Share

[1]. Gadis itu Raya

Seorang wanita paruh baya tersenyum mengetahui siapa tamu yang tengah datang berkunjung dan menunggunya di ruang tamu.

“Raya!”

Raya mendongak, tersenyum melihat orang yang ia tunggu. Ia bergegas berdiri dari tempat duduknya dan memeluk wanita paruh baya itu.

“Bagaimana kabar ibu? Ibu sehat?” tanya Raya sembari melepas pelukannya.

“Ibu baik dan sehat. Bagaimana kabarmu?” tanya Bu Ranti balik.

Bu Ranti adalah pengasuh sekaligus kepala panti asuhan tempat Raya dulu tinggal. Ia juga yang mendirikan panti asuhan itu di tanah yang ia warisi dari orang tuanya. Bagi Raya, Bu Ranti adalah sosok pengganti ibu yang tidak pernah ia miliki.  Jadi bahkan setelah ia keluar dari panti dan mendapat pekerjaan, ia tetap menganggap Bu Ranti sebagai ibunya dan panti asuhan sebagai rumahnya. Ia sering sekali kesana untuk membawakan makanan dan barang-barang untuk anak-anak yang masih tinggal disana sekaligus mengunjungi Bu Ranti.

“Saya juga baik, bu,” jawab Raya. “Bagaimana kabar anak-anak?”

Setelah beberapa basa-basi membahas anak-anak dan hal-hal yang terjadi di panti asuhan, Raya berkata dengan hati-hati, “Oh ya. Omong-omong, bisakah saya minta tolong sesuatu pada ibu?”

Bu Ranti sedikit heran. Tidak biasanya Raya meminta tolong seperti ini. Apalagi dengan nada hati-hati seperti itu. Tapi ia tetap bersedia membantu.

“Tentu. Apa yang bisa kulakukan untukmu?”

“Ini hanya...” Raya menggigit bibir bawahnya ragu. Apa tidak jadi saja? Lagipula ia sudah mendengar cerita ini dari Bu Ranti banyak kali setiap ia datang berkunjung. 

Bu Ranti sabar menunggu. Raya tersenyum.

“Tidak jadi,” putus Raya. “Kapan-kapan saja.”

Bu Ranti membalas senyum Raya. Ia menghargai apa yang Raya putuskan, dan menunggunya memintanya lagi meskipun sebenarnya ia tahu apa yang Raya inginkan. 

“Oh ya,” sebuah ingatan terlintas di pikiran Bu Ranti. “Aku menemukan sesuatu untukmu. Sebentar.”

Bu Ranti berdiri dan masuk ke dalam, Tak berselang lama, Bu Ranti kembali ke ruang tamu dengan menenteng sebuah buku kecil bersampul biru yang dilengkapi dengan gembok kecil yang mencegah buku itu dibuka oleh orang lain selain pemiliknya. Raya menyadari buku itu adalah buku harian ketika Bu Ranti mengangsurkannya padanya.

“Aku menemukan ini di belakang lemari bajumu dulu saat kami mengadakan kegiatan bersih-bersih mingguan. Lemari itu sudah lapuk dan aku berniat menggantinya,” jelas Bu Ranti.

Raya mengamati tiap jengkal buku yang saat ini ia pegang. Sampul birunya sudah agak kotor dan kertasnya mulai menguning. Ia juga bisa mencium bau lembab yang tercium dari buku itu. Raya tertawa kecil merasa lucu.

“Di belakang lemari pakaian?” Raya tidak habis pikir bagaimana dulu ia terpikirkan menyimpan buku harian di belakang lemari pakaiannya. “Sungguh cerdas sekali saya dulu,” tambahnya sarkas.

