lepaskan Jeff. Apa pun kesalahannya, dia tetap keluarga kita," pinta Tuan Richard, ayah Jeff, dengan suara yang penuh harap.Nyonya Olivia, ibu Jeff, ikut menimpali, "Kami tidak membenarkan perbuatannya, tapi dia masih muda, dia pasti bisa berubah. Berikan dia kesempatan, Dave."Dave menatap mereka dengan ekspresi dingin. Di sampingnya, Amber duduk dengan tubuh masih lemah, meski sudah berusaha kuat untuk tetap tegar. Ia menggenggam tangan Dave erat, sebagai bentuk dukungan."Kesempatan?" Dave mendengkus sinis. "Kesempatan apa yang kalian maksud? Kesempatan untuknya berbuat lebih buruk lagi? Apa kalian tahu bagaimana trauma yang harus Amber hadapi

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status