Share

Bab 5

Sosok bertubuh besar dan tinggi, serta memiliki bulu yang lebat di sekujur tubuhnya, berdiri tepat di belakang Esmeralda yang tampak mematung dengan mulut menganga.

Sosok itu menatap wanita itu dengan kedua mata yang berwarna merah menyala. Sorot matanya terlihat tajam.

Esmeralda terjatuh. Tubuhnya ia rasakan menggigil. Keringat dingin mengalir deras di sekujur tubuh yang tampak kaku.

Ini adalah kali pertama ia melihat sosok itu dengan jarak yang sangat dekat. Hanya beberapa centimeter saja.

Sosok itu bergerak. Ia mendekatkan wajahnya ke depan wajah Esmeralda yang segera memejamkan kedua matanya dengan sangat rapat. Ia merasakan takut setengah mati, saat ia merasakan desah nafas makhluk yang berdiri di hadapannya. Hawa panas menyeruak di sekitar wajahnya.

"Esme!" Suara teriakan keras Bu Edith terdengar memanggil wanita itu yang masih memaksa kedua matanya untuk terpejam.

"Esme!" Sekali lagi, ia mendengar suara itu semakin keras memanggil namanya.

Pemilik nama itu berusaha mengumpulkan segenap keberaniannya untuk membuka kedua matanya.

Sosok yang ia takuti itu telah menghilang, lenyap begitu saja.

Sebuah sentakan di kepala bagian belakang Esmeralda dengan cukup keras, telah membuat wanita itu terkejut. Ia menoleh, melihat ibu mertuanya telah berdiri di belakangnya sambil berkacak pinggang menatap wanita itu dengan sorot mata yang tajam.

Entah sejak kapan wanita tua itu telah berada di sana, Esmeralda sama sekali tidak mendengar suara langkah kakinya.

"Kenapa sih, kamu selalu saja lamban? Aku hanya menyuruhmu membuang sampah bekas ikan, kamu malah enak-enak duduk di sini?" Suara wanita tua itu terdengar sedikit lantang.

Esmeralda buru-buru beranjak dari rerumputan berwarna hijau yang sedikit basah. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam, berusaha menyembunyikan airmatanya. Ia sangat bersyukur, ibu mertuanya datang tepat waktu.

"Saya minta maaf, Bu!" ucapnya dengan lirih. Suaranya terdengar sedikit terisak yang membuat Bu Edith sedikit kebingungan.

"Kamu kenapa, sih? Aku benar-benar nggak habis pikir sama kamu." Wanita tua itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berlalu pergi dari hadapan menantunya.

Esmeralda yang melihat ibu mertuanya hendak masuk ke dalam rumah, ia buru-buru menyusul langkah wanita tua itu, berjalan di belakangnya sambil sesekali menoleh ke belakang, fokus menatap ke arah pohon beringin.

Esmeralda terkejut, saat ia tanpa sengaja menangkap sorot mata berwarna merah menyala di dekat pohon beringin.

Makhluk itu masih di sana, bersembunyi dalam kegelapan malam.

***

"Mas, aku benar-benar melihatnya," ucap Esmeralda saat Franky baru saja selesai mandi. Ia tampak mengeringkan rambutnya yang basah dengan menggunakan handuk kecil.

"Mas, sosok itu benar-benar ada!" lanjut wanita itu saat ia menyadari bahwa tidak ada respon dari suaminya.

"Dek, berapa kali mas bilang sama kamu? Itu hanya halusinasi kamu saja!" ucap lelaki itu dengan enggan.

"Tapi, mas...." Belum sempat Esmeralda melanjutkan ucapannya, Franky dengan cepat memotongnya. "Dek, mas nggak mau dengar lagi cerita horor yang kamu kisahkan sama mas. Lebih baik, kamu tulis saja novel tentang makhluk yang kamu ceritakan itu. Mungkin saja banyak peminatnya," ucap lelaki itu sebelum ia berlalu pergi meninggalkan kamarnya. Ia menutup pintu dengan cukup keras, yang telah membuat Esmeralda sedikit tersentak.

"Kenapa sih mas, kamu nggak mau percaya sama omonganku sekali saja!" gumamnya dengan perasaan sedih. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia sudah tidak tahu lagi harus dengan cara apa, agar suaminya tidak menganggapnya hanya berhalusinasi dan mengarang sebuah cerita.