Bu Ranti ikut tertawa kecil, “Kau memang selalu seperti itu sejak dulu.” Ia mulai mengingat kejadian-kejadian dulu. “Kau tidak membagi apapun dengan orang lain, tapi dulu kau akan selalu membagi apapun dengan Alya. Baju, seragam, peralatan sekolah bahkan hingga sepatu. Kalian seperti saudara kandung yang tidak terpisahkan. Alya yang kalem dan pengertian rasanya seperti kakak bagimu yang selalu antusias dan tidak bisa diam. Kau selalu mempertimbangkan apapun dengannya. Kau mendengarkan apapun yang dia katakan. Dan mungkin bahkan kalian juga berbagi rahasia satu sama lain.”

“Jika begitu harusnya saya tidak menyimpan buku harian ini sampai sebegitunya kan?”

“Kalau masalah itu sepertinya aku tahu penyebabnya,” jawab Bu Ranti. “Sudah kubilang, kau tidak membagi apapun dengan orang lain. Bahkan padaku. Jadi ketika suatu hari aku ingin tahu apa yang terjadi padamu hingga kau pulang dengan menangis, aku membaca buku harianmu. Dan mulai sejak itu aku selalu membaca buku harianmu ketika aku ingin tahu apa yang terjadi padamu yang tidak mau kau ceritakan padaku. Tapi kemudian saat kau tahu, kau sangat marah. Kau bahkan tidak mau bicara padaku selama seminggu.”

Raya mengangkat satu alisnya, heran. Ia yang bahkan menganggap Bu Ranti sebagai ibunya sendiri tidak berbagi apapun pada beliau? Dan bahkan marah padanya? Bagaimana bisa? 

Bu Ranti tersenyum sedih, “Kau pasti tidak mengingatnya sekarang. Tidak apa-apa.”

“Maafkan saya,” sesal Raya.

“Kenapa kau minta maaf? Itu bukan salahmu, Ray. Pun dengan kepergian Alya. Kalian berdua hanya korban orang tidak bertanggung jawab yang sudah menabrak kalian.”

Raya termenung. Ingatan pertama yang ia miliki adalah ingatan ketika ia bangun dari koma saat berumur 17 tahun. 

“Raya!”

“Siapa?” tanya Raya ketika ia menemukan seseorang langsung berdiri begitu ia membuka matanya. Seluruh bagian badannya terasa sakit. Dan bagian kepalanya rasanya sudah dihantam godam. Ia meringis.

“Jangan banyak bergerak. Aku akan segera memanggil dokter.” 

Saat itu Raya tidak bisa mengingat apapun. Masa lalunya. Alya. Bahkan namanya sendiri. Ia tidak dapat mengingat apapun. Juga Bu Ranti yang saat itu berada di sebelahnya ketika ia terbangun. Ia pun tidak ingat bagaimana ia bisa berakhir disana. 

Bu Ranti bilang ia mengalami tabrak lari. Mobil yang menabraknya melarikan diri segera setelah menabraknya. Tapi kalau tidak salah beberapa tahun lalu Bu Ranti pernah bilang bahwa pelakunya sudah tertangkap. Kecelakaan itu juga yang menyebabkan Alya meninggal. Dan guna memperburuk keadaan, Raya mengalami kesulitan untuk membedakan atau mengenali wajah seseorang.

Raya menatap dokter yang duduk di hadapannya dengan bingung. Ia berganti menatap Bu Ranti yang berada di sebelahnya. Jika saja dokter itu tidak memakai jas putih kebanggaannya atau jika Bu Ranti tidak berambut panjang lurus seperti iklan shampoo, Raya bisa memastikan ia tidak akan bisa mengenali yang mana Bu Ranti diantara mereka berdua.

Dokter wanita itu mulai berkata sambil menunjukkan hasil pemindai otaknya, “inilah hal yang saya khawatirkan sejak ia tidak bisa membedakan seseorang. Raya mengalami prosopagnosia. Atau yang biasa dikenal secara luas sebagai kebutaan wajah.” Jantung Raya terasa berhenti sedetak saat mendengarkannya. Genggaman Bu Ranti di sebelahnya menguat.Ada gangguan pada sistem saraf akibat trauma otak yang dideritanya karena kecelakaan fatal yang ia alami. Gangguan saraf ini bisa muncul karena kerusakan bagian gyrus fusiformis, bagian otak yang bertugas untuk mengatur memori untuk mengingat wajah.”

