Share

4.

POV Rengga

            “Lihat Win, anak kita sudah cocok kan bersanding dipelaminan,” seru Tante Rita senang.

            “Benar mbak, bagaimana kalau sekalian kita tentukan tanggal pernikahannya Pa?”

            “Bagaimana kalau 2 minggu dari sekarang Mbak. Tidak baik terlalu lama menunda niat baik. Lebih baik kita percepat saja bukan begitu Ma,” aku memasang wajah tenang, walau dalam hati aku bersorak.

            “Iya Mbak, Bagaimana?” aku lirik Tante Rita sekilas.

            “Kalau aku sih, setuju-setuju saja Win sebagai orang tua. Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk anakku,” ujarnya disertai senyum tipis, membuatku lega.

            “Jadi bagaimana Rengga, Bella?” Tanya Papa memindaiku dan Bella bergantian. Bella yang masih terkejut, aku tenangkan dengan meraih telapak tangannya meremasnya lembut.

            “Bagaimana kalau memberikan kami waktu untuk pendekatan dulu Pa, Ma, Bu?” Tanyaku bergantian.

            “Rengga sayang, setelah menikah kalian bebas untuk melakukan pendekatan. Bukan begitu Pa,”

            “Benar Rengga, jadi sudah diputuskan ya Mbak. Kalau pernikahan anak-anak akan dilangsungkan 2 minggu dari sekarang,” putus Papa.

            “Iya Gilang, Ayah Bella juga sudah menyerahkan keputusan ini kepadaku. Jadi menurutku juga lebih baik dipercepat, agar tidak timbul fitnah nantinya.”

            “Akhirnya Pa kita dapat mantu juga,” kata Mamaku dengan senyum manis.

            Aku tidak dapat membantah banyak. Karena memang aku ingin segera memiliki Bella seutuhnya. Walau aku lihat dia masih nampak terkejut.

            “Sudah yuk Rengga dimakan makanannya. Itu tadi sudah diambilkan sama Bella,” ucap Mama disertai senyum. “Lihatkan dia udah cocok banget jadi istri kamu,” kata Mama. Mendengar penuturan Mama, aku alihkan pandanganku padanya. Yang masih setia menunduk dan meremas bagian bawah dressnya. Aku eratkan genggamanku. Aku kaitkan jemariku disela jarinya. Aku tahu dia sedang malu dan gugup.

            “Benar itu Bel, kamu yang menyiapkan hidangan dipiringku?” tanyaku. Berusaha memperoleh perhatiannya.

            “Iya Mas,” Jawabnya pelan. Begitu menggemaskan. Rasa-rasanya ingin segera aku tarik keranjangku. Sabar Rengga, 2 minggu lagi dan impianmu akan tercapai, batinku.

            Makan malam berjalan dengan hangat. Dipenuhi perbincangan antar orang tua. Aku hanya menimpali sesekali. Aku lihat disampingku, Bella masih setia melamun. Aku usap jerimanya ditanganku. Dia menoleh kearahku . Aku tersenyum, walau serasa tidak nyaman dalam genggamanku. Dia tidak berusaha menolak dan aku menyukainya. Itu berarti dia sudah mau beradaptasi denganku.

            Selepas makan malam keluargaku langsung pamit. Meskipun aku ingin lebih lama, tapi tak bisa. Aku harus bersabar, sebelum dia resmi menjadi milikku.

            Diperjalanan pulang aku terus berpikir. Bagaimana kalau besok membuat janji temu dengan Andre sahabatku, dia seorang dokter kandungan. Aku ingin berkonsultasi mengenai beberapa hal.  Karena aku akan segera menikah. Aku juga tidak ingin menunda, untuk memiliki seorang anak. Dan aku sangat bersemangat untuk itu.  Membayangkan banyak suara anak-anak dirumah. Mereka saling berlarian bercanda dan tertawa. Rasanya tak sabar untuk merealisasikannya.

            Ngomong-ngomong aku memang pulang ke rumahku sendiri. Yang nanti juga akan ku tempati, bersama istri dan anakku. Kalau dipikir, memang aku sudah sejak lama menyiapkannya. Namun karena belum ada wanita yang membuatku tertarik. Akhirnya rumah itu aku tempati sendiri.

            Sesampainya dikamar, aku langsung membersihkan diri. Selesai dengan itu badanku terasa lebih segar. Aku ambil hanphone yang terdapat diatas nakas

            “Halo Dre, selamat malam!” sapaku setelah sambungan terhubung.

            “Iya halo, selamat malam,” balas Andre. “Ada apa malam-malam menelpon?” tanya heran.

            “Apakah besok ada waktu kosong?..” tanyaku. “Aku ingin berkonsultasi padamu perihal persiapan kehamilan,” sambungku.

            “Apa?” serunya, terdengar keterkejutan dari suaranya. “Memangnya siapa yang akan hamil Ga?” tanyanya lebih tenang.

            “Sudahlah nanti kau akan tahu, jadi bisa tidak?” jawabku singkat.

            “Tentu saja berkunjunglah kerumah sakit,” seringai muncul disudut bibirku. “Nanti biar kuatur namamu,” seringaiku melebar.

            “Kau tahu persis apa yang aku mau kan?” tanyaku memastikan. “Aku bukan hanya ingin berkonsultasi tapi, you know lah,” pungkasku singkat.

            “Aku mengerti dirimu Ga, oke besok datanglah pukul 9 pagi oke,” kata Andre. ”Akan kusiapkan obatnya

            “oke aku percaya padamu” ucapku tenang.

            Akhirnya aku rebahkan tubuhku, setelah memutus sambungan telpon. Rumah ini dan sisi disebelahku akan segera terisi. Aku tidak sabar untuk itu. Oh iya, ada yang aku lupakan. Aku belum punya nomor telpon Bella. Besok aku akan memintanya ditempat kerja.

            Aku pandangi foto Bella di handphone ku, memang sejuk dipandang mata. Dari foto saja aku langsung jatuh cinta. Lama-kelamaan aku tertidur. Dengan ponsel, yang masih memperlihatkan foto Bella gadis pujaanku.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status