Tok... Tok... Tok...

Sebuah ketukan pintu yang cukup nyaring, telah menyita perhatian dari Esmeralda.

Wanita itu buru-buru mengusap kedua matanya yang sedikit basah. Ia segera beranjak dari tepi tempat tidurnya untuk membukakan pintu.

"Bapak?" Kedua alis Esmeralda tampak mengerut. Ia menatap Pak Agus, yang merupakan bapak mertuanya itu dengan tatapan heran.

"Nduk, kamu belum makan dari semalam kan? Ayo makan dulu! Ibu dan suami kamu sudah menunggu di meja makan," ucapnya dengan ramah sambil mengulum senyuman tipis di bibirnya.

Esmeralda hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah. Ia segera beranjak dari tempatnya, mengikuti langkah Pak Agus menuju ke meja makan.

Saat Esmeralda duduk di sebelah Franky, ia menoleh, menatap Bu Edith yang balas menatapnya dengan sorot mata yang tajam. Hal itu telah membuat wanita itu merasa canggung.

Suasana makan siang, tampak hening. Tak ada pembicaraan sama sekali untuk memecahkan kesunyian yang berlangsung selama beberapa saat lamanya. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu mengenai piring.

"Selesai makan, kamu langsung cuci piring!" ucap Bu Edith memberikan perintah. Ia segera beranjak dari kursi makan, berjalan menuju ke kamarnya.

Bayangan wanita tua itu menghilang, bersamaan dengan pintu kamar yang tertutup secara rapat.

Setelah kepergian ibu mertuanya, Pak Agus segera menyusul wanita tua itu ke dalam kamarnya.

Kini di meja makan, hanya tersisa ia dan suaminya yang terlihat serius menikmati soup ayam buatan ibunya.

Esmeralda menoleh, menatap wajah Franky dengan tatapan mata yang dalam.

"Mas...." Suaranya terdengar lirih memanggil, memecahkan kesunyian yang berlangsung cukup lama.

"Hm?" Franky hanya menggumam menyahuti panggilan istrinya. Ia seolah tidak terlalu tertarik untuk membalas panggilan wanita itu.

"Mas, bantu aku untuk mengambil bambu kuning ya?" ucap Esmeralda mengajukan permintaan pada Franky secara tiba-tiba.

"Bambu kuning?" Kedua alis lelaki itu tampak mengerut. Ia menatap raut wajah Esmeralda dengan tatapan heran. "Bambu kuning untuk apa sih, dek?"

Wanita itu tidak langsung menjawab pertanyaan yang telah diajukan oleh suaminya. Ia mematung selama beberapa detik, mencoba untuk mengatur nafasnya yang terasa sedikit mencekik leher.

Esmeralda memberanikan diri untuk menatap wajah Franky yang masih menatap wajahnya, yang masih terlihat menunggu jawaban dari wanita itu.

"Untuk apa, dek?" ulangnya sekali lagi dengan penasaran.

"Untuk penangkal, mas," sahut wanita itu dengan lirih. Kedua matanya terlihat berbinar, menyimpan harapan bahwa suaminya akan memenuhi permintaannya.

Franky tersenyum kecut. Ia menggelengkan kepalanya dengan perlahan.

"Dek, kita sudah sepakat kan? Kita nggak akan membahas soal makhluk yang sering kamu ceritakan itu!" ucap lelaki itu dengan tegas, yang membuat Esmeralda merasa sedikit kecewa.

Franky segera beranjak dari meja makan. Ia masuk ke dalam kamarnya sambil membanting pintu dengan cukup keras. Suaranya yang nyaring, telah membuat Esmeralda tersentak.

Wanita itu menatap pintu kamar yang telah tertutup rapat sambil menghela nafasnya dengan kasar. Ia segera beranjak dari kursinya, mengumpulkan piring-piring yang kotor, dan membawanya ke wastafel untuk dicuci.

Selesai mencuci piring, Esmeralda segera keluar dari rumahnya untuk mencari udara segar sambil menjernihkan pikirannya yang mulai tampak kusut.

Wanita itu duduk di tangga yang berada di depan rumahnya. Entah kenapa, kedua matanya seperti mendapatkan sihir untuk selalu menatap ke arah pohon beringin itu.

Esmeralda berusaha menajamkan penglihatannya, kala ia menemukan ada sesuatu yang tak sengaja tertangkap dalam pandangannya.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status