Jadi begitulah. Sejak saat itu sampai sekarang, Raya tidak bisa mengenali seseorang jika hanya melihat wajahnya  Keadaan Raya ini bahkan juga membuatnya tidak mampu mengingat wajahnya sendiri. 

Beradaptasi tanpa ingatan dan ketidakmampuan mengenali wajah membuatnya sempat stress berat. Ia sangat kesulitan untuk mengenali orang-orang yang ia temui meskipun ia bertemu dengan orang tersebut setiap hari. 

“Raya!”

Raya menatap seseorang yang baru saja menyapanya dengan pandangan bingung dan bertanya-tanya. Siapa yang menyapanya?

“Kenapa ekspresimu begitu? Kau tidak mengingatku?”

Raya berusaha mengingat-ingat ciri khas dari seseorang yang berada di depannya itu. Tapi ia tidak menemukan apapun selain kenyataan kalau orang di depannya adalah seorang perempuan. Tapi dimana sebenarnya ia pernah mendengar suaranya itu? Terdengar familiar baginya.

“Aku Naya. Kita satu jurusan lho.”

Orang-orang yang tidak mengetahui kondisinya berpikir ia orang yang sombong yang tidak mau menyapa mereka saat berpapasan. Padahal bukan begitu.

“Dia sombong sekali. Ia tidak mau menyapaku saat melewatiku tadi. Padahal jelas-jelas tadi ia melihatku.”

“Nggak usah heran! Dia memang seperti itu. Sombong!”

“Dia juga tidak akan pernah membalas lambaianmu atau mau menunggumu meskipun hanya sebentar.”

"Pantas saja tidak ada yang mau berteman dengannya. Kelakuannya buruk!"

Padahal Raya tidak pernah bermaksud begitu. Kenyataannya, Raya lah yang tidak mampu mengenali mereka. Raya tidak akan mampu mengenali mereka jika mereka mulai merubah gaya penampilan mereka. Panjang rambut setelah dipotong, pakaian yang berganti warna bahkan memakai anting atau tindik. Hal inilah yang membuatnya tidak memiliki teman dan dijuluki sebagai anti-sosial saat kuliah.

Kondisinya yang tidak mampu mengenali wajah membuatnya pernah mengalami kesulitan untuk mendapat pekerjaan juga. Ditambah dengan peraturan panti asuhan yang mengharuskan anak asuh bisa mandiri setelah lulus SMA. Meskipun karena keadaan khususnya Bu Ranti memperbolehkannya tetap tinggal disana, ia tetap merasa tidak enak. Ia bahkan tahu sebenarnya beberapa adiknya di panti diam-diam protes saat mereka lulus SMA dan hanya diperbolehkan tinggal hanya sampai mendapat pekerjaan. 

Merasa tidak enak dengan Bu Ranti, dulu Raya sempat melamar menjadi OB di kantornya. Dan disaat itulah, ia merasakan keberuntungan bertubi-tubi datang padanya. Ia yang secara iseng memasukkan lamaran beasiswa di perusahaan tempatnya bekerja, entah bagaimana mendapatkan beasiswa penuh untuk kuliah. Bahkan setelah lulus kuliah pun, ia secara otomatis diterima bekerja disana sebagai bagian dari kontraknya saat ia menerima beasiswa.

“Dan saya masih tidak mengingat apapun setelah 10 tahun berlalu, bu. Rasanya saya kehilangan sesuatu yang harusnya saya kenali dengan mudah tapi tidak saya tahu,” kata Raya lirih.

Bu Ranti memegang tangan Raya lembut, “Tidak apa-apa. Tidak perlu dipaksakan. Kau tinggal menjalani hidupmu yang sekarang dan meraih masa depanmu. Biarkan masa lalu pada tempatnya. Ia tidak akan kemana-mana. Ia juga tidak bisa dirubah. Aku yakin, ada saatnya suatu hari kau akan menemukan ingatanmu lagi.”

*****

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status